
"Aku ingin Xavier Grup diganti nama kepemilikannya, atas nama Morgan Xavier." ucap Pak Gara kepada pengacaranya. Untuk berjaga-jaga jika setelah Pak Gara meninggal, maka perusahaan yang bergerak dibidang industri dan manufaktur itu akan menjadi milik Morgan Xavier.
Xavier Grup telah memiliki beberapa cabang di negeri ini, makanya mengapa Pak Gara membutuhkan dana yang lumayan besar untuk perusahaannya, walaupun harus memulai usaha dari nol kembali, namun karena sudah bekerjasama dengan beberapa perusahaan besar makanya Xavier Grup tidak kesulitan untuk bisa berkembang merangkak naik ke atas lagi.
"Lalu bagaimana dengan Tuan Ervan Xavier? Tuan Ervan juga anak anda." tanya Pengacara Sonny.
"Kamu tau sendiri kan, Ervan sudah membawa uang perusahaan, dia sudah cukup banyak menikmati kekayaanku dari dulu. Aku bahkan malu tidak bisa memberikan apa-apa pada Morgan, malah Morgan yang memberikan aku uang untuk modal perusahaan dan menebus rumah. Aku tidak punya apa-apa sekarang, semuanya milik Morgan." lirih Pak Gara, dia sangat malu pada Morgan jika mengingat semua kesalahannya. Anak yang dia manjakan dari dulu malah sering berbuat onar dan sangat membuatnya kecewa. Malah Morgan, anak yang sering dia sakiti, kini menjadi malaikat penolong untuknya.
"Baik, Tuan. Kalau begitu anda tanda tangani surat ini." Pengacara Sonny memperlihatkan beberapa berkas penting yang harus Pak Gara tanda tangani, sehingga kini telah sah Morgan adalah pemilik Xavier Grup.
Pak Gara pun mendatangani semuanya. Dia sudah yakin dengan keputusannya, karena memang semua itu harus menjadi milik Morgan.
Namun tetap saja sebagai seorang ayah, dia tidak mungkin membuang Ervan begitu saja. Ervan juga darah dagingnya, tidak ada yang namanya bekas anak. Ada kalanya Pak Gara mengunjungi Ervan ke lapas, bisa saja dia meminta bantuan pada Morgan untuk membebaskan Ervan apalagi Ervan selalu minta untuk segera dibebaskan, namun Pak Gara tidak akan melakukannya. Ervan memang harus bertanggung jawab atas semua kesalahan dan kejahatannya.
__ADS_1
...****************...
Sementara itu di Perumahan Grand City...
Darwin, Disha, dan Shiva sedang makan bersama. Masakan Disha memang lezat makanya dia menjadi chef di restoran miliknya Zhoya.
"Masakan kamu sangat enak, pantas saja kamu menjadi chef di restorannya Zhoya." Darwin memberanikan dirinya memuji masakan Disha.
Disha saat ini sedang menyuapi Shiva, sekalian dia makan, dia mendongakan kepala ke arah Darwin begitu mendengar pujian dari Darwin. "Emm... iya, terimakasih."
"Om mana hadiah Shiva?" Tiba-tiba Shiva menagih hadiahnya pada Darwin, karena Darwin telah memberi nilai Shiva 100 saat Shiva mewarnai gambar.
"Shiva, bukannya om Darwin sudah memberikan Shiva banyak mainan, makanannya aja belum kamu makan, sayang." Disha memang tidak ingin Shiva menjadi anak yang suka minta-minta pada orang. Walaupun dia tau diri berasal dari keluarga tidak mampu.
__ADS_1
Darwin malah tersenyum, "Gak apa-apa, Shiva memang berhak meminta apapun sama aku." Dia menanggapi ucapan Disha yang sedang melerai Shiva.
Kemudian Darwin menatap Shiva, "Shiva mau kado apa dari Om, hm?" Dia bertanya dengan begitu lembut.
Shiva nampak kegirangan, kemudian dia mengutarakan keinginannya. "Shiva mau jalan-jalan baleng mama dan Om Dalwin ke festival."
Shiva merasa iri mendengar cerita teman-temannya di PAUD, mereka sudah diajak bermain ke festival oleh orang tuanya. Festival itu sudah lama digelar, sayangnya Disha belum memiliki cukup uang untuk membawa Shiva kesana.
Disha nampak keberatan, padahal dia tidak ingin berhubungan dengan Darwin lagi. "Tapi Shiva..."
Namun Darwin memotong ucapan Disha, "Boleh sekali, nanti kita bertiga jalan-jalan ke festival. Shiva boleh bermain apa saja yang Shiva mau."
"Yeee... asiikkk Shiva mau pelgi ke festival." Shiva berseru, dia terlihat sangat senang sekali.
__ADS_1
Mungkin walaupun dia tidak bisa mengungkapkannya dalam sebuah kata, dilubuk hatinya yang terdalam pasti dia menginginkan sosok seorang ayah. Apalagi saat dia berada di tempat penitipan anak sekaligus sekolah PAUD disana, Shiva sangat merasa iri, teman-temannya dijemput oleh orang tua yang lengkap. Sementara dirinya hanya dijemput oleh mamanya saja.
Disha hanya menghela nafas, dia terpaksa mengalah. Disha tidak mungkin merusak kebahagiaan Shiva.