
Untuk kesekian kalinya aku kembali ke tempat yang polos ini, yah itu karena seluruh bagiannya berwarna putih sampai sampai aku tidak bisa membaca arah.
Aku sedikit penasaran mengapa aku kembali ke tempat ini setelah beberapa tahun, terakhir kali yaitu ketika aku hampir mati oleh Gizel dan berakhir mempelajari penyatuan.
Sedikit bernostalgia, aku berjalan jalan tanpa arah sambil memperhatikan dunia yang hanya berisi warna putih ini.
Rasanya sangat unik karena meskipun kakiku terus melangkah, tapi terkesan seperti hanya berjalan di tempat.
Aku juga tidak merasakan lelah sedikitpun, jadi aku bebas berlari dengan kecepatan tinggi tanpa khawatir untuk kelelahan, karena tidak ada hambatan jadi mustahil untuk tersandung di tempat ini.
Tapi lama kelamaan akhirnya rasa bosan menyerang, konsep waktu di tempat ini sangat tidak jelas jadi aku tidak tau sudah berapa lama, yang pasti ini mungkin sudah berjam jam.
Aku sudah kehabisan ide tentang apa yang harus kulakukan untuk mengisi waktu luang, menyadari bahwa ini bukanlah kenyataan aku mulai memikirkan sesuatu.
Dalam kepala, aku membayangkan sebuah pedang yang selama ini sudah kugunakan, dan boom.
Dalam sekejap sebuah pedang muncul di tanganku, belum puas, aku membayangkan hal lain seperti makanan.
Rasanya sangat persis dengan apa yang kubayangkan, yang menarik adalah ketika aku mencoba membayangkan sebuah ayam goreng dengan rasa apel, dan benar saja meskipun bentuk dan teksturnya persis seperti ayam goreng, tapi rasanya benar benar apel.
Aku berpikir, bagaimana jika aku membayangkan seseorang, apakah dia akan muncul?
Karena tidak akan ada yang tau jika tidak mencoba, jadi aku membayangkan seseorang yang sudah sangat lama aku rindukan, Ayahku.
Rasanya sangat sulit membayangkannya karena ayahku adalah orang yang sangat normal jika dibandingkan Ibu yang sangat mencolok.
Membayangkan sosok pria paruh baya, rambut sedikit beruban, wajah agak kotak, ekspresinya yang lembut, dan senyumannya yang selalu bisa menenangkan.
Dari ketiadaan mulai muncul sebuah bentuk mulai dari kaki, paha, perut, dada, hingga kepala. Aku tidak membayangkannya menggunakan kemeja dan jas tapi dia muncul dengan pakaian yang persis sama dengan yang terakhir kali.
Mungkin saja ini karena ini adalah sosok terakhirnya yang kulihat sebelum ke dunia ini.
"Aku tidak percaya ini berhasil."
Aku menghabiskan waktu beberapa saat untuk melihat lihat Ayah yang hanya berdiri diam.
__ADS_1
Namun, aku terkejut setengah mati ketika merasakan sebuah pelukan mengikat diriku, itu dari Ayah.
Yang membuatku lebih terkejut lagi ketika sebuah suara terdengar.
"Aku bersyukur kamu baik baik saja, Nak."
Aku hanya diam, lebih tepatnya aku tidak tau kata seperti apa yang bisa mewakili apa yang kurasakan saat ini.
"Ughh!"
Tiba tiba saja, kepalaku terasa sangat sakit, seluruh dunia terombang ambing memaksaku untuk kehilangan kesadaran.
...****************...
"Gahh!"
Darah yang bercampur dengan debu keluar dari dalam mulutku, rasa debu sangat tidak enak memenuhi mulutku, ditambah darah kental yang membuatku ingin muntah.
Aku menghabiskan beberapa waktu untuk mengeluarkan kotoran dari mulutku sebelum melihat sekeliling.
Hal pertama yang kulakukan adalah mencari keberadaan Masaru dan Rosa, ketika ledakan terjadi, aku langsung menutupi Rosa dengan tubuhku jadi aku bisa dengan mudah menemukannya pingsan tepat di dekat ku.
Namun masaru adalah masalah yang berbeda, aku kesulitan melihatnya di tengah puing puing yang menutupi lantai, dengan kaki yang sedikit gemetar aku mencoba berdiri.
Sebagai catatan, lukaku sudah sepenuhnya pulih berkat regenerasi.
Aku mulai menyingkirkan puing, satu demi satu sebelum akhirnya menemukan Masaru yang pingsan di bawah potongan tiang berdiameter 1 meter.
Melihatnya masih bernafas meskipun dipenuhi darah sudah sangat mengejutkan, jadi aku hanya menyingkirkan puing di sekitarnya sebelum menggunakan sihir penyembuhan sederhana.
Dalam waktu singkat, luka Masaru mulai menutup sebelum akhirnya sembuh dengan sempurna.
"Heeeh, itu sihir yang sangat menarik."
Panik, aku dengan cepat mengayunkan pedang ke arah sumber suara, aku bisa merasakan sebuah daging terpotong.
__ADS_1
Aku begitu panik tanpa alasan jadi langsung menebasnya, akhirnya aku menoleh melihat sosok barusan, dan itu adalah seorang gadis kecil dengan rambut silver dan mata merah.
Jujur saja, dia mengingatkanku kepada Lucy versi loli karena kecantikannya, namun baru saja aku memotong kepala yang membuatku semakin panik.
Yang aneh, tubuhnya masih duduk dengan baik meskipun kepalanya sudah tergeletak di lantai.
"Bukankah ini sedikit kasar, padahal Aku sudah menunggumu bangun sejak tadi."
Aku dengan cepat melirik ke arah kepala yang ada di lantai, itu berbicara seolah olah kematian tidak berlaku untuknya.
"Kenapa wajahmu seperti itu? padahal kamu saja bisa sembuh dari luka mengerikan itu dalam waktu singkat."
Aku mencoba untuk menenangkan diri, bagaimanapun sosok di depanku masih hidup dan juga tidak terlihat agresif.
"Siapa kau?"
Tubuh gadis itu perlahan berjalan ke arah kepala dan mulai memasangnya di tempat semula seperti sebuah lego.
"Karena ini adalah tubuh orang lain, jadi lebih baik ku pakai namanya saja. Anak ini adalah Lucy, aku lupa dengan marga keluarganya, apa? Everleight? ohh jadi namamu Lucy everleight."
Aku ternganga melihat tingkah gadis ini, dia terus berbicara dengan seseorang yang bahkan tidak ada dan mengabaikanku.
"Ayolah, setidaknya aku sudah membalaskan dendammu, yah baiklah baiklah sepakat."
Dia menghabiskan beberapa menit hanya untuk berbicara sendirian sebelum melihat ke arahku seperti telah mengambil keputusan.
"Jad-"
Aku menebasnya sekali lagi, kenapa Kku melakukannya? tidak tau. Rasanya seolah olah kematian akan menghampiri jika Aku tidak melakukan sesuatu.
Sepasang tangan jatuh ke lantai, namun itu terpotong seperti boneka, tidak ada darah ataupun daging yang terpisah.
"Um?"
Gadis itu melihatku dengan tatapan sedikit heran di matanya, setelahnya rasa sakit yang sangat luar biasa memenuhi kepalaku hingga rasanya aku akan pingsan.
__ADS_1