Morgan Sang Casanova

Morgan Sang Casanova
Bonchap 5


__ADS_3

Di tengah perjalanan, Darwin mencoba mengajak Disha berbicara sambil menyetir mobil, karena itu Darwin menyetir mobil dengan kecepatan standar.


"Emm... bagaimana kabar Shiva? Aku ingin sekali bertemu dengannya, maafkan aku dari kemarin aku sangat sibuk." Darwin melirik sebentar ke arah Disha.


"Kabar Shiva baik." jawab Disha dengan begitu singkat, padahal Darwin berbicara panjang lebar.


Darwin pura-pura nyengir, "Oh baguslah kalau Shiva baik-baik saja, aku lega mendengarnya."


Disha tak menanggapi perkataan Darwin, dia lebih memilih memperhatikan suasana dijalan raya itu. Disha tidak sengaja melihat ada billboard foto Morgan di dekat sebuah Mall, pria itu kini telah menjadi aktor yang sukses kembali, bahkan kini dia telah bisa mencapai go internasional. Itulah impian Morgan.


Disha jadi teringat saat dia masih muda, orang tuanya meninggal karena kecelakaan saat dia masih berusia 18 tahun, saat itu hidup Disha sangat terpuruk sekali, di usia yang masih muda dia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan biaya kuliah, dia terpaksa bekerja di bar karena dia sudah beberapa kali melamar pekerjaan, hanya disana yang bisa menerima Disha sebagai pegawai magang, soalnya Disha hanya bisa bekerja di malam hari saja, siangnya dia harus kuliah.


Disha mengenal Morgan karena mereka satu kampus, saat itu mereka berdua sama-sama membutuhkan tempat untuk bersandar. Makanya mereka begitu nyaman untuk saling berbagi rasa sakit dan rasa bahagia satu sama lain.

__ADS_1


Morgan dan Disha juga selalu saling menguatkan dan saling menyemangati, sama-sama menjadi pendengar yang baik disaat salah satu diantara mereka memiliki masalah.


Morgan dari dulu sangat tertarik dengan dunia akting makanya dia sering mengikuti latihan teater di kampus untuk mengasah kemampuan aktingnya. Bahkan dia sering melakukan pentas teater untuk menambah biaya hidupnya karena Morgan memilih untuk tinggal di kostan, saat itu dia tidak betah tinggal di rumah.


Dulu mereka sama-sama berjanji untuk saling setia, impian mereka adalah ingin hidup bersama di dalam ikatan pernikahan.


Namun peristiwa 4 tahun yang lalu itu merubah impian mereka. Darwin telah membuat hidup Disha hancur, Disha terpaksa harus pergi dari hidup Morgan karena tau Morgan saat itu sudah mulai mendapatkan tawaran main film. Disha tidak ingin Morgan berada dalam masalah karenanya.


Sekarang yang tersisa hanyalah sebuah kenangan, kenangan yang harus Disha kubur dalam-dalam. Hati Morgan kini sudah menjadi milik Zhoya, dia sudah mengikhlaskannya dengan sepenuh hati. Malah dia ikut bahagia karena Morgan mendapatkan wanita yang tepat, Zhoya adalah wanita yang begitu mencintai Morgan dan juga diusianya yang masih muda, Zhoya bisa bersikap jauh lebih dewasa dibandingkan dengan usianya.


"Akhirnya sampai juga."


Perkataan Darwin membuyarkan lamunannya. Disha baru sadar ternyata Darwin sudah menepikan mobilnya di depan Restoran Tirai Bambu.

__ADS_1


"Ya udah, kalau begitu aku harus masuk ke dalam, terimakasih atas tumpangannya." pamit Disha.


Disha mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil begitu mendengar Darwin meringis memegang wajahnya.


"Shhh... arrrggghhh, wajahku!" Darwin memegang wajahnya yang bonyok.


Disha malah mengomel, "Seharusnya kamu nurut waktu aku menawarkan diri untuk mengantarkan kamu ke rumah sakit."


Darwin tidak mengerti, mengapa dia malah senang ketika Disha mengomelinya, padahal wajahnya tidak begitu sakit, hanya saja dia meringis berlebihan agar didengar oleh Disha. "Kalau ke rumah sakit, jaraknya lumayan jauh dari sini. Kamu aja yang obatin, aku begini juga karena kamu lho."


Disha menghela nafas, dia terpaksa mengiyakan saja, dari pada dibilang tidak tau berterimakasih. "Ya udah, ikut aku."


Disha segera keluar dari mobil, dia meminta Darwin untuk ikut masuk ke dalam, kebetulan di restoran belum ada siapa-siapa karena Disha yang memegang kunci restoran, makanya dia harus tiba lebih awal.

__ADS_1


Darwin menganggukan kepala, dia pun keluar dari mobil, dia tidak mengerti mengapa hatinya seakan berbunga-bunga saat ini, dia tiada hentinya tersenyum menatap punggung Disha yang berjalan didepannya.


__ADS_2