
Benar saja, malam ini Darwin tidak bisa tidur, tiada hentinya dia tersenyum membayangkan saat Disha memeluknya saat di permainan darts, dia juga merasa bahagia karena bisa pergi menikmati kebersamaannya sebagai seorang ayah bersama Shiva.
Kebetulan hari ini dia memilih tidur di rumahnya sendiri, biasanya dia tinggal di kediaman orang tuanya, karena orang tuanya belum mengizinkan Darwin tinggal sendirian selama dia belum menikah. Namun dia tidak ingin berdebat terus dengan papanya, dia ingin papanya bisa menurunkan dulu emosinya agar mereka bisa bicara baik-baik.
Begitupun Disha, dia juga tidak bisa tidur malam ini. Dia terus saja memindahkan posisi tidurnya menghadap ke kiri, lalu menghadap ke kanan, dia menghela nafas panjang, rasa ngantuk itu tak kunjung datang, membuat dia terpaksa harus bangun.
Entah apa yang dilakukan Darwin padanya sampai dia tidak bisa tidur malam ini.
Disha pergi ke kamarnya Shiva, karena memang dia sudah mengajarkan Shiva untuk mandiri, di mulai dari belajar untuk tidur sendiri. Disha masuk ke dalam kamarnya, dia duduk dipinggir kasur, menatap Shiva dengan lembut, lalu membelai rambutnya.
Shiva tidur begitu nyenyak sambil memeluk boneka pemberian dari Darwin.
Disha teringat dengan perkataan Darwin dan Shiva yang mengatakan mereka ingin bisa tinggal bersama, namun saat itu Disha memilih diam, dia benar-benar merasa bingung dalam mengambil keputusan.
Pernikahan itu bukan keputusan yang sangat mudah, apalagi banyak ketakutan di dalam dirinya, dia masih trauma dengan kejadian 4 tahun yang lalu, walaupun berusaha untuk memaafkan Darwin, namun bagaimana kalau dia tidak bisa melayani Darwin dengan sepenuh hati karena dia masih ingat sekali bagaimana sakitnya saat Darwin memaksanya untuk berse-tubuh dengannya, membuatnya takut. Belum lagi dia tau Darwin berada di kalangan orang berada, dia yakin orang tuanya Darwin tidak akan merestui mereka.
...****************...
Pagi ini Disha dan Shiva mendapatkan kejutan, begitu sampai di sekolah Shiva, mereka melihat Darwin sedang membagikan coklat kepada teman-temannya Shiva sambil berkata, "Perkenalkan Om adalah papanya Shiva, berteman yang baik ya dengan Shiva."
Rupanya Darwin ingin semua teman-temannya Shiva tau bahwa Shiva memiliki papa, agar Shiva memiliki kepercayaan diri, tidak minder lagi, hanya karena dia satu-satunya yang tidak memiliki papa.
"Makasih Om, wah papanya Shiva ganteng sekali ya Ma." puji anak yang menerima coklat dari Darwin, dia bertanya kepada ibunya soal ketampanan Darwin.
__ADS_1
Ibu dari anak itu hanya tersenyum mesem menatap Darwin. Siapa yang tidak kenal dengan Direkur dari CSTV?
Shiva melebarkan senyumannya, dia berlari ke arah Darwin, "Papa."
Darwin langsung menggendong Shiva, "Hallo Shiva sayang." Dia mencium pucuk kepala Shiva, kemudian menatap Disha yang terdiam memandanginya.
Darwin rupanya ingin memperlihatkan kesungguhan hatinya kalau dia benar-benar ingin menjadi papanya Shiva. Bahkan pagi ini Shiva begitu manja pada Darwin.
...****************...
Setelah dari sekolah Shiva, Darwin mengantarkan Disha ke restoran, walaupun Disha sempat menolaknya, memilih untuk naik bus, namun karena Darwin terus memaksanya, akhirnya dia terpaksa harus ikut.
Seperti biasa, di jam seperti itu para karyawan belum ada yang datang, makanya masih sepi. Sementara Disha dan Darwin masih berada di dalam mobil.
Darwin sama sekali tidak menyangka Disha akan perhatian padanya, membuat hatinya berbunga-bunga. Dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. "Masih sakit, makanya semalam aku gak bisa tidur."
Padahal Darwin berbohong, Disha lah yang membuatnya tidak bisa tidur.
Disha menganga mendengarnya, "Apakah separah itu? Padahal memar diwajah kamu sudah hampir tidak kelihatan lagi."
Disha memperhatikan wajah Darwin dengan seksama, membuat Darwin gugup, apalagi saat mencium aroma wanginya parfum yang dipakai Disha, membuat dia terus menelan saliva berkali-kali.
"Kelihatanya sudah sembuh, tapi aslinya masih sakit." Darwin mengatakannya sambil sedikit meringis.
__ADS_1
Disha menjadi merasa bersalah, Darwin terluka gara-gara menolongnya kemarin. "Ya udah, ikut aku. Aku harus mengobati kamu lagi, tapi kalau nanti masih sakit, mending ke rumah sakit aja." Setelah mengatakan itu Disha keluar dari mobil.
Darwin menganggukan kepala, dia ikut keluar dari mobil, akhirnya dia memiliki kesempatan untuk bisa berduaan lagi dengan Disha.
...****************...
"Kenapa aku harus perhatian padanya?" gumam Disha sambil mencari kotak P3K, dia tidak mengerti mengapa dia harus peduli pada Darwin.
Setelah menemukan kotak P3K, dia pun pergi menemui Darwin yang sedang duduk di ruangan khusus tamu.
Disha duduk di samping Darwin, dia sangat gugup karena Darwin terus memandanginya dari tadi. Kemudian dia mencoba mengoleskan salep luka ke wajah Darwin dengan hati yang berdebar-debar.
Disha menjadi salah tingkah karena pria itu tak melepaskan pandangan darinya, Darwin terus saja memandanginya, dia rasa dia tidak bisa mengobati Darwin jika Darwin terus memandanginya.
Namun tiba-tiba Darwin memegang tangan Disha, membiarkan tangan Disha masih menyentuh wajahnya, sangat membuatnya nyaman. "Aku ingin meminta jawaban darimu."
"Soal apa?" Disha pura-pura tidak paham.
"Apa kamu mau menikah dengan aku?"
Disha tak langsung menjawab, lama sekali dia memandangi Darwin yang jaraknya begitu sangat dekat dengannya. "Kenapa kamu ingin menikahiku? Kalau karena hanya ingin sebagai bentuk dari rasa tanggungjawab, aku rasa lebih baik lupakan saja. Namun walaupun begitu, kamu akan tetap menjadi ayah biologisnya Shiva."
"Awalnya begitu, karena aku ingin bertanggungjawab pada kalian, tapi sekarang aku rasa aku mulai jatuh cinta padamu. Bukan hanya ingin menjadi papanya Shiva, aku juga ingin menjadi suamimu. Aku ingin menjadi obat untuk menghilangkan semua ketakutan yang kamu alami gara-gara aku." Darwin mengatakannya dengan sungguh-sungguh, menatap kedua mata Disha dengan begitu dalam.
__ADS_1