Morgan Sang Casanova

Morgan Sang Casanova
Tujuh Puluh Empat


__ADS_3

Darwin baru teringat dengan semua berkas-berkas tentang Morgan dan Disha, rencananya dia akan membuat berita besar soal bejatnya seorang Morgan yang tidak bertanggungjawab terhadap anak dan kekasihnya yang telah dia hamili.


Tadinya dia ingin melakukan semua itu untuk memberikan pelajaran pada Morgan yang tidak bertanggungjawab terhadap Shiva dan Disha. Dia membayangkan bagaimana menderitanya Disha hidup sendirian melahirkan seorang anak, pasti dia dapat cemoohan dari para orang-orang sekitar. Dia melakukan itu untuk menebus kesalahannya pada Disha yang telah merenggut kehormatannya.


Dan tujuan yang kedua, pastinya untuk mempercepat perceraian Morgan dan Zhoya. Dia ingin secepatnya Zhoya menjadi miliknya.


Namun rupanya semua dugaannya salah, dia bagaikan dihantam sebuah benda keras, begitu mendengar pernyataan Disha kalau ternyata Shiva adalah anaknya.


Darwin segera menelpon karyawannya di CSTV, dia harus membatalkan sebuah isu yang akan dibahas di acara INI GOSIP tentang Morgan, Disha, dan Shiva.


"Selamat malam, ada apa Pak?" tanya Damar, tim kreator di acara INI GOSIP itu.


"Skandal tentang Morgan Xavier tidak jadi di publikasikan. Ganti dengan skandal selebritis lain saja, yang sudah disiapkan oleh kamu."


"Lho memangnya kenapa Pak? Ini bakalan menjadi berita viral lho Pak, seorang Morgan Xavier ternyata sudah memiliki seorang anak perempuan."

__ADS_1


"Saya bilang jangan ya jangan. Tolong lenyapkan semua berkas itu." Darwin mengatakannya dengan nada membentak.


"Emm... ba-baik, Pak." Damar pasrah saja, padahal tadinya dia yakin acara INI GOSIP akan meraih rating satu jika membahas berita yang mengejutkan tentang Morgan. Namun sebagai seorang karyawan dia mangut saja kepada atasannya.


Klik!


Darwin langsung mematikan ponselnya, dia terduduk di sebuah kursi yang tersedia di atas trotoar.


Dia menghela nafas panjang memandangi langit kelam, kemudian memijat-mijat kepalanya yang terasa begitu penat.


Rupanya dia telah memiliki seorang anak, anak perempuan cantik itu adalah darah dagingnya, matanya berkaca-kaca membayangkan Shiva hidup tanpa sosok seorang ayah. Membayangkan bagaimana menderitanya Disha karena ulahnya.


Darwin tak memiliki kekuatan untuk berdiri, dia belum bisa berpikir jernih. Yang pasti saat ini dia benar-benar shock dengan semua kenyataan ini.


Bagaimana dia harus menjelaskannya pada Zhoya nanti, dia sudah terlanjur bilang kalau Shiva adalah anaknya Morgan.

__ADS_1


Darwin memang mencintai Zhoya dan ingin hidup dengannya, tapi dia bukan orang yang suka memitnah siapapun, dia tidak ingin mendapatkan Zhoya dengan cara kotor.


Darwin membuka ponselnya dengan ragu-ragu, dia terpaksa harus mengirim pesan pada Zhoya.


[Zhoy, maafkan aku rupanya aku keliru soal Morgan_


Darwin menghela nafas, jika dia bicara jujur soal Morgan yang ternyata bukanlah ayahnya Shiva. Itu artinya harapan dia untuk mendapatkan Zhoya akan menipis.


Namun dia rasa dia harus bicara jujur pada Zhoya, dia tidak ingin menjadi pria jahat. Walaupun mungkin dia sudah menjadi lelaki jahat untuk Disha.


[Zhoy, maafkan aku rupanya aku keliru soal Morgan. Ternyata dia bukanlah ayah dari anaknya Disha. Aku gak bermaksud untuk memitnah Morgan. Ini sebuah ke salah pahaman.]


Kemudian Darwin berjalan ke arah dimana Disha masuk ke dalam sebuah gang, tak jauh dari jalan raya. Dia melihat ada beberapa petak kontrakan disana. Dia tidak tau Disha tinggal di sebelah mana.


Mungkin dia harus memberi kesempatan agar Disha menenangkan hatinya dulu, begitu juga dirinya. Setelah itu dia harus bicara lagi dengan Disha.

__ADS_1


Sementara itu, Disha begitu tidak tenang sampai terduduk di sudut rumah, menggigit kecil kuku jemarinya. Nafasnya terasa begitu berat.


Kini Darwin sudah tau Shiva adalah anaknya, bagaimana kalau Darwin merebut Shiva darinya? Apalagi dia tau Darwin itu orang yang sangat berambisi. Dia benar-benar takut kehilangan Shiva.


__ADS_2