Morgan Sang Casanova

Morgan Sang Casanova
Enam Puluh


__ADS_3

Malam ini acara grand opening Restoran Tirai Bambu begitu meriah dan megah, Zhoya mengundang banyak pembisnis untuk hadir kesana, salah satunya Darwin.


Suara alunan musik klasik menyatu dengan dekorasi yang begitu klasik disana. Walaupun namanya cukup kolot, Restoran Tirai Bambu, namun Zhoya enggan untuk mengganti namanya dengan nama yang modern. Dia menghormati mendiang Kakek Omen dan Nenek Dapong yang sudah lama menjalankan restoran itu.


Acara grand opening ini diadakan begitu ketat, makanya para wartawan tidak bisa masuk kesana, padahal hal ini bisa dijadikan berita gosip tentang istri dari seorang aktor papan atas telah menjalankan bisnis restoran. Seorang wanita berusia 20 tahun bisa membuka usaha sendiri bukan kah bisa dikatakan hebat? Apalagi Zhoya adalah istri dari seorang aktor terkenal di negeri ini.


Namun sayangnya para wartawan tidak akan bisa meliput hal itu, karena hanya tamu undangan saja yang bisa masuk kesana.


"Cucu dari Tuan Herman dan Nyonya Fara ternyata sudah dewasa sekarang, bagaimana kabar nenek dan kakek kamu di Amerika?" tanya salah satu pengusaha yang di undang oleh Zhoya, dia sudah lama bekerjasama dengan perusahaan yang sudah lama di bangun oleh nenek dan kakeknya, Adva.


"Kabar Oma Fara dan Opa Herman sangat baik Om." Zhoya menjawabnya dengan tersenyum ramah.

__ADS_1


Oma Fara dan Opa Herman adalah kakek dan nenek dari Mom Kia. Sementara kakek dan nenek dari sang Daddy sudah meninggal.


Zhoya juga bertemu dengan kakak dari Mom Kia, tante Ghea dan Om Gibran, mereka akhir-akhir ini memang sibuk sekali makanya jarang bertemu, apalagi besok mereka harus pergi lagi ke Singapura, ada acara yang sangat penting.


Sementara Galvin dan Hana baru saja pulang, kebetulan saat ini jam sudah menunjukkan jam 9 malam, Usia kandungan Hana sudah menginjak usia 7 bulan, Galvin tidak ingin Hana kecapean. Apalagi tadi Hana menyempatkan diri membantu Zhoya, di bantu oleh tante Ghea juga.


"Semangat terus ya sayang, maafkan tante, tante dan Om gak bisa lama-lama disini, lain kali main ke rumah ya."


"Hmm... iya juga, makanya Om titipkan kamu sama Galvin dan Hana. Apalagi Morgan jarang di rumah, seorang aktor pasti sibuk sekali." Om Gibran ikut bicara.


"Gak apa-apa Om, kak Galvin dan Kak Hana juga punya urusan masing-masing. Zhoya udah dewasa, Om jangan khawatir."

__ADS_1


Om Gibran tersenyum, "Hebat bener anaknya Kia dan Roy, mungkin karena terlahir dari orang-orang hebat, makanya kamu bisa berpikir dewasa kayak gini. Ya sudah Om dan tante pulang dulu." pamitnya.


"Iya Om."


Zhoya memang tidak ingin menceritakan tentang masalah rumah tangganya kepada siapapun, dia memilih memendamnya sendiri. Dia harus terlihat bahagia di depan semua orang, karena dia telah menjadi pusat perhatian malam ini, makanya malam ini dia begitu terlihat sangat cantik.


Sampai ada beberapa pengusaha mengajaknya bercanda, "Sayang sekali kamu sudah nikah, coba kalau belum, pasti sudah saya jodohkan sama anakku."


Zhoya hanya tersenyum saja tanpa menanggapi perkataan pengusaha itu. Kemudian Zhoya menyalami orang itu, walaupun sudah jam 9 malam tapi banyak tamu yang masih berdatangan kesana.


Pastinya diantara mereka ada yang menanyakan keberadaan Morgan, sebenarnya hati Zhoya pasti sedih, istri mana yang tak sedih jika suaminya tidak bisa hadir diacara yang begitu penting untuknya. Namun dia sadar betul dirinya siapa. Pernikahan mereka hanya sandiwara saja, Morgan hanya mencintai Disha. Zhoya sangat sadar dalam hal itu, makanya dia tidak ingin mengharapkan Morgan datang malam ini. Dia tidak ingin terlalu banyak berharap pada pria itu.

__ADS_1


__ADS_2