Morgan Sang Casanova

Morgan Sang Casanova
Delapan Puluh Sembilan


__ADS_3

"Pah, tolongin Ervan, Pah. Ervan gak mau dipenjara." Ervan meminta tolong pada papanya, dia terus berontak saat tangannya diborgol oleh polisi.


Pak Gara sangat tidak tega melihatnya, namun dia harus bisa berlapang dada, Ervan sudah melakukan kesalahan fatal. Istrinya hampir saja mati karena ulah anak pertamanya itu.


Pak Gara hanya diam, tidak bergeming, dia memandangi Ervan yang terus saja meminta tolong padanya agar para polisi segera melepaskannya.


Matanya berkaca-kaca melihat Ervan yang dipaksa masuk ke dalam mobil polisi.


Dari dalam mobil, Ervan menatap bengis pada Morgan. Dia tidak terima dijebloskan ke penjara oleh adiknya itu, "Awas pembalasanku nanti, aku gak akan membiarkan kamu hidup bahagia, aku akan memberikan perhitungan sama kamu karena sudah berani memperlakukan aku kayak gini. Adik keparat." Ervan mengatakannya dengan emosi.


Morgan tak menjawab apa-apa, dia malas menanggapinya.


Kemudian mobil itu pun segera melaju.


Bu Widdy tidak mendengar ucapan Ervan dengan jelas, dia malah tidak mengerti mengapa Ervan di bawa paksa oleh polisi. Karena saat Ervan dan Morgan berkelahi, dia sedang diajak jalan-jalan keluar oleh Bik Nani.


Bu Widdy memutar kursi rodanya, agar roda yang dia duduki bergerak maju ke arah Morgan. Kemudian dia bertanya pada putranya, "Sebenarnya ada apa ini, Morgan? Kenapa Ervan ditangkap polisi?"


Morgan tidak ingin menjelaskannya sekarang, karena dia tau bagaimana kondisi sang mama. "Biar Morgan jelaskan nanti. Kak Ervan memang pantas mendapatkan ganjaran atas apa yang dia perbuat."


Sementara Pak Gara masih dalam diamnya, dia memandangi istri dan anaknya yang sedang berbicara di halaman depan rumah, tak jauh darinya. Dia sangat malu sekali sama mereka. Dia tidak tau harus berbuat apa untuk menebus semua kesalahannya.


Bu Widdy hanya menghela nafas, dia sangat tau bagaimana sifat Morgan, Morgan selama ini selalu sabar dengan sikap kakaknya, padahal Ervan sering bersikap kurang ajar padanya. Namun dia akan melawan jika Ervan sudah keterlaluan, contohnya jika Ervan berani membentak Bu Widdy, maka Morgan akan berani melawan Ervan. Walaupun dia harus mendapatkan hukuman dengan tamparan dari papanya karena Ervan pasti memutarbalikkan fakta.


Karena itu Bu Widdy yakin, Ervan memiliki kesalahan yang sangat fatal makanya Morgan berani melaporkan kakaknya ke polisi. Apalagi melihat sikap suaminya yang nampak pasrah tidak mencoba sama sekali untuk menolong Ervan.

__ADS_1


Bu Widdy pun memilih tidak bertanya lagi walaupun sebenarnya dia sangat penasaran, dia yakin suatu saat nanti Morgan ataupun suaminya akan bercerita padanya.


Bu Widdy memperhatikan wajah Morgan, dia baru menyadari wajah Morgan terluka, "Morgan, wajah kamu terluka, sayang. Kita masuk ya, mama obatin luka kamu."


"Gak usah, Mah. Mending mama istirahat, Morgan harus segera pulang, Zhoya pasti sekarang lagi menunggu Morgan dirumah."


Morgan membawa ponselnya di dalam mobil yang sudah dia charger, dia berjalan kembali ke dekat mamanya, dia harus menghubungi Zhoya, dia takut Zhoya mencemaskannya.


Padahal dia dan Zhoya tidak bertemu hanya sekitar 12 jam saja, tapi entah mengapa dia begitu merindukannya.


Drrrttt... Drrrttt...


Rupanya dia mendapatkan pesan dari orang yang sangat dia rindukan itu.


Pesan itu telah Zhoya kirim 6 jam yang lalu.


Morgan tersenyum, matanya berbinar-binar, semua rasa sakit yang dia rasakan, hilang sekejap hanya karena membaca pesan dari Zhoya. Zhoya sudah tidak bersikap dingin padanya, Zhoya sekarang sudah perhatian lagi padanya.


Morgan memperlihatkan pesan yang Zhoya kirim pada sang mama, "Lihatlah menantu mama sudah memasak untukku. Karena itu aku harus segera pulang."


Bu Widdy ikut tersenyum, dia sangat bahagia melihat Morgan bisa tersenyum seperti ini padahal masalah yang dia hadapi begitu berat. Putranya itu sepertinya cinta mati pada Zhoya.


"Ya sudah cepat pulang, kapan-kapan mama ingin mencoba masakan Zhoya. Mama ingin bertemu dengannya lagi."


"Oke, Mah. Nanti Morgan bilangin sama Zhoya." Morgan nampak sumringah, masalahnya tinggal dua langkah lagi, dia harus bertemu Darwin, dia sangat penasaran mengapa Darwin mengumpulkan semua berkas tentang dirinya dengan Disha seolah-olah dia tau masa lalunya dengan Disha. Setelah itu dia harus memperlihatkan tes DNA dalam jumpa pers nanti, membuktikan bahwa Shiva bukanlah anaknya.

__ADS_1


Walaupun mungkin tes DNA itu akan tetap menjadi kontraversi, mungkin ada sebagian orang yang percaya, dan ada sebagian orang yang tidak percaya mengira Morgan memanipulasi hasil tes DNA itu. Morgan sudah bisa menebaknya, yang penting dia sudah berusaha keras untuk membuktikan tidak bersalah, masalah dipercaya ataupun tidak itu Morgan tidak bisa mengubah pemikiran setiap orang. Apalagi orang-orang yang selalu berpikir negatif terhadapnya. Salah satunya hatersnya.


Pak Gara memberanikan diri berjalan menghampiri Morgan dan Bu Widdy, dia nampak ragu untuk mengatakan sesuatu pada Morgan, "Emm... tolong sampaikan permintaan maaf papa sama Zhoya, papa sudah berkata kasar padanya. Papa harap Zhoya mau memaafkan kesalahan papa."


Morgan sangat lega mendengarnya, itu artinya papanya sudah merestui hubungannya dengan Zhoya. "Iya, pah. Nanti Morgan sampaikan."


Morgan mencium tangan papa dan mamanya secara bergantian. "Kalau begitu, Morgan pulang dulu, Pah, Mah." pamitnya.


Bu Widdy dan Pak Gara menganggukkan kepala, Morgan pun masuk ke dalam mobil. Dia segera menjalankan mobilnya.


Di tengah perjalanan, sambil menyetir mobil Morgan memperhatikan suasana jalan raya, dia melihat di dekat Mall Senjaya biasanya disana ada billboard foto dirinya, kini sudah tidak ada lagi. Bukan hanya disana tapi di beberapa tempat juga memang sudah dicopot atau juga digantikan dengan foto selebritis lain. Hanya satu skandal ternyata bisa meruntuhkan karirnya walaupun skandal itu belum terbukti benar atau tidak, padahal sebenarnya Morgan tidak bersalah.


Morgan menghentikan mobilnya di depan toko bunga, dia menutup wajahnya dengan masker, dia baru ingat selama ini dia belum pernah memberikan Zhoya bunga.


Morgan keluar dari mobil, dia nampak bingung harus memberikan Zhoya bunga apa, karena dia belum pernah memberikan wanita bunga.


"Mau beli bunga apa, Mas?" tanya pegawai toko bunga itu, dia gak ngeh kalau yang pria yang mengunjungi toko bunganya itu adalah Morgan karena wajahnya ditutupi masker.


"Tolong pilihkan aku bunga yang paling romantis."


"Untuk pacar ya Mas?"


"Bukan, untuk istriku." Morgan mengatakannya dengan penuh rasa bangga.


Morgan harap Zhoya senang menerima bunga pemberian darinya, dia harap bisa segera mendapatkan jawaban dari Zhoya setelah semua masalahnya selesai. Morgan tidak akan sanggup jika harus kehilangannya. Rasa cintanya semakin lama semakin besar pada gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2