
"Mr. Devil - Season II"
Author by Natalie Ernison
Timoty bergegas untuk pergi menuju mansion kediaman Cullen, tempat Jasmeen kini berada. Setiba di sana, ternyata Jasmeen benar-benar berada di sana.
Tuan.. kakak... Jaes baru anak-anak tangga mansion kediaman Cullen, langkahnya melemas saat melihat kehadiran sang kakak, Timoty.
"Jasmeen!!" ujar Timoty, langsung bangkit dari sofa tempat ia duduk, lalu melangkah menuju pada Jaes.
Kakak... Jaes terlihat pucat pasi, dan sangat lemah.
"Apa yang terjadi padamu adikku??" lirih Timoty, lalu mendekap erat Jaes.
"Apa yang telah kau perbuat pada adikku bajing*n!!" teriak Timoty dan meraih leher baju Cullen.
Kakak hentikan... lirih Jaes, ia berusaha melerai sang kakak.
"Dia wanitaku" tukas Cullen, membuat Timoty menghantamkan kepalan tangannya pada wajah tampan Cullen.
Bughhh... satu pukulan keras mendarat sempurna tepat di wajah tampan Cullen.
Cullen menyentuh bekas pukulan dari Timoty.
"Kau yang telah membuat adikku begini!!" Timoty terlihat begitu murka dan tak terima dengan apa yang terjadi pada Jaes.
"Kami akan segera menikah!" tukas Cullen dengan santai.
Menikah! bagaimana mungkin...
Jasmeen! kau tahu siapa dia! dia iblis!! tukas Timoty dengan penuh emosi.
Kakak.. maafkan aku... lirih Jaes yang tak tahu harus berbuat apa lagi. Dihadapan dua pria yang sangat berarti di dalam hidupnya.
"Mengapa kau tega membohongiku Je? tidakkah kau ingat, bagaimana penderitaan kita semenjak ayah dan ibu tiada. Semua iru karena ulah keji para iblis ini!!" Timoty menunjuk ke arah Cullen dengan penuh amarah kebenciannya.
Kakak! semua sudah lama berlalu. Mengapa kakak tidak dapat melupakannya... lirih Jaes.
"apakah kau sudah buta karena cinta Je?"
Kakak.. maafkan aku...
"Kau keterlaluan!!" bentak Timoty dan membuat Jaes jatuh tersingkir, saat Jaes meraih ujung jaket kulit milik Timoty.
Ahkk... kakak... lirih Jaes semakin yang pilu.
"Jasmeen.." Cullen yang melihat hal itu langsung tak mampu menahan dirinya lagi, sekali pun Timoty adalah kakak kandung dari Jaes.
"Aku akan memusnahkan siapa saja yang berani membuat wanitaku terluka, sekali pun kau adalah kakaknya. Kakak yang lakn*t!!" peringat Cullen, lalu mengangkat tubuh lemas Jaes.
"Jasmeen. Aku adalah keluargamu satu-satunya, dan pria ini bisa kapan saja membuangmu. Ingat! disaat kau diabaikan, keluarga adalah tempat persinggahanmu.." lirih Timoty.
"Apa yang kau tahu mengenai keluarga! omong kosong!!" tukas Cullen. Tentu saja, Cullen tidak pernah merasakan arti dan makna kasih sayang dari keluarga.
"Tentu saja aku tahu! bahkan sangat tahu! kau tak akan mampu mengerti makna keluarga sesungguhnya!!" tegas Timoty lalu mengeluarkan pistol peraknya.
"Lakn***!!!" umpat Cullen, dan ingin meraih batang leher Timoty.
Tidakkkk... hentikannnn kumohon... lirih Jaes.
__ADS_1
Susah payah Jaes melangkah dan meraih kaki Cullen dengan segala kemampuannya.
"Sayang.. jangan begini..." Cullen langsung meraih tubuh lemah Jaes.
Bagaimana pun juga, kak Timoty adalah keluargaku satu-satunya... jangaaaann... lirih Jaes dengan nada semakin pilu dan menyayat hati.
"Jasmeen! sekarang kau tentukan. Kau pilih pria iblis bajing*n ini, atau aku kakak kandungmu?" tegas Timoty, sambil ia mengacungkan pistol perak ke arah Cullen.
Para pengawal mansion kediaman Cullen pun mulai bereaksi, namun Cullen menahan langkah mereka, agar tidak lanjut melangkah.
Kakak.. mengapa... lirih Jaes dengan berlinangan air mata pilu. Sedangkan Cullen sudah sedari tadi ia mengepalkan kedua tangannya, dan menahan amarahnya yang sudah mencapai ubun-ubun.
"Kau jangan mengancamnya!!" peringat Cullen sambil menatap Timoty dengan penuh amarah.
"Aku bisa menembus kepalamu dengan peluruku, dan menghancurkan isi dalam otak bodohmu!" tegas Timoty, ia mulai menekan pelatok pistolnya.
Dorrr.... dorr..... suara tembakan dari pistol milik Timoty.
Jdaarrrhhhh..... suara pecahan lampu kaca hampir mengenai tubuh Timoty.
Kalian hentikannn... teriak histeris Jaes, saat melihat Cullen sedang memukul sang kakaknya.
Ahkk ah.. hah hh.... deru napas Timoty tersengal-sengal, akibat hantaman dari Cullen yang cukup hebat.
"Kau membuat kesabaranku habis!" Cullen terlihat sangat marah, namun...
Dorrr.... tembakan terakhir mengenai area dada Cullen, dan membuat Cullen jatuh terhuyung.
Kakak... jangannn.... suara Jaes semakin lirih saat melihat Cullen tersungkur dihadapan dirinya.
"Kau pantas mati!" tukas Timoty lalu mengendong tubuh lemah Jaes, sementara Cullen masih tak sadarkan diri akibat peluru perak yang menembus dadanya.
***
"Kediaman Timoty"
Jaes hanya duduk menunduk dihadapan sang kakaknya.
"Jasmeen, apakah kau sadar akan apa yang telah kau perbuat?" ujar Timoty sambil memandang sendu wajah Jaes.
Maafkan aku kakak... lirih Jaes.
"Kau tahu Je, pria itulah yang telah membunuh kedua orang tua kita.."
Apa... Jaes membelalak tak percaya, akan pernyataan dari sang kakaknya.
"Yah, pada saat peristiwa kebakaran itu, sorot mata yang sama pun berada di lokasi kejadian."
Kakak hanya mengingat sorot matanya, namun belum tentu itu adalah dia kakak...
"Aku sudah lama menyelidikinya. Dia adalah putra pertama tuan Kyleer bukan?"
Lantas mengapa kakak menyinpulkannya begitu cepat...
"Jasmeen!!" bentak sang kakak.
"Kau buta karena cinta Je, pria itu berbahaya untukmu. Setelah dia membunuhmu." Tukas sang kakak.
__ADS_1
Tidak kak, tidak mungkin... lirih Jaes dengan berlinangan air mata pilu.
"Aku akan membunuh pria bajing*n itu!!" tegas Timoty, sambil membanting pintu kamar Jaes. Timoty bahkan mengunci pintu kamar tempat Jaes kini berada, agar Jaes tak dapat keluar lagi.
>>
"Tidak.. tidak mungkin semua itu..." lirih Jaes, tersungkur di depan pintu yang telah terkunci oleh sang kakak.
"Apa yang harus aku lakukan..."
Sementara di sisi lain...
"Austin temani aku untuk menghadapi iblis itu.." ujar Timoty, sambil menyiapkan segala peralatan pemburu iblisnya.
"Aku akan membunuh iblis itu..." umpat Timoty...
***
"Mansion Kediaman Cullen"
Arghhkkk hakkkggg.... suara erangan Cullen sedari malam, semakin terdengar begitu parau dan cukup menyiksa telinga para pekerja mansionnya.
"Brengs*kkk... kemana!! kemana wanitaku!!" rintih Cullen semakin menjadi-jadi.
"Siapa!!! siapa saja brengs*kkk....!!!" suara erangan Cullen semakin nyaring saja.
Ahhkkk hhh... "apa yang harus kita lakukan pada tuan Cullen??" lirih para pelayan yang semakin kebingungan dengan segala situasi yang kini mereka hadapi.
Para pekerja mansion kediaman Cullen pun kembali membawa para gadis-gadis perawan murni (belum pernah di sentuh sedikit pun/polos).
"Cepat bawakan darah segar untukku!" jerit Cullen pada para pekerja mansionnya.
Baabbaikk tuhh..aann... jawab para pekerjanya dengan nada terbata-bata, penuh ketakutan.
"Kalian para wanita memang sangat merepotkan!" racau Cullen, sambil ia..
Spalaasshhh spalaassshhh.... suara cambukan demi cambukan menghantam tubuh para gadis-gadis perawan nan malang, dengan tubuh bersimbah darah.
Cullen enggan untuk meminum darah para perawan tersebut, namun ia justru lebih suka menyiksanya dan melihat penderitaan mendalam mereka.
Ahkkk.. hakk.... jangann tuann hhh haahhkkk... ringsan para gadis-gadis perawan, saat Cullen mencambuk tubuh mereka, juga menginjak-injak tubuh berdarah nan terluka itu.
"Kembalikan wanitaku!! kembalikan!!!"
Bugghhh bughh.... Ia terus menginjak-injak para gadis-gadis malang itu, tanpa rasa iba sedikit pun.
Hah hhh hhh... deru napas Cullen kian memburu. Ia sangat kelelahan dengan segala keadaan yang kini sedang ia hadapi.
***
"Kediaman Timoty"
Hakkhhh akkhh... lenguh Jaes, sambil ia merem*s bagian perutnya yang terasa sangat nyeri.
Peluhnya kian bercucuran, walau suhu ruangan terasa dingin karena ac. Rasa sakit di area perutnya kian menyiksa.
Aghkk... lenguh Jaes kian menyiksa, kali ini mengalir darah dari area selangka*gannya...
__ADS_1
****