
“Mr. Devil – Season II”
Author by Natalie Ernison
Jasmeen terus menerus menerima paket bunga dan terkadang juga beberapa barang-barang hiasan asesoris wanita. Jasmeen tak tahu, entah siapa yang mengiriminya paket itu. Jasmeen tak pernah tahu, siapa sebenarnya yang telah melakukan itu.
......
Pada malam saat Jaes pulang dari kantor, ia merasakan hal yang sangat aneh. Namun ia tidak dapat membuka matanya bahkan berbicara. Sementara itu tubuhnya seperti ada yang sedang menggerayangi.
Tubuh Jaes seperti tersengat arus listrik bertegangan tinggi. Ia bahkan terus mendesah tak karuan.
Apakah ini benar-benar hanya mimpi saja, tapi mengapa terasa sangat nyata bagi Jaes.
Akhirnya Jaes mencapai puncaknya. Ia begitu kelelahan, dan akhirnya kembali terlelap dalam keadaan tubuh terlentang dengan kaki terbuka lebar.
Whuussstttt… angin berhembus menerpa kulitnya, dan terasa begitu dingin. Seketika itu juga Jaes pun terbangun dari tidurnya.
Hahh hhh… deru napasnya terasa sangat berat, ia pun segera meraih botol minum yang terletak di samping kasurnya. Ia benar-benar kelelahan dan bagian inti tubuhnya pun terasa begitu perih dan sakit.
Ahkk… lenguh Jaes sambil ia menekan area perutnya.
“Apa yang terjadi denganku, bagaimana mungkin aku bisa bermimpi hal mesum begitu..” gumam Jaes, dan bergegas menuju kamar mandi.
Menyalakan shower, dan mulai membersihkan dirinya.
Namun jauh lebih aneh lagi, begitu banyak tanda-tanda merah di sekujur tubuhnya. Bahkan area dadanya terlihat merah hampir kebiruan pula.
Semua pun terasa begitu perih sekali.
Ahkk hh hhh… Jaes melenguh, sambil menggigit bibir bawahnya.
“Sakit sekali… ahhh…” lirih Jaes, ia sampai tersandar di tembok kamar mandi miliknya.
***
“Perusahaann Penerbit”
Jaes kembali bekerja seperti biasanya, namun wajahnya sangat pucat dan terlihat sangat kelelahan.
Bahkan duduk pun terasa begitu menyakitkan baginya. Pinggulnya terasa begitu pegal, area intinya pun masih terasa nyeri.
Berkali-kali Jaes ke kamar mandi, dan setiap buang air kecil ia sangat kesakitan.
“Apa yang terjadi padaku, bahkan ini jauh lebih sakit..” lirih batin Jaes.
Yah, ini kali kedua Jaes bermimpi sangat mesum, menurutnya. Namun setelah bangun dengan tubuh yang sangat pegal.
***
Sepulang bekerja Jaes singgah di sebuah café.
“Café xx”
Duduk di meja yang paling pojok, dengan ditemani laptopnya, juga segelas mocca. Tak lupa ia membelikan beberapa camilan sebagai kawannya mengerjakan naskah.
Hmm hhh… sebuah desahan lolos dari mulut Jaes, namun begitu tiba-tiba.
Jaes terburu-buru mengatup mulutnya. ”Dasar mulut jalang, mengapa aku bisa begini..” batin Jaes. Ia mengutuki dirinya sendiri, bagaimana pun juga ini sangat aneh baginya.
Bagaimana bisa ia mendesah secara tiba-tiba, bahkan ia pun sedang duduk sendiri. Beruntung karena music café, sehingga tak ada yang mendengarnya.
Sesuatu yang aneh sedang menggerayanginya, namun Jaes tidak tahu apa itu. Sebenarnya apa yang membuat Jaes mengeluarkan suara seperti itu, sungguh menyebalkan bagi Jaes.
Whussttt… angin yang cukup dingin bertiup halus di kulit leher bagian belakangnya. Bahkan sesuatu yang dingin sedang menyentuh area tubuh Jaes secara misterius.
“Ahk..” pekik Jaes saat ada sesuatu yang menjalar di punggungnya. Sesuatu yang dingin dan lembab.
Hah hh hh… napas Jaes terengah. Ia gelisah dan cukup terganggu akan sesuatu itu.
Segera Jaes menutup layar laptopnya, memasukan ke dalam runsel. Lalu berjalan keluar dari café tersebut.
>>
Jaes berjalan dengan terburu-buru. Ia kesal, mengapa ada sesuatu yang aneh kini harus menimpanya. Akhirnya Jaes duduk di kursi yang terletak di area perluasan trotoar. Menikmati angin sepoi-sepoi.
Hahh.. Jaes bersandar di kursi dengan memejamkan matanya sejenak.
Arghk… Jaes terkejut saat ia membuka mata, ada seseorang yang mendekatkan wajah padanya. Namun seketika menghilang. Bulu kuduk Jaes mulai meremang, ada hal aneh. Ia pun bergegas pulang ke rumah dengan tergesa-gesa.
***
“Kediaman Jasmeen”
Jaes merasa begitu kelelahan, dan tak seperti biasanya. Ia merasakan kantuk yang sangat luar biasa, dan ingin segera terlelap.
Ahk.. pekik Jaes, lagi-lagi ada sesuatu yang menyentuhnya. Ia terbangun dengan keadaan mata yang sangat mengantuk. Memandang sekeliling, kaca jendelanya terbentur dengan tembok.
Rupanya Jaes belum mengunci jendela, padahal ia ingat betul bahwa ia sudah menutup jendela.
Jaes bangun, dan hendak menutup jendela tersebut. Jaes sudah tak tahan ingin segera tertidur pulas.
Arghk.. Jaes memekik nyaring, saat dirasanya ada sesuatu yang kuat sedang mencengkram kedua bahunya. Ia bahkan tak dapat bergerak.
Hmm mm… Jaes kini tak dapat berbicara, ada sesuatu yang mengatup mulutnya.
Ia seperti sedang berciuman. Namun tak ada satu pun sosok yang terlihat. Mulutnya terbuka seketika, dan dirasanya ada sesuatu yang dingin sedang bermain di sana.
“Apa ini? mengapa seperti ada sesuatu yang sedang berada di atas tubuhku?” batin Jaes. Bahkan untuk bersuara pun Jaes tak mampu lagi.
Saat terbangun, Jaes merasakan seluruh anggota tubuhnya benar-benar tarasa sangat sakit. Otot-otot tubuhnya terasa sangat pegal, dan bagian sensitifnya pun terasa nyeri.
Akhirnya Jaes memutuskan untuk pergi ke dokter, di klinik praktek terdekat. Kebetulan hari ini ia sedang menikmati cutinya.
__ADS_1
***
“Klinik buka 24 jam xx”
Jaes melakukan pemeriksaan pada salah seorang dokter pria yang tidak terlalu tua.
“Bagaimana dok, apa yang salah denganku?” ujar Jaes cemas.
“Nona Jasmeen, apakah nona sering berhubungan badan?” tukas sang dokte.
Jaes cukup heran dengan pertanyaan sang dokter, “tidak dok, hanya beberapa kali..” ujar Jaes dengan wajah merona.
“Baiklah, mari kita lakukan pemeriksaan pada bagian kewanitaan nona..” tukas sang dokter.
Namun baru saja sang dokter beranjak dari kursinya, hendak memeriksa Jaes yang sudah berbaring di atas ranjang pasien.
Lampu-lampu ruangan tiba-tiba berkdip, dan hawa di dalam ruangan tersebut pun tiba-tiba menjadi sangat dingin.
Ahk hakkk…. lenguh sang dokter pria tadi sambil mencengkram area dadanya.
“Dokter! apa yang terjadi?” Jaes terbangun dari ranjang pasien, dan melangkah menuju sang dokter.
Srashhh srashhh… baju di area dada dokter pria tersebut terlihat terkoyak, dan bahkan mengeluarkan darah. Dadanya terluka, seperti luka cakaran yang sangat tajam.
Arghkk… teriak sang dokter, ia terlihat sangat kesakitan.
“Dokter! dokter!” Jaes mulai panic, ia tak tahu harus berbuat apa.
Semakin ia ingin membantu sang dokter, maka semakin besar luka cakaran tersebut.
Setelah beberapa menit, sang dokter tersebut akhirnya tak sadarkan diri.
“Dokter! apa yang terjadi?” Jaes sangat ketakutan, bahkan pintu ruangan tersebut pun tak dapat ia buka. Lampu tiba-tiba meredup, dan Jaes tak dapat melihat dengan jelas.
>>
Beberapa saat kemudian, bantuan pun datang. Pintu ruangan didobrak paksa.
“Apa yang terjadi di sini?” tukas seorang security.
Jaes pun berdiri dari sungkurannya, “aku tidak tahu tuan, tiba-tiba saja..—“ saat Jaes hendak menjelaskan kejadiannya, sang dokter sudah terbangun kembali.
“Nona, jangan datang lagi kemari!” tukas sang dokter sinis. Jaes heran dengan pernyataan sang dokter, mengapa dokter tersebut bersikap seperti itu, pikirnya.
***
Jaes kini takut untuk pulang, ia takut hal itu terjadi lagi padanya. Sungguh hal yang menakutkan, setiap malamnya Jaes merasa tubuhnya di sentuh, dan ia seperti sedang bersetubuh. Namun sosok tersebut sama sekali tak terlihat.
Jaes merasa sangat frustasi akan keadaannya kini. Namun beberapa malam selanjutnya, hal tersebut tak terjadi lagi padanya.
Drrtttt…. Bos Zeros memanggil…
Jaes: “Hallo bos!”
Jaes: “Ohh baiklah tuan..—“
Jaes terdiam sejenak, setelah mendengar kabar bahwa Cullen akan menikah dengan nona Shen.
“Bodoh! apa yang kuharapkan, semua sudah berakhir..” lirih hati Jaes.
Dengan segala berat hati, Jaes akhirnya turut serta dalam acara pernikahan yang akan diselenggrakan tersebut.
***
“Kau sangat cantik Jasmeen,” puji Zeros.
Jaes hanya tersenyum sendu, “terimakasih bos..” jawab Jaes sendu.
“Wedding day Mr. Cullen and Mrs. Shen”
Semua tamu undangan sudah berkumpul, namun Jaes tak melihat adanya kehadiran keluarga Kyleer.
Di sana, sudah ada tuan Cullen dengan jas pengantinnya, juga nona Shen dengan gaun pengantinnya, mereka terlihat sangat bahagia.
Saat kedua mempelai akan saling berciuman, air mata Jaes tiba-tiba saja menetes. Padahal Jaes sudah berusaha menahan rasa sedihnya.
“Nona Jasmeen!” tukas seseorang, Jaes kenal dengan suara ini. Ia pun berbalik dan mendapati seorang pria sedang duduk di kursi roda, tengah tersenyum padanya.
“Tuan Carl!” ujar Jaes, lalu sambil menyeka air matanya, Jaes berjalan menghampiri Carl.
“Mengapa kau tak menjengukku sayang? apakah karena gagalnya pernikahan kita, kau membenciku?” ujar Carl dengan wajah tersenyum.
“Dewa! mengapa pria ini bahkan tetap bersikap baik padaku, sekali pun waktu itu aku bahkan tidak menyentuhnya..” batin Jaes. Air mata Jaes semakin berlinang pilu.
“tuan! mengapa tuan masih menyapaku! aku tidak pantas menerima kebaikan dari tuan!” lirih Jaes.
“Apa yang kau bicarakan? aku tahu saat itu, kau hanya ingin melindungiku, dengan mendekap kakaknda. Mengapa aku harus membencimu..” ujar Carl dengan wajah tersenyum.
“Nona Jasmeen, mohon nona bersedia untuk pergi bersama tuan Carl..” pinta seorang pelayan yang mendorong kursi roda Carl.
Baik tuan… jawab Jaes pilu.
***
Mereka pun pergi ke suatu tempat, yaitu area taman nan indah. Tentu saja meninggalkan pesta pernikahan.
“Taman bunga”
“Nona Jasmeen, bahkan diakhir hayatku, aku ingin nona tetap bersamaku. Apakah nona masih berniat menjadi pengantinku?” ujar Carl penuh harap.
Mengapa tuan berkata demikian?
__ADS_1
“Mengapa? apakah karena keadaanku sekarang, nona pikir aku tidak dapat memberi nona anak?” Carl terkekeh.
Carl terlihat bahagia bersama Jaes, namun tiba-tiba saja ia terlihat tersenyum dalam kesedihan.
“Tuan Carl, tuan harus kembali ke mobil, udara sangat dingin,” ujar sang pelayan.
Hmm..
“Baiklah. Nona Jasmeen, aku akan masuk ke dalam tempat makan malam kita, nona silakan nikmati dulu taman bunga ini..”
>>
“Nona Jasmeen, apakah nona tahu seberapa besar cinta tuan muda pada nona?” tukas sang pelayan.
Apa maksud anda tuan? ujar Jaes heran.
“Tuan Carl terus berharap nona akan datang menemuinya. Selama proses perawatan, tuan Carl bahkan tak pernah lelah menanti nona di ruangannya, dan terus bertanya. Apakah nona Jasmeen datang untuk menjenguknya, walau hanya sekedar mengirimkan bunga.”
Apa? apakah seperti itu? Jaes terkejut dengan pernyataan sang pelayan.
“Tuan Carl tahu bahwa nona masih belum mampu melupakan tuan Carl. Bahkan tuan terus berusaha beranggapan bahwa ketidak datangan nona, karena nyonya Sonya. Namun kenyataanya nona Jasmeen tak akan peduli dengan keadaan tuan Carl.”
Tuan.. aku.—Jaes sangat tidak menyangka akan kenyataan yang baru saja ia dengar tersebut. Jaes merasa sangat bersalah pada Carl, ternyata Carl telah mengetahuinya.
“Nona, anda tahu! bahwa tuan Carl mengindap penyakit yang akan membuat umur tuan muda tidak lama lagi?”
Apa maksud anda? bagaimana bisa? Jaes terlihat begitu sedih akan kenyataan ini.
“Tuan Carl berbeda dengan tuan Cullen. Sejak kecil tuan Cullen sudah sangat kuat, sedangkan tuan Carl sakit-sakitan. Tuan Carl berusaha memperbaiki hubungannya dengan tuan Cullen, namu n semua tatap saja..” tukas sang pelayan dengan penuh pilu.
“Jika nona bersedia, maka buatlah tuan Carl bahagia diakhir hidupnya, walau itu hanyalah sekedar belas kasihan. Tuan Carl ingin diakhir hayatnya, nonalah yang berada disisinya.
Jaes menangis sejadi-jadinya, ia merasa bahwa ia telah membuat satu orang menaruh harapan banyak padanya.
>>>
Carl sudah duduk manis menanti Jaes untuk makan malam bersama. Tepat dimalam pengantin Cullen bersama nona Shen.
Carl terlihat begitu bahagia menyambut kedatangan Jaes, “duduklah dihadapanku..”pinta Carl.
Jaes tersenyum padanya, dan memulai makan malam mereka.
“Nona Jasmeen, terimakasih atas kesediaan nona..” ujar Carl sambil menyantap makanannya.
Ahk… lenguh Carl, ia terlihat begitu pucat dan berkeringat.
Apa yang terjadi tuan? Jaes terlihat cemas.
“tidak, aku baik-baik saja..” Carl melanjutkan makan malam mereka, namun terlihat jelas ekspresi wajahnya sedang menahan rasa sakit.
Aghhkk.. Carl melenguh, hingga menumpahkan makanannya.
“Tuan! tuan istrahatlah” para pengawal mau pun pelayan dengan sigap menopang tubuh Carl.
“Lepaskan! aku ingin melanjutkan makan malamku!” Carl enggan untuk menuruti para pelayannya.
Tuan! kami mohon tuan! lirih para pelayan.
“tidak! aku masih sanggup..—“
Bhuakkk…
Carl terjatuh dan tak sadarkan diri, bahkan dari hidungnya menetes darah segar.
***
Ia pun segera di bawa ke rumah sakit terdekat untuk menerima penanganan.
Jaes hanya duduk dengan penuh pilu.
“Bagaimana dokter?” ujar Jaes menanyakan keadaan Carl.
“Tuan Carl sedang skarat, namun tuan Carl ingin mengenakan pakaian pengantin bersama nona..” ujar sang dokter.
Apa? Jaes merasa tubuhnya tiba-tiba melemah seketika.
Carl terlihat sangat lemah, dan juga pucat. Namun Jaes tetap menuruti keinginan Carl.
“Nona Jasmeen, aku ingin memiliki anak darimu. Kita akan hidup bahagia dengan anak-anak kita..” ujar Carl sambil mendekap Jaes.
Carl membelai-belai rambut Jaes, namun beberapa menit setelahnya, Carl sudah tak ada pergerakan lagi.
Tuan! tuan! ujar Jaes, Jaes mendongak ke atas melihat wajah Carl.
Tuan!! jerit Jaes histeris.
Sementara para pelayan hanya meneteskan air mata. Yah, mereka tahu apa yang akan terjadi pada Carl.
“Cepat! cepat panggil dokter tuan! kumohon! tuan! tolong!” racau Jaes. Ia terlihat sangat panic ta karuan.
Carl kini terbaring kaku, tanpa nyawa. Carl menghembuskan napas terakhirnya tepat saat sedang mendekap Jaes, dan sedang mengenakan pakaian pengantin.
Ahk.. tuann… lirih Jaes. Kini Jaes harus menyaksikan pria yang pernah akan menjadi suaminya, meninggal dalam pelukannya.
***
Masih tahap revisi
👇👇
__ADS_1