Mr. Devil Season 2

Mr. Devil Season 2
Membencimu sampai aliran darahku


__ADS_3

“Mr. Devil – Season II”


Author by Natalie Ernison


Usaha Jasmeen yang ingin kabur dan menjauh dari Cullen, ternyata berakhir dengan kegagalan yang mutlak. Cullen begitu lihai mencari titik kelemahan seorang Jasmeen.


“Perusahaan xx”


“selamat pagi nona Jasmeen, ada yang mencari!” ujar rekan kerja Jaes.


Okeh, terimakasih kakak senior.. jawab Jaes sambil beranjak dari kursi kerjanya dan menuju ruang loby utama kantor tersebut.


Tuan Ezrai… gumam Jaes saat melihat sosok pria tampan yang sedang duduk di sofa ruang loby utama.


Ia bingung akan apa yang harus dikatakan, mengingat bahwa Cullen tak akan tinggal diam jika ia masih saling


bertemu dengan pria lain.


“Hallo nona Jasmeen..” ujar Ezrai menyapa dengan seringai senyuman manisnya.


Ahh iya tuan Ezrai, selamat datang.. jawab Jaes, lalu duduk sofa samping Ezrai.


“Mengapa tak pernah membalas pesanku, bahkan nomor ponselmu sudah tak aktiv lagi? apakah aku telah menyinggungmu?” tukas Ezrai dengan wajah sendunya.


Tidak tuan, hanya saja ponselku baru saja diperbaiki, dan kartu lama sudah lama hilang tuan..  tukas Jaes mencari-cari alasan.


“Ohh begitu…” Ezrai memandangi reaksi alami Jaes, dan sangat terlihat jelas Jaes sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


Apa yang membuat tuan memanggilku?


“aku hanya merindukanmu..” ujar Ezrai dengan tersenyum miring nan tulus.


Ohh, tuan sangat pandai bergurau… jawab Jaes dengan sikap yang sangat canggung.


“Aku bersungguh-sungguh nona, tidak bisakah nona menerima tawaran makan malam denganku..” pinta Ezrai dengan penuh harap.


“Astaga, apa yang harus aku katakan! aku tidak mungkin bersamanya…” batin Jaes.


“Baiklah, sepulang kerja, aku langsung ingin mengajakmu ke kedai coffee. Oke!” Ezrai pun beranjak dari sofa tersebut, menuju ruang direktur, tentu saja karena ia ialah anak pemilik perusahaan.


Jaes terus berada dalam kebingungan, antara menerima tawaran dan menolak. Bagaimana pun juga, Ezrai adalah orang berpengaruh dan bahkan Jaes bekerja di perusahaan milik keluarga besar dari Ezrai. Namun, disisi lain, Cullen telah mengancamnya dan juga telah melakukan hal yang sangat menakutkan baginya.


Sore pun tiba…


Jaes sedang berkemas untuk pulang, namun ternyata Ezrai benar-benar sedang menantinya.


“hai…” Ezrai melambaikan tangannya, dan para rekan Ezrai pun menjadi bertanya-tanya apa hubungan Jaes dengan sang pemilik perusahaan tersebut.


“Masuklah  nona..” ujar Ezrai mempersilakan Jaes masuk ke dalam mobil miliknya, lalu dengan ragu-ragu Jaes pun menurut. Toh mereka hanya sekedar minum kopi, pikirnya.


>>


“Bagaimana dengan pekerjaanmu, apakah ada rekan-rekan yang mengganggumu?”


Tidak tuan, aku sangat baik-baik saja… Jaes mencengkram erat tasnya yang kini berada di atas pahanya.

__ADS_1


“Baguslah, karena aku tidak ingin pekerjaanmu menjadi terganggu..” Ezrai tersenyum manis pada Jaes.


“Kedai Coffee xx”


Kring kring… bunyi lonceng yang berada di atas pintu masuk kedai coffee tersebut.


Selamat datang tuan dan nona.. sapa para pelayan.


“Nona Jasmeen, ingin memesan apa? silakan saja, dan langsung makan malam saja, karena wanita tidak baik jika makan malam, bukan?” ujar Ezrai sambil melipat kedua tangannya di atas meja sambil memandangi wajah Jaes.


Terimakasih tuan, aku ice coffee dan makanan recommend saja..


Mereka pun mulai menyantap hidangan yang ada di kedai tersebut.


“Nona aku minta maaf, atas ketidak pekaanku…”


Apa maksud tuan? Jaes heran dengan pernyataan dari Ezrai terhadapnya.


“Aku selalu mengajakmu makan malam, namun tanpa kusadari bahwa nona sangat menjaga tubuh. Itu adalah kesalahanku nona..” Ezrai terkekeh, ia mengira bahwa Jaes sedang diet, sehingga selalu menolak tawarannya.


Tidak masalah tuan, apakah ada hal lain yang ingin tuan diskusikan?


Hmmm… Ezrai menggeleng sambil tersenyum.


“Tidak nona, aku hanya ingin lebih mengenal nona saja…” ujar Ezrai dengan senyuman yang semakin merekah saja.


Tuan, aku harus segera pulang, karena ada deadline yang ingin kuselesaikan..


“Aku akan mengantarmu..”


“Tidak masalah, aku..—“ Drttt… tiba-tiba saja ponsel milik kepunyaan Ezrai bergetar.


“Hallo.. ohh baik baik..—“ Jaes memandangi ekspresi wajah Ezrai yang tiba-tiba tak mengenakan.


“Nona, maaf tidak bisa mengantarmu, aku ada pertemuan mendadak dengan klien dari luar negeri..” sesal Ezrai karena tidak bisa mengantarkan Jaes pulang.


Oke baik tuan, terimakasih atas keramahan tuan..


>>


“Kediaman Jasmeen”


Jasmeen pulang dengan membawa beberapa barang yang ia beli dari mini market terdekat.


Huhh… ia menghela napas, sejenak berbaring hanya sekedar melepas penatnya.


“Ibu… ayah… jangan tinggalkan aku… ibuuuu ayahhh…” hah hahh… Jaes terlihat berkeringat deras dan sepertinya mimpi buruk itu selalu datang terus menerus.


Ahkk… hahh… Jaes terbangun dan terkejut saat dilihatnya sudah ada Cullen sedang berbaring di sampingnya.


Tuan… Jaes bergegas bangun dan merapikan pakaiannya, karena saat sebelum ia terlelap, ia menyempatkan melepaskan kancing kemejanya.


“Ternyata kau punya kebiasaan begitu sayang…” Cullen mendekap erat tubuh Jaes dan membuat Jaes terbaring kembali.


Tuan hentikan! aku sangat lelah…

__ADS_1


“aku pun lelah, dan butuh pengisi daya..” Cullen mulai berulah, ia ******* dada Jaes.


Ahkk… tidak bisakah kau jangan begini!! aku muak!! Jaes meronta, dan mencoba menggigit lengan milik Cullen.


“Hei… mengapa menggigit begitu, tidak bisakah gigitan itu di bibirku saja sayang..” ujar Cullen sambil membaringkan tubuh Jaes.


Mengapa kau selalu bertindak sesuka hati? mengapa selalu begini? tidak bisakah kau lebih menghargai seorang wanita? apakah kau tidak bisa menghargai ibumu!! tukas Jaes kesal.


“jangan banyak bicara! apalagi membicarakan perihal ibuku, memangnya apa yang kau tahu!!” Cullen terlihat marah, ia mencengkram rahang Jaes, dan membuat Jaes melenguh kesakitan.


Hah… Cullen melepaskan cengkramannya namun membuat rahang Jaes terasa panas akibat cengkraman tadi.


“Sepertinya aku terlalu memanjakanmu, sehingga kau begitu berani!” Cullen berdiri dan menjambak rambut Jaes, sambil mencengkram rahangnya.


Ahkkk.. apa yang kau inginkan! keterlaluan!! bentak Jaes, karena sungguh baru kali ini ada pria memperlakukannya dengan sangat tidak hormat, dan kasar.


“Jangan pernah berbicara hal yang tidak kau ketahui!!” bentak Cullen.


Apa maksudmu, aku bahkan tidak mengenalmu! dan aku bersumpah, bahwa aku sangat menyesal telah mengenalmu! belum pernah ada pria berlaku kasar terhadapku, bahkan ayahku sekalipun!! Jaes terisak, ia sangat sedih. Mengapa pria seperti Cullen harus hadir dalam kehidupannya yang tenang, dan juga berlaku kasar padanya.


Jaes sangat marah, dan ia sangat membenci sikap kasar Cullen.


Jaes terus terisak, ia membanting pintu kamar mandi. Ia menyalakan shower, dan duduk di dalam sebuah buthub miliknya.


Hatinya sangat hancur, perlakuan Cullen sangat keterlaluan padanya. Ia sangat ingin menjauh dari Cullen, namun Cullen selalu berhasil membuatnya tak berdaya.


Gdorr dorr… Cullen menggedor pintu kamar mandi, namun Jaes mengabaikannya.


“Kau pikir dengan berlama-lama di sana akan menyelesaikan masalah huh!” tukas Cullen dari balik pintu.


Pergi kau dasar binatang! aku membencimu, bahkan sampai aliran darahku, aku sangat membencimu!! ahkkk… jerit Jaes dari balik kamar mandi.


Akhirnya Cullen pergi, dan Jaes pun berbaring di atas kasurnya. Air matanya sungguh tak terbendung lagi, akibat perlakuan kasar Cullen tadi, ia menjadi sangat terpukul.


Selama bebepa hari Jaes selalu menghindari Cullen, ia sangat membenci semua hal yang berhubungan dengan Cullen. Cullen pun hanya bisa memperhatikannya dari jarak jauh, entah apa yang sedang Cullen pikirkan.


>>


“Jasmeen! mengapa kau selalu melamun belakangan ini?”


Ahh, maafkan aku Monne.. aku hanya terlalu banyak pikiran.. ujar Jaes dengan senyuman sendunya, ia masih terus teringat akan semua perlakuan Cullen terhadapnya.


“Jasmeen, sahabatku.. jangan bersedih lagi, sudah lupakan saja kak Remost brengsek itu…” Monne memeluk Jaes berusaha menghibur sang sahabat baiknya.


Tidak Monne, aku dan kak Remost sudah lama berakhir…


“Jasmeen, aku tahu bagaimana perasaanmu terhadap kak Remost! kak Remost sangat baik, hanya saja karena begitu otoriternya orang tua, akhirnya berakhir seperti itu.”


Sudahlah Monne, aku sudah melupakannya… Jaes tersenyum tulus, namun dalam senyuman pilunya.


“Jasmeen.. kau wanita yang sangat kuat, aku bangga memiliki sahabat sepertimu..”


“Permisi nona-nona…” ujar seorang pria..


 ***

__ADS_1


__ADS_2