Mr. Devil Season 2

Mr. Devil Season 2
Bukan ini yang kuinginkan


__ADS_3

“Mr. Devil – Season II”


Author by Natalie Ernison


Cullen akhirnya bertemu kembali dengan Jasmeen, namun dalam keadaan yang cukup memilukan. Jasmeen dikala itu ingin menyelenggarakan pernikahannya bersama dengan Carl, adik dari Cullen. Jasmeen menyetujui pernikahan tersebut pun karena upaya balas dendamnya pada keluarga Kyleer.


 Namun Jasmeen keliru, karena ternyata Cullen tidak bermaksud untuk membunuh sang kakaknya, Timoty. Melainkan, Timotylah yang memohon Cullen untuk mengakhiri penderitaannya. Kala mendengar dan mengetahui kebenaran itu, Jasmeen begitu hancur dan tak berdaya lagi.


Kehilangan seluruh anggota keluarganya, bayi yang ia kandung, dan kini pria yang ia juga sangat cintai pun sedang skarat. Semua begitu sangat menyesakkan, Jaes hampir tak mampu lagi bertahan hidup.


Ahkkk argh hahh ahhhh…. jerit pilu Jaes, dengan kepala menengadah ke langit-langit. Ia tersungkur sambil mendekap erat kelapa Cullen.


“Jasmeen, aku sangat mencintaimu…” lirih Cullen, sambil melenguh menahan rasa sakit. Sementara darah segar terus saja mengalir dari dalam mulutmu.


Tolongggg… hahh hhh.. tolongg selamatkan dia… teriak histeris Jaes. Jaes terlihat sangat kacau.


“Aku bahagia, karena aku bisa menikmati akhir hidupku di dalam pelukanmu..” lirih Cullen, ia tersenyum tulus pada Jaes.


Sementara itu, bala bantuan pun datang segera. Cullen, Carl, juga ibunya pun segera ditangani. Namun Cullen sendiri dibawa ke alam kegelapan untuk segera di pulihkan.


Tidakkk kalian ingin membawanya kemana? Jaes enggan untuk menyerahkan Cullen pada para mahkluk berjubah tersebut.


“Nyonya, tuan harus segera disembuhkan. Maaf…” tukas salah satu mahkluk tersebut.


Whussstttt…. tubuh Cullen pun menghilang bersama dengan hembusan angin, sementara Jaes hanya tersungkur pilu.


Lengkap sudah rasa kehancuran Jaes kini. Pernikahannya berantakan, semua sangat kacau balau.


“Nona…” sebuah tangan disodorkan pada Jaes.


Jaes mendongak ke  atas untuk mengetahui asal suara yang kini memanggilnya.


Tuan Austin… lirih Jaes. Ia meraih tangan tuan Austin dengan berderaian air mata. Susah payah Jaes mencoba bangun dari tempatnya.


“Sudahlah nona.. kita pulang istrahat..” tuan Austin pun membawa Jaes bersamanya.


Karena kelelahan menangis, akhirnya Jaes pun terlelap saat dalam perjalanan pulang kembali ke kediamannya.


***


“Kediaman Jasmeen”


“Nona, bangunlah…” ujar Austin mencoba membangunkan Jaes perlahan.


Hmm hhh… kita di mana tuan? Jaes membuka matanya perlahan. Wajahnya begitu sembab karena kelelahan menangis, bahkan gaun pengantin berwarna putih miliknya pun dipenuhi dengan darah.


“Bersihkan diri nona, lalu beristirahatlah..” ujar Austin, sambil menuntun Jaes menuju kamarnya. Karena saat ini tubuh Jaes sangat lemah, karena segala hal yang telah ia lalui.


Terimakasih tuan, aku akan segera beristirahat.. Jaes pun melepaskan gaun pengantinnya, lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya secara menyeluruh.


Seusai membersihkan diri, Jaes pun merebahkan dirinya di atas kasur miliknya.


Memandangi langit-langit kamar kediamannya, dan memejamkan mata sejenak.


Tetesan demi  tetesan air matanya pun kembali mengalir pilu. Lirih hati Jaes kian menyiksa, sakit yang teramat dalam.


>>


Hari berganti hari, Jaes jalani dengan biasa dan sebagaimana mestinya. Segala luka masa lalu perlahan-lahan ia tepis dari pikirannya secara perlahan.


Jaes pun kembali bekerja sebagai pegawai di dalam satu perusahan penerbitan. Tentunya bersama Zeros, si bos cerewetnya.


***


"Perusahaan Penerbit"


“Aku senang kau akhirnya kembali bekerja di sini Jaes..” ujar bos Zeros pada Jaes, yang saat itu sedang menyeruput kopi panas miliknya.


"Ia bos, terimakasih karena bos masih bersedia menerimaku.." Jaes tersenyum sendu pada Zeros.


“Jasmeen, apakah kau telah mendengar kabar..”


"Kabar?" Jaes menyatukan kedua alisnya, hingga membuat bentuk kerutan di dahinya.

__ADS_1


“Tuan Cullen akan segera menikah..” ujar Zeros sambil menetap Jaes.


"Ohh yah.. wau.. good… berita yang cukup menarik, karena akan ada banyak para wanita patah hati..” tukas Jaes dengan wajah tersenyum, namun senyuman itu terasa sangat terpaksa baginya.


“Aku pun tidak menyangka jika tuan Cullen akhirnya akan menikah. Jadi, kapan kau akan menyusul” ujar Zeros mencoba menggoda Jaes.


Hahha..


"Bos, aku masih harus bekerja, jadi aku belum memikirkannya.." Jaes tersenyum sendu.


Jauh didalam lubuk hatinya, ia merasa cukup kecewa. Kecewa karena pria yang telah pernah mengukir banyak kenangan indah dalam hidupnya sebentar lagi akan segera menikah dengan wanita lain.


>>


Seluruh pegawai kantor tempat Jaes bekerja terlihat sedang asyik memperbincangkan sesuatu.


“Wauu.. tuan Cullen akhirnya menikah.. tidakkah itu hal yang sangat luar biasa..” ujar salah seorang pegawai yang sangat mengagumi sosok Cullen.


“Yah benar, coba lihatlah undangan pesta jamuan ini sangat luar biasa, bukan?” riuh suara para pegawai wanita yang sedang berkumpul.


Jaes hanya menunduk dan berusaha untuk tetap tenang.


***


“Kediaman Jasmeen”


Jaes duduk termenung di bagian teras jendela kamarnya. Ia memandang bintang-bintang mau pun  bulan yang sedang bersinar.


Pada akhirnya Jaes benar-benar sendiri, tanpa ada lagi orang-orang yang selalu mencintainya. Terlebih lagi ia telah pernah mengandung seorang bayi, walau akhirnya ia harus kehilangan bayinya.


“Yah.. memang seharusnya aku tidak berharap banyak dengan kehidupan ini.. semua hilang dengan begitu cepat..” lirih Jaes, sambil terus terisak pilu.


Air matanya sudah tak lagi dapat terhitung banyaknya. Hampir setiap malam Jaes selalu menangis pilu, tatkala


mengingat setiap kenangannya bersama Cullen.


Cullen yang ialah pria satu-satunya telah menyentuh dan menjamahnya, bahkan sempat memiliki bayi dalam


kandungannya, yang merupakan hasil buah cinta mereka. Kini Cullen pun akan segera menikah, Jaes hanya bisa menerima keadaannya.


Tak tanggung-tanggung, begitu banyak komentar dari para pembacanya mengenai kisah yang Jaes tulis. Begitu banyak pembaca yang merasa tersayat dengan alur juga isi ceritanya.


Sembari menulis, air matanya Jaes tak henti-hentinya mengalir. Ia menulis kisah nyata hidupnya menjadi sebuah karya fantasy novel.


Hahh ahkk hhh… lenguh Jaes. Ia hampir tak sanggup untuk melanjutkan kisahnya.


***


Zeros membawa Jaes untuk menghadiri suatu pesta jamuan.


"Bos, kita akan menghadiri pesta makan malam bersama para klien perusahaan?" ujar Jaes yang kini sedang berada di dalam mobil milik kepunyaan bos Zeros.


“Yah, kita akan menghadiri acara penting, dan kuharap kau rela akan ini..”


"Apa maksudmu bos?" Jaes mengernyitkan dahinya.


“Nanti kau akan tahu sendiri..” Zeros terlihat fokus menyetir, sementara Jaes masih dilandan rasa penasarannya.


Di sebuah pesta makan bersama…


Semua tamu yang hadir terlihat begitu elegant. Jaes memasuki ruangan pesta dengan perasaan yang kurang nyaman.


“Jika kau kurang nyaman, maka genggamlah tanganku..” bisik Zeros pada Jaes.


"Ahh.. tidak tuan, aku baik-baik saja…" Jaes pun tidak menuruti titah Zeros, ia memilih untuk tetap percaya diri.


“Baik para hadirin semuanya.. kita akan saksikan bintang utama kita malam ini.. tepuk tangan meriah untuk tuan pasangan yang akan membuat kalian merasa iri.. kita sambut bersama, tuan Cullen dan nona Shien…” ujar sang pembawa acara.


Sementara itu, tepuk tangan meriah mengiringi langakah dua orang yang kini sedang menuruni anak-anak tangga.


Pria yang tampan, bersama dengan wanita anggunnya. Keduanya saling bergandengan tangan, membuat para wanita yang memuja si pria benar-benar merasa sangat patah hati.


Cullen bersama seorang wanita bertubuh tinggi, bak seorang model.

__ADS_1


Berjalan menuju ruang utama, sehingga perhatian terpusat hanya kepada mereka.


“Luar biasa calon pengantin tuan Cullen.. wanita itu jika tidak salah, adalah seorang model terkenal..” gumam, para tamu yang hadir.


Jaes memandangi kedua pasangan tersebut, yang ialah Cullen bersama dengan wanitanya. Jaes pun turut bertepuk tangan menyambut kehadiran Cullen dengan pasangannya. Ia berusaha untuk tetap tersenyum.


Sementara itu, Cullen terlihat begitu gagah dan terus menebar senyuman tampannya pada semua tamu undangan. Satu persatu orang datang menghampirinya, hanya untuk memberikan selamat.



Jaes sudah cukup sesak dengan pemandangan yang sedang ia lihat.


Sakit, terluka, hancur… itulah penggambaran tepat tentang keadaan hati perasaan Jaes.


Jaes pun perlahan mulai melangkah ke luar dari dalam ruangan acara jamuan tersebut. Namun...


“Jasmeen… kau ingin pulang.?” Zeros menahan langkah Jaes.


"Ia tuan, besok masih banyak hal yang harus kukerjakan, juga deadline naskah tuan.." ujar Jaes, Jaes terlihat sangat bersedih. Sekali pun ia berusaha untuk tetap tersenyum, namun sorot mata dan ekspresi wajahnya sangatlah jelas terlihat.


“Ohh baiklah.. aku akan mengambil mobilku..” Zeros sepertinya paham dengan keadaan hati Jaes. Ia bergegas untuk mengambil mobil miliknya dari tempat parkiran.


Kembali Jaes menoleh ke dalam area ruang pesta. Terlihat Cullen begitu bahagia malam itu, dan sejenak Cullen memandang ke  arah Jaes kini sedang berdiri. Namun Jaes membalikkan tubuhnya, rasa sesak di dadanya kian menyiksa.



>>


Zeros pun menghantarkan Jaes untuk kembali pulang. Jaes sangat sedih, namun ia hanya dapat menangis dan terus menangis. Karena hanya itulah yang dapat ia lakukan kini.


Beberapa hari kemudian…


***


"Cafe xxx"


“Jasmeen, novelmu sangat laris terjual. Luar biasa, sekarang aku tak perlu lagi memaksamu untuk menyerahkan naskah..” ujar Zeros dengan terkekeh.


"Ia bos, jangan lupakan dengan bonusku…"


“Tentu saja…” keduanya sedang berada di sebuah café untuk membahas mengenai pekerjaan bersama.


Drrtttt…. ponsel milik Zeros terus bergetar.


Sejenak Zeros meraih ponsel miliknya, dan seketika melihat layar ponselnya, Zeros langsung menatap lekat Jaes.


"Mengapa bos?" Jaes terlihat sangat penasaran, dan menatap layar ponsel milik Zeros, ternyata…


Sebuah pesan bergambar dua orang (pasangan) yang terlihat mengenakan gaun pengantin, dan jas pengantin. Dalam gambar tersebut tak lain dari, Mr. Cullen bersama Mrs. Shien, sang calon pengantinnya.


Wajah Jaes seketika itu berubah menjadi kaku, dan sangat datar. Bahkan tanpa sengajar sikunya menyenggol gelas yang berisi mocca float ke atas celana jeans milik Zeros.


"Maaf bos, aku sungguh tidak sengaja.." sesal Jaes, ia langsung meraih kotak tissue untuk membersihkan bekas tumpahan mocca tersebut.


“Sudahlah, ini hanya air..” Zeros mendorong kembali tangan Jaes, dan ternyata Jaes sudah menangis.


Yah, Jaes sangat sedih melihat dua orang pasangan calon pengantin yang terdapat dalam isi pesan Zeros. Sebuah undangan pernikahan.


"Maaf tuan, aku tidak dapat membohongi hatiku.." lirih Jaes, ia tertunduk sendu, dengan berlinangan air mata yang tak hentinya menetes.



“Menangislah, jika itu membuatmu lebih baik..” ujar Zeros sambil menepuk-nepuk bahu Jaes.


----


Harapan Jaes untuk dapat bersama Cullen pun benar-benar pupuslah sudah. Cullen tak lagi sama seperti Cullen yang ia kenal dahulu.


Cullen kini telah bersama wanita lain, yang memang berasal dari keluarga terpandang. Akankah semua berakhir dengan perasaan yang terluka dengan begitu dalam…



##

__ADS_1


Apa yang kalian lakukan, jika sosok yang sangat berarti, cintai melebihi segalanya, pergi bersama orang lain dan akan bahagia ?


****


__ADS_2