Morgan Sang Casanova

Morgan Sang Casanova
Delapan Puluh Tujuh


__ADS_3

Morgan menyetir mobilnya, dia harus memberikan perhitungan pada Ervan. Dia tidak akan pernah memaafkannya karena sudah berani berbuat jahat pada Bu Widdy.


Morgan tiba-tiba teringat dengan Zhoya, hari ini dia tidak berkomunikasi sama sekali dengannya. Namun sayangnya ponselnya lobet, mungkin karena pikirannya sedang kalut dan banyak sekali masalah yang harus dia hadapi, sampai dia lupa tidak mencharger ponselnya.


Inilah salah satu alasan mengapa Morgan dulu selalu berusaha untuk tidak jatuh cinta pada Zhoya, dia selalu mengelak tidak ingin jatuh cinta padanya, karena dia merasa tidak pantas bersanding dengan Zhoya.


Zhoya yang terlahir dari keluarga yang sangat sempurna, memiliki orang tua yang begitu baik memanjakan dirinya, Zhoya tidak pernah mengalami kesusahan, apapun yang dia mau bisa dia beli dan dia dapatkan, Zhoya sangat cantik dan menarik pasti banyak pria yang jauh lebih baik dari Morgan menginginkan bersanding dengan Zhoya.


Zhoya, si bocil yang selalu membuat Morgan gemas itu sekarang malah masuk ke dalam kehidupannya yang begitu rumit. Namun kali ini Morgan tidak ingin merendahkan dirinya, dia ingin tetap hidup bersama gadis itu. Dia yakin bisa membahagiakannya.


Tunggu aku, Zhoy. Sebentar lagi aku pulang.


Morgan memarkirkan mobilnya di depan kediaman Pak Gara, dia langsung keluar dari mobilnya.


Morgan bertemu dengan Bik Nani di depan rumah, "Kak Ervan dimana bik?" tanyanya pada Bik Nani.


"Tuan Ervan sedang bersama Tuan Gara di ruang kerja, Tuan." jawab Bik Nani.


"Tolong bawa mama jalan-jalan bik, mama jangan tau dulu masalah ini." pinta Morgan.


"I-iya, Tuan." Bik Nani mangut saja tanpa bertanya apa alasannya, dia menduga pasti akan ada keributan di rumah ini melihat ekspresi Morgan yang terlihat sedang menahan amarah.


Morgan segera masuk ke dalam rumah, dia langsung pergi menuju ruang kerja dengan perasaan penuh emosi.


Dia melihat Ervan yang sedang berbicara dengan papanya.


"Morgan!" Pak Gara terkejut melihat Morgan yang tiba-tiba masuk ke ruang kerja.


Tanpa basa basi, Morgan berjalan cepat menghampiri Ervan, dia langsung melayangkan tinju ke wajah Ervan beberapa kali.

__ADS_1


Bugh...


Bugh...


Ervan terjatuh ke lantai, dia meringis kesakitan, dia ingin melawan namun Morgan menghajarnya lagi tanpa ampun.


Pak Gara terkejut melihatnya, dia tidak mengerti mengapa Morgan tiba-tiba memukul Ervan. Pak Gara berusaha untuk memisahkan mereka. Dia menahan Morgan yang sudah beberapa kali menghajar Ervan. "Morgan, ada ada ini? Kenapa kamu memukul kakak kamu?"


Ervan segera bangkit, dia berbalik meninju wajah Morgan.


Bugh...


Morgan membalas pukulan Ervan, sehingga kini mereka berkelahi.


Pakai Gara berdiri di tengah-tengah mereka, untuk memisahkan mereka. "Papa mohon, kalian jangan bertengkar seperti ini. Sebenarnya ada masalah apa ini?"


Morgan menujuk Ervan, "Orang ini yang sudah membuat mama aku celaka, orang ini adalah dalang menyebarnya berita kebohongan tentang aku."


Namun Ervan tidak mau mengaku, "Gak, pah. Ini semua fitnah."


"Papa tanyakan sendiri saja pada kedua temannya, Zoe dan Damar. Mereka sudah mengakui semuanya." Morgan mengatakannya dengan penuh emosi.


Pak Gara merasa terguncang, dia benar-benar tidak menyangka anaknya akan berbuat sebejat itu, dia menampar Ervan.


"Tega sekali kamu melakukan ini pada adik dan mamamu, Ervan. Kenapa kamu tega melakukannya?"


Ervan malah menyalakan papanya, "Bukannya papa juga tidak memperlakukan Morgan dan wanita itu dengan baik dari dulu? Mereka memang seharusnya tidak ada dikehidupan kita."


Plakk...

__ADS_1


Pak Gara menampar wajah Ervan kembali, dia akui dia dulu bukan suami yang baik untuk istrinya, dia bukan ayah yang baik untuk Morgan. Namun dia tidak menyangka Ervan akan melakukan hal sekeji itu.


...****************...


Saat Zhoya berpisah rumah dengan Morgan, diam-diam Darwin mengikuti Zhoya, dia ingin tau Zhoya tinggal dimana.


Maka dari itu Darwin datang ke Perumahan Grand City, siapa tau Disha dan Shiva tinggal disana.


Rupanya dugaanya benar, dia melihat Shiva yang sedang bermain dengan Disha di halaman rumah.


Darwin keluar dari mobil, dia berjalan masuk ke dalam gerbang rumah.


Bola yang sedang dimainkan oleh Shiva menggelinding jatuh tepat di kaki Darwin, Disha terkejut saat melihat Darwin, berbeda dengan Shiva, dia sangat senang sekali bertemu dengan pria itu.


"Om Dalwin!" Shiva berlari ke arah Darwin.


Darwin langsung menggendongnya. Tanpa melakukan tes DNA pun dia sudah yakin Shiva adalah anak kandungnya.


Disha merasa keberatan melihat Shiva digendong oleh Darwin. "Shiva, lebih baik kamu masuk ke dalam sayang, mama mau bicara sama Om Darwin."


Namun Shiva tidak mau mengikuti perintah Disha, dia sangat merasa nyaman berada dipelukan Darwin. "Gak mau, Shiva mau sama Om Dalwin."


Darwin merasa terharu, anak kecil itu begitu sangat menyukainya. Dia membiarkan Shiva berada di dalam pangkuannya.


Darwin menatap Disha. "Aku ingin melakukan tes DNA dengan Shiva."


Disha tertegun mendengarnya, dia belum bisa berkata apa-apa, menatap pria dihadapannya itu.


"Aku ingin bertanggungjawab atas apa yang sudah aku lakukan!" Darwin mengatakannya dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Darwin memutuskan untuk melepaskan wanita yang dari dulu sangat dia cintai, Zhoya yang tinggal selangkah lagi akan menjadi miliknya. Namun dia merasa tidak pantas mendapatkan Zhoya dengan cara yang kotor. Karena dia memang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dia harus mengembalikan nama baik Morgan, dan dunia juga harus tau bahwa Disha bukanlah wanita kotor seperti yang orang-orang tuduhkan.


__ADS_2