
Disha saat ini berada di dalam taksi, badannya bercucuran berkeringat dingin, sampai nafasnya terasa sesak, begitu dia teringat kembali kejadian 4 tahun yang lalu.
Mata Disha berkaca-kaca mengingat kenangan itu, saat terakhir kali bertemu dengan Morgan.
Flashback On...
Saat itu Disha dan Morgan masih berusia 22 tahun, mereka sudah berpacaran dari usia 18 tahun. Dulu Morgan adalah pria yang sangat baik, lembut, dan perhatian, bahkan menghormatinya sebagai seorang wanita, gaya mereka berpacaran dalam tahap wajar, tidak pernah sampai tidur bersama.
Morgan setelah lulus SMA, memutuskan untuk ngekost, karena tidak betah dengan perlakuan Ervan dan juga ayahnya, Disha lah yang selalu menjadi sandarannnya, bahkan sang mama pun tak bisa berbuat apa-apa karena takut dengan suaminya.
Pagi itu Disha mengantarkan makanan untuk sarapan pagi Morgan ke kostannya, rupanya dia mendapatkan berita gembira soal karir Morgan, Morgan untuk pertama kalinya mendapatkan job dalam sebuah film, walaupun hanya sekedar pemeran figuran.
"Akhirnya aku akan bermain film, Sha." Morgan memeluk Disha saking senangnya.
"Syukur lah, aku senang mendengarnya, ini aku masak makanan kesukaan kamu lho." Disha menunjukkan paper bag yang berisi makanan.
Mereka pun makan bersama. Masakan Disha memang sangat lezat.
"Sha, aku akan berusaha keras menjadi seorang aktor hebat dan profesional, karena itu kamu gak usah kerja di bar lagi, jujur aja aku gak tenang kamu magang disana." ucap Morgan dengan sungguh-sungguh.
"Tapi aku butuh biaya buat kuliah aku, cari kerjaan itu susah lho."
"Biar aku yang biayain kuliah kamu, aku kerja buat kamu juga."
"Tapi..."
"Gak ada tapi-tapian, aku gak mau kamu kerja lagi disana."
Disha terpaksa menganggukan kepala, "Hmm... ya sudah, mungkin malam ini terakhir aku kerja disana."
__ADS_1
"Baiklah, besok kita harus merayakan hubungan kita yang keempat tahun. Aku tunggu kamu di cafe Star,"
"Iya sayang." Disha tersenyum manis, betapa beruntungnya dia memiliki pacar seperti Morgan.
Malamnya...
Disha sudah resign di bar tempat dia bekerja, malam ini dia harus kerja sampai jam 12 malam, kebetulan Morgan tak bisa menjemputnya karena dia harus mulai syuting hari ini.
Kebetulan disana ada Darwin, saat itu Darwin sedang bersama teman-temannya, dia ledek oleh teman-temannya karena belum pernah tidur bareng wanita, Darwin sama sekali gak pernah berkencan karena dia dari dulu sangat menyukai Zhoya.
Rupanya salah satu teman Darwin mengerjainya, dia memasukkan obat perangsang ke minuman Darwin. Membuat tubuh Darwin kepanasan dan sangat membutuhkan pelampiasan karena obat perangsang telah bereaksi menguasai tubuhnya.
"Sorry Win, gue cuma bercanda, nanti gue panggil cewek bokingan buat datang kesini." ucap Jerry.
"Rese lu, gue benar-benar tersiksa gara-gara lu, pokonya lu harus cepat bawa cewek kemari. Sekalian suruh dia bawa minuman, gue haus."
Kebetulan Jerry tak sengaja berpapasan dengan Disha yang sudah memakai baju biasa, karena sudah waktunya dia untuk pulang. Makanya dia melepaskan seragam waitressnya.
Jerry adalah pelanggan di bar itu, sementara Darwin baru pertama kali kesana, makanya wajah Disha familiar untuknya. "Eh, mbak tolong antarkan satu botol wine untuk teman saya di kamar nomor 17."
"Tapi mas, saya mau pulang..."
"Hanya sebentar, saya lagi nyari seseorang."
Disha menghela nafas, dia terpaksa mengantarkan minuman untuk Darwin.
Begitu masuk ke dalam kamar, Disha terkejut melihat mata Darwin yang merah, menatap dirinya dengan tatapan buas. Membuat Disha gugup, "A-aku datang kesini untuk..."
Darwin sudah tidak kuat menahan sesuatu yang bergejolak mengusai tubuhnya, dia langsung menarik Disha dan menghempaskannya ke atas kasur.
__ADS_1
Disha sangat terkejut dengan perlakuan Darwin, dia ingin memberontak tapi tenaga pria itu sangat kuat sekali. "Kamu mau apa? Lepaskan aku!"
"Diam kamu, jangan sok naif. Aku sudah membayar kamu!" bentak Darwin.
Sreek...
Darwin merobek pakaian Disha. Disha dengan sekuat tenaga ingin melawan, sayangnya pria itu berhasil menelanjangi dirinya.
"Aku mohon...arrrggghhh!"
Disha menjerit begitu merasakan kesakitan saat Darwin berhasil meneroboskan senjatanya kedalam diri Disha.
Disha hanya bisa menangis, pria itu dengan kejamnya merenggut kesuciannya.
Bahkan saat pulang dari bar, Disha hanya bisa menangis dan menangis, dia tidak tau apa yang harus dia lakukan sekarang ini. Sampai dia tidak membalas beberapa pesan yang Morgan kirim padanya. Dia sangat merasa bersalah pada Morgan.
Makanya dia tidak bisa datang ke cafe, padahal Morgan sudah lama menunggu dirinya. Disha takut dia akan hamil karena Darwin melakukannya lebih dari satu kali malam itu.
Disha tau Morgan sangat cinta mati padanya, mungkin akan menerima Disha walaupun Disha hamil anak pria lain. Tapi dia sangat mengkhawatirkan karir Morgan, Morgan baru saja merintis karirnya sebagai seorang aktor. Dan dia yakin Pak Gara akan menentang hubungan mereka, karena memang dari dulu Pak Gara selalu menyuruhnya untuk meninggalkan Morgan. Disha tidak sanggup menghadapi semua itu, karena itu dia memutuskan untuk pergi meninggalkan Morgan.
Flashback off...
Selama empat tahun berpisah, Disha hanya bisa melihat Morgan dari layar kaca, walaupun dia pernah mendengar desas desus rumor tentang Morgan yang sering gonta-ganti pacar, namun karena tidak ada yang bisa membuktikan berita soal itu, Disha merasa baik-baik saja.
Namun entah mengapa hatinya sakit saat mendengar tiba-tiba Morgan akan menikah sampai skandal video ciuman Zhoya dan Morgan telah tersebar, apalagi sekarang Morgan telah menjadi suami wanita itu.
Disha pikir dia bisa melupakan pria itu, namun rupanya dengan cara dia pergi begitu saja dari hidup Morgan, membuat hatinya tersiksa.
Disha melihat sebuah billboard foto Morgan di jalan raya, dalam promosi sebuah film. Matanya berkaca-kaca melihatnya.
__ADS_1