
Dua minggu kemudian...
Darwin dan Disha telah meresmikan pernikahan mereka, walaupun mereka harus menikah secara sederhana dengan tidak banyak mengundang tamu undangan, atas permintaan dari Disha.
Selama satu minggu mereka menikah, mereka memilih tinggal dulu di kediaman Pak Ansel, selama itu Pak Ansel dan Bu Selvi memperlakukan Disha dan Shiva dengan sangat baik. Begitu juga Disha, dia berusaha untuk menjadi menantu yang baik untuk mertuanya, salah satunya dengan menunjukkan kepiawaiannya dalam memasak. Disha merasa lega karena mertuanya sangat menyukai masakannya.
Walaupun selama satu minggu ini Darwin dan Disha belum berhubungan badan, padahal mereka tidur bersama setiap malam. Karena Darwin tidak ingin memaksa Disha untuk melayaninya, dia akan setia menunggu sampai Disha benar-benar siap untuk melakukannya.
Bahkan Pak Ansel dan Bu Selvi sering mengajak Shiva pergi jalan-jalan, dan memperkenalkanny ke kerabat mereka bahwa inilah cucu tercinta mereka.
Dan kini Darwin mengajak Disha dan Shiva untuk tinggal di rumahnya, sebuah rumah yang megah dengan dihiasai dekorasi yang begitu mewah. Mereka bertiga akan tinggal disana.
"Asikk... Shiva punya lumah balu." Shiva sangat bahagia sekali, dia berlari ke setiap sudut rumah, ingin melihat-lihat ke setiap ruangan yang ada di rumah itu.
Disha memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga selama Shiva masih kecil, atas permintaan dari Darwin, Darwin ingin Shiva tidak dititipkan ke penitipan anak lagi, Darwin ingin Disha memiliki banyak waktu untuk Shiva, biar dia sendiri yang bekerja.
Disha hanya tersenyum memperhatikan Shiva yang berlari mengelilingi ke setiap sudut rumah yang megah itu, dia tidak menyangka akhirnya kini dia bisa hidup bahagia seperti sekarang ini, sebuah kebahagiaan yang sangat lengkap karena kini dia memiliki tambatan hati yang akan selalu ada untuknya dan Shiva.
Malam ini seperti biasa, Darwin dan Disha tidur satu kamar, Disha berpikir tidak seharusnya dia terus berada di dalam pusaran rasa takutnya, dia sudah menjadi istrinya Darwin, itu artinya dia harus memberikan hak dan kewajibannya pada pria yang sudah menjadi suaminya itu. Walaupun Darwin selama ini tidak mempermasalahkannya, namun bagaimanapun juga Darwin lelaki normal, pastinya pria itu sangat tersiksa menahan hasrat untuk tidak menyentuhnya.
Disha dan Darwin sedang bersandar di headboard, Disha memperhatikan suaminya yang sedang berkutat dengan laptopnya. "Mas Darwin!"
"Kenapa?"
"Kamu lagi sibuk?"
"Oh nggak sih, memangnya kenapa?"Darwin menoleh sebentar ke arah Disha.
__ADS_1
"Emm..." Disha sangat malu sekali untuk mengatakannya. "Aku rasa malam ini aku sudah siap."
"Siap apa maksudnya?"
Disha malah malu sendiri ditanya seperti itu.
"Hmm... ya sudah, lupakan saja!" Wajah Disha nampak memerah, menahan malu. Dia segera membaringkan tubuhnya, kemudian membelakangi Darwin.
Darwin menahan tawa melihatnya, sebenarnya dia mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Disha, dia hanya saja rasanya tidak percaya tiba-tiba Disha bilang sudah siap.
Darwin menyimpan laptop di atas nakas, kemudian dia memeluk Disha dari belakang, mencium pundaknya. "Kamu yakin sudah siap? Gak takut lagi?"
Disha membalikkan badannya, sehingga mereka saling berhadapan, "Aku ingin keluar dari rasa takut aku." Disha mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Walaupun hatinya deg-degan.
Siapa yang akan menolak? Darwin pria normal, tentu saja dia sangat menginginkannya, dia mengusap lembut wajah Disha, "Aku yakin setelah ini kamu tidak akan takut lagi, aku akan memberitahu kamu bagaimana sesungguhnya surga dunia itu."
Lalu pria itu kini menindih tubuh Disha, tidak membiarkan ciuman mereka terlepas begitu saja, apalagi Disha berusaha untuk mengimbangi ciuman Darwin, wanita itu memeluk leher Darwin, begitu terasa kerasnya sesuatu di bagian bawah Darwin, bergesakn dengan miliknya walaupun mereka masih sama-sama dalam keadaan berpakaian yang utuh.
Ciuman Darwin turun ke leher, menyesap leher Disha, memberikan gigitan kecil di lehernya, membuat Disha mengigit bibir bawahnya untuk menahan dirinya agar tidak mende-sah.
Darwin memperhatikan wajah Disha yang memerah, dia tersenyum geli melihatnya, "Mende-sah saja, jangan ditahan. Kita harus menikmatinya bersama-sama."
Namun...
Ceklek!
Terdengar suara pintu kamar terbuka, rupanya mereka lupa mengunci pintu.
__ADS_1
Darwin segera turun dari tubuh Disha dengan cepat.
Terlihat anak kecil menyembul dari balik pintu kamar itu, dia merenges, segera berlari dan naik ke atas kasur. "Mama, papa."
Shiva merebahkan dirinya dia tengah-tengah antara Darwin dan Disha.
"Lho kok Shiva belum tidur?" Padahal Disha tadi sudah membacakan cerita untuk Shiva sampai Shiva tertidur.
"Shiva bangun lagi, Ma. Shiva mau tidur disini sama mama dan papa."
Darwin tercengang mendengarnya, padahal celananya sangat terasa sesak karena si joni telah menggeliat dari tadi. "Shiva kan udah gede, masa tidur disini, sayang?"
"Papa juga udah gede, masa papa tidul sama mama?" Siva malih balik nanya pada papanya.
Darwin dan Disha malah saling memandang.
Darwin tertawa kecil mendengar pertanyaan Shiva, anaknya pintar sekali bicara, dia mencium kening Shiva, "Ya sudah malam ini Shiva boleh tidur disini."
Tak apalah, masih ada hari-hari berikutnya untuk bisa ngegoll milik sang istri.
"Lehel mama kenapa melah-melah?" tanya Shiva sambil memperhatikan leher mamanya.
Darwin dan Disha nampak kebingungan untuk menjelaskannya.
"Tadi ada nyamuk, sayang. Makanya leher mama gatal sekali." Disha pura-pura mengaruk lehernya.
Darwin hanya menghela nafas, tega sekali Disha memitnah nyamuk. Padahal dialah tersangka utamanya.
__ADS_1