
Darwin sore ini tidak bisa menjemput Disha, karena ada banyak hal yang harus dia bicarakan dengan Pak Liam. Disha sama sekali tidak kecewa, dia mengerti dengan pekerjaan Darwin, lagi pula dia biasanya selalu berpergian dengan menumpangi bus.
Di dalam bus, Disha menyandarkan dirinya ke jok bus untuk menghilangkan rasa penatnya, sambil mengambil nafas dengan pelan, menghembuskannya lagi. Kemudian dia memperhatinkan suasana dijalan raya, begitu terlihat gedung-gedung yang menjulang tinggi di kota besar ini.
Lalu bus itu melewati sebuah festival, membuat dia teringat saat dia tidak sengaja memeluk Darwin di festival itu, wajahnya langsung memerah.
Tanpa sadar dia tersenyum, membayangkannya.
Drrrtt... Drrrtt...
Disha mendengar ponselnya bergetar, dia meronggoh ponselnya di dalam tas, rupanya dia mendapatkan pesan dari Darwin, dia segera membacanya.
[Aku sekarang lagi ada meeting penting dengan Pak Liam, setelah selesai meeting aku akan menemui kamu dan Shiva. Aku mencintaimu, Disha.]
Disha tanpa sadar tersenyum membaca kata cinta di pesan itu, dia melihat pantulan dirinya yang sedang tersenyum dibalik jendela bus, mengapa hatinya harus berbunga-bunga seperti itu? Rasanya tidak mungkin dia mencintai pria itu dengan begitu cepat.
__ADS_1
Tapi bagaimana kalau ternyata dia sudah mulai mencintainya? Apakah itu artinya dia harus segera memberikan jawaban pada Darwin, dia tidak mungkin membuat Darwin menunggu lama. Lagi pula selama ini Darwin sudah memperlihatkan kesungguhan hatinya, dia begitu sangat menyayangi Shiva dan juga dia sering memperlihatkan rasa cintanya pada Disha.
Disha mencoba latihan berbicara, dia orangnya sangat gugupan jika berbicara membahas masalah hati. Makanya dia tidak boleh terlihat gugup jika nanti dia menerima lamaran dari Darwin. "Emm... Darwin, aku rasa..."
Disha menggelengkan kepalanya, dia mencoba mengulangi latihan bicaranya, namun selalu saja dia mengatakannya dengan terbata-bata, membuat dia terus mengulanginya lagi.
"Darwin, setelah aku pikirkan selama satu minggu ini, aku rasa aku harus menerima lamaran dari kamu."
Puhh... akhirnya dia bisa berbicara lancar juga, semoga nanti dia bisa berbicara selancar itu di depan Darwin.
Disha memegang dadanya, padahal hanya sekedar latihan, namun jantungnya sudah berdebar tak karuan, bagaimana kalau dia berbicara langsung di depan pria itu, dia harap dia tidak pingsan nanti.
Disha terus saja tersenyum, sepertinya Darwin telah berhasil meluluhkan hatinya. Padahal sudah lama dia tidak merasakan hatinya bergetar seperti ini lagi, setelah berpisah dengan Morgan.
Disha membalas pesan dari Darwin.
__ADS_1
[Baiklah, aku menunggu kamu di rumah. Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu.]
Disha sudah sangat yakin dengan keputusannya.
Namun begitu dia sampai ke tempat penitipan anak itu, dia terkejut begitu mengetahui Shiva tidak ada disana.
"Maaf mbak Disha, Shiva satu jam yang lalu sudah dijemput oleh kakeknya." ucap pengasuh bernama Bu Tika itu.
"Kakeknya? Siapa?" Disha mengkerutkan keningnya. Sungguh hatinya tidak karuan.
"Iya, kakeknya Shiva, Pak Ansel." Bu Tika pasti mengetahui siapa sosok kakeknya Shiva, karena melihat Darwin adalah papanya Shiva. Siapa yang tak mengenal dengan pengusaha kaya seperti Pak Ansel, pemilik CSTV, salah satu channel TV terbaik di negeri ini. Makanya dia mengizinkan kakeknya Shiva untuk menjemputnya.
Disha sangat terkejut sekali mendengarnya, walaupun dia tau Pak Ansel adalah kakeknya Shiva, namun mengapa Pak Ansel harus menjemput Shiva tanpa meminta izin dulu padanya. Membuat hatinya tidak tenang.
"Mengapa tidak menelpon aku dulu? Aku mamanya, seharusnya Bu Tika meminta izin padaku." Disha terlihat sedikit emosi.
__ADS_1
"Tapi Pak Ansel itu kan kakeknya Shiva, Mbak. Saya tidak memiliki kekuasaan untuk menolak. Maafkan saya mbak Disha, saya pikir anda memiliki hubungan yang sangat baik dengan Pak Ansel, karena bagaimana pun Pak Ansel adalah kakeknya Shiva. Dan beliau menitipkan surat ini pada anda." Pengasuh itu memberikan selembar kertas pada Disha.
Disha segera membawa surat itu dari tangan Bu Tika, kemudian membacanya dengan nafas terengah-engah dan tangan gemeteran, betapa terkejutnya dia begitu membaca semua isi dari surat itu.