Mr. Devil Season 2

Mr. Devil Season 2
Kehadiranmu mengubah hidupku


__ADS_3

“Mr. Devil – Season II”


Author by Natalie Ernison


Berawal dari rasa keterpaksaan, akhirnya Jaes mulai membuka hatinya bagi Cullen. Walau rasa takut selalu membayanginya, dan untuk saat ini Jaes masih mengumpulkan tekatnya.


“Mansion Kediaman Cullen”


Selamat malam yang mulia dan nyonya… sapa para pekerja dengan penuh penghormatan, saat keluarga besar Kyleer tiba di mansion kediaman Cullen.


“Di mana anak itu?” tukas ayahnda Fhilip, yang terlihat tidak bersahabat.


Mohon tunggu sebentar tuan, kami akan memanggil tuan Cullen.. salah seorang pengawal segera menemui Cullen yang sedang berada di ruang kerjanya.


Tok tok tok…


Permisi tuan… ujar sang pelayan.


Cullen membuka pintunya.


“Ada apa? mengapa tiba-tiba?” Cullen berdiri di tengah pintu ruangan kerjanya.


Di bawa ada yang mulia tuan Fhilip, juga nyonya besar, tuan…--


“Ohh, apa lagi yang diperbuat wanita itu..” Cullen langsung segera turun menuju ruang tengah mansionnya.


Di sana, sudah ada begitu banyak kerumunan keluarga besar Kyleer. Cullen menuruni anak-anak tanggan mansionnya dengan perlahan.


Semua mata tertuju pada Cullen, dan juga sang ayahndanya pun terlihat sedang marah.


“Selamat malam ayah, bunda..—


Plakk… belum selesai Cullen menyapa, sebuah tamparan keras mengenai wajahnya. Pukulan dari ayahnda Fhilip.


Cullen menyentuh bekas tamparan sang ayah, dan matanya mulai berwarna kemerahan.


“apa yang kau perbuat pada calon istri pilihan bundamu?” tukas sang ayah dengan wajah yang dipenuhi amarah.


Ayah, sudahlah.. jangan marah pada Cullen, dia hanya kurang diajar ayah.. tukas sang bunda, yang tentu saja dengan sengaja bersandiwara di depan sang ayahndanya.


“Kau bahkan membunuhnya Cullen, hanya demi wanita jalang murahan!!”


“Hentikan!!! kalian tidak tahu apa-apa, dan tidak bethak menghina mempelaiku!!” teriakan Cullen membuat isi mansion bergoyang, dan lampu-lampu hias nan mewah lagi-lagi pecah. Entah.


Lihat ayah.. anak ini sangat emosional, dia tidak pernah mendengarkan bunda.. lirih sang bunda dengan seringai senyuman licik sang bunda yang semakin membuat Cullen murka.


“Cullen Kyleer!! masih pantaskah kau menyandang nama Kyleer!!” bentak sang ayahndanya, dan tak kalah mengerikan. Suara bentakan sang ayah membuat retak lantai mansion kediaman Cullen. Bagaimana pun juga sang ayah adalah keturunan dari manusia dan makhluk kegelapan.


Ayah tahan dirimu, jangan sampai marah ayah… sang bunda mendekap sang ayahndanya.


“Kakanda..” ujar Carl Kyleer, adik Cullen yang merupakan anak kesayangan sang bunda.


“Apa yang kurang dari ayah? ayah telah memberimu kehidupan yang mewah bahkan berlimpah ruah, kau pun sudah sangat berkuasa. Mengapa kau buat bundamu bersedih dengan perbuatanmu Cullen..” tukas sang ayahndanya.


Cullen kau anak yang sangat tidak tahu di untung! mengapa kau buat keluarga kita begini.. lirih sang bunda yang masih betah dengan sandiwaranya.


“Apakah bunda sudah selesai bersandiwara dan memperkeruh keluarga ini.. jika sudah puas, maka keluarlah dari mansionku..” tukas Cullen yang masih berusaha menahan amarahnya yang sangat meluap.


“Ayah mengirimmu bersama kakek Kyleer, demi masa depanmu, agar kau tidak menyakiti orang-orang disekitarmu. Tapi mengapa kau semakin menjadi-jadi Cullen!! mengapa kau tidak bisa membuat ayah bangga..” lirih sang ayahndanya.


Cullen mengapalkan tangannya, ia sangat marah dan ingin sekali membunuh orang disekitarnya.


“Kalian keluar dari sini!!” bentakan Cullen memunculkan suara bising yang teramat menyakiti telinga. Kecuali sang ayahnya juga Carl tidak merasakan dampak.


Ayah…. tolong hentikan anak terkutuk ini… ahkk… lenguh sang bunda, dan tangisan orang-orang sekitar membuat air mata mereka berubah menjadi warna kemerahan, hampir menjadi darah.


Bhuuaakkkkh… ayahnda Fhilip menghempaskan tubuh Cullen ke dinding dan terjatuh ke atas lantai mansion dengan begitu keras. Hempasan itu membuat Cullen berdarah, darah keluar dari mulutnya cukup banyak. Seketika suara bising pun berhenti.


Ayah ayah… kita keluar dari sini ayah… lirih sang bunda yang begitu ketakutan.

__ADS_1


“Ayah tunggu kesadaranmu untuk meminta maaf pada ayah, jika tidak! jangan pernah sebuat aku ayahmu dan juga kami keluargamu!!” tegas sang ayahnda Fhilip. Lalu keluar bersama pasukannaya namun Carl enggan untuk beranjak dari mansion kediaman Cullen.


>>


Ahkk…. lenguh Cullen sambil mencengkram dadanya yang terasa sangat sakit.


Kakanda… ujar Carl membantu Cullen untuk bangkit kembali.


“Pergilah, yang mulia dan juga nyonya bsar sudah pergi. Jadi jangan lagi kau bersandiwara..” tukas Cullen sambil menepis tangan Carl darinya.


Kakanda, aku sangat ingin melindungimu. Namun, aku takut pada ayahnda.


Cihhh…


“mengapa baru sekarang kau berkata demikian, setelah apa aku yang alami sejak kecil. Bahkan sejak kecil kau tahu bagaimana perbuatan bunda..”


Maafkan aku kakanda… aku hanya tidak berdaya dengan semua tindakan bunda.. dan jika aku bisa menjelaskan semuanya pada ayahnda malam itu, mungkin..—


“Hentikan Carl!! kau tidak seharusnya begini. Kau anak kebanggaan keluarga Kyleer sekarang, dan aku sebentar lagi akan keluar dari daftar keluarga Kyleer.”


Jangan bicara seperti itu kak! kakaknda adalah panutanku.. Carl meraih tangan Cullen, dan membantu Cullen berjalan menuju kamarnya.


>>


Keesokan harinya…


Semua pekerja terlihat sibuk membersihkan sisa pertengkaran keluarga Kyleer. Entah berapa kali mereka memperbaiki bahkan mengganti perlengkapan, juga benda-benda mewah yang telah Cullen hancurkan.


“Tolong bersihkan dan jika perlu ganti dengan bahan yang jauh lebih kuat.” Titah Carl, yang pada saat itu masih berada di mansion kediaman Cullen.


Tapi tuan, kami selalu menggantinya dengan bahan yang sangat kuat, bahkan sangat mahal. Tukas sang pekerja khusus mansion kedimaan Cullen.


“Ohh baiklah… apakah sarapan sudah siap? kakanda harus segera makan..”


“Kamar pribadi Cullen”


“Tapi kakanda..” Carl kekeh ingin segera masuk.


Begini saja tuan.. kami akan meminta nyonya Jasmeen datang.. tukas sang pelayan.


“Siapa Jasmeen? nyonya?” Carl mengernyitkan dahinya dan mulai menerka-nerka.


***


“Perusahaan Penerbit”


Jasmeen yang baru saja keluar dari kantor tempat ia bekerja, sudah dihadang oleh beberapa pria tampan, berpakaian rapi serba hitam gelap, tak lupa kacamata hitamnya pula.


“Nyonya, ikut kami..”


Hei.. apa yang kalian lakukan? lepaskan aku! tukas Jaes, tentu ia terkejut dengan tindakan para pria mencurigakan tersebut.


“Nyonya Jasmeen, tuan Cullen sedang terluka. Mohon segera bujuk tuan..” pinta sang pengawal.


“Hei.. lepaskan dia!” titak Zeros, yang meraih tangan Jaes.


“Nyonya,..—“


Bos, aku ingin pergi bersama mereka, mereka adalah teman-temanku.. tukas Jaes, ia pun tak ingin bos Zeros curiga.


“Ohh, maaf…” Zeros melepaskan genggaman tangannya dari Jaes.


Tak butuh waktu lama, mereka pun tiba di mansion kediaman Cullen.


***


“Mansion Kediaman Cullen”


Sebenarnya apa yang terjadi? keluh Jaes yang juga terburu-buru berjalan.

__ADS_1


“Semalam, yang mulia ayahnda Fhilip juga nyonya besar Sonya, datang kemari bersama pasukannya. Lalu, tuan Cullen terluka parah..”


Apa.. Jaes membelalak. Ia cukup mengerti apa yang terjadi pada Cullen, karena ia tahu betapa jahatnya bunda Sonya.


“Siapa wanita itu?” tukas Carl yang langsung beranjak dari sofa tempat ia sedang duduk dengan laptop yang terus menyala.


Itu adalah nyonya kami, nyonya Jasmeen terbaik.. tukas para pelayan, juga pengawal dengan penuh rasa bangga.


“Apakah wanita itu yang membuat kakanda berani menentang ayahnda..” gumam Carl yang mulai berpikir.



>>


Permisi tuan.. Jaes masuk dengan membawakan nampan yang berisikan makanan.


Cullen terlihat duduk di atas kasur king size miliknya, dengan laptop yang sedang ia mainkan.


“Apakah akan segera turun badai besar sehingga kucing pencakarku datang kemari tanpa paksaan..” ujar Cullen lalu melepaskan laptop dari tangannya, meletakkan di atas meja samping kasurnya.


Makanlah dan jangan banyak bicara omong kosong.. tukas Jaes, lalu menyiapkan makanan untuk Cullen.


Cullen terus memperhatikan setiap gerak Jaes, ia menatap Jaes sambil tersenyum tulus.


Mari makan.. Jaes memberi suapan pada Cullen, Cullen pun menerimanya dengan senang hati. Karena semangatnya menikmati makanan, Cullen pun tersedak.


Uhukk uhukk… Cullen tersedak karena porsi makan yang cukup banyak Jaes berikan.


Tuan.. apakah tuan baik-baik saja.. Jaes langsung memberikan segelas air untuk Cullen.


“Apakah aku ingin makan bersamaku?” Cullen menyentuh wajah Jaes, dan ingin mengecup bibir Jaes.


Tuan, tolong habiskan makananmu, dan jangan berbuat hal lain lagi.. peringat Jaes, Cullen pun terkekeh geli melihat ekspresi gemas Jaes.


“Baiklah nyonya Jasmeen Kyleer..” ujar Cullen sambil menyandarkan tubuhnya pada tumpukan bantal empuk.



Jaes mulai memperhatikan Cullen, dan terlihat memar bahkan lebam pada area bahu juga dada milik Cullen.


“Apakah pria ini sedang menahan rasa sakitnya? apa yang dapat aku perbuat untuk pria ini..?” lirih batin Jaes. Ia mulai mencemaskan keadaan pria jahilnya.


Apakah ini sakit…? Jaes menyentuh area lebam tersebut, dengan sentuhan lembutnya dan perlahan-lahan.


Cullen langsung menatap dalam kedua mata Jaes. Ia bahkan meraih tangan Jaes, membuat Jaes ter***** di atas **** Cullen.


“Apakah kau mencemaskanku?” tanya Cullen dengan sorot mata sendunya.


“Mengapa tatapan pria ini penuh dengan kesepian, dan kehampaan..” batin Jaes.



Turunkan aku tuan, aku akan membantumu untuk meredakan rasa nyeri ini… Jaes turun dari atas kasur milik kepunyaan Cullen, dan keluar dari kamar pribadi milik Cullen.


Beberapa saat kemudian, Jaes kembali lagi dengan membawa wadah yang berisi air hangat juga kain lembut.


Tanpa bicara sedikit pun, Jaes langsung menyapuh area lebam yang terdapat pada tubuh Cullen, menggunakan kain lembut nan hangat tadi.


Arghkk.. pekik Cullen saat Jaes menekannya terlalu kuat.


Sakitkah? tanya Jaes dengan wajah sendu.


“Terimakasih atas perhatianmu..” ujar Cullen sambil meraih wajah Jaes dan mengecupnya. Membalikan posisi mereka dan kini Jaes berada di bawah **** Cullen.


Tuan, kau sedang sakit… ujar Jaes sambil menyentuh wajah tampan nan berbulu halus milik Cullen.


“Aku sudah cukup baik, dan terimakasih atas kehadiranmu saat aku seperti ini..” ujar Cullen sambil menyentuh tangan Jaes yang kini berada di wajahnya, lalu mengecup telapak tangan Jaes.


****

__ADS_1


__ADS_2