
Darwin duduk di kursi sofa yang tersedia di restoran bagian belakang, dia bersiul sambil menunggu Disha yang sedang mencari kotak P3K.
Darwin memang gak ahli dalam mendekati wanita, makanya Zhoya sama sekali gak pernah tersentuh olehnya, tapi apa salahnya jika dia mencoba untuk mendekati Disha, siapa tau sekarang dia berhasil meluluhkan hatinya. Walaupun niatnya hanya ingin menebus kesalahannya.
Darwin berhenti bersiul begitu melihat Disha masuk ke dalam ruangan itu. Matanya tak bisa berhenti menatap wajah Disha, padahal dari dulu dia tau Disha cantik, saat pertama melihatnya pun dia akui wanita itu sangat cantik, namun entah mengapa sekarang rasanya berbeda, saat menatapnya, seakan ada getaran dihatinya.
Disha duduk disamping Darwin, dia menyadari betul kalau Darwin sedang memperhatikannya. Membuat dia gugup.
Disha berpura-pura berdehm, "Ehm! Emm... ada security di depan." Disha mencoba memperingatkan Darwin, bagaimana kalau pria itu berbuat macam-macam lagi padanya.
Darwin tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Disha, "Lalu?"
"Hanya memperingatkan kamu saja."
Darwin malah tersenyum, "Kamu tenang saja, aku gak akan macam-macam tanpa seizin kamu. Kamu tau sendiri kan waktu itu aku dipengaruhi obat perangsang? Aku gak akan menyakiti kamu lagi."
Disha tidak ingin mengingat kejadian itu lagi, "Ya sudah, jangan dibahas lagi."
Darwin kaget tiba-tiba Disha memegang wajahnya, rupanya Disha sedang memperhatikan wajahnya yang lebam itu, membuat wajah mereka begitu sangat dekat.
"Jangan banyak bergerak! Aku mau mengobati kamu." kata Disha dengan ketus. Dia tidak tau kalau saat ini Darwin merasakan ada yang bergemuruh di dalam hatinya.
Deg...
Deg...
Deg...
Darwin rasa jantungnya tak aman, apalagi saat merasakan wanginya hembusan nafas Disha, sampai matanya tak sengaja melihat bibir tipisnya Disha, Darwin segera mengalihkan pandangannya, dia mencoba melihat ke arah mana saja, karena saat ini Disha sedang mengoleskan salep luka ke wajahnya.
Namun tetap saja mata Darwin tak bisa diajak kompromi, tanpa sadari dia menatap ke arah Disha kembali, sampai kedua mata mereka tak sengaja bertemu.
__ADS_1
Sehingga mereka saling berpandangan.
Disha menjadi gugup, dia segera melepaskan wajah Darwin dan sedikit menjauhkan jaraknya pada Darwin, padahal mereka duduk di kursi sofa yang sama.
"Emm... a-aku sudah mengobati luka kamu, kamu boleh pergi." Disha mengatakannya dengan sedikit terbata-bata.
Darwin malah menahan tawa begitu melihat Disha yang terlihat salah tingkah sampai wajahnya memerah, "Kenapa salah tingkah begitu?"
"Siapa?" Disha malah baik nanya.
"Ya kamu," Darwin tertawa kecil, "Grogi ya mengobati cowok ganteng?" katanya dengan penuh percaya diri.
"Grogi? Untuk apa aku grogi?" Disha tidak mau mengakuinya.
Darwin menjawabnya hanya dengan sebuah tawa seakan sedang menggodanya.
"Restoran akan segera dibuka, lebih baik kamu segera pergi gih!" Disha menyuruh Darwin untuk segera pergi dari restoran itu.
Disha terpaksa menganggukan kepala, karena Shiva memang ingin sekali pergi ke festival bersama Darwin dan Disha, dia harap setelah itu dia tidak berurusan dengan Darwin lagi.
Disha terkejut tiba-tiba Darwin membungkukkan badannya, sampai wajah mereka dekat sekali, membuat jatungnya berdebar tak karuan, dia ingin memprotes tindakan Darwin yang menyentuh bibirnya dengan jemarinya.
"Aku baru sadar, ternyata lipstik kamu sedikit blepotan, pasti karena kamu dandannya terburu-buru ya." Darwin mengatakannya sambil membersihkan lipstik di bibir Disha.
"Se-seharusnya kamu bilang padaku, biar aku yang membersihkannya." protes Disha.
Darwin hanya tersenyum manis pada Disha, lalu menegakan badannya kembali. "Ya udah, aku pergi dulu. Jangan lupa dandan yang cantik!"
Disha menatap punggung Darwin yang sedang melangkah pergi dari sana, "Apa dia salah minum obat? Kenapa sifanya berubah begitu?"
Mungkin dari kemarin Darwin terlihat canggung, dia hanya perhatian pada Shiva saja, namun kali ini Darwin terlihat sok akrab dengannya, malahan pria itu berani menggodanya dan mengajaknya bercanda.
__ADS_1
...****************...
CSTV dari dulu bisa dibilang raja rating, karena setiap acara disana selalu menduduki rating tiga besar jajaran teratas. Karena itu Darwin berusaha keras agar semua acara disana bisa semenarik mungkin, untuk mengembalikan kejayaan CSTV kembali.
Dia sangat bekerja keras sekali hari ini. Makanya dia hanya bisa beristirahat tepat jam 5 sore, dia duduk dikursi kebesarannya, untuk melepaskan rasa penatnya, kemudian dia meneguk jus jeruk yang tersedia diatas meja.
Darwin tiba-tiba teringat pada Disha, entah mengapa saat dia sedang bekerja, sekali-kali terlintas wajah Disha dipikirannya, temasuk sekarang. Dia tersenyum mengingat saat tadi Disha mengobati wajahnya.
Astaga, kenapa dia manis sekali?
Apalagi saat teringat waktu dia membersihkan lipstik di bibir Disha, untung saja dia tidak lupa diri tadi, padahal jika dia menundukan sedikit lagi kepalanya, bibirnya akan menempel pada bibir Disha.
Darwin menepis pikiran kotornya, dia harus menjadi pria yang baik untuk Disha.
Padahal dia berniat ingin mengambil hati Disha, namun ternyata malah dia yang sepertinya mulai tertarik pada wanita itu, membuat dia tersenyum-senyum seperti orang gila. Rasanya dia menjadi tidak sabar ingin segera bertemu kembali dengannya nanti malam, pastinya dia merindukan Shiva juga.
Ceklek!
Suara decitan pintu membuyarkan lamunannya, Darwin melihat seorang wanita cantik menyembul masuk ke dalam. Rupanya wanita itu bernama Lena, anak sahabat papanya.
"Hai, Darwin!" Lena duduk di kursi yang ada dihadapan Darwin, wanita itu terlihat ceria sekali karena bertemu dengan orang yang sangat dia suka, apalagi setelah mendengar Darwin tidak jadi dijodohkan dengan Zhoya, membuat dia menjadi berani mendekati Darwin. Tidak peduli dengan status Darwin yang sudah menjadi seorang ayah, toh saat ini Darwin masih single.
"Lena? Ada apa kamu kesini?" Darwin merasa terganggu dengan kehadiran Lena.
"Lho memangnya kamu gak tau ya? Aku datang kesini biar nanti kita berangkat bareng."
"Maksudnya?" Darwin tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Lena.
"Memangnya Om Ansel gak cerita ya? Nanti malam ada acara makan malam keluarga kita lho."
"Malam ini?" Darwin nampak keberatan sekali, padahal malam ini dia sudah bilang ke Disha akan mengajak Shiva dan Disha ke festival. Dia tidak ingin mengecewakan mereka, namun dia juga tidak boleh mengecewakan Pak Liam, pemegang saham terbesar kedua di CSTV. Membuatnya bimbang.
__ADS_1