MONOCHROME : Choice Of Destiny's

MONOCHROME : Choice Of Destiny's
Bab 19 Bawahan baru


__ADS_3

Aku bangun dan menemukan diriku terbaring di sebuah ruangan.


Aku bangun dan mulai melihat sekitar.


"Click" pintu terbuka.


Lucy masuk kedalam sambil membawa buah di tangannya.


"Kamu sudah bagun? bagaimana keadaan mu?"


"Aku cukup baik hanya sedikit kelelahan karena berubah menjadi vampir saat menahan tombak itu, sudah berapa lama aku tertidur?"


"Hanya beberapa jam."


Lucy terus berjalan dan duduk di sebuah kursi dekat kasur, dia menepuk kasur beberapa kali sambil melihat kearah ku.


Aku kembali keatas kasur dan duduk.


Lucy mulai mengambil apel kemudian mengupasnya.


"Jadi bagaimana keadaan Ana dan Zep? apa mereka baik baik saja?"


"Mereka berdua pingsan karena kehabisan mana dan tenaga terutama Ana karena dia terlalu memaksakan diri saat menggunakan sihir terakhir itu."


Lucy berbicara sambil terus memotong apel menjadi potongan kecil.


"Syukurlah."


"Ahhh~"


Lucy mengulurkan sebuah potongan apel yang ditusuk dengan garpu.


Aku ingin mengambil apel itu dari tangannya tapi tangannya terus menghindar dengan sangat lincah.


"Ada apa?"


"Ahhh~"


"Aku sedang tidak sakit kau tau? dan aku bisa makan sendiri."


"Ahh~"


Dia terus mengulangi hal itu dan mengabaikan semua yang aku katakan.


akhirnya aku mengalah dan membuka mulut ku dan Lucy memasukkan potongan apel kedalam mulutku.


"Kau puas sekarang? kau jadi mengingatkan ku pada ibuku sialan."


"Karena Ana dan Zep belum sadar aku ingin mendengar sedikit cerita tentang ibumu."


"Sejujurnya ini sangat memalukan."


"Ini perintah, jadi ceritakan tentang ibumu. dan Ahhh~"


Lucy mengulurkan apel sekali lagi dan aku memakannya.


"Bagaimana caraku menjelaskannya, pertama sejujurnya aku berada dari dunia lain dan aku lahir disana."


"Tunggu tunggu! Ibumu bisa pergi ke dunia lain!?"


"Itu benar, hanya saja suatu ketika aku langsung dipanggil kedunia ini sebagai pahlawan."


"Ibu dan ayahku masih didunia itu tapi ibuku memasang kesadaran dan kekuatannya di dalam diriku agar dapat terus memantauku."


"Saat pertama kali bertemu denganmu dia menemuiku di dalam sebuah mimpi yang disebut domain."


"Hahh!? ibumu bahkan bisa menggunakan domain!!"


Sekarang Lucy bahkan mulai gemeteran, tapi aku terus melanjutkan ceritaku.


"Itu benar, saat aku pingsan setelah melawan bandit aku bertemu dengan ibuku didalam sebuah domain dan mengajari ku cara menggunakan penyatuan selama tiga bulan."


"Haha dia bahkan bisa mengatur waktu."


"Itu sangat menyebalkan kau tau? dia terus menerus mengubah bentuk domainnya sesuka hati tergantung mood miliknya, berkali kali aku hampir mati karena lingkungannya terus berubah."


"Bahkan bisa mengontrol lingkungan domain sesuka hati."


"Itu sangat menyebalkan terutama saat malam karena setelah tau kalau aku lebih memilih berlatih dengan Gizel dia akan menyeret ku kedalam kamarnya dan menjadikan ku bantal guling!"


"Tunggu! siapa Gizel?"


"Ohh kupikir kau sudah tau. Karena suatu alasan yang tidak ku ketahui dia menjadi pelayan ibuku di dalam domain dan ngomong ngomong dia adalah Dragon Lord ES."


"Menjadikan dragon lord sebagai pelayan."

__ADS_1


"Tapi dia adalah ibu yang baik dan aku tau kalau dia sangat menyayangi ku."


"B- bagaimana caranya agar aku bisa bertemu dengannya?"


Lucy bertanya dengan mata terbinar sekarang seperti ingin bertemu dengan idola.


"Hmm aku juga kurang yakin karena sudah setahun lebih aku tidak bertemu dengannya, tapi saat kami berpisah dia mengatakan kalau aku bisa berkunjung ketika merindukannya."


"Bisakah kamu memberitahunya kalau aku ingin bertemu dengannya?"


"Baiklah akan kuusahakan, dia mungkin sedang mendengar kita sekarang."


Kami melanjutkan pembicaraan dan Lucy terus menanyakan tentang ibuku, ditengah pembicaraan pintu terbuka.


Seorang wanita masuk.


"Aku kesini hanya ingin menyampaikan jika siswa Zephyr sudah sadar."


"Terima kasih."


Wanita itu langsung keluar setelah mengatakan itu.


"Bagaimana kalau kita pergi dan melihatnya?"


"Ide bagus."


Dengan itu kami pergi ke kamar tempat Zep dirawat.


Kami berdua masuk dan menemukan Zep duduk diatas kasur.


"Yoo kau terlihat sehat."


"Aku menyapanya dengan biasa karena dia pasti merasa bersalah."


"Kau bahkan mampu menahan serangan pamungkas ku."


"Haha aku terluka parah kau tau?"


"Haha dan bagaimana keadaan Ana?"


Saat dia menanyakan tentang ana wajahnya langsung berubah menjadi suram dan dipenuhi rasa bersalah.


"Dia belum sadar tapi mungkin sebentar lagi dia akan bangun karena dia hanya kelelahan."


Kami berdua duduk disebuah kursi di dekat kasur, dan Lucy menyerahkan buah sisa yang dia bawa dari kamarku.


"Terima kasih."


"Sepertinya Asta tidak akan memaafkan ku setelah ini."


"Mungkin dia menyalahkan mu karena hampir membunuh Ana tapi menurut ku lebih dari itu dia lebih menyalahkan dirinya sendiri karena hanya bisa menonton."


"Lucy benar, jadi jangan terlalu menyalahkan dirimu sobat."


"Sepertinya masuk akal, Bagaimana kalau kita pergi ke tempat Ana? setidaknya aku ingin meminta maaf padanya saat dia bangun nanti."


"Apakah tubuhmu baik baik saja? kau baru saja sadar."


"Aku baik baik saja, dan jangan lihat aku dengan tatapan kasihan itu aku sedikit jijik."


"Baiklah baiklah."


Pada akhirnya Zep langsung terjatuh saat turun dari kasur jadi aku dan Lucy harus menopangnya saat pergi ke ruangan Ana dirawat.


Kami masuk dan menemukan Asta dengan memegang tangan Ana yang sedang tidak sadarkan diri.


"Kau!!"


Saat melihat kami masuk wajahnya langsung berubah dan berlari kearah kami kemudian memukul wajah Zep hingga terlempar kebelakang dan menghancurkan tembok.


Pukulan itu dipenuhi dengan kekuatan sihir jadi itu cukup kuat untuk menghancurkan tengkorak seseorang.


Saat Zep terbaring di lantai Asta terus memukuli wajahnya.


"Kau! berani sekali kau muncul dihadapan ku setelah hampir membunuh kekasih ku sialan!!"


"Kau hampir membunuh Ana kau tau!? apa selama ini kau tidak menganggap Ana sebagai sahabat mu hahh!!? jawab aku dasar sialan!!"


Asta terus memukuli Zep sambil berbicara.


"Maafkan aku."


Hanya itu yang keluar dari mulut Zep setelah itu kembali diam menunggu untuk dipukuli kembali.


"Hah!? apa menurutmu aku akan memaafkan mu begitu saja dengan meminta maaf!? jangan bercanda!"

__ADS_1


"Kau!! kau hampir membunuhnya dan aku! aku bahkan tidak bisa melakukan apa apa saat itu."


Suaranya semakin mengecil dan menghilang pada kata terakhir.


"Aku sama sekali tidak bisa melakukan apa apa selain meminta Ryu untuk menyelamatkan Ana."


"Sialan! kalau saja aku lebih kuat."


"Hehe Kenapa kalian sangat bersisik?"


Suara wanita lain terdengar dan itu adalah Ana yang sudah sadar.


Asta langsung meninggalkan Zep dan berlari kearah ana dan langsung memeluknya.


"Maafkan aku, maafkan aku saat itu aku tidak bisa melakukan apa apa."


Sekarang air mata Asta tumpah.


"Maafkan aku, aku bahkan tidak bisa melindungi mu. Maafkan aku."


Ana mengelus rambut Asta dengan tangannya yang lemah dan pucat.


"Hehe Terima kasih karena sudah menghawatirkan ku, dan tolong jangan salahkan Zep karena aku yang memulainya."


Aku menghampiri mereka sambil menopang Zep.


"Ana maafkan aku karena terlalu terbawa suasana saat itu."


Zep adalah orang yang berbicara, dia menundukkan kepalanya dengan cara paling rendah yang dia bisa, jika saat ini dia sehat mungkin sekarang dia sudah bersujud sambil membenturkan kepalanya kelantai.


"Tidak masalah, ini salah ku karena memprovokasi mu secara berlebihan dan sejujurnya aku sudah siap mati saat itu. Sepertinya Asta sudah memukuli mu, tolong maafkan dia.


"Aku pantas mendapatkan ini."


"Jangan begitu, dan tolong Asta lepaskan aku, kau tau tubuhku saat ini masih lemah jadi aku cukup kesakitan karena kamu memelukku terlalu erat."


"Ah maafkan aku!"


"Aku ikut senang karena hubungan kalian tidak berubah."


Lucy berbicara untuk mengalihkan pembicaraan agar suasana suram ini menghilang.


"Lucy bagaimana keadaan diluar?"


"Ahh itu cukup parah, Ratusan bangunan hancur akibat dari serangan tombak milik Zep bahkan terjadi kekacauan dimana mana sekarang, Arena turnamen hancur total akibat sihir tornado milik Ana dan semua itu harusnya dicatat dalam hutang kalian berdua."


Setelah mendengar itu wajah Ana dan Zep menjadi lebih pucat, terutama Zep yang telah menghancurkan ratusan rumah. Bahkan jika dia bekerja seumur hidup dia tidak akan bisa melunasi itu semua.


Sedangkan Ana meskipun itu hanya satu bangunan tapi dia menghancurkan bangunan yang cukup besar dan cukup penting.


"Tapi tenang saja karena aku sudah melunasi semua hutang kalian saat kalian tidak sadar."


Wajah mereka berdua langsung menjadi rileks tapi.


"Sebagai gantinya aku ingin kalian semua bekerja dibawahku seumur hidup kalian, bagaimana? bukankah cukup menarik?"


"Aku jadi ingat ketika pertama kali diangkat menjadi kesatria."


Aku teringat saat Lucy bertingkah seperti heroine yang baik hati dan penyayang untuk membuatku menjadi kesatria nya.


"Aku berniat menjadi petualang bersama dengan Ryu saat lulus nanti jadi aku akan menerima tawaranmu, hanya saja saat ini aku tidak bisa melakukan upacara formal."


"Cukup bagus, bagaimana dengan mu Ana? aku bisa menarik perkataan ku tadi tentang melunasi hutangmu jika kamu menolak."


"Kira kira butuh berapa lama untuk melunasi hutangku?"


"Hmm jika kamu bekerja sama dengan Asta mungkin bisa dalam belasan tahun, Bukannya aku ingin menjadikan kalian sebagai bawahan ku hanya saja aku butuh teman perempuan yang selalu ada disampingku untuk menjagaku."


"Aku hanya khawatir tentang kebebasan ku nantinya."


"Ohh jangan khawatir tentang itu, jika kamu melayani keluarga Lucifer memang seperti Itu tapi kamu akan melayaniku secara pribadi dan kebebasan mu kujamin, kamu sudah melihat kebebasan kesatria pribadi ku kan?"


"Kamu benar, meskipun dia kesatria mu tapi dia terlihat tidak menghormati mu sama sekali. Sepertinya bukan ide yang buruk untuk melayani mu."


"Baiklah perkataan bagus. sekarang Zep akan menjadi tangan kiriku, Ana akan menjadi pelayan pribadi ku dan untuk Asta kupikir dia akan cocok menjadi instruktur pemanah."


"Turnamennya ditunda selama satu minggu karena kalian harus fokus memulihkan diri sebelum memulai pertarungan selanjutnya."


"Karena semuanya sudah sadar dan saling memaafkan kita akhiri untuk hari ini dan kita akan bertemu lagi besok."


Aku menyarankan agar kami semua kembali dan mulai beristirahat, aku dan Ana menopang Zep kemudian membawanya kembali ke kamar sedangkan Asta bersikeras ingin tetap disana.


.


.

__ADS_1


.


Malam itu Lucy bertemu dengan idolanya.


__ADS_2