Morgan Sang Casanova

Morgan Sang Casanova
Bonchap 8


__ADS_3

Rupanya Darwin sedang makan malam bersama keluarganya dan keluarga Pak Liam, walaupun dia nampak tidak tenang, sesekali melirik jam ditangannya.


Darwin ingin menghubungi Disha, namun sayangnya ponsel Darwin tidak aktif, saking sibuknya dari tadi sampai lupa mengcharger ponselnya.


"Anda sendiri tau kan Pak Ansel, dari dulu Lena sangat menyukai anak anda. Namun sayangnya saat itu Darwin sudah dijodohkan dengan wanita lain. Tapi sekarang saya tau perjodohan Darwin dengan Zhoya sudah dibatalkan, karena itu saya ingin besanan dengan anda." Pak Liam mengemukakan keinginannya.


Lena hanya tersenyum, matanya tak bisa berhenti memandangi Darwin dari tadi.


Sementara Darwin terkejut mendengarnya, sudah dia duga, pasti makan malam ini akan membahas tentang perjodohan. Begitu juga Bu Selvi, namun dia tidak mungkin mempermalukan suaminya, apalagi Pak Liam adalah pemegang saham terbesar kedua di CSTV.


"Tentu saja, saya bersedia. Saya rasa Lena pantas bersanding dengan..." Perkataan Pak Ansel malah dipotong oleh Darwin.


"Aku minta maaf Om, aku tidak bisa menerima perjodohan itu." Darwin menolak perjodohan itu.


"Darwin, kamu ini apa-apaan?" Pak Ansel membentak anak semata wayangnya itu.


Darwin tidak menanggapi bentakan dari papanya. Dia masih fokus berbicara dengan Pak Liam, "Om Liam pasti sudah tau kalau aku sudah memiliki anak..."


"Aku gak peduli soal anak itu, aku akan menerima kamu apa adanya." Lena memotong pembicaraan Darwin.


"Aku akan menikahi ibu dari anakku."


Perkataan Darwin membuat semua yang ada disana terkejut.


"Darwin, papa sudah bilang kan sama kamu. Bertanggungjawab itu tidak perlu menikahi wanita itu, cukup memberikan biaya hidup untuk mereka." Pak Ansel tidak sudi memiliki menantu miskin seperti Disha.


"Tapi sepertinya aku mulai tertarik padanya, Pa. Aku menyukainya. Karena itu aku ingin mengikuti kata hatiku dan aku ingin bisa hidup bahagia bersama mereka. Menjadi ayah yang baik untuk Shiva, menjadi suami yang bisa melindungi Disha." Darwin rasanya tidak percaya, dia begitu lancar berkata seperti itu, mungkin karena perkataannya sesuai dengan hatinya.


Bu Selvi mengusap pundak suaminya untuk menenangkannya, "Jangan marah-marah seperti ini, Pah. Nanti kita bicarakan masalah ini di rumah bersama Darwin."

__ADS_1


Darwin melihat jam tangan kembali, rupanya sudah jam 8. Dia tidak ingin mengingkari janjinya pada Shiva dan Disha, walaupun sudah telat satu jam. Dia segera beranjak dari duduknya. "Aku minta maaf, aku harus pergi dulu. Malam ini aku ada janji penting."


"Darwin, mau kemana kamu?" Pak Ansel sangat keberatan, tidak ingin Darwin pergi begitu saja, dia masih ingin rencana perjodohannya Darwin dengan Lena tetap dilanjutkan.


Sementara Pak Liam hanya diam saja dari tadi. Kalau Lena, tentunya dia sangat kecewa sekali malam ini karena Darwin menolak dijodohkan dengannya.


Namun Darwin tidak menggubris perkataan Pak Ansel, dia harus segera pergi untuk menepati janjinya pada Shiva dan Disha.


...****************...


"Maaf ya, Om telat, Om ada acara sebentar tadi." Darwin meminta maaf pada Shiva begitu dia sampai di Perumahan Grand City itu.


"Iya Om, Shiva maafin. Shiva mau main baleng Om dan mama ke festival." Shiva sudah tidak sabar, bahkan dia berlari meminta Darwin untuk menggendongnya.


Darwin menggendong Shiva, "Iya, sayang. Kita berangkat sekarang." Kemudian dia menatap Disha yang masih berdiri di depan rumah, Darwin memberikan senyuman termanisnya pada Disha.


Disha menjadi salah tingkah, dia tidak tau apa dia harus membalas senyuman Darwin atau tidak, dia rasa lebih baik memilih masuk ke dalam mobil saja.


Yang pertama Shiva ingin membeli arum manis, lalu bermain boneka capit, karena gagal terus, Darwin memilih membeli boneka panda saja untuk Shiva. Lalu mereka bermain permainan lainnya disana, Disha juga ikut bermain karena Darwin yang memaksanya.


"Ayo mama ikut main!" Shiva mengatakannya sambil bertepuk tangan.


"Mama gak bisa." Disha memang gak bisa bermain darts.


"Biar aku bantu." Darwin berdiri di belakang Disha, dia memegangkan anak panah ke tangan Disha, Disha belum sempat menolak karena badan mereka hampir saja menempel, bahkan begitu terasa hembusan nafas Darwin menerpa lehernya dibelakang. Membuatnya merinding.


Disha merasakan tegang ketika pria itu memegang tangannya, sampai dia terus menelan salivanya. Dia tidak mengerti mengapa jantungnya terus berdebar-debar, dia harap Darwin tidak mendengarnya.


Darwin memegang pinggang Disha dari belakang, "Tegakkan badanmu!"

__ADS_1


Disha segera menegakkan badannya.


Darwin membantu Disha, dia memegang pergelangan tangan Disha yang sedang memegang anak panah, menarik pergelangan tangan Disha ke belakang, sampai panah itu terlempar ke arah papan darts.


Dengan cepat panah itu menancap ke papan, Disha terperangah melihatnya, rupanya anak panah yang dia lempar menancap tepat di angka 1. Itu lah yang orang-orang mau, mendapatkan angka 1, untuk mendapatkan hadiah utama.


"Wah, kita mendapatkan angka satu." seru Disha, saking senangnya tanpa sadar dia membalikkan badan, lalu memeluk Darwin. Membuat Darwin mematung, dia tidak menyangka Disha akan memeluknya. Baru kali ini dia melihat Disha seceria itu, mungkin kah dulu Disha adalah wanita yang ceria?


Disha terbelalak begitu dia tersadar dengan apa yang telah dia lakukan, mungkin karena posisi Darwin paling dekat dengannya dibandingkan dengan Shiva. Dia segera melepaskan pelukan, dia mengutuk kebodohannya, mengapa harus memeluk Darwin? Disha segera menggendong Shiva, "Kita dapat nomor satu, sayang."


"Asiiikk." Shiva berseru dengan riang gembira.


Darwin tersenyum-senyum sendiri, memandangi Disha yang sedang menggendong Shiva, sepertinya malam ini dia tidak akan bisa tidur karena akan terus teringat dengan momen terindah malam ini.


Disha mendapatkan hadiah boneka besar, ukuran boneka itu hampir sama besarnya dengan dirinya. Darwin segera menyimpan boneka itu ke dalam mobil karena mereka akan naik bianglala.


Dan sekarang mereka pun naik bianglala, Disha duduk berhadapan dengan Darwin, sementara Shiva duduk di samping Darwin.


Mereka memperhatikan suasana festival dari atas, begitu indah sekali pemandangan festival malam ini.


Shiva memperhatikan ke bawah, dia melihat ada seorang anak yang sedang digendong oleh ayahnya. Rasa penasaran Shiva kembali muncul, mengapa dia tidak memiliki ayah, sementara anak-anak yang lain memilikinya. "Ma, teman-teman Shiva semuanya punya papa, tapi kenapa Shiva nggak?"


Mata Darwin berkaca-kaca mendengarnya, perkataan Shiva membuat hatinya sakit, padahal dialah papanya Shiva. Sementara Disha nampak kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari Shiva.


"Shiva boleh memanggil om, papa." Darwin mengatakannya sambil mengusap lembut rambut Shiva.


Disha tertegun mendengarnya, dia memandangi Darwin. Bibirnya begitu kelu, tak mampu untuk berucap.


"Shiva mau kan Om jadi papanya Shiva?" Darwin bertanya pada Shiva dengan kesungguhan hatinya, kemudian pandangannya beralih ke Disha yang sedang terdiam memandanginya.

__ADS_1


Dari tatapan Darwin, Disha sangat tau kalau Darwin bersungguh-sungguh mengatakannya.


__ADS_2