Morgan Sang Casanova

Morgan Sang Casanova
Empat Puluh Tiga


__ADS_3

Darwin memberikan sebuket bunga mawar merah untuk Zhoya, "Ini untukmu, aku sengaja datang kesini untuk memberi kamu bunga."


Zhoya tidak enak hati untuk menerima bunga itu. "Seharusnya kak Darwin tidak perlu repot-repot memberikan aku bunga, aku takut ada wartawan yang lihat."


Darwin malah terkekeh, dia duduk di hadapan Zhoya, yang hanya terhalang sebuah meja, "Ya bagus, malah kamu bisa cepat cerai dengan Morgan. Jadi aku tidak perlu menunggu kamu lebih lama lagi, kita bisa tinggal di luar negeri saja biar tidak mendengar desas desus apapun tentang kita."


"Bercanda kak Darwin gak lucu," Zhoya terpaksa menerima bunga itu.


"Sudah makan?"


"Sudah kak."


"Sayang sekali, padahal tadinya aku mau ngajak kamu makan bareng."


"Gak bisa kak, aku dan kak Morgan statusnya masih suami istri jadi aku harap kak Darwin bisa mengerti dengan status kami."


Darwin mengangguk pelan, "Baiklah aku mengerti."


"Tolong jangan sering temui aku seperti ini, aku gak enak kalau ada orang yang lihat."

__ADS_1


...****************...


Di kamar hotel, di kota B.


Sore ini, Morgan memperhatikan ponselnya, dari tadi pandangannya tidak bisa lepas dari ponselnya itu. Kemudian dia tertawa kecil. "Hah ternyata dia serius dengan ucapannya, dia ingin membuang perasaannya untukku. Makanya dia tidak ingin menghubungi aku walaupun hanya sekedar menanyakan kabar."


Morgan berjalan mondar mandir di depan ranjang, "Oke, bagus lah. Memang harusnya begitu."


Morgan menghempaskan dirinya sendiri ke atas kasur yang empuk, lebih baik di gunakan waktu sebaik mungkin untuk beristirahat karena besok dia harus syuting lagi.


"Waktunya tidur Morgan!"


Namun bukannya bisa tidur, dia malah terus terbayang-bayang bagaimana saat dia becinta dengan Zhoya, selama empat hari ini dia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena belum bisa move on dengan rasanya, saat bercinta dengan Zhoya rasanya sangat berbeda, dia meneguk salivanya saat membayangkan bagaimana indahnya tubuh Zhoya tanpa busana.


"Bahkan dia sama sekali tidak menghubungi aku, ponselnya juga dimatikan. Dia benar-benar ingin melupakan aku!"


Morgan mencoba menutup wajahnya dengan bantal agar dia bisa segera tidur, namun sayangnya usahanya sia-sia. Morgan melempar bantal ke lantai dengan kesal.


Zhoya telah membuatnya menjadi gila, padahal dia sudah bisa kuat tidak pernah bercinta dengan siapapun, tapi sekarang rasanya dia sungguh tidak bisa menahannya, bahkan tidak puas jika harus bermain dengan sabun.

__ADS_1


"Arrrggghhh... aku bisa gila jika begini terus." Morgan mengacak-acak rambutnya sendiri.


Dia menghirup nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya lagi, agar dirinya bisa rilex. Namun tetap saja tidak mempan, dia benar-benar ingin mengulanginya lagi bersama Zhoya.


Morgan segera bangkit, dia memakai jaketnya dan meraih kunci mobil dia atas nakas.


Kemudian dia menelepon Boy.


"Ada apa bang?" Tanya Boy, kebetulan Boy lagi membeli pizza karena Morgan yang menyuruhnya.


"Boy, aku harus pulang sebentar, pokoknya nanti pagi aku sudah ada dilokasi syuting." Morgan harus menghubungi Boy dulu agar Boy tidak mencari dirinya.


"Tapi kenapa bang? Kenapa pulang dadakan begitu?"


"Aku ada urusan penting, ini sangat penting sekali. Aku bisa gila jika tidak pulang hari ini. Ya sudah, aku harus berangkat sekarang."


Klik!


"Tapi..."

__ADS_1


Boy sudah terlanjur memesan fizza, dia terpaksa harus menunggu disana, "Urusan sepenting apa sampai bisa membuat bang Morgan gila?" ucap Boy dengan mengerutkan keningnya, sungguh dia tidak bisa menebaknya.


Sebenarnya Morgan bisa bermain dengan Bona, dia adalah lawan mainnya Morgan di film yang akan mereka bintangi, apalagi Bona sudah beberapa kali menggoda dirinya, namun Morgan teringat dengan pesan Zhoya kalau dia tidak boleh melakukan hubungan badan dengan wanita lain di belakangnya,apalagi dimatanya Bona sama sekali tidak menarik membuat dia tidak tergoda, karena mungkin tubuhnya hanya ingin mengulanginya lagi bersama Zhoya.


__ADS_2