Morgan Sang Casanova

Morgan Sang Casanova
Bonchap 17


__ADS_3

[Darwin, Shiva ada di rumah mama. Papamu ingin menjadikan Shiva sebagai alat untuk mengancam Disha.]


Darwin tercengang begitu membaca pesan dari mamanya, membuat dia harus segera pergi dari toko perhiasan itu.


"Maaf mbak, aku harus segera pergi." pamit Darwin kepada pelayan toko perhiasan itu, kemudian dia segera berlari dari sana, tanpa menunggu jawaban dari pelayan toko tersebut.


Setelah berada di basement, Darwin segera mengendarai mobilnya, hatinya sungguh tidak tenang, dia takut papanya menyakiti Disha dan Shiva.


...****************...


"Saya akan pergi dari sini secepatnya, saya janji tidak akan pernah berhubungan lagi dengan Darwin. Karena itu saya mohon jangan pernah mencoba memisahkan saya dengan Shiva lagi." Disha memohon dengan sangat agar Pak Ansel jangan menganggu dirinya dengan Shiva lagi.


Pak Ansel tidak menjawab perkataan Disha, dia menundukkan kepalanya, kemudian menghela nafas, dia menatap Pengacara Ferry. "Kita lupakan saja tentang masalah ini, aku akan tetap membayar kamu nanti."

__ADS_1


Pengacara Ferry menganggukan kepala, yang penting dirinya tidak dirugikan toh Pak Ansel akan tetap membayarnya. "Baiklah, kalau begitu saya permisi, Tuan."


Pengacara Ferry pun pergi darisana.


Pak Ansel menatap Disha, dari tatapan matanya terpancarkan kesedihan yang begitu dalam, membuat Pak Ansel tidak tega untuk menyakitinya.


"Apa kamu mencintai anakku?" Pak Ansel ingin tau bagaimana perasaan Disha pada anaknya.


Disha mendongakan kepala, menatap Pak Ansel, dia tidak mengerti mengapa Pak Ansel bertanya seperti itu padanya. "Mengapa Om bertanya seperti itu?" Bahkan Disha sendiri pun belum bilang pada Darwin kalau dia mencintainya.


Disha menganggukkan kepalanya, "Iya, aku mencintai Darwin." Padahal Disha sendiri tidak tau apa dia sanggup berkata seperti itu pada Darwin, namun dia tidak ingin membohongi dirinya sendiri. Pria itu memang telah berhasil masuk ke relung hatinya, entah sejak kapan, dia pun tidak tau.


Disha menggigit bibir bawahnya, kemudian dia berkata lagi pada Pak Ansel, "Tapi aku tau diri siapa aku ini, aku akan menjuahi Darwin jika memang Om tidak merestui hubungan kami, aku tidak ingin Darwin berada di dalam kesulitan karena aku."

__ADS_1


Rupanya Bu Selvi juga berada disana, dia malah menangis mendengarkan ucapan Disha, karena Disha tidak pantas berkata seperti itu, dia telah melalui banyak kesulitan karena puteranya.


Atas perintah Bu Selvi, seorang ART sengaja mengajak Shiva bermain, membawanya ke tempat lain, Shiva tidak boleh tau tentang masalah ini, karena anak seusia Shiva belum bisa memahaminya.


Bu Selvi berjalan mendekati Disha, lalu memeluk Disha, sampai tangisan Bu Selvi pecah. "Maafkan kami, seharusnya kami meminta maaf padamu, kamu pasti telah mengalami banyak kesulitan selama ini. Tapi tante mohon, jangan pernah tinggalkan Darwin, Darwin tulus mencintaimu, berikan dia kesempatan untuk memperbaiki semuanya, berikan Darwin kesempatan untuk menebus kesalahannya padamu, Darwin ingin menjadi ayah untuk Shiva dan menjadi suamimu."


Pak Ansel hanya diam, namun matanya berkaca-kaca. Dia sadar sepertinya dia telah keterlaluan pada Disha.


Disha kaget tiba-tiba Bu Selvi memeluknya, dia hanya bisa terisak, tak mampu untuk berkata.


"Maafkan Om, om sudah keterlaluan padamu. Jika kalian saling mencintai, om akan mencoba untuk merestui hubungan kalian." Pak Ansel sudah yakin dengan keputusannya, dia akan menerima Disha sebagai menantunya.


Rupanya Darwin melihat itu semua, dia masih berdiri di depan pintu belakang, tanpa sadar air matanya menetes menyaksikannya.

__ADS_1


Darwin akan pasang badan jika Pak Ansel berani menyakiti Disha dan Shiva, namun ternyata dia harus merasa lega, karena kedua orang tuanya telah menerima kehadiran Disha.


__ADS_2