
Di atas kami muncul seorang malaikat dengan sepasang sayap di punggungnya.
Dari melihatnya saja aku sudah tau kalau orang ini adalah monster.
Bahkan mungkin setara dengan Demon lord.
Aku melihat kearah kursi VIP dan baru kali ini demon lord terlihat terkejut dan berdiri dari kursinya.
"Selamat siang semuanya."
Pria itu berbicara dengan suara yang sangat dalam.
"Aku tidak berencana muncul sekarang tapi rune yang ku pasang tidak bisa diledakan tapi jangan khawatir karena aku sudah menyiapkan rencana cadangan dan aku melihat sosok yang akan menjadi ancaman bagi kami dimasa depan jadi aku harus membunuhnya disini."
Malaikat itu melihat kearah kami, tidak dia melihat kearah Ana yang berdiri dibelakang ku.
Malaikat itu mengangkat tangannya keatas dan seketika sebuah tombak cahaya raksasa muncul dan itu mengarah tepat kearah kami.
Aku dan Zep langsung berdiri didepan Ana untuk melindunginya.
Tombak itu meluncur ke arah kami dengan kekuatan yang sangat luar biasa.
Aku menahan tombak itu dengan pedang ku tapi.
"Boom!"
"Kuakkk!"
Kami bertiga terhempas hingga menabrak kursi penonton.
Darah tumpah dari mulutku.
"Kekuatan macam apa itu."
.
.
.
Dikursi VIP 7 pangeran iblis tidak bergerak dan hanya mengamati pertarungan.
"Ayah!! kenapa kau hanya diam saja!? bantu mereka! jika terus seperti ini mereka akan mati!"
Lucifer melihat kearah Lucy dengan ekspresi yang rumit.
"Nak, lingkaran sihir itu akan aktif jika salah satu dari kami turun tangan karena itu akan menyerap kekuatan sihir kami dan kemudian akan meledak."
"Jadi maksudmu kita hanya bisa melihat Ryu mati!? jangan bercanda, aku akan membantunya sendiri."
Lucy berniat pergi tapi ditahan oleh kepala pelayan.
"Lucy tenang lah."
"Hah! aku tidak percaya ayah menjadi sangat lemah sekarang, aku benar benar kecewa."
Lucifer mengepalkan tangannya sangat erat sampai kekuatan sihirnya sedikit bocor keluar.
Seseorang menepuk pundaknya yaitu pelayan wanita.
"Yang mulia tenanglah, sebaiknya untuk sekarang kita melihat dulu."
Lucifer menjadi tenang dan mulai mengendalikan kekuatan sihirnya agar tidak bocor.
Lucifer memeluk Lucy yang masih menangis.
"Nak tolong tenanglah, malaikat itu bukan masalah tapi yang ayah takutkan adalah lingkaran sihir itu, jika itu meledak ibu kota akan hancur dan akan banyak saudara kita yang akan mati."
"Kalau begitu apa yang harus kulakukan."
Lucy memeluk ayahnya dan membenamkan wajahnya kedada Lucifer.
.
.
.
Malaikat itu menyiapkan tombak lain dan langsung melemparkannya.
Aku berniat berdiri untuk menahannya.
"Boom!"
Tapi ledakan itu tidak mencapai kami.
Aku membuka mataku dan menemukan Asta berdiri didepan kami dengan dipenuhi darah tapi itu langsung menghilang.
"Maaf terlambat."
"Haha berhentilah bertingkah keren seperti itu."
Kami tau kalau meskipun lukanya sembuh dengan cepat tapi itu tidak berarti dia tidak merasakan sakit.
"Berapa lama lagi kamu bisa menahan serangan itu?"
"Aku tidak tau tapi serangan tadi saja langsung menguras staminaku jadi mungkin hanya bisa sekali lagi."
__ADS_1
"Itu cukup."
Tanpa berbicara lagi kami bertiga langsung menyiapkan sihir terkuat kami.
Zep menyiapkan tombak seperti sebelumnya, Ana menyiapkan sebuah tombak Tornado, sedangkan aku menyimpan satu pedang dan mengangkat pedang ku keatas dengan gaya kendo.
Perlahan lahan pedangku membesar dan memanjang hingga mencapai 10 meter.
ini memang masih sangat kecil tapi untuk sekarang hanya ini yang kubisa.
Malaikat itu melemparkan tombaknya sekali lagi dan ditahan oleh Asta.
Asta terhempas jauh kebelakang karena tidak sanggup menahan dampaknya.
Zep dan Ana melempar tombak mereka.
Untuk pertama kalinya malaikat itu terlihat terkejut dan mengambil posisi bertahan.
.
.
.
Bahaya!
Aku segera mengambil posisi bertahan.
"Boom!!"
Sebuah ledakan dahsyat terjadi menciptakan sebuah badai mana yang sangat mengerikan.
Aku berhasil menahan serangan itu dengan luka ditanganku dan itu membuatnya mati rasa.
Aku bersiap menggunakan tombak cahaya tapi didalam asap muncul seorang bocah berambut putih sambil membawa pedang raksasa di tangannya.
Aku harus menghindari itu!
Karena sudah terlambat aku berniat menahannya dengan tombak cahaya tapi.
"Slassh!"
Tombakku terbelah, tidak kenapa aku menatap keatas?
Saat aku menyadarinya aku sudah terbelah dua.
.
.
.
"Haaah haah apakah berhasil?"
Aku duduk dilantai karena sudah tidak sanggup berdiri lagi.
"Aku tidak percaya ada yang bisa menebas ku selain 7 pangeran iblis."
Sebuah cahaya mengelilingi malaikat itu dan dia muncul dengan tanpa luka.
"Tidak mungkin..."
Malaikat itu memanggil tombak cahaya lagi tapi kali ini dia memanggil puluhan darinya.
"Ryu lari!!"
Aku bisa mendengar suara Lucy yang berteriak dari kursi VIP tapi di tahan oleh Lucifer.
"Ohoho permisi, orang tua ini ingin bertanya dimana lokasi turnamen bintang putih diadakan?"
Muncul orang tua dengan tudung, dia berjalan menggunakan tongkat dan terlihat sudah sangat tua.
Baru kali ini aku melihat iblis yang setua itu, bahkan jika tersandung sedikit ku yakin dia akan langsung pergi ke akhirat.
"Mati."
Salah satu tombak terbang kearah kakek tua itu.
"Kek lari! Sial!"
Aku ingin menolongnya tapi tersandung karena terlalu kelelahan.
"Ohoho anak muda sekarang tidak punya rasa hormat kepada orang tua."
Tombak itu mendarat tepat ditubuh kakek itu dan menciptakan sebuah ledakan.
Dari dalam asap muncul sebuah tombak lain yang terbang kearah malaikat, tombak itu sedikit berbeda karena berwarna ungu bukan putih.
Tombak itu mengenai dada malaikat membuatnya terbang dan menabrak kursi penonton.
"Lama tidak bertemu Sariel sang tombak surga."
Sariel yang dari tadi batuk darah dengan wajah yang keheranan sekarang berubah menjadi wajah penuh kebencian dan kemarahan.
"Suara itu!"
Sariel langsung turun ke arena dan melihat orang tua tadi.
__ADS_1
Setelah asap menghilang disana bukanlah orang tua melainkan seorang pria tinggi dengan rambut ungu panjang mengalir hingga pinggangnya.
"Kau!!"
Sariel memunculkan tombak ditangannya kemudian langsung menyerang kearah pria itu.
"Hei tenang sedikit kawan."
Pria itu juga mengambil sebuah tombak dan mereka mulai beradu serangan.
"Tidak hanya menghianati kami tapi kau juga membantu makhluk rendahan ini untuk melawan kami! aku akan membunuhmu sekarang!"
Sariel terus menyerang tapi pria itu hanya mempermainkannya seperti orang dewasa yang bertarung dengan anak kecil.
"Perlu di catat kalau aku tidak pernah mengkhianati kalian karena sejak awal aku tidak pernah bersumpah setia."
"Persetan!"
Mereka terus bertarung tapi pria itu hanya terus bertahan tanpa niatan untuk menyerang sedikitpun.
"Jika kau ingin membalas dendam temui aku dengan wujud aslimu jadi aku bisa membunuhmu saat itu juga."
"Ughh!"
Sariel menyerang lebih Agresif tapi hanya berakhir dipermainkan oleh pria itu.
"Waktu bermain sudah habis."
Pria itu menghilang dan muncul kembali dibelakang Sariel.
Setelah itu sariel langsung berubah menjadi tumpukan daging cincang.
"Sampaikan salam ku kepada dewi Rebecca."
Setelah mengatakan itu Pria itu berjalan kearah Edward dan mengangkatnya.
"Aku akan mengambil pria ini apa tidak masalah?"
"Tidak! kembalikan putraku!"
Leviathan berteriak dengan keras tapi Lucifer menyela.
"Tidak masalah lagian jika anak itu tinggal dia akan langsung dieksekusi karena penghianatan."
Setelah menyebutkan eksekusi Leviathan langsung diam dan duduk di kursinya dengan lemas sambil mengepalkan tangannya.
"Terima kasih, sebagai gantinya aku akan membantu kalian sedikit."
Pria itu mengambil tombak kemudian melemparkannya kearah lingkaran sihir.
Tombak itu melewati lingkaran sihir dan setelahnya lingkaran sihir itu menghilang seperti tidak pernah ada.
Bahkan tidak ada ledakan mana atau dampak apapun, itu terjadi secara alami.
"Sisanya kuserahkan kepadamu."
Dan pria itu penghilang seperti tidak pernah ada.
"Siapa sebenarnya orang itu."
Aku bergumam sendiri.
.
.
.
Di sebuah aula istana seorang wanita duduk diatas takhta.
Wanita itu bercahaya seperti cahaya itu sendiri jadi tidak mungkin melihat sosoknya.
Di depannya berlutut seseorang dengan sayap dipunggungnya.
"Kau gagal?"
Wanita itu bertanya dengan suara sedingin es.
Sariel terguncang hanya dengan mendengar suaranya.
"M–mohon maaafkan saya! saya sudah menyiapkan 3 rencana tapi semuanya gagal karena kemunculan Sang Hell spear, Hamba juga tidak tau kenapa orang yang harusnya menjadi penjaga makam bisa muncul ibukota."
"pertama saya memasang rune disekitar untuk mengalihkan perhatian mereka dan saat mereka sibuk mengurus rune itu saya memberikan kekuatan kepada orang secara acak dan berniat meledakan mereka pada saat yang sama, saya juga sudah memasang giga disintegrasi diatas arena sebagai rencana terakhir tapi.... semuanya gagal."
"Tch saat orang itu tidak adapun mereka masih saja selalu menghalangiku."
"Sekali lagi tolong maafkan atas kegagalan hamba."
"Tidak masalah, aku akan pergi menemui pahlawan baru itu, aku harus membuatnya menghancurkan ras iblis kali ini."
"Kalau begitu saya juga akan menggerakkan seorang utusan."
"Lakukan sesukamu."
.
.
__ADS_1
.
"Selamat datang wahai para pahlawan, kalian akan menyelamatkan umat manusia dari ancaman demon lord."