
“Mr. Devil – Season II”
Author by Natalie Ernison
Berawal dari pertemuan yang tidak disengaja, dan bahkan kesan yang begitu buruk. Namun seiring berjalannya waktu, Cullen mulai tertarik dengan Jasmeen dan semua yang ada pada Jasmeen. Ia pun berupaya untuk mendapatkan hati Jasmeen. Walau cukup sulit, karena Jasmeen awalnya sangat membenci Cullen yang selalu saja mengrjainya dengan segala perlakuannya.
Namun, CINTA ialah sebuah misteri bagi siapa saja dan kapan pun ia akan melekat.
Kini Cullen sudah berhasil mendapatkan cinta tulus dari Jasmeen, walau Jasmeen sendiri masih merasa bahwa ia pun ragu pada Cullen. Hubungan keduanya pun terjalin ditengah segala permasalahan dan pertentangan yang ada.
Cullen sangat risau, saat mengetahui kenyataan pahit selama hidupnya dan kini wanita yang susah payah ia dapatkan pun tak akan bisa bertahan hingga hari pernikahan dengannya.
Akankah Cullen kekeh tetap menikahi Jasmeen, tanpa menghiraukan kutukan yang ada padanya…?
--------
“Kediaman Jasmeen”
“Mengapa perasaanku tiba-tiba tidak enak begini…” gumam Jaes sambil menyeruput kopi hitamnya yang dicampur dengan creamer, sebagai pendampingnya saat berkutat dengan naskah-naskah.
Whuussstt…. whusssttt… hembusan angin menerpa kulit leher bagian belakangnya.
Tok tok tok…
“Siapa lagi itu.. mengganggu saja…” keluh Jaes sambil melangkah menuju pintu kamarnya.
Ahk… lenguh Jaes saat baru membuka pintu, tubuhnya sudah dipeluk erat. Siapa lagi yang berani memeluknya demikian, jika tidak tuan jahilnya.
“Aku sangat merindukanmu..” ujar Cullen sambil mendekap erat tubuh Jaes.
Tuan, aku kesulitan bernapas. Tolong lepaskan…
“Hari ini kita akan pergi berlibur sejenak..” Cullen mendekap kedua bahu Jaes, dengan tatapan yang sangat lekatnya.
Mengapa mendadak tuan… Jaes menyentuh wajah Cullen.
“yah, aku hanya ingin menghabiskan beberapa hari ini denganmu…” Cullen langsung menyambar bibir Jaes dengan begitu rakus dan menuntut.
Hemm… baiklah tuan.. aku akan berkemas.
“Tidak perlu, semua pakaian baru sudah di sediakan di sana…” Cullen terus saja mencumbu Jaes, seakan tak ingin Jaes terlepas, walau hanya sedetik saja.
Tuan.. aku akan bersiap-siap sebentar, tolong lepaskan aku dulu…
“Cepatlah, aku tidak suka menunggu…”
Aku akan berganti pakaian, tuan keluarlah… perintah Jaes, Cullen yang enggan untuk beranjak.
“Lagi pula, aku sudah melihat semuanya sayang, apa yang perlu kau tutupi. Atau kau lebih suka tanpa busana…”
Baiklah.. baiklah… Jaes terburu-buru mengenakan pakaiannya, karena Cullen terlihat serius dengan ucapannya, dan memang tak pernah ia bermain-main dengan segala yang ia ucapkan.
“Brukh, kau bawa mobil..” titah Cullen pada sang supir sekaligus pengawal pribadinya.
Baik tuan… jawab Brukh, sang pengawalnya, lalu segera bergegas pergi.
>>
Tuan hentikan… keluh Jaes, karena sepanjang perjalanan Cullen terus saja berbuat jahil padanya. Mereka duduk di kursi bagian tengah, dengan design yang mewah, juga terdapat pembatas antara kursi belakang dan supir.
Sang pengawal hanya mampu tetap berusaha fokus menyetir saat mendengar semua yang terjadi di belakang dirinya.
“Aku sangat ingin melahap semuanya sayang…” ujar Cullen, yang sedari tadi tak henti-hentinya membuat suara desahan Jaes kian menyayat gendang telinga sang pengawalnya.
***
“Tuan, nyonya! Kita sudah tiba..” ujar sang pengawal sambil memarkirkan mobil mewah berwarna hitam pekat milik kepunyaan Cullen.
__ADS_1
Kita sudah tiba… Jaes yang baru saja merenggangkan otot-otot tubuhnya yang benar-benar pegal, akibat ulah nakal Cullen. Bagaimana tidak, Cullen mencumbunya tanpa ampun, dan Jaes hanya mengenakan jaket hoodie karena pakaian bagian dalamnya sudah tak karuan lagi.
Villa xxx
Wah… ini sangat mewah tuan… Jaes terkagum dengan suasana tempat mereka menginap.
Semua kebutuhan mau pun keperluan sudah tersedia dengan begitu rapi, dan suasana villa pun terlihat sunyi.
“Kita akan tidur di kamar yang sama..”
Apa? Jaes terkejut dan tak percaya.
“Iya, apa yang kau takutkan? bukankah ini memang waktu untuk menikmati liburan kita?”
Hanya saja, aku merasa..—
“Merasa apa sayang…” Cullen langsung mengangkat tubuh Jaes dan membawanya ke dalam kamar mandi.
Di sana sudah ada sebuah buthub big size. Cullen membawa Jaes masuk ke dalam sebuah buthub tersebut.
Ahkk.. tuan… aku belum berganti pakaian… keluh Jaes.
“Tidak perlu, karena kau akan merobeknya..” Cullen langsung mengoyakan seluruh pakaian Jaes hingga tak tersisa.
Mereka pun bercumbu dengan penuh kemesraan dan kerinduan yang mendalam. Di bawah shower dan di dalam buthub yang sudah berisi air sabun wangi.
Setelah Jaes terlihat lelah, dan juga pucat, Cullen pun menghentikan kegiatannya.
“Kau lelah sayang…”
Yah… Jaes mengangguk sendu, ia pun terlihat kurang sehat, akibat guyuran air shower sepanjang waktu.
“Kau istrahatlah, malam kita akan sibuk..”
Kita akan kemana tuan… Jaes yang sudah sangat kelelahan dan juga pening.
“Kita akan melewati malam yang panjang sayang…” Cullen membelai lembut rambut Jaes, dan membuat Jaes benar-benar tertidur pulas karenanya.
>>
Malam pun tiba…
Jaes akhirnya terbangun dari tidurnya, dan mendapati ruangan kamar sudah terlihat begitu banyak taburan mawar.
“Apa ini.. mengapa rasanya, malam ini akan sangat panjang..”batin Jaes.
Ia melihat sepucuk surat, dan bertuliskan…
“Sayang, kenakan gaun ini… dan pergilah tunggulah aku.. Mr. Cullen”
Hmm… menghela napas dan mulai mendandani dirinya dengan seanggun mungkin. Mengenakan gaun yang telah tersedia baginya.
Beberapa saat kemudian…
Hm… mengendus pelan.
“Mengapa ada wangi masakan yang enak..” gumam Jaes sambil membuka pintu kamarnya yang menghadap ke arah pantai.
Ternyata, Cullen sudah duduk manis menanti Jaes, dengan senyuman tampanya. Tak lupa, sajian makan malam sudah tertata dengan begitu rapi.
“kemarilah, dan makanlah…” Cullen meraih tangan Jaes, dan mereka pun menikmati makan malam bersama di bawah sinar rembulan nan indah.
__ADS_1
>>
Jaes duduk di atas pangkuan Cullen, sambil menatap langit malam yang bertabur bintang-bintang malam nan indah.
Cullen mendekap dirinya dengan begitu mesra. Saling berbincang-bincang di suasana yang begitu syahdu.
“Jasmeen…”
Yah tuan… Jaes membalikan dirinya, dan membelai lembut wajah Cullen.
“Kau wanita satu-satunya yang sangat kuinginkan di dunia ini…” Cullen mencumbu Jaes, Jaes pun hanya mampu menikmati semua yang Cullen perbuat padanya.
Whusss… Cullen membawa Jaes kembali ke kamar. Merebahkan tubuh Jaes di atas kasur king size yang sudah ditaburi dengan bunga-bunga mawar merah, juga lilin-lilin wewangian lainnya.
“Ada apa denganku, mengapa aku tak mampu menolak pria ini..” batin Jaes, ia meruntuki dirinya sendiri.
“Sayang, jadilah milikku selamanya…” ujar Cullen sambil melepaskan gaun Jaes dan melemparkannya dengan sembarangan. Begitu pula dengan miliknya habis terbuka dan dilempar dengan sembarangan.
Mengecup bibir, wajah, area dada dan area sensitive lainnya.
Desahan-desahan lembut hingga sedikit nyaring pun kini memenuhi kamar vip Cullen dan Jasmeen.
“Tidak.. apa yang telah aku lakukan..” batin Jaes. Ia meremas kain seprei dengan begitu kuat, dan kepala menengadah ke atas. Menikmati setiap sentuhan-sentuhan dan segala cumbuan dari pada Cullen.
Hakkrrrggg… aghhkkk… lenguh Jaes, hingga mengeluarkan air mata.
“Wanitaku yah wanitaku, tak ada satu pun yang dapat merampasnya dariku..” batin Cullen. Dengan tatapan mata yang dipenuhi kabut nafsu.
Cullen benar-benar berbuat hal yang lebih jauh. Cullen berusaha menyatukan tubuh mereka. Selama ini Cullen masih belum memperawaninya.
Arghhkk…. jeritan Jaes benar-benar memenuhi kerongkongannya. Air mata mentee deras, keringat bercucuran, dan kepalanya sangat pening.
“tahanlah sayang, ini akan terasa sakit sementara…” ujar Cullen sambil ****** milik kepunyaan Jaes.
Jaes benar-benar pening, meracau tak karuan.
Tidak.. ini sangat sakit, menyakitkan.. tubuhnya bergetar hebat, seluruh urat-urat tubuhnya terasa kaku sejenak.
“Apa.. apakah aku sudah tidak perawan lagi..” batin Jaes.
Matanya tak berhenti menetes, bahkan ia mulai hanyut dalam buaian lautan asmara Cullen.
Malam yang begitu istimewa dan panas bagi Cullen dan Jasmeen.
Jaes akhirnya melepaskan kemurniannya (perawan) hanya bagi Cullen.
Sepanjang malam, Cullen benar-benar menggempurnya tanpa ampun. Tak ada waktu istrahat bagi Jaes.
Seluruh tubuh Jaes pegal, dan terasa remuk tak karuan.
Hakkk…. ahkk… lenguhan Jaes terasa memberat dan matanya membelalak dengan kepala menengadah ke atas.
Cullen masih saja menggempurnya dengan penuh gairah, bahkan Cullen tak memberinya ruang untuk istrahat sejenak.
Di awal bercinta dan menyatukan tubuh, Jaes masih meracau dan terus saja mengeluarkan suara desahan. Namun setelah beberapa jam kemudian, suara Jaes tak lagi terdengar.
Tubuhnya memucat, dan..
“Jasmeennnn!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriakan Cullen membuat seisi kamar bergetas dan lampu-lampu pecah seketika.
“Jasmeen… Jasmeen!!!” teriak Cullen….
****
__ADS_1