MONOCHROME : Choice Of Destiny's

MONOCHROME : Choice Of Destiny's
Bab 55 Bloody Sect 2


__ADS_3

"Serang! hancurkan mereka!"


Ini adalah perang skala penuh antara sekte sesat dengan aliansi 5 ras utama, pertarungan lebih dominan ke arah aliansi namun bukan berarti semuanya menjadi lebih baik.


Kekuatan para penganut sekte juga bukanlah sesuatu yang bisa diremehkan, kekuatan setiap individu mereka sangat luar biasa, dan mereka semua juga merupakan gabungan dari berbagai ras, meskipun di dominasi oleh manusia.


Setiap anggota mereka anehnya adalah orang orang yang tidak terkenal sebelumnya tapi mereka semua sangat kuat hingga kelima ras harus mengirimkan pahlawan hanya untuk melawan mereka.


Satu satunya masalah saat ini adalah ketika salah satu markas mereka di serang, seluruh markas mereka yang tersebar di seluruh benua juga ikut bergerak yang memaksa aliansi untuk menyebarkan pasukannya.


Terdapat 10 lokasi perang saat ini, 5 diantaranya ada di wilayah manusia, 1 di wilayah elf, 2 dwarf, dan 2 beastman.


Untunglah sebelumnya jumlah pasukan di kurangi yang membuat pertahanan di lini belakang lebih kokoh, jadi sebagian besar serangan dadakan bisa di atasi.


Saat ini aku berada di salah satu kerajaan manusia, aku tidak mengetahui namanya jadi lebih mudah menyebutnya kerajaan manusia saja.


Pusat perang saat ini adalah di dalam istana kerajaan itu sendiri karena raja merupakan salah satu anggota sekte sesat yang diketahui, pahlawan Redclift serta beberapa orang lainnya kembali untuk mengatasi perang di wilayah beastman, sedangkan aku masih bersama Rosa.


"Mereka semua sangat keras kepala!"


Rosa menghancurkan kepala salah satu anggota sekte tapi bukannya mati, orang itu malah meledakan diri dengan sihir terlarang, ledakan itu juga berisi kutukan yang sangat kuat yang akan mengubah siapapun yang disentuhnya menjadi bom juga.


Hal ini yang membuat pasukan banyak menderita pada awal peperangan karena semuanya berperang dalam jarang yang cukup dekat sehingga jika salah satu meledak maka hanya menunggu waktu sebelum yang lainnya ikut meledak juga.


Tentu saja setelahnya tidak terjadi lagi, karena aliansi mulai menyebarkan prajurit menjadi beberapa tim kecil untuk meminimalisir korban.


"Kau benar, tidak peduli seberapa banyak aku memotong anggota tubuh mereka, mereka tetap menyerang dengan buas."


Aku merasa seperti berperang melawan monster yang tidak memiliki akal, mereka akan terus menyerang selama mereka masih memiliki kepala dan akan meledak sebelum mati.


"World cutter!"


Pahlawan Masaru Kagami, salah satu dari 5 pahlawan yang dipanggil oleh manusia, dia mungkin pahlawan yang dipanggil seperti ku namun kekuatannya luar biasa.


Setiap tebasan pedangnya mampu memotong beberapa kepala orang sekaligus, dia adalah pria yang seumuran dengan ku, dia masih menggunakan pakaian sekolah namun cara dia bergerak bisa sangat fleksibel antara menyerang dan bertahan.


"Pahlawan itu benar benar luar biasa bukan?"


"Haha kau benar, mereka layak dengan gelar pahlawan mereka."


Aku tau karena para pahlawan mendapatkan berkah dari para dewa, jika sama dengan di dunia ku.


Masaru kagami terus menebas kepala anggota sekte satu persatu di garis depan, secara perlahan dirinya maju terlalu jauh jadi aku mengikutinya.


"Rosa, ayo bantu pahlawan."


"Baiklah."


Bagaimanapun kami adalah pasukan garis depan jadi jika kami maju terlalu jauh, kami akan kesulitan mendapatkan bantuan.


Pahlawan mungkin bisa membunuh sebagian besar dari mereka namun pasti ada beberapa yang luput dari pandangannya, jadi itu tugasku dan Rosa untuk membereskan mereka.


"Pahlawan anda baik baik saja?"


Aku mendekati Masaru yang terlihat sedang terengah-engah, kekuatannya memang sangat luar biasa tapi itu juga menjadi kelemahan baginya yang tak bisa menahan diri.


"Ahh aku baik baik saja, terima kasih sudah menjaga punggung ku."


"Tidak masalah, tapi bukankah kita sudah terlalu jauh?"


Kami sudah sangat jauh ke dalam istana sehingga kami tidak bisa lagi melihat sosok prajurit di belakang, sedangkan lantai dipenuhi dengan para mayat anggota sekte.


"Kita akan terus maju, jika kita membunuh raja maka semua ini akan selesai."

__ADS_1


Pahlawan berniat untuk jalan lagi namun aku menahan bahunya, situasi saat ini kita kekurangan informasi dan akan fatal jika langsung menyerang ke lokasi raja.


Bukti bahwa sampai sekarang belum ada petinggi yang muncul adalah masalah lain jika kami kelelahan di sini, baru selesai ku bicarakan salah satu dari mereka sudah muncul.


"tak tak tak." suara kaki.


"Sepertinya dia sudah muncul."


Rosa juga langsung merapalkan buff kepada kami, sebelum menyiapkan sihir miliknya.


"Pahlawan, mari bekerja sama."


"Baiklah."


Ketika kami waspada, sosok itu akhirnya muncul.


"Wah wah, kalian membuat kekacauan yang cukup parah bukan?"


Dia adalah pria beastman yang juga tampak memiliki sisik di sekujur tubuhnya namun sisik itu lebih tebal, mungkin dirinya sejenis buaya.


"Roderick?"


Rosa terlihat terkejut dengan kedatangan pria itu.


"Rosa, kau mengenalnya?"


"Yah, dia adalah salah satu pengawal pahlawan sepertiku, namun dirinya tiba tiba menghilang 10 tahun yang lalu."


"Seberapa kuat dia?"


"Lebih kuat dariku, namun itu 10 tahun yang lalu, saat ini mungkin dia jauh lebih kuat mengingat dia bergabung dengan sekte."


"Begitu, tolong lindungi punggungku."


Roderick terlihat begitu santai ketika ingin melawan kami bertiga, aku tidak tau itu karena dia begitu kuat atau memang hanya sombong.


"Pahlawan, ayo mulai."


"Aku duluan!"


pahlawan tetap menjadi sebagai main dps sedangkan aku membantunya menutupi celah yang dia lewatkan, sedangkan rosa membantu dengan sihir.


Pahlawan melakukan tebasan kearah leher Roderick namun dia bisa menghindar, jika dia memang kuat maka dirinya akan menahan serangan itu yang artinya dia tidak begitu percaya diri dengan pertahanannya sendiri.


Memanfaatkan celah, aku menyerang tepat di bagian punggung lehernya namun dia seperti memiliki mata di belakang kepalanya dan bisa menghindari serangan ku dengan lompatan jauh.


"Bocah hitam itu memiliki kekuatan yang luar biasa, sedangkan si putih memiliki kecepatan yang gila."


"Apakah itu pujian?"


"Yah kalian memang melebihi ekspektasi ku namun hanya itu."


Jika aku sekuat diriku di duniaku sendiri aku tidak akan bisa mengalahkannya, namun aku menjadi sangat kuat di dunia ini seolah olah menyesuaikan dengan kekuatan penduduk asli.


"Bagaimana kalau kita lanjutkan?"


Seolah olah menyadari sesuatu pahlawan mengayunkan pedangnya dari kejauhan.


"Dimensional Slash!"


"Ap!?"


Menyadari bahaya dari serangan Masaru, Roderick berusaha untuk melompat ke belakang namun kakinya terikat oleh tanaman rambat yang diciptakan oleh Rosa.

__ADS_1


"Argh!"


Sebuah tebasan besar diagonal muncul begitu saja di dada Roderick membuat darahnya menyembur kemana mana.


"Siala-"


Sebelum dia menyelesaikan ucapannya aku menebas tepat di lehernya membuatnya jatuh seketika.


"Bukankah ini terlalu mudah?"


Masaru benar, setidaknya aku berharap dia memiliki trik tersembunyi seperti anggota lainnya, namun dia mati begitu mudah.


"Kukuku, tidak ku sangka aku bisa terluka sebanyak ini."


Darah yang berceceran di lantai mulai terbang di udara dan mulai menyatukan tubuh dan kepala Roderick yang terpisah.


"Regenerasi?"


"Hahaha! benar, aku abadi!"


"Triple dimensional slash!"


Tanpa menunggu, Masaru menyerang tiga kali berturut-turut hingga menghancurkan tubuh Roderick berkeping keping namun itu pulih dengan cepat.


"Haha, tidak berguna!"


"Benarkah?"


Pedang putihku perlahan lahan berubah warna menjadi hitam legam, ini adalah pedang yang jarang kugunakan karena akan melumpuhkan teknik berpedang ku, namun ini saat yang sangat tepat untuk menggunakannya.


"Sayangnya kau bertemu dengan ku."


Sebelum tubuhnya bisa beregenerasi secara penuh, aku langsung memotong kedua tangannya.


"Hahahaha tidak berguna! aku akan beregenerasi dalam sekejap! hah?"


Menyadari ada sesuatu yang salah, Roderick berteriak dengan panik.


"Kenapa tidak beregenerasi!? apa yang kau lakukan?!"


"Aku hanya menebas tangan mu, itu saja."


"B-bohong! aku adalah salah satu yang terpilih!"


"Yaya, kalau begitu matilah."


"T-tidak! bloody sama!"


Kepala Roderick tergeletak di tanah sebelum meledak seperti anggota lainnya.


"Itu tadi membuat ku sedikit takut."


Masaru mendekatiku sambil melihat lantai yang hancur karena ledakan, Masaru meskipun seorang pahlawan tapi dirinya sama sekali tidak sombong dan terbuka terhadap ku.


Di sisi lain rosa terus menatap tempat terakhir Roderick berada.


"Rosa, ada apa?"


"Ahh tidak, tidak ada."


'Seharusnya kita sudah memiliki anak sekarang bodoh'


Aku pura pura tidak mendengar apa yang diucapkan Rosa, dan memilih untuk pergi bersama Masaru untuk memberinya waktu.

__ADS_1


__ADS_2