
Zhoya merasa kesal karena sudah dua hari Morgan mengabaikan telepon darinya, padahal dia sangat merindukan pria itu, membuat dia uring-uringan tidak jelas.
Saat ini di Amerika sudah pagi, ibu hamil itu tidak bisa tidur dengan nyenyak karena sangat merindukan suaminya. Beginilah resiko memiliki suami super sibuk.
Drrrtt... Drrrtt...
Zhoya mendengar ponselnya bergetar, rupanya orang yang tengah dia rindukan kini menelpon dirinya.
Zhoya segera mengangkat telepon dari Morgan, "Hmm... setelah dua hari gak ngasih kabar akhirnya menelpon aku juga." Zhoya mengatakannya dengan nada jutek.
Morgan malah terkekeh, "Memangnya gak kangen sama aku?"
"Enggak, aku malah sebel."
"Oh gitu, ya udah aku lebih baik pulang lagi."
"Maksudnya?" Zhoya tidak mengerti dengan perkataan suaminya.
Tok... Tok... Tok...
Zhoya mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya, dia segera membuka pintu itu, matanya terbelalak saat melihat Morgan sedang berada di depannya, rasanya sungguh tidak percaya mengapa tiba-tiba Morgan berada di mansion. "Kak Morgan?"
"Benaran gak kangen nih?" Goda Morgan, "Aku cuma diizinkan satu hari untuk datang kesini, karena aku sangat merindukanmu, Zhoy."
Zhoya berhamburan memeluk Morgan, "Kangen banget kak."
Morgan membalas pelukan Zhoya, "Maafkan aku, akhir-akhir ini aku sibuk, tapi aku janji setelah semua pekerjaan aku selesai, aku ingin punya banyak waktu buat kamu."
Zhoya menganggukkan kepala. Rasa bahagia di hatinya sunguh tidak dapat ungkapkan dalam untaian kata, akhirnya dia bisa memeluk pria itu.
Morgan melepaskan pelukan, dia memakaikan sebuah kalung yang terbuat dari berlian pada leher Zhoya, membuat Zhoya semakin terlihat cantik. "Apa kamu suka?"
"Suka banget kak." Zhoya menganggukkan kepala.
Morgan memandangi Zhoya, kemudian mengecup bibir Zhoya beberapa kali, lalu dia memegang wajah cantik Zhoya. "Rasanya aku bisa gila jika tidak bertemu dengan kamu, Zhoy. Makanya hari ini aku harus mengurung kamu seharian di kamar, aku sudah minta izin sama daddy kamu."
__ADS_1
"Astaga, mengapa harus izin segala?" Zhoya tersipu malu.
"Kan biar gak ada yang ganggu." Morgan sudah tidak sabar, dia langsung menggendong Zhoya membawanya ke atas ranjang, kemudian dia menindih Zhoya mencium bibirnya.
Zhoya membalikkan posisi, kini dia yang berada diatas Morgan, mencium bibir Morgan, lalu membuka kancing bajunya satu persatu, sudah tidak sabar dirinya ingin segera melepaskan rasa rindu dengan Morgan. Sehingga terlihat begitu nyata bagaimana indahnya tubuh pria itu.
Namun Zhoya teringat sesuatu, dia menghentikan aktivitasnya. "Eh kak tunggu dulu."
"Kenapa?" Padahal Morgan sudah tidak sabar ingin segera berbuka puasa.
"Aku teringat dengan omongan daddy dan Om Ansel kemarin."
"Emang mereka sudah damai?"
"Udah, Om Ansel bilang dia mau menjodohkan Kak Darwin dengan anak sahabatnya Om Ansel. Tapi aku dengar dari kak Disha kalau kak Darwin melamar kak Disha. Aku cuma takut Om Ansel akan berbuat sesuatu pada kak Disha."
Morgan tertegun mendengarnya, "Lalu apa yang harus aku lakukan?"
Zhoya memilih melanjutkan ceritanya. "Om Ansel minta tolong sama daddy, dia menyuruh daddy untuk membujuk kak Morgan agar mau bekerjasama dengan CSTV, tau ini kan CSTV sekarang ini kondisinya belum bisa seperti dulu lagi, malah beberapa pemegang saham memberikan waktu selama tiga bulan untuk bisa membuat CSTV bisa sesukses dulu. Kalau tidak, maka mereka akan mencabut saham mereka. Dari pihak CSTV sudah menghubungi DK Entertainment, namun DK Entertainment belum bisa menerima tawaran kerjasama itu karena katanya kakak belum bisa menerima job dulu."
"Namun daddy bilang ke Om Ansel kalau masalah pekerjaan kak Morgan, daddy tidak ingin ikut campur. Jujur aja aku mengkhawatirkan kak Disha, kak. Siapa tau kak Morgan bisa membantu CSTV dan kak Disha juga." Zhoya baru tau dari daddynya kalau Darwin sudah membantu Morgan untuk meyakinkan daddynya agar mau menerima Morgan sebagai menantunya, saat Morgan berjuang untuk mendapatkan restu dari ayah mertuanya.
Morgan tersenyum meledek, "Baru kali ini aku mendengar ada seorang istri mengkhawatirkan mantan kekasih suaminya."
"Hmm... Karena aku percaya kak Morgan, dan aku tau cinta kak Morgan hanya untuk aku." Zhoya mengatakannya sambil mengedipkan matanya, membuat Morgan sangat gemas melihatnya.
Morgan tersenyum lebar, karena faktanya memang begitu. Namun tetap saja sebagai mantan kekasih pasti ada rasa iba pada Disha, walaupun dia sudah tidak memiliki perasaan lagi padanya. Tetap saja dia berharap Disha baik-baik saja, dia harap Disha bisa hidup bahagia dan memiliki suami yang selalu ada untuknya, seperti dia yang kini telah hidup bahagia bersama Zhoya.
"Ya udah, biar aku pikirkan. Tapi aku butuh nutrisi untuk berpikir, Zhoy. " Morgan membalikkan posisi kembali, agar Zhoya berada di bawahnya.
"Nutrisi? Maksudnya?" Zhoya mengkerutkan keningnya sambil memandangi Morgan yang sedang mengukung dirinya.
Morgan terkekeh, "Aku mau nen3n."
Morgan langsung membuka baju Zhoya, sehingga terlihat jelas tubuh Zhoya yang putih dan mulus itu, lalu membuka bra yang masih membungkus dua benda favoritnya, menyembullah dua bongkahan indah yang siap untuk dia santap.
__ADS_1
Morgan langsung melahap buah dada Zhoya, menyesapnya dengan kuat, begitu rakus, seperti bayi yang sudah lama tidak disusui oleh ibunya.
...****************...
[Nona Disha sekarang lagi ada di jalan bersama saya, Tuan]
Pak Ansel membaca pesan dari anak buahnya.
Sekarang ini dia sedang bersama pengacaranya, dia ingin mengancam Disha agar Disha pergi jauh dari hidup Darwin, kalau tidak, maka dia akan meminta pengacaranya agar hak asuh Shiva jatuh ke tangan Darwin, Disha akan kehilangan Shiva untuk selamanya.
Pak Ansel memperhatikan Shiva yang sedang bermain dengan Bu Selvi. Padahal mereka baru saja bertemu, tapi Shiva sama sekali tidak menangis, walaupun awalnya Shiva terus menanyakan dimana mamanya.
"Jadi Oma ini mamanya Papa Dalwin?" tanya Shiva sambil mewarnai gambar.
"Iya, sayang. Dan itu Opa Ansel, dia kakeknya Shiva, ayahnya Papa Darwin juga." Bu Selvi menujuk suaminya.
Shiva memandangi Pak Ansel, lalu dia berjalan ke arah Pak Ansel, dia meraih tangan Pak Ansel yang sedang duduk bersama pengacaranya, lalu mencium tangan Pak Ansel. Rupanya anak itu dari kecil sudah diajarkan sopan santun. "Selamat sole, Opa." sapa Shiva sambil tersenyum. Di Indonesia memang sekarang sudah sore.
Pak Ansel hanya diam memandangi Shiva.
Bu Selvi menyuruh Shiva untuk mewarnai gambar kembali, "Shiva, ayo cepat warnai lagi gambarnya."
Shiva pun duduk di samping Bu Selvi, "Tapi Oma kenapa mama belum datang juga?"
Bu Selvi merasa sedih mendengarnya, bagaimana bisa suaminya tega memisahkan anak itu dengan ibunya. "Nanti mama Shiva datang kesini ya."
Kemudian Bu Selvi menghampiri suaminya, duduk di sampingnya. "Apa Papa tega memisahkan Shiva dengan ibunya? Apa susahnya merestui hubungan mereka?"
"Lebih baik kamu gak usah ikut campur." bentak Pak Ansel.
"Tapi anak kita mencintainya, Pa."
Drrrtt... Drrrtt...
Pak Ansel mendengar ponselnya bergetar. Dia sangat tau sekali siapa yang menelponnya, karena pastinya dia mengsave nomor aktor terkenal itu.
__ADS_1
Ya Morgan Xavier, aktor yang dulu dianggap rendah itu menelpon dirinya.