
"Ahhh... terus honey!"
"Ahhhh..."
Pak Dean terkejut begitu mendengar suara desa-han di kamar Laura, hari ini dia sengaja datang ke apartemen Laura untuk menemui sang anak. Dia ingin bilang pada Laura tentang dia yang sudah membatalkan perjodohannya dengan Morgan.
Dengan penuh amarah dia membuka pintu kamar Laura, darahnya langsung mendidih melihat Laura yang sedang berpacu kuda diatas pinggul Yoga.
"Laura, apa-apaan kamu ini?" bentak Pak Dean.
Laura dan Yoga terlonjak.
Yoga segera memakai celananya, kemudian dia berlari terbirit-birit sebelum dihajar oleh Pak Dean. Padahal dia belum mencapai pelepasan.
"A-aku minta maaf, Pah." Laura segera menutup tubuhnya dengan selimut.
Pak Dean menampar Laura.
Plaakk...
"Papa sangat kecewa sekali sama kamu, jadi ini alasan kamu tidak ingin tinggal di rumah?"
Laura hanya bisa meringis memegang pipinya, baru kali ini sang ayah marah besar padanya.
"Mulai hari ini kamu tinggal lagi di rumah, jangan tinggal disini. Dan papa sudah memutuskan perjodohan kamu dengan Morgan."
__ADS_1
Laura kaget mendengarnya. "'Gak Pah, Pokoknya aku cuma mau sama Morgan, Pah. Aku sangat mencintai Morgan." Laura tidak terima Pak Dean malah memutuskan perjodohannya bersama Morgan.
"Cinta? Tapi tidur dengan pria lain?"
"Aku dan Yoga hanya main-main, Pah."
Pak Dean semakin geram dengan kelakuan anaknya. "Untuk apa kamu menikah dengan pria yang citranya sudah buruk di mata dunia. Apalagi dia sudah memiliki anak!" Kali ini Pak Dean tidak akan goyah, dia sudah yakin dengan keputusannya.
"Aku gak peduli dia sudah punya anak. Aku gak peduli dengan semua itu."
"Tapi papa gak akan pernah merestui hubungan kamu dengan dia. Keluarganya sudah jatuh miskin, karir Morgan hancur. Apa yang bisa dibanggakan?"
Namun Laura tidak peduli dengan semua itu, "Tapi Pah..."
"Papa akan mencoret kamu dari kartu keluarga kalau ketahuan kamu diam-diam menemui Morgan, apalagi kalau sampai kamu masih berhubungan dengan dia. Dan jangan sampai papa melihat kamu melakukan perbuatan hina lagi. Menjijikkan kamu, Laura."
Sebenarnya sebelum Zhoya pulang ke rumah, dia bersitegang dengan Galvin, karena Galvin tidak terima dan sangat marah dengan skandal tentang Morgan.
Namun Zhoya menjelaskan semuanya pada Galvin, kalau semua itu hanyalah fitnah, dan Shiva bukanlah anaknya Morgan. Dia menjelaskannya lewat panggilan telepon. Zhoya melarang Galvin untuk menemui Morgan dalam keadaan emosi, kadang emosi Galvin tidak terkontrol.
Karena itu Galvin mencoba mempercayai ucapan Zhoya, dia juga percaya tidak mungkin seorang Morgan Xavier sebejat itu.
Namun dia masih kepikiran dengan Mom Kia dan Daddy Roy, siang itu dia mendapatkan telepon dari sang daddy, ayah mana yang bisa terima jika anak kesayangan mereka memiliki suami sebejat itu, Zhoya yang terbiasa dimanja kini pasti mendapatkan tekanan batin dengan skandal tersebut.
Zhoya memberikan sample rambut di dalam sebuah plastik bening pada Morgan, itu adalah rambut Shiva, Disha yang memberikannya. "Kak Morgan bisa melakukan tes DNA dengan ini!"
__ADS_1
Saat itu Zhoya dan Morgan sedang duduk di pinggir ranjang, Zhoya memutuskan malam ini dia akan tidur bersama Morgan, dia tidak ingin Morgan sedih sendirian.
Morgan membawa sample rambut itu, dia menatap Zhoya, "Darimana kamu mendapatkan ini? Apa kamu sudah bertemu dengan Disha?"
"Kak Disha tinggal di rumah aku bersama Shiva, aku ingin melindungi mereka."
Morgan menatap takjub pada Zhoya, bagaimana bisa gadis itu bersikap baik pada mantan kekasihnya? "Zhoy..."
"Jangan merasa tidak enak padaku, aku menolongnya bukan karena dia mantan kak Morgan. Tapi karena sebagai sesama wanita, apalagi aku tidak tega anak sekecil Shiva mendapatkan banyak cibiran dan cacian."
Memang benar, di sosial media, ada yang menghina Disha yang ketagetalan maunya tidur dengan Morgan tanpa ikatan pernikahan. Bahkan ada yang menghina Shiva juga.
"Siapa yang mengajarkan kamu menjadi wanita sedewasa dan sehebat ini hm?" Morgan tak bisa melepaskan pandangannya pada Zhoya, dia benar-benar kagum pada gadis itu.
"Kak Morgan yang mengajarkan aku,"
Tanpa di duga, Zhoya mencium pipi Morgan, "Emmuachh!"
Membuat Morgan membulatkan matanya.
"Itu penyemangat untukmu. Aku akan memberikannya lebih jika semua masalah kak Morgan selesai." Ucap Zhoya dengan tersenyum menggoda.
Kemudian Zhoya naik ke atas ranjang, membaringkan tubuhnya, lalu menyelimuti tubuhnya. Sebenarnya dia sangat malu sekali mengatakan semua itu, tapi siapa tau bisa membuat Morgan semakin bersemangat untuk segera menyelesaikan masalahnya.
Morgan menyungingkan seulas senyuman sambil memegang pipinya, benar saja ciuman itu membuat Morgan bersemangat untuk terus bangkit. Dia menyimpan sample rambut ke dalam laci yang ada di nakas, lalu dia menyusul, tiduran disamping Zhoya, "Apa itu artinya kamu memaafkan aku? Apa kamu ingin kembali padaku?"
__ADS_1
"Emm... aku tidak akan jawab sekarang. Nanti aku akan jawab semuanya jika semua masalah kak Morgan sudah selesai."
Ucapan Zhoya memberikan Morgan kekuatan, dia harus menyelesaikan semuanya, agar dia bisa mendapatkan jawaban dari Zhoya, dia berharap Zhoya bisa kembali padanya, dia ingin hidup bersama Zhoya untuk selamanya. Tidak ada wanita lain, hanya Zhoya yang Morgan inginkan. Bagi dia jika karirnya hancur itu tidak seberapa jika dibandingkan dia harus kehilangan Zhoya. Hidupnya akan benar-benar hancur jika dia kehilangan gadis itu.