Morgan Sang Casanova

Morgan Sang Casanova
Tiga Puluh Delapan


__ADS_3

Morgan melesatkan lidahnya ke dalam mulut Zhoya, awalnya Zhoya begitu kaget karena ini pertama kalinya berciuman dengan memainkan lidah. Zhoya benar-benar gadis yang sangat polos, dia merasakan lidah Morgan terus bergerak menggoda di dalam rongga mulutnya, Zhoya perlahan mencoba menyambut lidah itu, saling menautkan lidah di dalam sana.


Ciuman mereka semakin lama semakin terasa panas, membuat hasrat semakin bergelora di dalam jiwa. Morgan melepaskan ciuman, dia memberikan kesempatan untuk Zhoya agar bisa mengambil nafas, dia memandangi gadis dihadapannya itu sambil memegang wajahnya.


"Zhoya..." Entah mengapa Morgan merasa ragu untuk melanjutkan aksi panas mereka, terlebih dia teringat kembali dengan janjinya pada ayah mertua untuk tidak menyentuh Zhoya.


Zhoya tersenyum manis, akhirnya Morgan mau memenuhi permintaannya, Morgan menyebut namanya, tidak memanggil dirinya dengan sebutan bocil lagi, khusus malam ini. Zhoya mengalungkan tangannya ke leher Morgan, dia mencium Morgan kembali. Zhoya sudah memantapkan hatinya untuk menyerahkan hal yang paling berharga untuk dirinya, dia ingin benar-benar merasakan menjadi istri seorang Morgan Xavier.


Bukan dalam hal ranjang saja, tapi dalam hal segalanya, dia sudah berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk Morgan dalan segala hal. Zhoya yang awalnya manja tidak pernah memasak dan mencuci. Dia sekarang sudah bisa memasak walaupun masakannya belum bisa terasa enak, dia sudah bisa mencuci piring, dan sekarang dia ingin menyerahkan haknya untuk Morgan, walaupun mungkin hanya satu kali, karena setelah ini dia akan mulai mencoba untuk menata hatinya untuk menjalani pernikahan yang diinginkan oleh Morgan, karena Morgan tidak bisa mencintai dirinya.

__ADS_1


Morgan terhanyut kembali dengan ciuman yang dilakukan oleh Zhoya padanya, Zhoya mencium bibirnya begitu lembut, membuat nalurinya bangkit kembali. Morgan membalas ciuman Zhoya dengan begitu menggebu dan terasa begitu dalam.


Zhoya yang menginginkannya, Zhoya yang memintanya. Jadi Morgan rasa dia tidak perlu merasa bersalah pada Zhoya setelah ini, toh mereka melakukannya secara halal, setidaknya itu tidak membuat Zhoya menjadi wanita murahan, karena status Zhoya saat ini adalah istrinya yang sah di mata hukum dan agama.


Morgan mengangkat tubuh Zhoya ala koala, tanpa melepaskan ciuman mereka.


"Emmh...emhhh...emhh..." Suara cecapan yang dipenuhi oleh naf-su memenuhi kamar itu.


Zhoya mengigit bibir bawahnya begitu memandangi Morgan yang sedang membuka kemeja dan lingerie yang dia pakai, sebenarnya hatinya sangat deg-degan sekali, karena ini akan yang menjadi pertama untuknya, sampai kini tubuh Zhoya yang putih dan mulus itu hanya menyisakan bra dan cel*na d@lam saja.

__ADS_1


Morgan membuka bajunya, hanya menyisakan celana jeansnya. Sehingga terlihat bagaimana indahnya tubuh pria itu, otot-otot badannya yang seksi terpampang begitu nyata, pantas saja jika banyak wanita yang tergila-gila pada pria itu.


Begitu juga Morgan, dia tertegun memandangi disetiap lekuk keindahan tubuh Zhoya, sangat indah, benar-benar indah.


Zhoya mengusap lembut otot-otot di perut Morgan, kemudian Morgan mencium bibir Zhoya kembali, sedikit mendidih tubuhnya.


"Ahhh...." Des@h Zhoya saat Morgan menelusuri telinganya dengan menggunakan bibirnya kemudian turun ke leher jenjang Zhoya.


Aroma gadis itu begitu wangi membuat birahi Morgan semakin berkobar tak tertahankan, dia semakin naf-su menjelajahi disetiap inci leher Zhoya, sesekali menyesapnya membuat Zhoya semakin mendes@h.

__ADS_1


Morgan menghentikan aktivitasnya, dia memandangi gadis dibawah kungkungannya itu, dia ingin memberikan kesempatan untuk Zhoya jika seandainya Zhoya masih ragu untuk memberikan keperawanannya untuknya. "Zhoya, kamu yakin dengan keputusanmu ini?"


__ADS_2