Morgan Sang Casanova

Morgan Sang Casanova
Bonchap 18


__ADS_3

Malam ini di kediaman Pak Ansel sedang makan malam bersama, Shiva sangat terlihat bahagia sekali karena baru merasakan memiliki keluarga yang lengkap, bahkan dia begitu lahap memakan makanan enak disana.


"Kapan kalian akan menikah?" tanya Pak Ansel kepada Disha dan Darwin.


Disha memandangi Darwin, padahal dia belum menerima lamaran dari Darwin, tapi dia pasrah saja mengikuti keputusan Darwin, toh dia rasa sepertinya Darwin sudah mendengar perkataannya yang bilang kalau dia mencintainya saat Pak Ansel bertanya tentang perasaannya pada Darwin.


"Lebih cepat lebih baik." jawab Darwin, kemudian dia tersenyum memandangi Disha, terpancar tatapan penuh rasa bahagia malam ini. Rasanya dia ingin sekali mendengar sekali lagi ungkapan cinta dari Disha karena selama ini wanita itu masih bersikap cuek padanya.


"Baguslah kalau begitu, mama akan mempersiapkan semuanya." Ucap Bu Selvi, kemudian dia menaruh banyak lauk ke piring milik Shiva, "Makan yang banyak Shiva sayang."


Disha merasa lega, dia pikir hari ini akan dipenuhi kesedihan, namun rupanya dalam sekejap Pak Ansel bisa berubah pikiran. Dia tau semua ini berkat bantuan dari Morgan untuk meyakinkan Pak Ansel dengan menceritakan semua tentang Disha.


Dia tau karena Pak Ansel yang bercerita, tadi Pak Ansel bilang kalau perkataan Morgan tentang Disha membuat hatinya tersentuh. Sampai dia berpikir matang apa yang harus dia lakukan pada hubungan Disha dan Darwin.


Terimakasih Morgan, atas segalanya._ kata hati Disha pada mantan terindahnya.


Rupanya Morgan telah menepati janjinya untuk menolongnya sekali saja, sebagai bentuk rasa pedulinya terhadap mantan kekasihnya itu.


...****************...


Darwin dan Disha sedang duduk berdua di kursi yang ada di depan rumah, tepatnya di perumahan Grand City, sementara Shiva sudah tidur di kamarnya.


Sudah setengah jam mereka berdiam diri, entah mengapa rasanya begitu gugup sekali di hati kedua insan yang sedang jatuh cinta itu.

__ADS_1


Mereka sesekali saling menatap, kemudian tersenyum.


Darwin memberanikan diri untuk angkat bicara, "Jadi itu artinya kamu mau menikah dengan aku?"


Disha tersipu malu, kenapa Darwin harus bertanya lagi padanya, padahal tadi di kediaman Pak Ansel mereka sudah membicarakan panjang lebar tentang rencana pernikahan mereka.


Disha mengangguk dengan pelan. Kemudian dia menatap bintang-bintang di langit, dia harap Darwin tidak tau kalau dirinya sedang gugup.


Darwin tak bisa melepaskan pandangannya, dia terus menatap wajah cantik Disha. "Rasanya aku masih merasa semua ini hanyalah mimpi, karena kamu sama sekali gak pernah bilang mencintai aku."


"Bukankah kamu sudah mendengarnya saat papamu bertanya padaku bagaimana perasaan aku padamu."


Darwin mencondongkan wajahnya, sampai wajah mereka dekat sekali, dia menatap kedua bola mata Disha, membuat jantung Disha berdebar-debar, "Aku ingin kamu mengatakannya secara langsung padaku."


Darwin tersenyum gemas, bilang cinta saja susah, bagaimana mereka malam pertama nanti, sementara Disha sangat pemalu. Namun dia juga tidak tau apa Disha mau melakukannya lagi dengannya, mengingat Disha mungkin saja masih trauma dengan kejadian 4 tahun yang lalu, dan dia akan bersabar jika memang Disha belum siap melakukannya.


Darwin menegakan badannya kembali, "Ya sudah tidak apa-apa, aku mengerti." Darwin harus memahami dengan kepribadian Disha, walaupun dirinya hampir tiap hari bilang cinta pada wanita itu. Sesuai saran dari Morgan, katanya seorang pria harus sering menunjukkan rasa cintanya pada pasangannya.


Darwin melihat jam di tangannya, rupanya sudah jam 10 malam. Dia rasa lebih baik dia pulang, karena dia ingin Disha memiliki banyak waktu untuk beristirahat, "Sudah malam, lebih baik aku pulang." pamit Darwin.


Kemudian Darwin mengusap rambut Disha dengan lembut. Lagi-lagi pria itu membuat hati Disha bergetar, dia pikir dia tidak akan jatuh cinta lagi, ternyata Darwin berhasil membuat hatinya yang sudah lama membeku, kini telah mencair.


Disha menganggukkan kepalanya, kemudian mereka beranjak dari duduknya.

__ADS_1


Disha menatap punggung Darwin yang sedang berjalan menuju mobil.


"Darwin!" Tiba-tiba Disha memanggil nama pria itu.


Darwin mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil, dia membalikkan badannya, memandangi wanita yang jaraknya terpaut 6 meter itu.


"A-aku..." Disha nampak ragu untuk mengatakannya, dia menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya lagi, "Aku mencintaimu." Akhirnya kata cinta itu berhasil lolos dari bibir manis Disha.


Darwin terperangah mendengarnya, sampai dia tersenyum lebar, akhirnya dia bisa mendengar sendiri kata cinta dari Disha, rasanya kini seakan berterbangan jutaan kupu-kupu dihatinya.


Darwin segera berjalan dengan cepat menghampiri Disha, menubruk badannya, memeluk wanita itu dengan begitu erat. Senyuman terus melekat dibibirnya, seakan malam ini dia adalah pria yang paling bahagia di dunia ini.


Disha terkejut merasakan pria itu memeluknya, namun kini dia sadar betul kalau Darwin telah memberikan rasa nyaman untuknya, sampai dia tidak takut lagi pada pria itu. Perlahan tangan Disha menyambut membalas pelukan Darwin.


Setelah lama berpelukan, Darwin memegang wajah Disha, menatap netra padanya, "Terimakasih sudah membalas cintaku, aku lebih mencintaimu, Disha."


Belum juga Disha menjawab perkataan Darwin, pria itu tiba-tiba menyatukan bibir mereka. Membuat Disha terbelalak kaget, namun dia tidak bisa menolaknya, Darwin mencium bibirnya dengan begitu lembut, membuatnya sangat nyaman.


Tangan Darwin turun memegang tengkuk leher Disha untuk memperdalam ciumannya, lidah Darwin menyentuh bibir bawah Disha, meminta akses untuk masuk ke dalam mulut Disha, perlahan Disha membuka mulutnya membiarkan lidah Darwin mengeksplorasi rongga mulutnya.


Kedua tangan Disha melingkari punggung Darwin, lidah Disha menangkap gerakan lidah Darwin dan mulai bergumul di dalam mulut manis Disha.


Jantung mereka berpacu dengan cepat, ciuman mereka kini mengeluarkan suara khas lidah yang menari indah di dalam mulut Disha.

__ADS_1


Dua insan yang saling mencintai malam ini mereka saling mengungkapkan rasa cinta dan bahagia mereka dengan ciuman yang begitu mesra dan hangat, membuat rasa cinta mereka terasa semakin mendalam.


__ADS_2