
Total sekitar 80 orang berkumpul di alun laun desa elf, semuanya adalah para elit diantara para elit.
Apalagi diantara 80 orang ini terdapat 3 sosok yang sangat kuat dibandingkan yang lain, tentu saja mereka adalah para pahlawan dari ras beastman, dwarf, dan mermaid.
Dwarf adalah ras yang tinggal di dalam gua sedangkan mermaid tinggal di tepi laut, tapi saat ini semuanya berkumpul di satu tempat hanya untuk melawan musuh bersama.
"Semuanya, kami telah menemukan salah satu markas terbesar sekte sesat, mereka adalah para bajingan yang selalu meneror kita pada malam hari dengan mengirimkan berbagai macam mutan, meskipun mereka saat ini aktif di wilayah manusia namun jika manusia hancur maka kita akan menjadi target berikutnya! maka kita akan menghancurkan mereka dalam satu serangan besar!"
"Wooooahhhh!!!"
Semua orang terlihat sangat bersemangat, aku tau bahwa masalah sekte sesat ini adalah masalah yang serius, tapi rasanya sangat aneh untuk memilih menyerang sekte sesat ketika posisi sang bencana telah ditemukan.
"Bukannya beberapa hari yang lalu kita akan pergi ke lokasi great turtle? kenapa tiba tiba?"
Rosa juga terlihat kebingungan, bagaimanapun kami ikut dalam percakapan beberapa hari yang lalu, tapi kami tidak pernah mendengar soal sekte sesat.
"Tetua! jika kita ingin mengakhiri ini bukankah lebih baik jika langsung memotong kepalanya?"
Pahlawan Redclift mengangkat suaranya, meskipun aku tidak terlalu suka padanya namun kali ini dia sangat berguna.
"Soal itu, lokasi bencana masih samar jadi tidak efesien mengerahkan pasukan sekuat ini hanya untuk tujuan yang tidak pasti, bukankah ada baiknya memotong kaki tangannya lebih dulu sebelum kepalanya? dan kita mungkin bisa mendapatkan informasi soal lokasi bencana jika bisa menangkap pemimpinnya."
Aku tidak percaya jika tetua elf sangat hebat dalam berbicara, yang dia ucapkan memang benar tapi aku tetap merasa bahwa para tetua berusaha untuk menyembunyikan sesuatu.
"Hmmm, tapi bukankah tidak baik untuk memusatkan pasukan seperti ini? aku khawatir jika kita kekurangan pasukan di lini belakang."
Pahlawan para Mermaid, Azura adalah sosok wanita yang dominan dengan warna biru laut, ciri fisiknya yang membuatnya berbeda yaitu telinganya yang terlihat seperti sirip, dan kulitnya di lapisi oleh sisik yang dapat memantulkan cahaya matahari membuatnya terlihat indah dan menawan.
"Pahlawan Azura Starfish benar, aku khawatir jika kita mengirim seluruh elit kita ke tempat yang jauh tanpa penjagaan di lini belakang."
Di sisi lain pahlawan ras dwarf Magnar Goldbeard, adalah sosok yang sangat mirip dengan dwarf lain, tidak ada yang istimewa darinya selain kapaknya yang luar biasa besar.
Sekarang ketiga pahlawan meragukan keputusan tetua, yang membuat ini menjadi lebih menarik, aku juga tidak setuju untuk memusatkan pasukan karena bagaimanapun kita tidak tau seberapa besar domain yang dimiliki sekte sesat ini, jika mereka menyerang ketika kami berada di tempat yang jauh maka di situlah kami akan kalah.
__ADS_1
Jika tetua tetap keras kepala, mereka akan di curigai bekerja sama dengan sekte sesat, apalagi saat ini pahlawan Oliver tidak ada di tempat yang membuatnya terasa lebih aneh.
"Haah, kalau begitu mari kita pangkas sedikit pasukan kalian untuk menjaga wilayah masing masing, kekurangan itu akan di tutupi oleh prajurit elit dari elf."
"Tetua! kita sudah mengirimkan hampir seluruh high elf kita untuk melindungi hutan yang luas ini, jika kita mengerahkan lebih banyak high elf, kita akan sangat kekurangan kekuatan!"
Salah satu elf berteriak ke arah tetua, dia jelas jelas tidak terima dengan keputusan itu, karena bagaimanapun elf adalah makhluk dengan tingkat kelahiran sangat rendah jadi mereka pada dasarnya kekurangan populasi, tapi mereka bisa bertahan karena kekuatan individu mereka yang sangat kuat terutama seorang high elf yang juga dikenal sebagai elf darah murni atau bangsawan.
"Sylindra, aku tau itu, tapi kita tidak punya pilihan. Kau percaya kepadaku dan pahlawan Oliver bukan?"
Sylindra adalah gadis yang menjemput kami di perbatasan beberapa hari yang lalu, aku tidak sempat menanyakan namanya jadi aku sedikit senang mendengarnya.
"Tch, ingat ini berhubungan langsung dengan kepunahan ras kita."
Sylindra jelas mengancam tetua, aku tidak tau kedudukannya di antara para elf, namun melihat para tetua sedikit berkeringat membuatnya tampak memiliki kedudukan yang tinggi.
"Baiklah, kau bisa memegang kata kataku, sudah tidak ada masalah bukan?"
Dengan begini aku bisa lebih tenang untuk meninggalkan Carl di belakang, yah meskipun di sana ada Nuriel yang bisa menjaganya.
"Kalau begitu kuharap yang terbaik bagi kalian!"
Para tetua mengaktifkan sihir teleportasi massal, sebuah lingkaran sihir raksasa mengelilingi kami sebelum kami semua di teleportasi dalam sekejap.
* * *
Setelah para prajurit pergi, tetua mengirimkan seluruh prajurit yang tersisa ke wilayah mereka masing masing.
Tetua elf melihat ke arah langit yang sedikit berwarna merah di kejauhan sambil bergumam.
"Pahlawan Oliver, aku tidak tau apa yang kau rencanakan namun aku yakin bahwa inilah yang terbaik, berpikir kau bisa menemukan lokasi markas para sekte sesat hanya untuk mengalihkan perhatian semua orang dari sang bencana, aku sama sekali tidak bisa menebak apa yang kau pikirkan."
Udara terlihat terdistorsi di sekitar tetua, secara perlahan sebuah sosok muncul dari ketiadaan, itu adalah sosok manusia dengan rambut ungu panjang dengan tombak di tangannya.
__ADS_1
"Kerja bagus, akan gawat jika mereka bertemu dengan gadis itu."
"Padahal kalian adalah bencana itu sendiri, tapi kalian malah takut bertemu dengan kesatria kami."
"Pfft!"
Pria itu terlihat kesulitan untuk menahan tawanya, seolah olah mendengar sesuatu yang sangat lucu.
"Takut? kau tidak tau betapa gawatnya situasi ini! aku bencana? di hadapan orang itu aku hanyalah anak kecil, jadi lebih baik diam dan melihat daripada situasinya semakin buruk!"
"Aku tidak akan mempercayai ucapan seseorang yang membantai ratusan ribu nyawa dalam semalam."
"Terserah, setidaknya kau bisa menuruti apa yang diminta oleh pahlawan kalian itu, itu sudah cukup."
"Pahlawan Oliver tidak akan berpihak kepada kejahatan."
"Aku sepakat jika gadis itu di sebut sebagai bencana, namun aku akan membunuhmu jika kau menyebutnya sebagai kejahatan."
"Gulp."
Tetua bisa merasakan sebuah sabit bayangan tepat di lehernya, jika dia bergerak sedikit saja dia pasti akan mati saat itu juga.
Tetua sadar bahwa sosok yang diajaknya bicara bukanlah sosok yang bisa dikalahkan bahkan jika dirinya bertarung sampai mati.
"Lakukan apapun agar kalan tidak berurusan dengan gadis itu, karena jika dia kesal dan meminta ku untuk memusnahkan kalian maka aku tidak akan ragu."
Itu adalah kata kata atau mungkin ancaman, sebelum sosok pria itu benar benar menghilang meninggalkan tetua yang sudah dipenuhi dengan keringat dingin.
"Huuf, jika pria itu hanya anak kecil dibandingkan sang bencana, maka seberapa kuat sang bencana ini sebenarnya? apakah kehancuran memang sudah menjadi takdir kita?"
Tetua melihat ke arah langit seolah olah sedang melihat sesuatu di kejauhan.
"Pahlawan Oliver, hanya anda yang bisa saya percaya sekarang."
__ADS_1