Morgan Sang Casanova

Morgan Sang Casanova
Seratus


__ADS_3

Diwaktu yang berbeda, di Amerika masih pagi sementara saat ini di Indonesia sudah malam hari. Darwin memberanikan dirinya untuk bertemu dengan Disha dan Shiva. Dia membawa banyak makanan dan mainan untuk Shiva.


Dengan gugup dia menekan bel rumah nomor 12 di perumahan Grand City itu.


Ting~Tong...


Darwin menghirup nafas dalam-dalam, rasanya begitu mendebarkan, mungkin karena dia sangat canggung pada Disha.


Drrttt... Drrttt...


HP Darwin bergetar, dia menerima pesan, rupanya dari Morgan.


[Aku baru tiba di Amerika, untuk memperjuangkan Zhoya. Semoga kamu juga bisa memperjuangkan Shiva dan Disha. Jika kamu ingin menikah dengan Disha, bukan hanya mengambil hati Shiva saja, kamu juga harus bisa mengambil hati Disha, aku yakin perlahan-lahan dia akan luluh padamu.]


"Mengambil hati Disha?" Darwin mengerutkan keningnya. Darwin baru sadar bahwa selama ini dia hanya perhatian pada Shiva saja, mungkin karena itu Disha menganggap Darwin hanya menginginkan Shiva saja, makanya Disha takut Darwin akan membawa Shiva darinya.


Darwin membalas pesan dari Morgan.


[Asiap, selamat berjuang bro. Kasih tau aku kalau butuh bantuan. Aku pasti bantu kamu, dan semoga Om Roy bisa menerima kamu.]


Ceklek!


Padahal hanya suara decitan pintu, namun mampu membuat jantung Darwin berdebar-debar.


Darwin melihat Disha di balik pintu itu, dengan menggunakan sebuah gaun sederhana, wanita itu memang selalu terlihat sederhana, namun dari kesederhanaannya itulah yang membuat dia semakin menarik. Ditambah Disha memiliki paras yang cantik.


Namun tetap saja wanita itu masih bersikap dingin pada Darwin. "Ada keperluan apa kamu datang kesini?" tanya Disha. Mungkin karena dia merasa semua masalahnya selesai, jadi tidak perlu berhubungan lagi dengan Darwin.


Disha sebenarnya ingin segera pergi ke kota D, namun dia tidak mungkin pergi begitu saja tanpa pamit pada Zhoya, dia bukan tipe orang yang tidak tau berterimakasih.


"Emm... aku...aku..." Darwin tidak mengerti, mengapa dia selalu gugup jika bersama Disha.


"Om Dalwin!" Rupanya Shiva belum tidur, dia berseru begitu melihat Darwin di depan rumah, saking senangnya, sampai dia berlari ke arah Darwin.

__ADS_1


Darwin segera menggendong Shiva, dia mencium pucuk kepala anak itu, karena sangat merindukannya.


Disha melemparkan pandangan ke arah lain, dia tidak ingin hatinya terusik dengan perlakuan Darwin pada Shiva.


"Om bawakan makanan dan mainan untuk Shiva, Shiva mau?" Darwin menunjukkan paper bag pada Shiva.


Shiva menganggukan kepalanya dengan penuh kegirangan, "Mau Om. Yeee...Shiva punya mainan lagi." serunya.


Shiva pun turun dari pangkuan Darwin, dia menarik Darwin untuk ikut bersamanya ke dalam rumah. "Shiva mau main baleng Om Dalwin."


"Shiva, kamu harus makan dulu sayang." Disha masih takut kalau Darwin akan merebut Shiva darinya, makanya dia tidak ingin Shiva sangat dekat dengan Darwin.


"Makannya baleng OM Dalwin ya, Ma."


"Tapi..." Disha tidak mungkin bilang gak bisa, apalagi Darwin sudah terlanjur masuk ke dalam rumah karena tangannya di tarik oleh Shiva.


"Emm... ya udah, mama masak dulu." Disha segera pergi ke dapur untuk memasak.


Sementara Darwin memilih bermain dengan Shiva. Dia mengajarkan Shiva menggambar.


"Shiva mau gambal Shiva, mama, dan Om Dalwin."


Darwin merasa tersentuh mendengarnya, dia menggambar satu anak kecil perempuan di bagian tengah, lalu di sebelah kiri anak kecil itu dia menggambar satu wanita dewasa, dan sebelah kanan anak itu dia menggambar seorang pria dewasa.


"Yeee... ada Shiva, mama, dan Om Dalwin." Shiva menunjuk ketiga gambar itu dengan ceria.


"Shiva warnai ya gambarnya, kalau nilainya seratus nanti Om kasih hadiah."


Shiva semakin bersorak, "Shiva mau hadiah, Om."


Shiva dengan semangat meraih pensil gambar, dia ingin mewarnai gambar itu.


"Sambil menunggu Shiva mewarnai, Om bantu mamanya Shiva masak dulu ya." izin Darwin, Morgan benar dia harus melakukan pendekatan pada Disha, dia harus bisa mengambil hatinya.

__ADS_1


Shiva menganggukan kepala, "Iya, Om."


...****************...


Disha sedang mengaduk-aduk sayur sambil melamun, dia memang mendengar ucapan Darwin yang bilang di jumpa pers itu kalau Darwin akan menikahinya. Padahal dia sama sekali tidak mengharapkan pertanggungjawaban Darwin.


Baginya bisa hidup tenang dengan Shiva sudah sangat bahagia. Walaupun sejujurnya dia memang wanita yang rapuh tapi berusaha untuk tetap tegar, makanya dia dulu pernah berharap kembali pada Morgan karena dia juga menginginkan ada seseorang sebagai tempat dia berstandar. Tapi sekarang dia sudah tidak mengharapkannya. Hati Morgan bukan miliknya lagi, tapi milik Zhoya.


"Ehm!"


Suara deheman membuyarkan lamunannya. Disha melihat Darwin masuk ke dalam dapur.


"Kamu sedang apa?" tanya Darwin, nampak ambigu, padahal dia sudah tau Disha sedang memasak malah bertanya seperti itu. Dia mengutuk kebodohannya.


"Seperti yang kamu lihat." jawab Disha dengan nada ketus. Dia segera meraih daging ayam untuk di potong.


"Biar aku bantu." Darwin mencoba mencari apa yang harus dia bantu, dia melihat sebuah adonan, mungkin Disha akan membuat chicken crispy, dia pun mengaduk-aduk adonan itu. "Sepertinya belum kamu bumbui. Aku bisa masak sedikit." Lalu dia memasukkan garam dan penyedap rasa ke dalam adonan itu.


Disha kaget melihatnya, "E-eh itu adonan untuk membuat dessert."


Darwin tercengang mendengarnya, "Oh maaf, aku pikir adonan buat chicken crispy."


Disha menghela nafas panjang, Darwin bukannya membantu, tapi malah menambah pekerjaan, apalagi Darwin memasukkan garam yang lumayan banyak ke dalam adonan dessert itu.


"Biar aku bantu masak sayur aja."


"Oh gak usah, mending kamu temani Shiva bermain. Bukannya tujuan kamu datang kesini untuk bertemu Shiva kan?"


"Emm... aku...aku..." Darwin ingin bilang kalau tujuan dia datang kesana bukan hanya untuk bertemu Shiva tapi ingin bertemu dengan Disha juga. Namun entah kenapa dia mendadak grogi jika berada di dekat Disha.


"Om, Shiva sudah selesai mewalnai gambalnya!" terdengar teriakan Shiva.


"Emm... ya udah aku harus bermain dengan Shiva lagi." pamit Darwin, dia segera pergi menemui Shiva kembali.

__ADS_1


Sementara Disha hanya menghela nafas, gara-gara Darwin, dia harus membuat adonan dessert lagi. Dia terpaksa membuang adonan itu.


Darwin bukannya bisa mengambil hati Disha, tapi malah membuat wanita itu kesal padanya.


__ADS_2