
Tangan Zhoya bergetar memegang album foto itu, matanya berkaca-kaca, begitu dia menyadari rupanya chef yang dia terima bekerja di restorannya adalah mantannya Morgan. Mungkin orang yang masih bertahta di hati suaminya.
Zhoya merapikan album foto kembali, meletakkannya di atas nakas, dia terduduk lemas di atas ranjang. Cobaannya semakin berat, rupanya orang di masalalu Morgan kini berada di sekitar mereka, mungkin suatu saat nanti mereka akan bertemu.
Lantas mengapa Disha ingin bekerja di restorannya? Apa karena dia juga sama masih mencintai suaminya?
Zhoya menghirup nafas dalam-dalam, rasanya begitu menyesakkan di dada. Sudah tidak ada lagi kesempatan untuknya untuk bisa mendapatkan cinta dari sang suami. Karena kini orang yang selalu ada di hati Morgan telah datang kembali.
Zhoya harus bersikap profesional, tidak mungkin dia memecat Disha begitu saja hanya karena urusan pribadi, apalagi latar belakang pekerjaan Disha sangat baik.
Zhoya rasa dia memang harus benar-benar mundur, dia harus bisa melupakan pria itu. Sampai kapan pun Morgan tidak akan pernah bisa mencintainya.
Zhoya keluar dari kamar Morgan, dia tidak sengaja bertubrukan dengan seorang pria di luar kamar Morgan, membuatnya kaget. "Siapa kamu?" tanya Zhoya kepada pria asing itu.
Rupanya dia Ervan, Ervan baru memberanikan diri pulang ke Indonesia setelah semua uangnya habis karena dia telah kena tipu dalam masalah investasi.
Pria berusia 29 tahun itu terkekeh, "Harusnya aku yang bertanya, kamu itu siapa?" Ervan terdiam sejenak, dia memandangi wajah Zhoya, "Emm... oh iya aku ingat, kamu istrinya Morgan kan?"
__ADS_1
Ervan tau pernikahan Morgan dan Zhoya lewat media sosial.
Zhoya mengangguk pelan.
Ervan terkekeh, dia mengulurkan tangannya pada Zhoya, "Aku Ervan, kakaknya Morgan."
Namun Zhoya enggan untuk menerima uluran tangan dari pria asing itu. "Aku Zhoya."
Ervan terkekeh lagi, dia meluruskan tangannya kembali, "Hm sayang sekali wanita secantik dan semuda kamu harus menjadi istrinya Morgan. Apa kamu tau bagaimana bejatnya seorang Morgan?"
"Aku sudah tau semuanya tentang dia."
Zhoya tidak bisa lama-lama disana, dia harus segera pergi sebelum Pak Gara pulang. "Aku harus segera pulang."
"Lho gak mau nunggu papa pulang dulu?"
Zhoya bingung menjelaskannya, dia tidak mungkin bilang kalau dia takut pada ayah mertuanya itu. "Emm... a-aku..."
__ADS_1
Dari raut wajah Zhoya, Ervan mengerti kalau Zhoya pasti takut pada papanya. Dia akui papanya emang keras pada orang yang tidak dia sukai. "Ah, aku mengerti. Baiklah, sampai jumpa kembali adik ipar. Kita harus sering bertemu."
Zhoya enggan untuk menanggapi, dari cara Ervan menatapnya, dia tau kalau Ervan bukan pria baik-baik.
Zhoya bertemu dengan Bik Nani di dekat tangga, Bik Nani memberikan banyak makanan di dalam paper bag. "Ini untuk Non Zhoya."
"Makasih Bik."
"Sebentar lagi akan ada perang ketiga di rumah ini, Non." Bisik Bik Nani, dia kaget begitu melihat Ervan tiba-tiba pulang ke rumah. Setelah dua tahun pergi begitu saja membawa uang perusahaan.
"Memangnya kenapa Bik?"
"Tuan Ervan lah yang menyebabkan Tuan Gara harus memiliki hutang yang banyak pada Pak Dean, karena perusahaannya hampir hancur. Tapi Tuan Morgan yang harus menanggung semua itu. Dari dulu Tuan Morgan tidak pernah hidup bahagia Non, namun sekarang Tuan Morgan terlihat sangat bahagia setelah menikah dengan Non Zhoya."
"Benarkah Bik?" Zhoya tak mempercayainya, bagaimana mungkin Morgan bahagia hidup dengan orang yang sama sekali tidak Morgan cintai.
"Iya, Bibik sudah lama tinggal disini, dari Tuan Morgan masih kecil, Bibik sangat tau bagaimana Tuan lagi sedih atau bahagia, Tuan juga begitu perhatian sama Non Zhoya. Makanya Bibik sering di suruh untuk membantu Non Zhoya."
__ADS_1
Jika memang begitu kenyataannya lantas mengapa Morgan berat sekali untuk bilang cinta padanya? Mengapa Morgan masih menyimpan foto mantannya? Apalagi Morgan dulu memakai pasword rumah dengan tanggal lahir sang mantan. Bukannya itu pertanda Morgan belum move on dari Disha?
Zhoya tidak ingin mengambil hati ucapan Bik Nani, mungkin itu semua hanya pendapat Bik Nani saja, Morgan tidak pernah bisa mencintainya. Dia tidak dapat membayangkan bagaimana nanti jika Morgan bertemu kembali dengan Disha, dia mungkin harus merelakannya jika ternyata Morgan masih mencintai wanita itu.