
“Mr. Devil – Season II”
Author by Natalie Ernison
Jasmeen kini harus bekerja bersama Cullen, si atasan yang sangat jahil itu. Ia tak punya pilihan lain, karena pekerjaan adalah hal utama yang harus Jasmeen prioritaskan. Tanpa pekerjaan, ia tak akan mungkin bisa membiayai kehidupannya
Drrtttt… satu pesan baru…
“My lady, setelah pulang dari kantor, temani aku ke pantai..” Mr. Devil.
Saat membaca pesan tersebut, Jaes langsung mengkerutkan dahinya. Ia tak senang dan sangat tak setuju dengan ajakan dari si bos jahilnya, Cullen.
Ia melanjutkan saja pekerjaannya tanpa berniat membalas pesan tersebut.
Tok tok tok… suara ketukan dari luar ruangan bagian foto copy bersama.
“Nona Jasmeen, nona dipanggil tuan Cullen segera untuk menemui beliau ke ruangan pribadi tuan..” ujar seorang pegawai kantor tempat Jaes bekerja.
“Perasaanku seketika menjadi tidak enak, hmm.. mungkin hanya perasaanku saja..” batinnya. Lalu segera bergegas menuju ruang yang telah dikatakan oleh seorang rekan beberapa saat yang lalu.
Mendekap setumpukkan kertas hasil dari perbanyak tadi, dan membawanya turut serta ke dalam ruangan tuan Cullen.
Tok tok tok… Jaes mengetuk pintu.
Tuan Cullen… panggilnya, dan pintu pun terbuka sedikit.
Permisi tuan, apakah ada hal yang perlu saya kerjakan? tanyanya, lalu melangkah menuju meja kerja Cullen.
Seringai senyuman penuh arti dan makna, tertoreh di bibir seksi milik Cullen.
“Kenapa tidak membalas pesanku? apakah kau sangat sibuk lady?” ujar Cullen sambil melipat kedua tangannya di atas dada dan bersandar di kursi kerjanya.
Maaf tuan, aku sedang sibuk memperbanyak salinan berkas yang tuan minta.. tukas Jaes mencari-cari alasan.
“Ohh yah.. apakah sulit untuk membalas pesanku..” Cullen berjalan ke arah Jaes, melangkah perlahan dan membuat Jaes tersudut di sisi meja kerjanya.
Maafkan aku tuan, lain kali aku akan langsung membalasnya.. Jaes menunduk bahkan menghindari kontak mata dengan Cullen.
“Kau membuat kesabaranku teruji lagi lady!” Cullen mendekap pinggul Jaes, Jaes yang sedang mendekap tumpukan kertas pun kesulitan bergerak.
Jangan tuan.. kita sedang berada di ruang kerja..
“Mengapa, apakah kamu gugup my lady..” bisik Cullen tepat di daun teling Jaes, sambil menjilatinya.
Ttuuann.. aku ingin meletakkan salinan ini… Jaes bergidik saat Cullen mulai berbuat jahil padanya.
Bhuakk… Cullen meraih salinan yang sedang Jaes dekap, lalu membanting salinan tersebut ke atas meja.
Ahkk.. lenguh Jaes, saat Cullen mendekap erat dirinya. Tubuh mereka saling terpaut dan Jaes merasa ada sesuatu yang bergerak di bawah sana.
“Aku ingin sayang…” bisik Cullen sambil m***** pinggul Jaes.
Ahkk.. tuan jangan begini… lenguh Jaes dengan nada sedikit mendesah.
Cup.... Cullen langsung saja menyambar bibir mungil milik Jaes, ia bermain di sana, dan membuat saliva keduanya melelah.
__ADS_1
Mhhmmm… lenguh Jaes. Ia kesulitan bernapas, karena kecupan Cullen menguasai mulutnya, dan tubuh yang saling terpaut.
Hahh hah hahh… napas Jaes tersengal-sengal dan ia juga menggosok mulutnya dengan ujung lengan kemejanya. Lipstiknya sudah habis akibat kecupan panas dari Cullen.
“Sayangku… aku sangat merindukanmu, walau hanya beberapa detik saja..” Cullen mendekap erat tubuh Jaes, dan memangkunya duduk di atas meja kursi kerja milik Cullen.
“Wangi tubuh pria ini bahkan sudah sangat familiar bagiku, tubuh kokohnya sangat mampu membuat para wanita menggila..” batin Jaes.
Tuan, apakah tuan sudah puas memelukku? masih banyak pekerjaan yang harus segera aku selesaikan.. ujar Jaes, lalu Cullen mendekati wajahnya.
“Ingat untuk selalu menurut padaku, kau milikku dan seluruh tubuhmu dari ujung kaki hingga rambutmu, itu semua milikku. Jangan sampai ada yang berani menyentuhmu, maka aku akan patahkan bagian yang mereka sentuh..” peringat Cullen.
Hmmm… menghela napas panjang.
Tuan, tidak bisakah tuan sehari saja tidak mengancamku..
“Baiklah… sore ini kita akan pulang lebih awal, kau tunggu aku di rumahmu, dan aku akan datang menjemputmu..” cup. Cullen kembali melumat bibirnya beberapa detik.
***
Jasmen mempersiapkan pakaiannya yang akan ia gunakan saat pergi ke pantai, juga pakaian gantinya. Karena jika ke pantai maka pakaiannya akan sangat mudah basah, pikirnya.
Drrttt…Mr. Devil memanggil…
Jaes: “Hallo tuan, sebentar lagi aku akan segera turun.”
Cullen: “cepat sayang, jangan sampai aku kesal..”
Jaes: “baik tuan..”
Senyuman yang tampan, wajah tampan, dan gaya kasualnya membuat siapa saja akan memuja ketampanannya, tapi tidak bagi Jaes.
“Bawaanmu banyak juga sayang…” ujar Cullen sambil memandangi tas yang sedang Jaes dekap itu.
Iya tuan, karena mengantisipasi saja…
Ahkk.. pekik Jaes, Cullen meraih tangannya dan menggenggamnya erat, sambil tersenyum, yah senyuman iblisnya seperti biasa.
>>
Mereka pun tiba di sebuah villa yang terdapat pantai di belakangnya.
“Sekarang ganti dengan pakaian renang, atau aku akan membuang semua isi tasmu!”
Baik tuan.. Jaes pun mengganti pakaiannya dengan pakaian renang. Hari sudah mulai gelap, namun Cullen justru mengajaknya untuk bereng malam.
Whuss whuuss… hembusan angin menyapu kulit mulus Jaes, ia kini sedang mengenakan pakaian yang cukup terbuka.
Greppp… Cullen mendekap tubuhnya dan mengangkatnya ala bridal style.
Lepaskan aku, aku bisa berjalan sendiri… jerit Jaes, namun Cullen tak menghiraukannya, justru Cullen membawanya ke bibir pantai yang minim cahaya/ remang-remang.
Jaes sudah sangat gugup, tubuhnya terasa lemas, ia takut jika Cullen akan melakukan hal gila padanya.
__ADS_1
“Apakah kau sangat takut padaku sayang?” ujar Cullen, lalu bersandar di pohon kelapa.
Mengapa kita harus di sini tuan? tanya Jaes, dikala memandang sekeliling yang begitu gelap, tubuhnya pun terasa sangat dingin. Ia meringuk, sementara Cullen berbaring di pasir.
“Aku benci dengan keadaan ini, tetapi aku merasa sedikit nyaman dengan suasana hening ini..” batin Jaes.
“Sayang, kemarilah..” Cullen meraih tangan Jaes dan menariknya hingga terjatuh di atas tubuh kekarnya.
Keduanya sama-sama menggunakan pakaian pantai, tentu saja gesekan kulit bersentuhan secara langsung.
Selama hidupnya, Cullen selalu bertindak kejam dan tak kenal belas kasihan pada siapa pun termasuk para wanita yang hanya sebagai pemasok darah baginya. Namun, berbeda dengan Jasmeen, ia memperlakukannya dengan sangat berbeda. Walau beberapa kali Jasmeen pernah mengalami tindakan kasar darinya.
Untuk pertama kalinya, Cullen memperlakukan wanita dengan cara yang sangat jauh berbeda. Mungkinkah Cullen telah jatuh cinta pada Jasmeen…
“Jasmeen.. aku mencintaimu…” ujar Cullen sambil membalikan tubuh Jaes, dan kini ia berada di di atas ****** mungil Jaes.
Jasmeen hanya diam, tubuhnya sudah mulai bergetar, semua terasa sangat lemas, dan seakan pasrah dengan apa yang Cullen perbuat padanya.
Mengapa tuan mengatakan hal yang mustahil… aku yakin tuan sudah sering kali berkata demikian pada setiap wanita yang tuan dekati.. tukas Jaes.
Tsk.. Cullen tersenyum miring dan membelai wajah Jaes.
“Aku bisa meniduri begitu banyak wanita sepuasku dan sekehendakku, jika aku ingin.. tapi sekejam-kejamnya aku, aku tak pernah berhubungan sek* dengan wanita manja pun..” tukas Cullen dengan sorot matanya yang terlihat memerah dan bercahaya kuning gold.
Tuan Cullen, aku sudah pernah mendengar kalimat cinta dari seorang pria, bahkan sangat baik padaku. Tetapi nyatanya hanyalah bulshit…
“Jadi, kau bermaksud untuk menceritakan pria lain di depan priamu..” tukas Cullen sambil **** pinggang Jaes.
Ahkk.. lengugnya, karena **** tadi cukup kasar.
Tuan Cullen.. ahkk….
Cullen langsung saja menyambar bibirnya dan turun ke area leher hingga bagian dadanya, tentu saja tak pernah lupa membuat tanda-tanda cinta yang baru.
Brengs*k… hentikan… ahhkkk…
Cullen menjelajahi seluruh tubuh Jaes, tanpa melupan seinci pun.
“Mengapa tubuhmu seakan-akan terus memanggilku untuk di perangi sayang..” rucau Cullen.
****!!!! jerit Jaes, Cullen ***** tangannya ke celana **** miliknya.
Hakkkhh akkhhh… jangan!!!
“Teriakanmu indah sayang… apakah kita akan semalaman bermain di sini…”
Bajing*n!! hentikan!! hakkk ahhkkk…
Hahhaha…
“kucing kecilku sudah berniat ingin mencakar tuannya…” Cullen tertawa lepas melihat ekspresi kesal Jaes. Baginya sesuatu kepuasan tersendiri saat melihat Jasmeen si kucing kecilnya menjerit kesal.
Pertama kalinya Cullen bersikap sedikit kekanakan pada wanita, ia sangat menikmati setiap momennya bersama Jasmeen. Walau pun Jasmeen selalu mengumpat padanya, ia tak perah merasa marah. Namun ia akan sangat marah jika Jasmeen bersama pria lain, itulah yang akan mampu membangkitkan amarahnya.
__ADS_1
***