
Satu minggu kemudian...
Pagi telah menyapa, dengan cahaya matahari perlahan masuk memenuhi sudut-sudut kamar. Morgan terbangun dari tidurnya, dia menggeliatkan kedua tangannya. Kemudian dia berjalan sempoyongan pergi ke dapur.
Pagi ini Morgan memasak udang asam manis, masakan kesukaan Zhoya, kemudian setelah masakannya sudah matang, Morgan menyiapkan dua piring diatas meja makan beserta nasi dan udang asam manis yang telah dia masak.
Morgan masih ingat pertama kali dia tau Zhoya suka udang asam manis itu saat dia makan bersama dengan Zhoya, Galvin, dan Hana. Mereka berempat makan bersama di pesawat pribadi milik Galvin, perjalanan pulang dari Jerman ke Indonesia.
Morgan melihat Zhoya sangat lahap sekali memakan udang asam manis itu, makanya dia tau dan ingat makanan kesukaan Zhoya.
"Bocil, sarapan paginya sudah siap!" Morgan mengatakannya dengan lantang.
Namun tidak ada respon sama sekali dari Zhoya, karena itu Morgan memanggil Zhoya sekali lagi.
"Bocil!"
Morgan menghela nafas, pasti Zhoya masih tidur pulas pagi ini, dia terpaksa harus naik ke atas menaiki anak tangga satu persatu, kemudian masuk ke kamar Zhoya.
"Bocil, hari ini aku masak kesukaan kam..." Morgan tidak meneruskan perkataannya, begitu melihat Zhoya tidak ada disana.
"Bocil, kamu dimana?" Morgan membuka pintu kamar mandi disana. Rupanya Zhoya tidak ada disana juga.
Morgar memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa pening, membuat dia teringat sesuatu, dia segera membuka lemari di kamar Zhoya, ternyata lemari itu begitu kosong, tak ada satupun pakaian Zhoya disana.
Morgan mematung begitu menyadari Zhoya sudah tidak tinggal di rumah ini selama satu minggu ini. Malam itu setelah acara grand opening, ternyata Zhoya tidak main-main dengan ucapannya. Dia benar-benar pergi walaupun Morgan sudah berusaha keras untuk menahannya.
Entah apa yang membuat Zhoya berubah, wanita itu begitu bersikap dingin padanya, bahkan dia tidak ingin bertemu lagi dengannya, Zhoya juga tidak pernah merespon pesan darinya. Bahkan dia selalu menghindarinya setiap Morgan datang ke restoran.
Masalah ini hanya mereka berdua yang tau, Galvin pun tidak tahu kalau Morgan dengan Zhoya tidak satu rumah lagi, atas permintaan dari Zhoya.
Morgan terduduk pasrah di pinggir kasur, semalam dia mabuk berat, bahkan pengaruh alkohol itu masih menguasainya, makanya sampai dia berhalusinasi mengira Zhoya masih tinggal bersamanya.
Hari-hari tanpa Zhoya rasanya begitu hampa, tidak ada lagi yang bersikap manja padanya, tidak ada lagi yang membuatnya tersenyum. Si bocil yang selalu membuatnya gemas benar-benar pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Morgan turun dari lantai satu, dia berjalan gontai dengan tatapan kosong, kemudian sekilas bayangan Zhoya hadir disana, disetiap sudut rumahnya. Masih terbayang saat dia sering bercanda dengan Zhoya, saat dia sering memasak bersama Zhoya, dan semua hari-hari yang dia lalui bersama Zhoya, namun semuanya kini hanya tinggal kenangan.
Dia benar-benar merindukannya, sangat merindukannya.
Namun dia tidak mengerti mengapa Zhoya tiba-tiba pergi meninggalkannya dan meminta mempercepat perceraian mereka, padahal selama mereka menikah, Morgan tidak pernah bermain dengan wanita lain.
Morgan merasakan hidupnya tidak bersemangat, padahal sebentar lagi dia harus pergi ke Inggris untuk syuting film.
Morgan duduk di tangga paling bawah, dia memegang kepalanya yang masih terasa sangat pening, tanpa sadari dia menetaskan air matanya, padahal dia bukanlah pria yang gampang menangis.
Morgan benar-benar merasa kehilangan Zhoya, dia menyesali kebodohannya, mengapa dia baru sadar ternyata dia begitu mencintai wanita itu, begitu merindukannya.
"Zhoya..."
Morgan meronggoh saku celana, membawa ponselnya, dia melihat banyak sekali pesan yang telah dia kirim pada Zhoya, namun Zhoya tidak membacanya sama sekali.
Tapi Morgan tidak menyerah, dia setiap hari selalu mengirim pesan untuk Zhoya
Drrrtt... Drrrtt...
Ponsel Morgan bergetar, rupanya ada telepon dari nomor telepon kediaman sang papa. Sudah dipastikan pasti bik Nani yang menelponnya.
"Hallo,"
"Tuan, Nyonya Tuan..."
"Kenapa dengan mama bik?"
"Nyonya sudah siuman." Terdengar suara bik Nani yang begitu bahagia karena nyonya besarnya sudah siuman.
Morgan menitikan air matanya begitu mendengar kabar baik tentang sang mama. Betapa bahagianya dia akhirnya sang mana sudah siuman. "Yang benar bik?"
"Iya, Tuan."
__ADS_1
Morgan langsung memutuskan teleponnya, dia harus segera pergi ke rumah sang papa untuk bertemu dengan mamanya.
...****************...
"Mah...!" Morgan memeluk sang mama yang tengah duduk di kursi roda.
Bu Widdy membalas pelukan Morgan, dia menitikan air matanya, akhirnya dia bisa melihat lagi putra tercintanya.
"Istri kamu mana?"
Morgan kaget tiba-tiba Bu Widdy menanyakan Zhoya, padahal dia merasa baru satu kali membawa Zhoya ke rumah orang tuanya itu.
Kemudian bik Nani menjelaskan, mumpung Pak Gara sedang sibuk mengobrol dengan dokter pribadinya Bu Widdy.
"Waktu Tuan lagi di kota B Non Zhoya sering datang kesini, Non Zhoya sering bercerita sama nyonya tentang Tuan dan Non Zhoya. Bahkan Non Zhoya juga sering membantu merawat nyonya."
Morgan terperangah mendengarnya, dia sama sekali tidak tahu akan hal itu. Zhoya tidak pernah bercerita padanya.
"Iya, makanya waktu bik Nani bilang kamu sudah menikah dengan gadis bernama Zhoya, mama merasa tidak asing mendengar namanya, mungkin karena Zhoya sering mengajak mama bicara waktu mama lagi koma." ucap Bu Widdy dengan nada pelan, dia belum bisa bicara panjang lebar. Bicara segitu saja nafasnya sudah sesak.
Mata Morgan berkaca-kaca, dia rasa sepertinya yang belum dewasa itu bukanlah Zhoya, tapi dirinya. Membuat dia semakin terluka harus kehilangan wanita seberharga Zhoya, walaupun dia tidak tau apa kesalahannya.
"Oh iya Tuan, Non Zhoya pernah masuk ke kamar Tuan lho, untung bibik sering membereskan kamar Tuan." ucap Bik Nani lagi dengan pelan, takut terdengar oleh Pak Gara.
Morgan terkejut mendengarnya, dia baru sadar di kamarnya yang dulu ada album foto saat dia masih berpacaran dengan Disha. Membuat dia tersadar, apakah mungkin itu alasan Zhoya meninggalkannya, karena sudah tau bahwa Disha adalah mantan kekasihnya? Apakah mungkin Zhoya terluka karena dia masih menyimpan foto Disha dan juga dulu memakai pasword rumah dengan tanggal lahir Disha?
Padahal selama satu minggu ini dia tidak pernah menemui Disha, walaupun dia tahu Disha sudah ada di ibukota, bekerja di restoran Zhoya. Mungkin karena pikirkannya tidak menentu. Yang sekarang ada dipikirannya hanyalah Zhoya, Zhoya, dan Zhoya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Buat yang suka novel religi, Jangan lupa mampir ke novel kak Keanu. Mampir juga ke akunnya buat yang suka novel horor.
__ADS_1