
Besoknya...
Zhoya telah sampai di salah satu mansion mewah di kota Las Vegas, dengan dikawal oleh Albert dan tiga bodyguard lainnya.
Mom Kia langsung memeluk Zhoya, dia begitu merindukan anak semata wayangnya itu. "Ya ampun, Zhoy. Mommy kangen banget sama kamu."
Zhoya membalas pelukan sang Mommy, sejujurnya dia juga merindukan kedua orang tuanya, namun dia tidak terima jika harus di paksa pulang seperti ini. "Zhoya juga merindukanmu, Mom."
Sementara Om Roy hanya diam memperhatikan Zhoya dan istrinya yang sedang melepas rindu.
Zhoya melepaskan pelukan sang Mommy, dia menatap penuh arti kepada sang Daddy. "Dad, kenapa harus memaksa Zhoya pulang seperti ini? Bukannya Zhoya sudah bilang kalau Zhoya tidak akan pernah meninggalkan kak Morgan."
Daddy Roy tidak ingin mendengarkan protes dari Zhoya, "Untuk apa kamu mempertahankan pria seperti itu? Kamu itu putri Daddy yang paling berharga, Daddy gak mau kamu hidup dengan dengan penuh kesusahan apalagi penuh tekanan."
"Nyatanya Zhoya bahagia bersama kak Morgan."
Mom Kia mengusap-usap pundak Zhoya untuk menenangkannya, dia juga sebenarnya sudah bicara sama suaminya untuk memberikan kesempatan Morgan untuk membuktikan kalau dia tidak bersalah, karena Galvin sudah membantu Zhoya untuk menjelaskan semuanya.
Namun karena dari awal pernikahan mereka, Daddy Roy memang sudah tidak setuju jika Zhoya bersanding dengan pria seperti Morgan. Dia terpaksa menyetujui mereka menikah untuk menjaga harga diri Zhoya, apalagi karena sudah tau rencana pernikahan Morgan dan Zhoya hanya sendiwara.
"Kamu lupa ya, Zhoy. Kalian itu menikah hanya sandiwara, jadi Daddy rasa pernikahan sandiwara kalian cukup sampai disini." Daddy Roy mengatakannya dengan tegas.
Mommy Kia terkejut mendengarnya, "Pernikahan sandiwara? Maksudnya apa ini?"
__ADS_1
Yang tau pernikahan sandiwara itu memang hanya Zhoya, Morgan, Daddy Roy, dan Darwin yang tau. Semua keluarga Zhoya tidak ada yang tau lagi termasuk Mommynya.
Daddy Roy menekan keningnya, dia lupa kalau istrinya tidak tau tentang hal itu. Daddy Roy terpaksa menceritakan semuanya pada sang istri. "Mereka menikah hanya sandiwara, demi harga diri putri kita. Makanya aku mengizinkan Morgan menikahi Zhoya dengan syarat Morgan tidak boleh sekalipun menyentuh Zhoya."
Zhoya dan Mommy Kia terperangah mendengarnya, apalagi Zhoya karena faktanya dia sudah melakukannya bersama Morgan, yang pertama memang dia sendiri yang memintanya pada Morgan, walaupun Morgan sempat menolak karena teringat janjinya dengan sang Daddy. Karena itu Zhoya tidak mungkin bilang kalau Morgan telah mengingkari janjinya, dia tidak ingin Daddy Roy semakin marah pada Morgan.
"Ya ampun Dad, untuk apa kamu memberikan persyaratan seperti itu?" protes Mom Kia pada suaminya.
"Untuk kebaikan Zhoya lah, sayang. Demi masa depan anak kita. Putri kita berhak mendapatkan pria yang lebih baik dari Morgan, contohnya Darwin. Dia pria yang sangat baik dan pengusaha sukses."
Zhoya tetap pada pendiriannya, dia tidak ingin berpisah dengan Morgan. "Tapi Zhoya hanya menginginkan kak Morgan, Dad. Daddy jangan memandang kak Morgan sebelah mata, dia pria yang pantas diperhitungkan. Bahkan dia bisa mengubah Zhoya jadi wanita dewasa, Zhoya banyak belajar sama dia."
Daddy Roy tidak ingin mendengarkannya, "Ini sudah keputusan Daddy. Jangan pernah mencoba kabur dari sini."
Daddy Roy menyuruh Miss Catherine, kepala ART disana, untuk membawa Zhoya ke kamar. "Miss, please take her to the room!"
"Yes, sir." Miss Catherine pun memangil beberapa ART disana, untuk membantunya membawa Zhoya secara paksa kamarnya.
Zhoya ingin berontak, namun dia tidak memiliki cukup tenaga, apalagi kepalanya masih terasa pusing karena pengaruh bius.
Mom Kia ingin memprotes perlakuan suaminya. "Dad, ini keterlaluan, Dad."
Mom Kia ingin menyusul Zhoya ke kamar, namun Daddy Roy menahan tangan istrinya. "Aku tau ini keterlaluan, tapi tolong percayalah, aku hanya ingin melindungi putri kita. Aku tidak ingin Zhoya terluka. Aku tidak ingin Zhoya menderita." Daddy Roy mencoba meyakinkan istrinya, sebagai seorang ayah, dia hanya ingin melakukan yang terbaik untuk putrinya.
__ADS_1
...****************...
Sementara itu di Indonesia...
Walaupun tidak ingin makan, Morgan terpaksa harus makan, dia harus menghargai Zhoya yang telah memasak untuknya sebelum dia dibawa pergi secara paksa oleh bodyguardnya Om Roy.
Morgan tidak ingin apa yang Zhoya lakukan padanya sia-sia. Dia harus memiliki tenaga untuk menghadapi semua ini. Dia harus bisa membawa Zhoya kembali padanya.
Air mata Morgan tiba-tiba mengalir begitu memakan masakan Zhoya, rasanya dia begitu sangat merindukan Zhoya. Dia mencoba beberapa kali menghubungi Zhoya, sayangnya ponsel Zhoya tidak aktif.
Hari ini Morgan datang ke rumah sakit untuk membawa hasil tes DNA, namun dia tidak sengaja bertemu Darwin di rumah sakit.
Morgan nampak terkejut melihat Darwin membawa amplop yang sama dengannya, "Darwin, kenapa kamu ada disini?"
Darwin kelihatan gugup sekali untuk menjawab pertanyaan dari Morgan, "A-aku...aku melakukan tes DNA dengan Shiva."
Morgan tercengang mendengarnya, dia menatap Darwin dengan penuh tanda tanya. "Kenapa kamu melakukannya? Apa kamu dan Disha..." Morgan tidak sanggup meneruskan perkataannya.
"Aku adalah pria yang melecehkan Disha 4 tahun yang lalu." Darwin mengatakannya dengan berkeringat dingin.
Morgan pasti akan marah besar padanya. Dulu Morgan kehilangan Disha gara-gara Darwin. Sekarang Morgan harus kehilangan Zhoya gara-gara Darwin juga. Namun Darwin harus siap menerima hukuman, dia akan pasrah jika Morgan ingin memukulnya ataupun membunuhnya.
Morgan belum bisa berkata apa-apa, dia masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
__ADS_1
Darwin sedikit mendudukkan kepala. "Aku tau aku tidak pantas dimaafkan oleh kamu, tapi aku benar-benar ingin minta maaf sama kamu. Ini semua salah aku, aku yang terlalu berambisi untuk memiliki Zhoya, makanya aku sampai melakukan hal seceroboh ini. Karirmu hancur gara-gara aku, kamu boleh memukul aku sampai kamu puas, dan kamu juga berhak membunuh aku."