
"Ryu! selamatkan kami!"
"Kenapa kau sangat lambat!?"
"Harusnya kau langsung mencari kami saat itu juga!"
"Ryu!"
"Tidak mungkin.... apa yang terjadi dengan kalian?"
Aku melihat semua rekan rekanku dipenuhi dengan darah dan pedang menancap diseluruh tubuh mereka.
"Ryu."
"Kenapa diantara semua.... kenapa harus kamu yang muncul Akari."
Aku sadar kalau ini hanya mimpi tapi ini terlalu berlebihan.
Meskipun tidak memiliki hubungan yang sangat spesial tapi bagiku dia adalah sosok paling berharga di dunia ini, hanya dia yang bisa mengerti apa yang kurasakan dan membuatku bisa menjalani kehidupan didunia ini dengan senang hati dan membuat hari hariku dipenuhi dengan kebahagiaan.
Akari memeluk ku dan mendekatkan mulutnya ke telinga ku.
"Ryu kau tau? aku sangat membencimu, kuharap kau mati dengan mengenaskan sepertiku."
"Hentikan.. kumohon hentikan!!!!"
"Ini salahmu! karena kau tidak mencari kami lebih cepat! kaulah yang membunuh kami Ryu!"
"Itu karena aku percaya kepada kalian semua! aku percaya kalian semua pasti bisa bertahan! karena itu aku! aku!!"
Aku tidak bisa menyelesaikan kata kataku.
"Kau harus mati!"
"Mati!"
"Mati!!"
"Ryu kau harus mati!!!"
"Sudah cukup! kumohon!"
.
.
.
"Hentikan!"
Aku terbangun.
"Haah haahh Gulp HUUUEEEEKK!" muntah.
"Uhuk uhuk." batuk.
Aku duduk disudut tenda dengan lutut terlipat menutupi wajahku.
"Seseorang beritahu aku, apa yang harus kulakukan? apakah selama ini aku salah? kumohon."
Tidak ada yang menjawab, tentu saja karena hanya aku yang ada disini.
Aku mengeluarkan telur naga dari cincin dimensi milikku.
"Apakah menurutmu apa yang kulakukan selama ini salah?"
Tidak ada respon.
"Apa yang seharusnya kulakukan saat itu?"
Tidak ada respon.
"Apakah aku terlalu naif jika berfikir kalau mereka semua bisa selamat sepertiku?"
Tidak ada respon.
"Tolong katakan sesuatu."
Tidak ada respon.
"Haha aku terlihat seperti orang gila sekarang."
Mimpi itu masih sangat jelas dalam ingatanku seperti memaksaku untuk mengingatnya.
"Terima kasih karena sudah mau mendengarkanku."
Karena tidak mau memimpikan hal yang sama aku memutuskan untuk keluar.
Ternyata langit masih sangat gelap mungkin belum terlalu lama sejak aku tidur.
Aku mengambil pedang kayu yang selalu kugunakan saat latihan dan mulai mengayunkannya.
Meskipun di dunia ini ada yang namanya sihir tapi tidak ada salahnya melatih fisik karena itu juga akan menurunkan kemungkinan akan kelelahan jika menggunakan sihir.
Yang kulakukan hanyalah mengayunkan pedang sambil berusaha menghilangkan mimpi itu dari kepalaku tapi tidak peduli seberapa besar aku berusaha ingatan tentang mimpi itu selalu muncul.
"Ketemu!"
Aku menghentikan ayunan pedang ku dan melirik kearah sumber suara.
Disana ada sosok anak kecil yang berlari kearah ku.
"Cheryl apa yang kamu lakukan disini?"
"Ehehe aku ingin meminta sesuatu."
"Apa yang ingin kamu minta sampai menghampiri ku ditengah malam seperti ini?"
"Ehh? malam? ini sudah pagi."
__ADS_1
Aku tidak menyadarinya ternyata matahari sudah terbit.
Aku baru sadar ternyata aku sudah basah karena keringat yang artinya aku sudah mengayunkan pedang cukup lama tanpa sadar.
"Haha maaf, jadi apa yang membawamu kesini? dan dimana ibumu?"
"Etto... aku ingin belajar ilmu pedang."
"Ilmu pedang? kenapa?"
"Saat itu aku tidak bisa melakukan apa apa, jadi aku ingin menjadi lebih kuat untuk melindungi ibu!"
"Itu memang hal yang bagus tapi latihan pedang itu berbahaya tau? kamu bisa saja terluka atau melukai orang lain saat melakukannya."
"Aku sudah siap untuk itu, aku akan membunuh semua orang yang berani menyakiti ibuku seperti yang kakak lakukan!"
Apakah tidak apa apa jika anak kecil mengatakan hal menyeramkan seperti itu?
"Aku?"
"Iya! saat kakak menghajar bandit mesum itu kakak terlihat sangat keren."
Aku sudah merusak anak ini.
"Bukankah saat itu kamu sedang pingsan?"
"Aku juga tidak mengerti tapi aku melihatnya."
"Apakah ibumu tau tentang kamu ingin latihan pedang?"
"Hehe tidak, saat ini ibu sedang menyiapkan makanan jadi aku kabur."
Kenapa kamu terlihat sangat bangga dengan itu?
"Aku akan latihan sebentar lagi bagaimana kalau kamu ikut?"
"Benarkah!?"
Aku mengeluarkan pedang kayu lain dari cincin milikku dan menyerahkannya, itu memang sangat besar dan bahkan pedang itu sama tingginya dengan tubuhnya sendiri.
"Ugghh!"
Cheryl berusaha sangat keras untuk menahan pedang kayu itu.
"Haha apa terlalu berat untukmu? tunggu sebentar aku akan mencari pedang yang lebih kecil."
"T-tidak perlu, aku bisa mengangkatnya lihat?"
Aku menyentuh ujung pedangnya dengan pedangku dan mendorongnya sedikit, karena tidak sanggup menahan beratnya Cheryl terjatuh.
"Kembalikan pedang itu aku akan menggantinya dengan pedang yang cocok untukmu."
"Tidak! ini sudah menjadi milikku!"
Cheryl langsung bangun dan memeluk pedang kayu itu dan menyeretnya menjauh.
"Kamu tidak bisa mengayunkan pedang itu ingat?"
"Baiklah baiklah kamu boleh menggunakan itu tapi hari ini kita hanya akan belajar cara memegang pedang bukan cara mengayunkannya."
"Baiklah aku akan berusaha."
"Nah coba angkat pedangmu dengan posisi berdiri tegak lurus dan tahan agar tidak terjatuh."
"Ugggh! seperti ini?"
"Bagus pertahankan, cobalah untuk memegang pedangmu dengan erat dan jangan menggerakkan jarimu jika tidak diperlukan."
"Ini cukup sulit."
"Kamu harus bisa menjaga keseimbangan dan ketenangan saat memegang pedang karena jika tidak itu akan menjadi celah bagi musuh."
"Aku akan mengingatnya."
Sangat aneh mendengarnya mengatakan itu karena dilihat dari manapun dia hanyalah anak kecil yang harusnya bermain sekarang.
"Pertahankan selama yang kamu bisa dan jika sudah kelelahan silahkan istirahat jangan memaksakan diri."
Aku juga mulai mengayunkan pedang dan tanpa kusadari ternyata ingatan tentang mimpi itu sudah mulai menghilang.
1 menit, 10 menit, 30 menit, 1 jam, aku terus mengayunkan pedangku.
Aku harus menjadi lebih kuat, jika tidak ingin mimpi itu terwujud aku harus menjadi kuat agar bisa melindungi mereka semua.
"Sepertinya sudah cukup."
Aku terlalu tenggelam dalam latihan sampai lupa sesuatu.
Aku melihat kesamping dan ternyata Cheryl masih terus mengangkat pedang itu sampai sekarang.
"Ugghhh!!!"
"Hei apa yang kamu lakukan?!"
"W-woaah!"
Mendengar suaraku Cheryl kehilangan keseimbangannya dan jatuh ketanah.
"Haaah haah, apa yang kakak lakukan! haah aku masih bisa mengangkatnya haah lebih lama haah."
"Ya ampun lihat tubuhmu, wajahmu sampai merah seperti itu."
Apakah anak ini tidak tau caranya berhenti? jika aku tidak menghentikannya dia mungkin akan melakukannya seharian.
"Sudah cukup jangan terlalu memaksakan dirimu, bagaimana kalau kita mandi?"
"Hehe aku sangat lelah, belajar ilmu pedang sangat melelahkan."
"Haha bagaimana? kamu sudah menyerah?"
__ADS_1
"Tidak, aku semakin bersemangat! aku harus berlatih lebih keras!"
"Sudah kubilang jangan terlalu memaksakan dirimu, kamu bisa berdiri?"
"Hehe bisa."
Aku sangat terkejut dia masih bisa berdiri setelah latihan seperti itu, sejujurnya aku sendiri tidak pernah membayangkan dia bisa bertahan selama 5 menit.
Sebagai hadiah aku menggendong Cheryl dengan gaya putri menuju pemandian yang dikhususkan untukku.
Disana hanya ada 1 tenda tapi dibagi menjadi dua yaitu pemandian untuk pria dan wanita.
Aku menurunkan Cheryl dan kemudian masuk ke pemandian pria, itu memang bak mandi yang kecil dan hanya muat untuk satu orang dewasa atau dua anak kecil tapi itu cukup mewah mengingat ini hanya tenda sementara.
Aku melepaskan semua pakaianku yang penuh dengan keringat kemudian perlahan lahan menenggelamkan tubuhku kedalam bak mandi.
Karena ini hanya air biasa jadi aku memanaskan nya sedikit terlebih dahulu dengan sihir agar lebih nikmat.
"Ahhh~ aku sangat lelah padahal ini masih pagi, hm? siapa disana?"
Aku mengarahkan pandangan ku kearah pintu masuk yang tertutup, meskipun tipis aku yakin ada sosok yang mengintip dari sana.
"Ehehe aku ketahuan."
Seseorang muncul dari balik pintu.
"Hahh Cheryl apa yang kamu lakukan disini? bukannya sudah jelas kalau ini kamar mandi pria?"
Meskipun wajahku seperti ini aku sudah cukup tua untuk tidak mempermasalahkan hal kecil seperti ini.
"Erm aku takut sendirian jadi apa aku boleh mandi dengan kakak?"
"Haah baiklah kemari, sepertinya masih ada tempat untukmu."
Meskipun kecil bak mandi ini berbentuk lingkaran jadinya ada lebih banyak ruang.
"Horee!"
Cheryl membuang handuknya kelantai dan berlari kearah bak mandi.
"Aahh ini sangat nikmat"
Cheryl mencelupkan tangannya ke bak mandi dan langsung meleleh.
"Mandi dengan air hangat akan membantumu menghilangkan rasa lelah, masuklah."
"Rasanya sangat menyegarkan."
"Kan? aku selalu melakukan ini setelah latihan."
Kami hanya mandi biasa dan tidak ada kejadian khusus seperti dalam novel.
Cheryl menggosok rambutnya dengan shampo.
"Biar aku yang melakukannya."
"Hehe."
Aku menggosok rambutnya yang sangat lembut dan lebat.
"Kamu punya rambut yang bagus, meskipun masih pendek. hm?"
Aku mengharapkan sedikit respon tapi kali ini dia sangat tenang.
Aku melihat wajahnya ternyata dia sudah tertidur.
"Dia akan sakit jika seperti ini."
Aku menggendongnya keluar dari bak mandi dan membaringkannya dikursi.
Aku menggunakan pakaian baru yang sudah kusimpan didalam cincin dimensi dan memakainya.
"Dimana pakaian Cheryl? dan apa dia memang membawa pakaian ganti sejak awal?"
Akan gawat jika aku membawanya seperti ini, aku tidak mau dibunuh oleh Carl hanya karena hal konyol seperti menggendong anak perempuan telanjang dari kamar mandi.
"Kalau tidak salah aku memiliki beberapa pakaian Lucy di dalam cincin ku."
Aku tidak pernah melakukan hal seperti ini kepadanya dan hanya sebatas membawa pakaian darurat karena diminta olehnya.
Aku mengeluarkan semuanya dan mulai memilah mana yang sekiranya cocok.
Tubuh Lucy tidak terlalu berisi jadi semua pakaiannya cukup kecil.
Pada akhirnya yang cocok hanya tank top dan rok mini milik lucy.
Setidaknya dia tidak telanjang.
"Baiklah sepertinya cukup."
Saat aku ingin mengangkat Cheryl pintu terbuka dan seseorang masuk dari sana.
"Ryu apa yang kau lakukan?"
"Aku bisa jelaskan ini kawan jadi tenang oke?"
"Aku akan memanggil penjaga, sampai jumpa."
Zep mulai menutup pintu secara perlahan, aku langsung berlari dan menarik pintu itu agar kembali terbuka.
"Hei, tidak seperti itu!"
"Aku tidak pernah membayangkan kau akan melampiaskan hasrat mu kepada anak kecil karena Lucy tidak ada disini."
"Sudah kubilang aku tidak melakukannya!"
"Baiklah aku hanya bercanda, tolong keluar aku ingin mandi."
"Jangan membuatku panik seperti itu."
__ADS_1
"Sudah cukup, Carolyn sedang memasak sekarang jadi lebih baik kita bersiap sebelum makanannya menjadi dingin."
Aku membawa Cheryl ke tenda milik Carl dan menidurkannya disana.