
Hari baru, kali ini aku berjalan sendiri di distrik perdagangan, tidak ada alasan khusus aku hanya suka berjalan jalan sambil mencoba semua makanan yang ada.
"Hmm hm hm~" bersenandung
"Tolong!"
Meskipun suaranya sangat kecil tapi dengan pendengaran ku yang ditingkatkan aku bisa sedikit mendengarnya.
"Tolong aku!"
Aku mengabaikan suara itu dan terus bejalan tapi itu sangat mengganggu.
Jadi setidaknya aku memutuskan untuk sedikit melihat apa yang terjadi.
Aku mengikuti suara itu dan masuk kedalam gang sempit dan sepi.
semakin dalam aku pergi suaranya juga semakin jelas jadi aku cukup yakin.
di depan aku melihat belokan dan disana ada seorang wanita setengah telanjang dikelilingi oleh beberapa pria besar.
Bajunya sudah terlihat seperti kain lap karena dibuka secara paksa, sekarang wanita itu sudah terbaring dengan seorang preman duduk diatasnya.
Wahh apa yang harus kulakukan? kabur? membantunya? atau mungkin ikut bermain? :)
Aku memutuskan untuk turun dan menghampiri mereka.
"Apa aku salah jalan yah? ini gawat kalau sampai tersesat."
Aku muncul dari belokan seperti orang yang tidak bersalah.
Aku berbalik kearah beberapa orang itu dan mereka semua juga langsung diam dan melihat kearahku.
"Ohh permisi! apakah kalian tau dimana tempat untuk membeli sebuah Sate disekitar sini? aku dengar itu ada di distrik perdagangan tapi aku tersesat hahahah."
Para bandit itu pulih dari keterkejutannya dan orang yang tampak seperti pemimpin menunjuk orang untuk menghampiri ku.
"Wahh akan sangat berbahaya jika kamu tersesat, kemari aku akan mengantarmu kesana."
"Terima kasih banyak."
Saat bandit itu menyentuh punggung ku aku langsung mengambil tangannya kemudian mengangkatnya kedepan membuatnya terbang ke udara dan menabrak tanah dengan keras.
"Kuakk!"
Orang itu langsung pingsan.
"Hahaha maaf aku tidak sengaja melakukannya, dan maaf juga karena tidak ada yang namanya sate di dunia ini."
"Bunuh bocah itu!"
Semua bandit langsung maju dan aku memberikan beberapa pukulan tepat di bagian dada hingga membuat mereka semua pingsan.
Sekarang tersisa pemimpin yang masuk duduk diatas wanita itu.
"Aku memberimu sedikit saran, jika ingin melakukan ini tolong tutup mulutnya pakai sesuatu sehingga dia tidak bisa berteriak karena suara teriakannya sangat mengganggu sampai membuat telinga ku sakit."
Pemimpin itu mulai berdiri dan berjalan kearah ku.
"Kau memang cukup kuat untuk seukuran bocah."
Pemimpin itu menyerang kearahku dengan sangat cepat.
Sial itu sangat cepat!
Aku tidak percaya bandit bisa bergerak secepat ini.
Aku langsung meningkatkan fisik ku dengan elemen cahaya untuk mengimbangi kecepatannya.
"Hahaha kenapa? kau hanya bocah yang bisa kabur sekarang."
Setelah menemukan kembali ketenangan ku aku terus menghindari serangan bandit sambil menganalisa kekuatannya.
Karena tidak tau apa yang terjadi aku memukul perut bandit itu dan membuatnya menjauh.
Aku membayangkan dia akan terbang hingga menabrak tembok tapi yang terjadi dia hanya terdorong mundur beberapa meter.
"Tch ini sangat menyebalkan."
Bandit itu mengoceh kemudian mengambil sebuah suntik dari sakunya kemudian langsung menusukannya ke lengannya.
"Hahaha! aku merasakan kekuatan meluap di dalam diriku!"
Kekuatan sihir bandit itu langsung meledak dari dalam tubuhnya.
__ADS_1
Aku pernah melihat ini, ini seperti penyatuan cacat yang biasanya dipakai oleh siswa saat turnamen seleksi, hanya saja yang ini lebih liar.
Jika dibiarkan orang ini akan mati karena tubuhnya tidak mampu menahan kekuatan itu.
Bandit menyerang kearahku dengan sangat cepat tapi bukan berarti aku tidak bisa melawannya.
Aku menghindari serangan bandit itu lalu melakukan serangan balik dengan memukul perutnya dengan serangan yang diperkuat.
Itu membuatnya terdorong mundur dan langsung menunduk dan memuntahkan cairan.
"Tidak mungkin, aku adalah yang terpilih! bagaimana bisa aku kalah dari bocah ini!?"
Bandit itu berdiri dan menyerang sekali lagi, kali ini aku tidak membalas dengan pukulan tapi tendangan yang diperkuat oleh elemen kegelapan milikku.
Bandit itu terlempar menabrak tembok hingga menghancurkannya.
"Kuak!"
Bandit itu duduk dilantai dengan lemas.
Saat aku berniat mengikatnya kemudian membawanya ke kediaman Lucifer untuk diteliti Bandit itu mulai menggeliat.
Tubuhnya mulai membesar seperti sebuah balon yang siap untuk meledak, aku panik dan langsung berlari kearah wanita yang tadi dan langsung mengangkatnya untuk membawanya pergi.
Aku berusaha berlari secepat mungkin, aku tidak tau mengapa tapi insting ku berkata demikian.
Aku menggunakan penyatuan cahaya dan berlari secepat mungkin.
"Duaar!!"
Gelombang kejutnya membuatku terhempas kedepan.
Aku berbalik dan melihat sebuah asap berbentuk jamur.
Itu adalah ledakan yang sangat dahsyat bahkan setingkat sihir pemusnah massal.
"Haaah haah itu hampir saja."
"A apa itu?"
Wanita itu bertanya dengan gemetar.
"Aku juga tidak tau, mari kita pergi sebelum orang orang berkumpul."
"Terima kasih."
Wanita itu mengambilnya dengan santai, wajahnya memang memerah tapi setidaknya aku sedikit mengharapkan dia berteriak "Mesum" atau sesuatu.
"Ayo kita pergi."
Kami kembali ke jalan utama dan disana orang sudah mulai berkumpul jadi kami memutuskan untuk pergi secepatnya.
Setelah sampai ke tempat yang cukup sepi aku memutuskan untuk pergi.
"Baiklah kita berpisah disini, kamu bisa mengembalikan itu besok di arena."
Setelah mengatakan itu aku berbalik dan mulai berjalan tapi aku merasakan sesuatu menyentuh lengan bajuku.
"Umm bisakah kau menemaniku untuk pulang? aku sedikit takut."
Aku melupakan itu, dia pasti mengalami trauma.
"Baiklah aku akan menemanimu."
"Terima kasih."
.
.
.
Kami berdua pergi ke distrik perumahan dan kami tiba di sebuah rumah yang mewah.
"Selamat datang nona."
Pelayan menghampiri kami dan membungkuk.
"Aku ingin istirahat jadi jangan biarkan siapapun masuk ke kamarku."
"Dimengerti."
"Ikuti aku."
__ADS_1
Kami berdua pergi ke lantai atas dan masuk ke sebuah kamar super besar.
"Duduklah dimanapun, aku ingin mengganti pakaian sebentar."
Wanita itu masuk kedalam ruangan lain yang sepertinya menjadi ruang ganti.
Aku berkeliling ruangan dan terkagum karena meskipun tidak sebesar kamar milik Lucy tapi ini masih cukup besar, setidaknya dia adalah bangsawan.
"Maaf sudah membuat mu menunggu."
Wanita itu keluar dengan pakaian kasual, dia cukup cantik kurasa bahkan jika dibandingkan dengan Lucy atau Ana.
"Tidak masalah, ruangan ini sangat menakjubkan."
"Kamu bercanda, ini bukan apa apa jika dibandingkan yang lain, silahkan duduk."
"Terima kasih."
Sejujurnya aku sedikit curiga sekarang.
"Aku mengingat mu, kau adalah siswa dari Fibel academy yang bertarung melawan Luxen academy di babak pertama."
"Aku sangat senang karena kamu mengingat orang yang kalah dengan menyedihkan sepertiku, Namaku Aria Argenta kamu bisa memanggilku Aria."
"baiklah Aria kalau begitu kamu bisa memanggilku Ryu."
"Wah nama yang bagus."
"Meskipun kau kalah tapi kau bisa masuk ke turnamen ini artinya kau adalah orang terkuat di Academy Fibel, dan aku curiga kenapa orang sepertimu bisa berakhir di tangan bandit itu."
"Haha itu sangat menyedihkan kurasa, sejujurnya aku juga tidak mengerti mengapa tapi Edward belum melepaskan segelnya."
"Hah? tunggu, maksudmu sampai saat ini sihirmu masih tersegel?"
"Benar, karena itu aku bisa kalah dari bandit."
"Haruskah kita melaporkannya? kurasa ini sudah keterlaluan."
Wajah Aria terlihat cerah tapi langsung menjadi murung.
"Aku berterima kasih tapi keluarga ku tinggal di wilayah kekuasaan Leviathan dan aku tidak mau menimbulkan masalah yang tidak perlu."
"Tapi dengan sihirmu tersegel seperti ini kau akan menjadi iblis biasa."
"Tidak masalah dan bukannya segelnya akan bertahan selamanya, karena ini dipasang dengan cepat jadinya paling lama akan bertahan 1 minggu."
"Kalau kamu berkata begitu ya baiklah."
"Aku cukup penasaran, kamu ini manusia kan? bagaimana bisa manusia berakhir di Kekaisaran dan bahkan menjadi kesatria pribadi tuan putri?"
"Ahhh kenapa semua orang selalu menanyakan hal yang sama. Ceritanya cukup panjang."
"Tidak masalah kita punya banyak waktu."
Aku menceritakan kepadanya bagaimana aku melawan dragon lord, terbawa longsoran salju dan berakhir ditemukan oleh Lucy saat sekarat.
"Pasti berat untukmu, ohh dan apakah kamu sendirian sejak awal?"
"Tidak, aku bersama beberapa rekan ku, kenapa bertanya seperti itu."
Aku hanya sedikit curiga karena sejak awal aku tidak pernah menyebutkan soal teman di dalam cerita karena takut ada yang memanfaatkan mereka.
"Hmm dulu aku pernah mendengar tentang rumor bahwa ada penampakan manusia di wilayahku tapi kupikir itu tidak mungkin karena perbatasan dijaga dengan sangat ketat, tapi setelah mendengar ceritamu kupikir itu salah satu rekanmu."
"Kurasa nanti aku akan berkunjung untuk mencarinya, sementara itu bisakah kau mencari tau keberadaannya?"
"Tentu, aku berutang budi padamu jadi akan kubantu."
"Terima kasih, nanti aku juga akan berbicara baik baik kepada Edward untuk melepaskan segelnya."
"Itu bagus tapi tolong jangan berlebihan."
"Tentu."
Kami terus berbicara selama beberapa saat dan saat hari sudah gelap aku memutuskan untuk pergi.
"Aku akan kembali sekarang."
"Datanglah berkunjung kapan pun kamu mau, aku akan menyambutmu."
Aku Berjalan menjauh dan mendengar Aria bergumam dibelakangku.
"Maaf."
__ADS_1
Tapi aku mengabaikannya dan terus berjalan.