
Darwin saat ini mendapatkan banyak tekanan, reputasinya kini benar-benar hancur, bahkan perusahaannya terkena dampaknya.
Sampai sang ayah, Pak Ansel, dia sangat marah dengan berita tersebut.
"Apa-apaan kamu Darwin? Gara-gara kamu CSTV kini kena dampaknya. Bahkan papa malu sekali sama Roy, mau ditaruh dimana muka papa heuh?" bentak Pak Ansel.
Saat ini Darwin sedang berada di kediaman papanya, gara-gara dirinya, CSTV mengalami masalah, bahkan papanya pasti akan bermasalah dengan Om Roy.
"Tapi memang begitu adanya, Pah. Aku memang salah." Darwin masih menyalahkan dirinya sendiri.
Pak Ansel menatap Darwin dengan tatapan tajam, "Jadi benar anak itu anakmu?"
Darwin menganggukkan kepalanya.
Pak Ansel sangat marah sekali, bagaimana bisa dia tiba-tiba memiliki cucu, mengapa harus dari gadis miskin seperti Disha?
"Dan kamu mau menikahi wanita murahan itu?"
"Dia bukan wanita murahan, aku yang sudah melecehkannya." Darwin tidak ingin papanya menghina Disha.
"Seharusnya kamu berpikir matang, kenapa harus melakukan jumpa pers? Gara-gara kamu perusahaan kena dampaknya. Oke kamu boleh bertanggungjawab tapi bukan dengan menikahi dia, cukup menjamin biaya hidup mereka. Kamu berhak mendapatkan wanita yang sepadan."
"Mereka tidak punya siapa-siapa, Pah."
"Itu nasib hidup mereka, papa gak akan menganggap anak kecil itu cucu papa."
Kebetulan disana ada Bu Selvi, mamanya Darwin. Dia tidak setuju dengan ucapan suaminya. "Anak kita yang bersalah, dia memang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Materi saja tidak cukup, tapi Darwin memang harus menikahi wanita itu, Pah."
__ADS_1
"Papa gak akan pernah merestuinya." Pak Ansel tetap pada pendiriannya, "Nanti papa bicarakan baik-baik sama Roy, papa ingin Darwin menikah dengan Zhoya. Semoga Roy bisa menerima masa lalu Darwin."
"Tapi aku akan tetap bertanggungjawab pada mereka, Pah." Ucap Darwin dengan sungguh-sungguh. "Kasihan Shiva, selama ini dia hidup tanpa kasih sayang seorang ayah."
"Kalau begitu kamu bawa saja anak itu, papa akan mengirim pengacara hebat agar hak asuh anak jatuh padamu."
...****************...
Darwin menelpon Om Roy, dia ingin meminta maaf karena sudah membuat pria itu kecewa dengan perbuatannya di masa lalu.
"Hallo, Om."
Terdengar suara Om Roy begitu dingin padanya, "Om sudah menonton acara jumpa pers itu."
Darwin menghela nafas panjang, perbuatannya di masa lalu sudah membuat banyak orang kecewa, "Saya minta maaf karena saya tidak pernah cerita tentang masa lalu saya sama Om, maafkan saya Om."
Om Roy terdiam sejenak, saat ini dia sedang berada di mansion, tepatnya dia sedang berada di kamarnya. "Sejujurnya Om sangat kecewa sama kamu, karena itu Om ingin membatalkan perjodohan kamu dengan Zhoya. Om rasa lebih baik kamu bertanggungjawab terhadap anakmu dan wanita yang sudah kamu lecehkan itu."
Darwin rasa dia harus menolong Morgan karena Morgan juga telah menolongnya, bahkan Morgan dengan berbesar hati memaafkan kesalahannya. "Morgan sangat mencintai Zhoya, Om. Sekarang aku malu, ternyata rasa cinta Morgan pada Zhoya begitu besar. Bahkan aku iri padanya, Morgan pria yang sukses tanpa mengandalkan orang lain ataupun kekayaan orang tuanya, dia pria bekerja keras, dia juga pria berjiwa besar, padahal dia tau aku salah tapi dia masih memaafkan aku. Akulah yang membuat kekacauan ini, gara-gara kecerobohan aku, berita kebohongan tentang dia tersebar."
Om Roy sama sekali tidak tau tentang hal itu, karena di jumpa pers itu saat Darwin mau mengakui kalau dia adalah penyebab tersebarnya berita kebohongan tentang Morgan, Morgan malah memotong perkataan Darwin.
"Semua orang pasti memiliki masa lalu, memiliki sisi buruknya. Aku paham Om sangat mengkhawatirkan masa depan Zhoya, tapi menurut aku Morgan adalah pria yang pantas diperhitungkan."
Setelah selesai berteleponan dengan Om Roy, Darwin duduk di tepi kolam, dia duduk termenung, kini antara dia dengan Zhoya telah usai, dia tidak boleh mengharapkan Zhoya lagi. Darwin harus merelakan Zhoya demi kebahagiaan Zhoya, dan dia juga sekarang ini memiliki tanggungjawab yang besar pada Shiva dan Disha.
Darwin mengigit bibir bawahnya, untuk menahan air matanya, tetap saja air matanya mengalir begitu saja, mungkin ini terakhir kalinya dia menangisi Zhoya.
__ADS_1
Disha benar cinta itu tak harus memiliki dan tak bisa dipaksakan.
"Semoga kamu bahagia, Zhoy."
Darwin menghapus air matanya kembali, dia menghirup nafas dalam-dalam, dia menenangkan dirinya sebentar, kemudian dia menatap layar ponsel yang dia pegang.
Tiba-tiba dia teringat dengan Disha dan Shiva. Dia ingin sekali menghubungi Disha, namun dia yakin Disha tidak akan membalas pesannya.
Darwin bingung harus mengirim pesan apa ada Disha. Dia berpikir sejenak, dia rasa Disha pasti akan membalasnya jika Darwin bertanya soal Shiva. Karena sebenarnya dia juga penasaran Shiva sedang apa sekarang.
[Selamat malam, boleh aku tau Shiva sedang apa sekarang?]
Disha malam ini sedang mengajarkan Shiva mewarnai gambar, tiba-tiba ponselnya bergetar, ternyata dia mendapatkan pesan dari Darwin.
Disha tidak ingin berurusan dengan Darwin lagi, dia harus menunggu Zhoya pulang dari Amerika untuk berpamitan secara langsung padanya, dia tidak enak karena Zhoya sudah banyak membantunya. Apalagi sekarang dia masih tinggal di rumahnya Zhoya.
Namun entah mengapa hatinya merasa tidak tega telah mengabaikan pesan dari Darwin, dia memotret Shiva yang sedang asik mewarnai gambar, lalu mengirimkan foto Shiva pada Darwin. Tanpa menuliskan sebuah kata. Yang penting Darwin tau Shiva sedang apa. Toh Darwin hanya ingin tau tentang Shiva, karena Shiva adalah anaknya.
Darwin tersenyum melihat foto Shiva yang dikirim oleh Disha, dia tersenyum mengusap wajah Shiva dibalik layar ponselnya. Kemudian dia tidak sengaja mengklik tanda replay, dia kebingungan harus membalas apa ada Disha.
Dengan ragu-ragu Darwin mengirim balasan pada Disha.
[Lalu bagaimana kabarmu, Disha?]
Disha tertegun membaca pesan dari Darwin, untuk apa Darwin menanyakan kabarnya? Namun dia rasa tidak ada salahnya membalas pesan dari dari Darwin.
[Kabarku baik.]
__ADS_1
Darwin tersenyum kembali membaca balasan dari Disha, setidaknya sekarang Disha mau merespon pesan darinya, bisa sedikit mengobati patah hatinya saat ini. Padahal hanya dua kata.
Darwin tidak mungkin menyetujui pendapat papanya untuk memisahkan Disha dengan Shiva. Walaupun sebenarnya dia sangat menyayangi Shiva.