
Di lokasi Carl dan Nuriel juga tidak terlalu baik, mereka di serang habis habisan oleh para mutan.
"Nona berlindunglah di belakangku!"
Tetua Kael bertarung menggunakan sihir dengan sangat baik, setiap sihirnya menghempaskan para mutan ke segala arah, sedangkan Carl meskipun dirinya tidak cukup kuat namun ada Nuriel yang bisa menggantikannya.
Dibalik cakar imutnya, Nuriel bisa memenggal kepala para mutan dengan sekali ayunan, bagaimanapun dirinya tetaplah naga hitam.
"Huuf, aku tidak percaya akan sangat kesulitan melawan para binatang ini."
Tetua Kael melihat ke segala arah dimana mayat para beastman mulai menutupi tanah karena serangan mutan tanpa henti.
"Jika seperti ini kita akan kalah setelah kehabisan stamina."
"Bertahanlah tetua, aku akan menyembuhkanmu."
Carl terus menyembuhkan Tetua Kael setiap kali dirinya terluka atau kelelahan, tapi itu tidak bisa berlangsung lama karena semakin lama waktu berlalu, maka mana keduanya akan habis dengan cepat.
"Huuf huuf, mana ku sudah habis."
Carl menurunkan tangannya, meskipun dirinya tidak terluka tapi dapat di lihat bahwa dirinya sangat kelelahan karena terlalu banyak menggunakan mana.
"Sudahlah, istirahat saja aku masih memiliki kekuatan yang cukup."
Meskipun demikian Tetua Kael sudah di penuhi dengan keringat.
"Kyuun!"
Nuriel terus menerus membunuh satu persatu para mutan dengan cakar miliknya, dia masih terlalu muda untuk menggunakan sihir.
Namun salah satu mutan serigala mampu mencapainya dengan cakar, membuatnya terhempas ke tanah dengan kuat.
"Nuriel!"
Carl berteriak membuat Tetua Kael buru buru melemparkan sihir angin untuk menyelamatkan Nuriel.
Hal itu membuat punggungnya terbuka, tanpa sempat menyiapkan sihir lain, seekor mutan serigala sudah menggigit lehernya dengan kuat.
"argh!'
"Menjauh darinya!"
Carl yang putus asa memukul kepala mutan dengan tangannya yang lemah, setidaknya itu cukup untuk membuat mutan sedikit mundur dari Tetua Kael.
Seluruh mutan yang tersisa mulai mengepung Carl, tidak ada dari mereka yang menyerang seolah olah sedang mempermainkannya.
"Menjauh!"
Carl melemparkan sebuah batu kearah mutan membuat mereka menyerang secara bersamaan.
Kaki, tangan, pinggang, leher, gigitan demi gigitan terus mencabik tubuh Carl. Bahkan dia tidak memiliki kekuatan untuk berteriak.
Kesadarannya dengan cepat menghilang dalam kegelapan.
Aaahhhh aku mati dengan cara yang sangat konyol.
"Roooaaarrr!"
Untuk sesaat Carl melihat seekor mutan serigala raksasa yang ingin memakannya tapi dia tidak merasakan sakit apapun.
Kuharap kakak baik baik saja.
Setidaknya dia bisa bersyukur karena mati setelah bertemu dengan Ryu.
...****************...
Di ruang takhta, Ryu, Masaru, dan Rosa berdiri di hadapan sang raja.
"Wah wah, tidak ku sangka kalian bisa sampai ke tempat ini."
Kami bisa mencapai ruangan ini setelah melewati banyak sekali penjaga yang merepotkan, beberapa dari mereka sekuat pria Roderick.
__ADS_1
Namun raja ini benar benar berada di dimensi yang berbeda, Aura yang dia pancarkan setara dengan demon lord, meskipun dengan cara yang berbeda.
Untungnya dia sendirian, akan sangat gawat jika dia memiliki penjaga.
"Aku adalah Julius, aku hanya ingin hidup bahagia sebagai raja, namun tidak ku sangka salah satu dari kalian akan melancarkan serangan begitu tiba tiba."
"Aku adalah Masaru, salah satu pahlawan yang dipanggil untuk menghentikanmu."
"Aku Ryu, dan dia adalah Rosa."
Sejak kematian Roderick, Rosa menjadi lebih diam, sebagian ini salah ku karena membunuh sosok yang dekat dengannya namun aku juga tidak menyesal melakukan itu.
"Tidak bisakah kita selesaikan ini secara damai?"
Aku sangat terkejut mendengarnya, aku tidak pernah berharap kalau seorang menganut bloody sect akan meminta untuk berdamai.
Aku mendapatkan beberapa informasi bahwa sekte yang kami lawan adalah bloody sect, yang menyembah dewa darah dengan cara menjadikan darah makhluk hidup sebagai persembahan untuk memperoleh kekuatan yang sangat luar biasa.
"Sayangnya tidak, jadi bagaimana kalau kita akhiri ini sekarang?"
Masaru selalu menjadi sosok yang mengambil keputusan, rasanya dia adalah sosok pahlawan yang sebenarnya jika dibandingkan dengan ku dulu.
"kalau begitu sayang sekali."
Julius berdiri dari takhta miliknya dan darah melayang di sekitarnya hingga membentuk sebuah pedang.
Udaranya menjadi jauh lebih berat ketika dia berdiri.
Aku mempersiapkan pertahanan untuk mengantisipasi serangan kejutan.
"Carl tolong buff kami berdua."
"Baiklah, aku akan mendukung dari belakang."
"Ryu, tolong jaga punggung ku."
"Haha serahkan padaku."
Kami berduaan menyerang secara bersamaan.
Julius sama sekali tidak bergerak?
Mengabaikan Julius yang hanya diam di tempat, Masaru mengayunkan pedangnya dengan kecepatan suara ke arah leher Yulius, namun sebelum bilah mencapai lehernya, sebuah perisai darah menahan pedang Masaru.
Melihat pertahanannya, aku menggunakan sihir gelap pada pedang ku, dan mengincar jantung Julius dari belakang.
Berbeda dari harapanku, perisai darahnya tetap mampu menahan pedang ku yang biasanya mampu menghancurkan segala pertahanan.
"Hmmm kalian berdua cukup kuat, terutama untukmu Ryu."
"Terima kasih atas pujiannya!"
Mengucapkan itu, aku sekali lagi mengayunkan pedang ke arah lehernya namun perisai darah terus menahan serangan kami.
Tidak peduli seberapa banyak kami menyerang, perisai miliknya terus menahan pedang kami, belum lagi kecepatan darah itu sangat tidak masuk akal.
"Kalian berdua, mundur!"
Mengikuti instruksi Rosa, kami melompat menjauh sebelum sebuah Julius di hujani dengan sihir.
"Wah wah wah, sihir mu juga mengesankan nona."
Namun Julius muncul tanpa luka sedikitpun, dapat di lihat kalau dirinya di tutupi oleh sebuah gelembung darah.
"Tch, sihir juga tidak berpengaruh."
"Msaru, ada rencana?"
"Aku tidak tau, kita hanya perlu mengalahkannya di sini."
Begitulah, aku sama sekali tidak melihat celah untuk menang melawan Julius ini, untungnya dia bukanlah musuh yang agresif.
__ADS_1
"Ada apa? kalian sudah selesai? kalau begitu ini giliran ku."
Menyadari apa yang ingin dia lakukan, aku buru buru berlari ke arah Rosa, dan benar saja tak lama sebuah tentakel darah menyerang ke arahnya.
"Masaru!"
Meskipun ini adalah benda cair tapi rasanya begitu berat hingga aku terdorong beberapa langkah ketika menahannya.
"Hiyaat!"
Masaru memotong tentakel yang menyerang kami, itu mundur untuk sesaat tapi dalam sekejap beregenerasi lagi.
"Ada 8 tentakel, meskipun daya serangnya lemah tapi itu cukup merepotkan."
"Itu juga merusak pedang ku ketika terpotong."
Masaru menunjukkan pedang miliknya yang terlihat mulai berkarat hanya karena memotong tentakel.
"Ini jadi lebih merepotkan."
"Hati hati!"
Rosa berteriak dari belakang ketika semua tentakel menyerang secara bersamaan ke arah kami.
"Regenerasinya terlalu cepat!"
Rasanya melawan begitu banyak tentakel karena itu pulih dalam hitungan detik.
"Masaru, lindungi Rosa, aku akan mengincar tubuh utamanya!"
"Baiklah."
Aku mengabaikan semua tentakel dan lebih memilih menyerang langsung ke arah Julius yang masih melihat ku dengan tentang.
Sejak awal dia tidak pernah menggunakan pedang miliknya jadi aku tidak tau seberapa kuat pedang yang dia miliki.
"Pilihan yang tepat, namun jangan salah paham."
Aku menyerang ke arah Yulius namun alih alih menggunakan perisai darah, kali ini dia hanya menggunakan pedangnya untuk bertahan.
"Kemana perisai darah sebelumnya?"
"Aku tidak butuh itu untuk melawan mu."
"Atau kau mungkin tidak bisa?"
"Hahahha kau punya mata yang jeli."
Julius terus tertawa ketika pedang kami berbenturan satu sama lain, namun dia tidak bergerak dari tempatnya.
"Setidaknya daya serang mu juga tidak sekuat itu."
"Benarkah?"
Aku sedikit terkejut melihat ekspresi wajah dari Julius yang sedikit mengkerut.
"Ugh!"
Merasakan sakit, aku mundur beberapa langkah, tanpa kusadari ada sebuah darah mengalir di pipiku.
Apa itu? aku sama sekali tidak bisa melihat serangannya.
"Lihat?"
"Arkh!"
Tanpa ada suara, Sebuah goresan muncul di lengan dan kaki ku.
Aku benar benar memutar otak hanya untuk memahami apa yang terjadi, tapi tidak ada yang terlintas di pikiran ku.
"Sepertinya ini sedikit gawat."
__ADS_1