
Pak Ansel duduk di tepi kolam, untuk merenungkan dirinya. Perkataan Morgan tentang Disha membuat hatinya sedikit tersentuh, apakah mungkin perkataan Morgan itu benar bahwa Disha adalah wanita baik-baik?
Tapi walaupun dia wanita baik-baik, tetap saja Disha tidak selevel dengan mereka. Pak Ansel menginginkan Darwin memiliki pendamping berasal dari keluarga yang setara dengannya juga.
Namun dia teringat lagi dengan ucapan Morgan yang bertanya padanya sebagai seorang ayah apa dia tidak merasa bangga memiliki anak seperti Darwin yang begitu berani mengakui kesalahan dan ingin menjadi pria yang bertanggungjawab? Padahal dari dulu dia mandidik Darwin dengan begitu baik, dan mengajarkan Darwin menjadi pria yang bertanggungjawab dalam hal apapun.
Pak Ansel menghela nafas panjang, dia tidak tau apa yang harus dia lakukan sekarang.
"Opa!"
Suara lembut seorang anak kecil itu membuyarkan lamunannya. Pak Ansel menatap Shiva yang sedang tersenyum padanya sambil menunjukkan sebuah gambar, rupanya Shiva menggambar lima orang yang sedang berpegangan tangan di buku gambar itu, satu anak kecil, dua pria dewasa, dan dua lagi wanita dewasa. Walaupun gambarnya tidak telihat rapih. Tapi gambar itu seolah memperlihatkan isi hati anak itu.
"Ini Shiva, ini mama, ini papa, ini opa, ini oma." Shiva menunjukkan satu-satu gambar yang sudah dia warnai itu.
Mata Pak Ansel berkaca-kaca melihatnya, secara tidak langsung anak itu menginginkan bisa hidup bersama dengan kedua orang tuanya, serta memiliki kakek dan nenek.
Padahal dari tadi Pak Ansel sama sekali tidak mengajak Shiva berbicara, mengacuhkannya. "Apa Shiva mau tinggal bareng opa, oma, dan papa? Disini Shiva bisa makan enak, Shiva bisa memiliki mainan banyak."
__ADS_1
"Shiva juga selalu makan yang enak, makan sayul, makan telol. Shiva halus makan tiga kali sehali kata bu gulu, tapi mama ja1ang makan, mama seling bilang kalau mama masih kenyang."
Pak Ansel tertegun mendengarnya, dulu saat di kota A hidup mereka memang berada dalam kesusahan, makanya Disha sering mengalah yang penting Shiva bisa makannya terpenuhi, tidak peduli dia sendiri bisa makan atau tidak.
Apakah dia harus tega menambah penderitaan Disha? Apakah dia tega mengambil Shiva dari Disha?
Pembicaraan mereka berhenti begitu melihat Disha yang sudah berada disana, Disha langsung memanggil Shiva sambil menangis. "Shiva!"
Mata Shiva berbinar-binar begitu melihat sang mama, dia berlari ke arah Disha, "Mama!"
Disha langsung memeluk Shiva sambil terisak, dia sangat bersyukur bisa bertemu dengan Shiva lagi.
Disha belum bisa berkata apa-apa, dia terus memeluk erat Shiva.
Pak Ansel segera berdiri begitu melihat Pengacara Ferry datang menghampirinya, "Maaf Tuan Ansel, saya masih ada jadwal lain. Lebih baik kita secepatnya saja membicarakan tentang hak asuh anak, mumpung Ibu Disha sudah berada disini."
Disha terkejut mendengarnya, mengapa mereka kejam sekali ingin memisahkan dirinya dengan Shiva, dia tidak tau hidupnya seperti apa jika dia harus kehilangan Shiva.
__ADS_1
Disha menghapus air matanya, dia berjalan mendekati Pak Ansel dan Pengacara Ferry, dia menatap Pak Ansel dengan tatapan matanya yang sayu. "Saya akan pergi dari sini secepatnya, saya janji tidak akan pernah berhubungan lagi dengan Darwin. Karena itu saya mohon jangan pernah mencoba memisahkan saya dengan Shiva lagi."
...****************...
Setelah selesai meeting, Darwin pergi ke toko perhiasan, dia ingin memberikan cincin untuk Disha, mungkin karena dia terlalu percaya diri mengingat pesan yang dikirim oleh Disha, Disha bilang ingin berbicara dengannya, dia berharap itu sebuah kode kalau Disha akan menerima lamarannya.
"Mau cincin yang mana Mas?" tanya pelayanan toko perhiasan itu.
"Tolong tunjukan cincin mana saja yang cocok untuk melamar seseorang!"
"Wah semoga lamarannya diterima ya, Mas." seru pelayan toko perhiasan itu, kemudian dia memperlihatkan beberapa cincin pada Darwin. "Nah ini cincin yang paling cocok digunakan untuk melamar kekasih Mas."
"Iya terimakasih, mbak." Darwin terlihat sumringah, rasanya sudah tidak sabar dia ingin sekali menikahi Disha, tinggal bersama dengan Shiva dan Disha.
Belum juga Darwin memilih cincin itu, dia mendengar ponselnya bergetar.
Drrrtt... Drrrtt...
__ADS_1
"Sebentar ya, mbak." Darwin lebih memilih membaca pesan dulu, begitu melihat siapa yang mengirim pesan padanya.
Darwin tercengang begitu membaca pesan itu, membuat dia harus segera pergi dari toko perhiasan itu.