
Preman berbaju biru menatap Darwin dengan tatapan sangar, karena berani sekali ikut campur dengan urusan mereka. Dengan cepat dia melayangkan tinju pada wajah Darwin.
Bugh...
Pukulan itu cukup membuat wajah tampan Darwin terluka, dia sedikit meringis memegang wajahnya.
"Oh Darwin!" Disha terkejut begitu melihat preman itu memukul wajah Darwin. Sementara siswi SMP yang dia tolong masih bersembunyi di belakangnya, gadis itu masih sangat ketakutan.
"Ini balasan dari gue karena lu berani ikut campur urusan kami!" bentak preman berbaju biru itu.
Darwin mencoba melawan, namun kedua preman itu malah menyerangnya secara bersamaan, membuat Darwin kewalahan.
Bugh...
Bugh...
Mereka terus berkelahi, satu lawan dua. Tubuh Darwin memang sixpack, namun tetap saja dalam body dia kalah, kedua preman itu berbadan besar dan kekar. Makanya preman itu berhasil melukai kembali wajah Darwin.
Disha sangat panik sekali, dia segera mencari cara untuk menolong Darwin, matanya beredar mencari sesuatu, dia melihat ada balok kayu tergeletak di dekat tong sampah, dia berlari membawa balok kayu itu, lalu memukulkannya ke bahu preman berbaju merah yang hampir saja memukul kepala Darwin dari belakang.
Bugh...
"Arrghhh!" Preman berbaju merah itu meringis memegang bahunyaa, dia membalikkan badan, menatap bringas pada Disha. "Dasar j@l@ng sialan, berani lu mukul gue!"
Darwin menahan tangan preman berbaju biru yang akan memukulnya lagi, sementara kakinya menendang kaki preman yang akan menyerang Disha, sehingga preman itu ambruk terjatuh, kemudian Darwin memutar tangan preman si baju biru, membuat preman itu menjerit.
"A-a-arrghh... ampun bang, ahhh!" Si preman berbaju biru meringis, karena tangannya telah dibuat terkilir oleh Darwin.
Darwin melepaskan tangan preman itu, "Aku pernah belajar latihan taekwondo, sangat tau caranya bagaimana mematahkan kaki dan tangan kalian. Maka dari itu aku akan menghitung sampai ketiga, kalau kalian belum pergi juga, maka aku tidak akan segan-segan mematahkan kaki dan tangan kalian." Darwin mengancam kedua preman itu.
__ADS_1
"Satu."
"Dua."
Darwin mencoba menghitung, memberikan waktu pada mereka untuk segera berlari. "Ti..."
Belum juga Darwin selesai menghitung, kedua preman itu begitu kalang kabut, mereka segera berlari, yang satu berlari dengan kondisi kakinya yang terpincang-pincang, yang satu lagi berlari dengan kondisi tangannya yang terkilir.
Disha merasa lega, akhirnya kedua preman itu pergi juga.
Darwin langsung mendekatkan jaraknya pada Disha, dia memperhatikan Disha dari ujung kaki ke ujung kepala, takut preman itu berhasil melukainya. "Kamu gak apa-apa kan? Apa ada yang terluka?"
Disha termangu, seharusnya dia yang bertanya seperti itu pada Darwin, karena sudah jelas kondisi wajah Darwin babak belur saat ini, walaupun tidak mengurangi kadar ketampanannya. "Aku gak apa-apa. Yang terluka itu kamu, bukan aku."
Darwin tersenyum simpul, dia memegang wajahnya yang lebam, "Ah ini, gak apa-apa, seorang pria memang harus rela terluka demi melindungi wanita."
"Aku gak apa-apa kak, terimakasih sudah menolong aku." lirih gadis itu.
"Iya sama-sama, ya udah mending adek sekolah sekarang, lain kali harus hati-hati ya. Sebaiknya berangkat bareng teman, jangan sendirian. Dan nanti kakak coba laporkan masalah ini ke pihak berwajib." Disha mengatakannya dengan begitu lembut.
Wanita berusia 26 tahun itu sangat keibuan sekali, membuat Darwin menatap takjub padanya.
"Iya, kak." Gadis SMP itu melihat ada beberapa orang teman sekelasnya melewati mereka, dia segera berpamitan pada Darwin dan Disha, "Kalau begitu aku pergi sekolah dulu ya kak." pamitnya.
"Mau kakak antar?" Disha menawarkan bantuannya.
"Gak usah kak, sekolah aku dekat dari sini, aku mau berangkat bareng teman-teman aku." Gadis itu menunjuk keenam temannya.
"Oh ya udah, belajar yang rajin ya." Disha menyemangati gadis itu sambil tersenyum.
__ADS_1
Disha begitu ramah pada orang lain, tapi dia hanya jutek pada satu orang, yaitu Darwin. Makanya Darwin menghela nafas memperhatikannya, wanita itu bisa tersenyum juga pada orang lain, tapi tidak dengannya, namun dia sangat mengerti jika Disha masih membencinya. Kesalahannya memang fatal, tapi tetap saja dia sangat berharap dapat meluluhkan hati Disha yang dingin itu, sedingin es batu.
Gadis itu pun menganggukkan kepalanya, dia segera pergi bergabung bersama teman-temannya, karena kebetulan letak sekolahnya berada di seberang jalan.
Kini tinggal hanya Darwin dan Disha berdua disana, lagi-lagi mereka menjadi canggung. Namun tetap saja Disha tidak tega melihat wajah Darwin babak belur gara-gara dia, "Emm... biar aku antar ke rumah sakit, wajah kamu terluka gara-gara aku."
"Oh gak usah, lagian ini cuma luka kecil kok." Darwin mengatakannya sambil terkekeh, entah mengapa dia menjadi salah tingkah.
Disha mengiyakan saja, luka di wajah Darwin tidak sebanding dengan penderitaan yang dia alami selama ini. "Oh ya udah, aku buru-buru sekali, aku harus pergi." Disha mengatakannya dengan bersikap jutek.
Namun Darwin menghalangi jalan Disha, dia tidak terima Disha meninggalkannya begitu saja. "Wah masa kamu main pergi gitu aja, aku udah nolong kamu lho."
Disha begitu gugup berhadapan dengan Darwin, dia segera mundur tiga langkah menjauhkan jaraknya dari Darwin.
"Oh ya udah, terimakasih. Udah cukup kan?" Disha terpaksa tersenyum pada Darwin.
Darwin menggelengkan kepala, "Nggak, kata terimakasih saja gak cukup. Aku sudah babak belur gara-gara kamu, kamu berhutang budi sama aku."
Disha terperangah mendengarnya, rupanya Darwin menginginkan imbalan darinya. "Kalau kamu menginginkan imbalan seharusnya gak usah menolong aku." katanya dengan nada kesal.
Darwin malah tersenyum, dia berjalan ke arah mobil, lalu membukakan pintu mobilnya. "Ayo cepat naik!" suruhnya.
"Gak usah, aku akan menunggu bus disini."
"Paling nanti kedua preman itu kembali lagi kesini membawa teman-temannya, kalau begitu aku harus cepat pergi dari sini." Darwin mencoba untuk menakuti Disha agar Disha mau diantar olehnya. Dia berpura-pura bergidik ngeri. "Hiiihhh!"
Disha terpaksa masuk ke dalam mobil, takut Darwin meninggakannya, "Y-ya udah, kalau kamu maksa."
Darwin terlihat sumringah menatap Disha, mengigit bibir bawahnya, sikap jutek Disha malah membuatnya gemas, kemudian dia menutup pintu mobil begitu Disha sudah masuk ke dalam mobil. Padahal wajahnya sedang terluka, tapi entah mengapa dia merasa bahagia.
__ADS_1