
“Mr. Devil – Season II”
Author by Natalie Ernison
Pernah menjalani hubungan yang istimewa, perah hampir menjalani kehidupan masa depan bersama. Tentu saja bukanlah hal yang mudah untuk dilupakan, sekali pun kebersamaan itu hanyalah kebahagiaan semu. Seorang pria tampan, sukses, dan juga baik hati, itulah Carl Kyleer.
Carl sangat mencintai Jasmeen, semenjak pertemuan pertama mereka, Carl pun sudah mulai menyimpan rasa kagum.
Rasa kagum Carl pada Jasmeen bahkan terus bertumbuh, hingga akhirnya ia dapat bersama dengan Jasmeen. Walau kebersamaan Jasmeen dan Carl berawal dari rencana dendam Jasmeen. Kini semua hanyalah tinggal kenangan masa lalu, dan rasa cinta yang dibawa mati oleh Carl.
Carl telah pergi untuk selamanya, dan tak akan pernah kembali lagi. Karena Carl hanyalah manusia biasa, berbeda dengan Cullen sang kakaknya.
***
Menangis dan meratapi semua yang telah terjadi, tidaklah ada habisnya. Jasmeen harus bisa menerima kenyataan pahit ini, walau terlalu menyesakkan baginya.
“Kediaman Jasmeen”
Peluh bercucuran, wajah pucat, tubuh gemetar hebat, napas pun terengah-engah.
Sedari pagi Jaes terus mual-mual, entah mengapa ia merasa tubuhnya tidak fit seperti biasanya. Bekerja pun ia merasa cukup sulit, karena rasa pusing, bahkan perutnya terasa sangat sakit.
Meraih ponsel, dan mencoba melakukan panggilan.
“Hallo tuan Austin! tuan kumohon datanglah kemari, aku butuh batuan tuan..” ujar Jaes melalui panggilan teleponnya.
Bersandar di sofa dengan susah payah. Jaes sangat putus asa, dan berkali-kali ia ingin mengakhiri hidupnya. Ini terlalu berat untuk ia hadapi sendiri, ia tak tahu harus bagaimana lagi.
Beberapa saat kemudian…
“Nona Jasmeen! nona!” panggil seseorang dari luar pintu kamar kediaman Jaes.
Ahkk.. lenguh Jaes, sambil ia bertumpu pada dinding-dinding ruangannya. Mencoba melangkah keluar, dan membukakan pintu.
“Nona!” tukas seseorang dari balik pintu, yang ialah tuan Austin.
Mata Jaes terlihat begitu saya bahkan berkatung, “tuan, tolong aku!” lirih Jaes.
Bhuak… Jaes jatuh terhuyung, dan langsung terjatuh dalam dekapan Austin.
“Nona! apa yang terjadi!” ujar tuan Austin. Langsung mengangkat tubuh lemas Jaes menuju kamarnya.
Membaringkan tubuh Jaes dengan hati-hati, dan mencoba untuk menghubungi seorang dokter, yang juga seorang mengerti soal supranatural.
“Tuan! tolong datang ke alamat..—“ tukas Austin, lalu kembali duduk di samping Jaes kini sedang terbaring lemah tak berdaya.
“Nona! seberapa berat bebanmu, mengapa kau terlihat buruk..” ujar Austin dengan tatapan penuh keprihatinan pada Jaes.
Jaes hanya tergolek tak berdaya, bahkan untuk bergerak pun ia merasa kesulitan.
>>
Seorang dokter pun memeriksa kesehatan Jaes, juga memasangkan suntik infuse pada tubuh Jaes. Karena Jaes belakangan ini memang tak selera makan.
“Bagaimana tuan? apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Austin cemas.
Sang dokter mencoba mengehela napas sejenak, “nona Jasmeen sedang mengandung seorang bayi yang bukanlah manusia biasa.” Tukas sang dokter, cukup membuat Austin membelalak terkejut.
“Apa? bagaimana mungkin? siapa yang telah berbuat demikian? bukankah nona Jasmeen tidak pernah lagi bersama pria lain? ataukah ini anak tuan Carl! tapi tidak mungkin..” ujar Austin sambil mencoba berpikir keras.
“Itulah kenyataannya tuan. Nona Jasmeen kini sedang mengandung bayi yang ialah bayi kegelapan..” tukas sang dokter serius.
“Ahhkk dewa..”Austin menepuk dahinya bingung. Ia sangat bingung akan apa yang terjadi pada Jasmeen kini.
Sang dokter yang merawat Jaes pun pergi daripada kediaman Jaes.
Austin memandangi wajah Jaes yang terliat begitu pucat. Terlihat jelas dari raut wajah Jaes dipenuhi dengan duka mendalam.
“Entah seberapa dalam penderitaan yang telah kau lalui.. jika tahu begini, mungkin sejak awal aku akan menjagamu dengan baik,” batin Austin. Duduk di kursi, tepat di samping Jaes kini sedang berbaring.
>>
Arghh…. Jaes menjerit hebat, sambil menjambak-jambak rambutnya sendiri.
“Nona! nona hentikan! jangan sakiti diri nona!” ujar Austin, berusaha menahan tindakan Jaes yang ingin terus membenturkan kepalanya di tembok.
Bugh bugh bugh… Jaes menghantam kepalanya sendiri di tembok.
“Hentikan nona! aku akan menjadi ayah bayi nona, tapi tolong hentikan ini nona!” ujar Austin sambil mendekap Jaes agar tidak lagi menyakiti dirinya sendiri.
Selama berbulan-bulan Jaes tak menyadari bahwa ia sedang mengandung seorang calon bayi. Ia bahkan heran dengan perutnya yang kian membesar. Karena Austin enggan untuk memberitahu Jaes dini. Austin tidak ingin Jaes berupaya menggugurkan bayinya.
Jaes tak tahu harus bagimana menghadapi kehidupan ini, yang ia rasa hanya dipenuhi penderitaan saja. Terlebih lagi kini Jaes sedang mengandung calon bayinya untuk yang ke-dua kalinya. Jasmeen pun tidak mengetahui siapa ayah yang dari calon bayinya, ia sangat frustasi.
Arghh… hahhkk arghh… Jaes menjerit hebat dan menangis hingga ia hampir tak mampu lagi mengeluarkan air matanya.
“Mengapa.. mengapa hidupku semalang ini.. siapa? siapa ayah dari bayiku!!” jerit Jaes kini terdengar parau.
Siapa yang telah membuatnya mengandung untuk kedua kalinya, ia pun tak tahu. Namun Jaes bertekat akan tetap merawat calon bayinya. Walau itu sangat menyakitkan baginya.
>>
Jaes kini bekerja sebagai admin pribadi tuan Austin, dan juga tetap menjadi seorang novelis. Ia terkadang sangat kelelahan, karena harus bekerja keras demi menabung uang untuk persalinannya. Walau Austin sudah bersedia menjamin biaya hidupnya, namun Jaes tak ingin bergantung pada Austin hanya karena Austin baik padanya.
“Selamat siang nona.. apakah harimu menyenangkan?” ujar Austin yang baru tiba dengan membawakan beberapa makanan untuk ibu hamil.
Jaes bangkit dari kursinya, “aku sangat baik tuan Austin,” ucap Jaes sambil tersenyum ramah pada Austin.
“Nona, kau harus lebih banyak istrahat. Bagaimana pun juga usia kehamilanmu sudah cukup besar,” ujar Austin sembari menyajikan makanan yang telah ia bawa.
“Tidak tuan, aku baik-baik saja. Jangan cemas akan hal itu,” Jaes terlihat begitu ceria, ia tak ingin berlarut dalam kesedihan mendalam.
***
__ADS_1
Suatu sore, Jaes berjalan-jalan keluar hanya untuk membeli susu formula ibu hamil. Setiba di sebuah swalayan yang letaknya tak jauh dari kantor tempat ia bekerja kini. Jaes mulai memilah-milah susu yang akan ia beli.
Dugk… tak sengaja, Jaes menubruk seorang wanita yang juga sedang hamil besar, sama sepertinya.
“Nyonya, apakah anda tidak apa-apa?” ujar wanita yang ia tubruk.
Jaes pun bangkit dengan bantuan si wanita, “tidak apa-apa nyonya,” jawab Jaes sambil tersenyum. Namun ketika ia mendongak ke atas, ia sangat tidak menyangka akan pertmuan ini.
Wanita tersebut tersenyum lembut padanya, “syukurlah, karena kita sama-sama sedang hamil, nona,” ujar si wanita.
“Nyonya Shen!” tukas beberapa pria bertubuh tinggi, berpakaian rapi.
“Apakah nyonya sudah selesai?” tukas beberapa pria tersebut, dan kemudian memandang ke arah Jaes. Sejenak mereka saling tatap, tatapan yang begitu dalam.
“Nyonya Jasmeen..” ujar salah satu pria.
Jaes hanya tersenyum sendu, “aku permisi tuan, nyonya..” Jaes pun pergi dengan membawa beberapa susu formula.
Jaes dengan cepat pergi dari hadapan para pria tadi, juga si wanita. Jaes berjalan setengah berlari, ia terlihat begitu bersedih.
***
Dengan terengah-engah, Jaes menarik napasnya perlahan. Namun rasa sesak di dada sungguh menyiksa.
Yah, wanita yang bertemu dengannya di sebuah swalayan tadi ialah, Nyonya Shen, istri tuan Cullen. Juga para pria tadi ialah, para pengawal kepercayaan tuan Cullen.
Jaes meraih ponselnya, dengan tubuh gemetar, Jaes mencoba melakukan panggilan.
“Hallo tuan Austin, aku ingin segera keluar dari tempat ini, dan tinggal di luar negeri..” lirih Jaes, lalu mematikan ponselnya.
Beberapa saat kemudian…
“Ada apa nona? mengapa tiba-tiba nona ingin pergi? bukankah nona sejak dulu ingin tetap berada di kota ini!” ujar Austin heran.
Jaes meraih krah leher baju milik Austin, “aku hanya ingin terbebas dari tempat ini kumohon tuan.. aku ingin menjalani kehidupan baruku..” lirih Jaes dengan begitu pilu.
“Baiklah… besok nona akan segera pergi bersamaku ke luar negeri. Hari ini aku akan mengurus semuanya..” ujar Austin, lalu segera melaksanakan, apa yang telah ia katakn pada Jaes.
>>
Segala perlengkapan Jaes, semua telah tertata dengan rapi. Tentu saja, Austinlah yang telah membantunya.
“Nona, saat berada di sana, tolong jangan terlalu memaksakan diri untuk bekerja,” ujar Austin yang sedang duduk di samping Jaes.
Jaes tersenyum, “tapi aku tidak bisa hanya berdiam diri saja tuan, dan terimakasih untuk segalanya..” ujar Jaes dengan wajah sendunya.
Tsk… “Semua adalah milik tuan Timoty, dan nona berhak melanjutkan segala bisnis, usaha tuan di luar negeri..” Austin tersenyum lembut pada Jaes.
“Aku hanya berharap kau bahagia, dan aku akan berupaya untuk menjagamu,” batin Austin. Ia kini mulai memperhatikan Jaes, dan begitu peduli pada semua yang Jaes lakukan.
Usia kehamilan Jaes kini sudah kian membesar, namun ia masih saja terlihat sibuk dengan segala kegiatannya, juga naskah\-naskahnya.
*Arghkk*…. *hhh* *hhhh*… Jaes melenguh, sambil mencengkram pinggir ranjang pasien. Ia sedang berusaha keras untuk melahirkan anaknya.
Setelah berjam\-jam berjuang antara hidup dan mati, akhirnya seorang bayi laki\-laki mungil pun keluar.
Lahirnya sang bayi, tanpa ada suara tangisan sama sekali. Seluruh dokter maupun suster cukup heran.
“Dok, mengapa bayi ini bahkan tidak menangis?” ujar sang suster yang mengurus bayi kecil Jaes.
Sang dokter mengurut dahinya perlahan, “aku tidak tahu, namun terpenting, bayi ini sehat,” tukas sang dokter yang enggan untuk menanggapi pertanyaan dari sang susternya.
Dokter tersebut ialah, dokter rekan dari Timoty juga Austin. Sehingga ia tak ingin banyak bicara lagi mengenai bayi yang telah Jaes lahirkan.
“Selamat nyonya, bayi anda laki\-laki tampan..” ujar sang dokter pada Jaes.
Jaes mencoba untuk sedikit bersandar pada ranjang pasien, “bayiku,” ujar Jaes. Lalu mendekap sang bayi laki\-lakinya. Air mata Jaes berderai syahdu, sungguh perasaan bahagia bercampur haru.
Bahagia, karena untuk kedua kalinya, akhirnya ia berhasilnya melahirkan bayinya. Sedih, ialah disaat Jaes hingga saat ini tak pernah tahu siapa ayah dari bayinya.
“Anakku… ibu akan memberimu nama “**Arsenio** **Caesar**”.
__ADS_1
**Arsenio**, yang berarti gagah berani. **Caesar**, pemimpin. Seorang laki\-laki pemimpin yang gagah berani.
**Arsenio** **Caesar**, memiliki nama panggilan **Arseo**/ **Ars**.

\>\>
Hari\-hari Jaes kini jauh lebih baik dari sebelumnya. Jaes kini dapat tersenyum tulus bersama bayi tampannya. Setiap bekerja, Jaes selalu membawa bayi kecilnya untuk selalu bersamanya.
Jaes kini bekerja dengan memiliki kantornya sendiri. Ia menjadi editor untuk buku\-buku karya sendiri. Perlahan\-lahan Jaes juga merekrut para penulis\-penulis muda yang mau belajar. Hingga akhirnya, pekerjaan yang ia mulai pun berkembang.
Jaes memilih untuk bekerja dengan memiliki kantor sendiri, tanpa ingin bergabung dengan perusahaan. Ia ingin lebih banyak waktu untuk mengurus Arseo kecil tampannya. Jaes tak ingin kehilangan momen berarti dalam masa pertumbuhan Arseo.
“Arseo… kau anakku, dan aku akan bekerja keras demi masa depanmu..” lirih Jaes. Menepuk\-nepuk lembut Arseo kecil, hingga tertidur pulas. Tak jarang Jaes harus meneteskan air mata, jika mengingat semua luka masa lalunya.
Baby **Arseo**

*Hingga* *suatu* *saat*…
“Nona Jasmeen, tak lama lagi Arseo akan bertumbuh besar, jadi aku ingin menikahi nona, dan menjadi ayah bagi Arseo.” Ujar Austin dengan mantap.
Jaes tertegun, “tuan, aku hanya seorang wanita dengan satu orang anak, bahkan tanpa ayah. Jadi, niat baik tuan tidak dapat kuterima begitu saja..”
“Mengapa nona, apakah nona masih belum mampu melupakan pria bajing\*n itu!” tukas Austin sinis.
“Ah, tuan. Aku hanya belum siap, jika harus mengalami kisah yang..—“
“Nona Jasmeen! aku sudah lama memperhatikanmu, namun aku berjanji. Aku hanya akan menjadi suamimu sebagai ayah bagi Arseo, dan aku tidak akan memaksamu untuk berhubungan layaknya suami istri.” Tukas Austin mencoba meyakinkan Jaes.
Jaes tertunduk sendu, “tuan. Aku tidak pantas, tuan..”
*Sehhhttt*….
“Aku sudah berjanji pada tuan Timoty, bahwa aku akan menjaga nyonya. Maka, menikah;ah denganku nona, aku hanya akan menjadi ayah bagi Arseo, aku berjani..” Austin berusaha meyakinkan Jaes.
Tapii.. aku..\-\-\-
“Jika kau tak ingin menikah denganku, maka biarkan aku menjadi bin bagi Arseo saja..” Austin yang terlihat semakin bersungguh\-sungguh.
Akhirnya Jaes mengiayakan saran dari Austin. Austin akan menjadi ayah bagi Arseo, namun hanya hitam di atas putih. Ia khawatir, jika Arseo akan bertanya\-tanya perihal ayahnya.
\*\*\*
Jaes terlihat sedang merawat bunga\-bunga di halaman rumah kediamannya.
“Nyonya Jasmeen!” tukas beberapa orang pria berpenampilan rapi.
“Kalian!” tukas Jaes sambil berdiri dengan tatapan tajam ke arah para pria tersebut.
__ADS_1
\*\*\*