
“Mr. Devil – Season II”
Author by Natalie Ernison
Jasmeen sedang berjalan menyusuri area kuliner di sore hari, namun tiba-tiba ada suara yang memanggilnya, dari balik helm hitam.
Hahh, tuan Ezrai.. gumam Jaes saat melihat sosok Ezrai yang baru saja tiba dengan mengenakan motor sport hitam miliknya.
“Kemana saja nona Jasmeen selama ini? apakah tidak bekerja?” ujar Ezrai lalu melangkah menghampiri Jaes.
Ezrai
Tidak tuan, aku sudah tidak bekerja lagi…
“Mengapa nona? apakah ada masalah?”
Tidak tuan… aku hanya ingin beristirahat.. keduanya pun duduk di sisi jalan sambil meminum ice soft drink.
“Selama ini aku sangat bingung kemana harus mencari nona, akhirnya kita bertemu kembali..” ujar Ezrai dengan senyuman tampannya.
Ahh ia tuan.. Jaes hanya menunduk sendu.
“Apakah wanita ini memiliki masalah, dari sorot matanya ia terlihat sedih..” batin Ezrai.
“Nona, ingin berkeliling bersamaku?” ujar Ezrai yang berniat mengajak Jaes pergi bersamanya.
Apakah tidak masalah tuan?
“Mengapa harus menjadi masalah nona? kita tidak melakukan kesalahan apa pun, bukan?”
Iyaa tuan.. Jaes hya tersenyum sendu.
“Mari.. biar ku ajak ke tepi danau indah..”
***
Mereka pun pergi bersama, dan tiba di tepi danau nan indah. Entah mengapa, saat melihat senyuman Ezrai, Jaes teringat akan sosok Cullen.
Ahk… “ada denganku, mengapa aku bisa memikiran pria iblis itu..” batinnya.
“Nona Jasmeen, aku sangat senang akhirnya kita bertemu kembali..” Ezrai memang terlihat sangat bersemangat saat bertemu kembali dengan Jasmeen.
Hmm.. Jaes hanya tersenyum biasa, dan rasanya ia tidak terlalu tertarik dengan sosok tuan Ezrai, si pria ramah nan baik hati itu.
“Nona Jasmeen, bolehkah jika aku ingin mengenal nona lebih dalam lagi?” tukas Ezrai dan membuat Jaes sangat terkejut.
Maaf tuan, apakah tuan sedang bergurau.
“Tidak, aku serius nona… sejak pertemuan awal kita, aku merasa nona adalah wanita yang sangat berbeda..”
Berbeda… tukas Jaes dengan ekspresi yang penuh tanda tanya.
__ADS_1
“Iya, kau sangat berbeda dari kebanyakan wanita. Sudikah kiranya kau menerimaku lebih dari seorang teman, aku akan menunggumu ..”
Maaf, aku belum siap untuk memulai suatu hubungan… Jaes secara terang-terangan menolak Ezrai.
“Aku akan menunggumu hingga siap..” Ezrai melangkah menghampiri Jaes.
“Apakah ada sesuatu hal yang tidak kau senangi dariku, aku akan belajar menjadi pria yang membuatmu suka..”
Aku tidak membutuhkan pria yang bisa membuatku senang tuan…
“Maafkan aku nona Jasmeen, mungkin aku terlalu lancang dengan perkataanku, tetapi aku bersungguh-sungguh…” Ezrai meraih tangan Jaes.
Tidak tuan… tukas Jaes menepis genggaman tangan Ezrai.
Aku ingin pulang! Jaes berbalik badan dan menunjukkan bahwa ia tak senang dengan perlakuan Ezrai.
>>
“Nona Jasmeen, maafkan aku…” Ezrai masih merasa bersalah akan sikapnya pada Jaes.
Tidak masalah tuan… terimakasih untuk malam ini…
Jasmeen merenung seorang diri, ia merasa bersalah atas tindakannya pada Ezrai. Namun ia pun tidak mencintai Ezrai, justru di saat seperti itu, bayangan Cullen muncul di benaknya.
“Tuan Ezrai sangat baik, tetapi perasaanku tidak bisa aku paksakan..” gumam Jaes sambil memandang ke luar jendelanya.
Drrttt… “Tidurlah, jaga kesehatanmu, aku sungguh menyesal atas tindakanku yang terlalu mendadak..” Tuan Ezrai.
Hmm…
Drrtt… Bos Zeros memanggil…
Jaes: “Hallo bos..”
Zeros: “Cepat kemari… dalam beberapa menit kutunggu, di apartemenku..” bip.
What the hell… “apa-apaan bos, mengapa mendadak..” gumam Jaes. Namun tanpa pikir panjang, langsung bersiap-siap pergi menuju apartemen kediaman Zeros.
***
“Kediaman bos Zeros”
Jaes pun tiba dengan menggunakan angkutan umum.
“Jasmeen…!!” Zeros telah berdiri di depan lift.
Ada apa bos? tanya Jaes heran.
“Sekarang kau naik saja ke kamarku, aku akan pergi..”
Hah! bos… Jaes masih bingung, namun ia menurut saja, karena ia berpikir bahwa Zeros akan membahas perihal urusan pekerjaan.
__ADS_1
>>
Perlahan membuka pintu, dan begitu berantakan, ia bingung dengan keadaan itu.
“Apa yang bos lakukan, mengapa sampai sebegitu berantakannya..” gumama Jaes lalu merapikan barang-barang yang berantakan itu.
“Bagus sekali! pergi dan menghilang bersama pria lain!” tukas seseorang dari balik pintu utama.
Jaes berbalik, dan…
Ahk… lenguhnya, saat dirasa tubuhnya terhempas ke atas sofa milik kediaman Zeros.
“Kau pergi dengan pria lain hah! katakan padaku, kemana pria itu! aku akan membakarnya hidup-hidup!!”
Tuan Cullen! ahkk… jangan begini, tolong beri aku waktu untuk bicara… lirih Jaes, Cullen mencekik lehernya dan membuatnya kesulitan bernapas.
Uhuk uhukkk… Jaes meraih segelas air untuk membantunya tenang sejenak.
Aku tidak pernah pergi dengan pria lain, aku hanya menuruti keinginan nyonya Sonya.. ujar Jaes sambil menyentuh lehernya yang terasa panas, akibat cekikan dari tangan Cullen.
“Pendusta!! kau bahkan menerima sejumlah uang dari bunda.. lalu kabur dengan pria lain! berani sekali!!” Cullen mencengkram rahang Jaes.
Aku tidak melakukannya tuan, aku hanya menerima cek itu karena ibu tuan yang melemparkannya padaku… kau sungguh kejam! bahkan tidak pernah mempercayaiku.. lirih Jaes dengan menangis tersedu-sedu.
“Jika hanya uang ratusan juta, aku bisa dengan mudah memberikannya untukmu, tetapi mengapa kau selalu tidak menurutiku!!” bentak Cullen sambil menendangi meja dan pecahlah meja yang ia tendangi itu.
Ahk… Jaes menjerit ketakutan, Cullen kini bertindak kejam, ia melampiaskannya dengan cara menghancurkan barang-barang yang ada di sekitarnya, karena ia tak ingin menyakiti Jasmeen.
Kalian sekeluarga sungguh ****! setelah puas menghinaku, sekarang memfitnahku.. lirih Jaes.
“Diam!!” bentak Cullen, dan langsung menyambar bibir Jaes. Ia mengecup bibir Jaes dengan sangat kasar, sambil menjambak rambut panjang Jaes.
Me****** bagian dada, pinggang dan area lainnya. Kali ini Cullen sangat bernafsu, dan kasar. ia bahkan tak lagi mengiraukan tangisan Jaes dan rasa sakit yang Jaes alami karena r*****nya.
Ahk…. tuan.. lunguh Jaes. Cullen m***** area tubuhnya, kini lehernya hingga area dadanya dipenuhi tanda-tanda cinta yang baru, setelah sekian lama tidak ada tanda-tanda kissmark.
“Aku sangat ingin mematahkan kaki dan tanganmu sehingga tak dapat pergi kemana pun!” bentak Cullen, dan akibat kecupan kasarnya itu, telah membuat bibir Jaes terluka.
Terus salahkan aku tuan! jika perlu bunuh aku!! jerit Jaes, membuat Cullen kembali melakukan aksi panasnya. Setelah puas membuat Jaes kelelahan, Cullen menghempaskan tubuh Jaes ke atas sofa lagi.
Jaes merasa sangat pusing, akibat serangan kejutan dari Cullen. Ia ingin berdiri namun ia kehilangan keseimbangan.
Bhukkk… Jaes terjatuh di atas pecahan kaca meja yang Cullen tendangi beberapa saat lalu.
“Apa yang kau lakukan kucing kecil.. apakah berniat ingin memukulku dari belakang!” tukas Cullen yang masih berbalik badan, menahan amarahnya yang meluap-luap.
Namun, suara sedikit pun tak lagi terdengar.
“Kau jangan bermain-main lagi..—“ Cullen sejenak berbalik.
Betapa terkejutnya ia saat melihat Jaes sudah terjatuh tak sadarkan diri di atas puing-puing kaca. Terdapat beberapa luka goresan kaca pada tubuhnya.
__ADS_1
“Jasmeen!!” teriakan Cullen menggelegar, ia tak menyangka Jaesmeen akan terluka karenanya.
***