
Satu tahun kemudian...
Morgan telah menjadi aktor nomor satu di kancah internasional, aktingnya begitu memukau, membuat banyak para sutradara di berbagai penjuru dunia ingin menjadikannya peran utama di film mereka.
Namun walaupun begitu, Morgan tidak ingin banyak mengambil job, dia ingin memiliki banyak waktu untuk istri dan anaknya. Mereka memiliki seorang putri yang usianya kini telah empat bulan, putrinya bernama Gebby Xavier.
Sementara putranya Galvin dan Hana kini berusia 10 bulan, putranya bernama Betrand Bastian Adelardo. Dan dikabarkan Disha kini telah mengadung 6 bulan, Disha dan Darwin ingin secepatnya memberikan adik untuk Shiva.
Pak Gara sudah tak mampu lagi untuk mengurus perusahaan, karena itu Morgan terpaksa harus menjadi Presdir disana. Morgan kini menjadi seorang aktor sekaligus menjadi seorang pengusaha.
Begitulah Morgan, dia adalah pria pekerja keras, sementara Zhoya dia masih mengelola Restoran Tirau Bambu, walaupun untuk sementara dia lebih memilih untuk mengurus Gebby, dan restorannya dia percayakan kepada seorang manager yang profesional.
Kebetulan hari ini ketiga keluarga berkumpul bersama di rumah Morgan.
Para istri sedang sibuk memasak di dapur, sementara para ayah sedang sibuk mengurus anaknya.
"Gue denger Hana lagi hamil lagi ya? Rajin amat lu." canda Morgan kepada Galvin. Dia sedang memberikan dot kepada Gabby, di roda bayinya.
Sementara Galvin sibuk menggendong Betrand, dia menepuk-nepuk punggung Betrand yang sedang mengantuk. Dia terkekeh mendengar pembicaraan Morgan, "Ya harus lah, biar bisa nyusul Darwin. Iya kan Win?"
Galvin dan Darwin memang sudah lama bekerjasama, karena Galvin memiliki perusahaan di bidang Advertising, pastinya selalu bersangkutan dengan beberapa perusahaan channel televisi.
Darwin tertawa kecil mendengar ucapan Galvin, sepertinya dia yang paling santai, karena Shiva sudah mandiri, anak itu sibuk mewarnai gambar di sampingnya, mewarnai gambar memang hobbynya Shiva. "Hm... ya begitu lah, soalnya Shiva udah gak sabar ingin punya adik."
Shiva mendongakan kepalanya menatap sang ayah, karena dia menjadi korban fitnahan ayahnya. Padahal Darwin memang rajin menggempur Disha tiap malam.
__ADS_1
Pembicaraan mereka terhenti begitu melihat Zhoya, Hana, dan Disha keluar dari dapur, sambil membawa banyak makanan yang telah mereka masak.
"Makanan udah siap!" seru Zhoya, sambil meletakkan banyak makanan ke atas meja makan, di bantu oleh Hana dan Disha.
Dan akhirnya mereka pun makan bersama, menikmati masakan para wacan, wanita cantik.
...****************...
Malamnya...
Morgan memperhatikan Zhoya yang sedang menyusui Gebby, Morgan baru menyadari kalau ukuran payu-dara Zhoya sepertinya membesar, dulu hanyalah sebuah melon, kini menjadi semangka. Membuat Morgan menjadi tergoda.
Namun Morgan harus sabar, menunggu giliran, setelah beres menyusui Gebby, Zhoya harus menyusui Morgan juga, walaupun menyusuinya harus plus plus sampai ranjang bergoyang.
Morgan nampak sumringah saat melihat Zhoya menidurkan Gebby di atas ranjang khusus bayi, akhirnya kini tinggal jatahnya, dia langsung memeluk Zhoya dari belakang, mencium pundaknya. "Sekarang giliran aku yang nen3n."
Morgan tertawa gemas, dia membalikkan badan Zhoya, menghadap dirinya. "Gak akan kenyang lah sayang, kan pria memang harus disusui seumur hidup, biar sehat dan semangat bekerja."
Zhoya mencolek hidung mancung Morgan, "Itu mah maunya kak Morgan."
Morgan menarik Zhoya, merangkul pinggangnya, sehingga tak ada jarak satu centimeterpun di antara mereka, Zhoya mendelik pada sang suami karena merasakan ada benda keras menusuk dibawah sana.
"Darwin dan Galvin lagi otw mau punya anak dua, makanya kita harus rajin bikin bocil, agar Gebby segera punya dedek." setelah mengatakan itu, Morgan mengecup bibir Zhoya beberapa kali.
Zhoya membulatkan mata, dia menahan bibir Morgan, menatap tajam padanya. "Gebby masih kecil kak, baru berusia 4 bulan lho. Nanti aja kalau Gebby sudah seusia Shiva, baru kita kasih adek."
__ADS_1
Morgan menganggukan kepala, dia menghargai keputusan Zhoya, "Ya sudah kalau memang itu mau kamu, yang penting kita bikinnya tiap hari."
Morgan langsung menggendong Zhoya ke atas ranjang, dia menindih tubuh Zhoya, mencium bibirnya dengan sangat rakus. Lalu segera membuka kancing piyama Zhoya, dia menarik bra ke atas, lalu melahap semangka bagian kanan itu, dia sangat menyukai air susu sang istri, walaupun dia hanya menghisapnya sedikit saja. Takut Gebby tidak kebagian.
Namun...
"Oa...Oa..."
Mereka mendengar Gebby menangis.
Zhoya dan Morgan menghentikan aktivitasnya, mereka saling menatap karena mungkin sedang berada dalam posisi na-ked, malah ada gangguan.
Mereka pun tertawa kecil, mungkin begini lah indahnya memiliki seorang bayi.
"Biar aku aja." ucap Morgan, dia ingin Zhoya beristirahat, agar memiliki kekuatan untuk di gempur olehnya, maksudnya.
Morgan beranjak dari ranjang, dia berjalan ke arah ranjang khusus bayi, dia pun segera mengusap-usap lembut punggung Gebby, agar Gebby tertidur kembali, dia menatap Gebby dengan sangat lembut, lalu mencium keningnya.
Zhoya tersenyum memperhatikan Morgan, dia sangat bersyukur memiliki suami sehebat Morgan, bukan hanya menjadi suami yang hebat, tapi Morgan telah menjadi ayah yang sangat baik.
...___ Tamat ___...
...Terimakasih banyak sudah membaca novel Morgan Sang Casanova dari awal sampai akhir, dan terimakasih yang masih setia membaca novel-novel remahan ini, kalian selalu dihati 🙏...
Jangan lupa mampir ke novel saya yang satu lagi, masih 6 bab.
__ADS_1