Mr. Devil Season 2

Mr. Devil Season 2
Bagimu cinta hanyalah permainan


__ADS_3

“Mr. Devil – Season II”


Author by Natalie Ernison


Cullen yang terbakar amarah, akibat perlakuan kasar dari nona Khim pada Jasmeen, membuatnya benar-benar bertindak kejam pada nona Khim.


Tak cukup hanya dengan membunuh nona Khim, namun Cullen menyiksanya terlebih dahulu, lalu membakarnya hidup-hidup. Seolah-olah kematian nona Khim akibat kebakaran hebat.


>>


“Perusahaan Penerbit xx”


Riuh suara para pekerja perusahaan penerbit, tempat Jaes saat ini bekerja.


“baguslah jika nona Khim sudah tiada, kantor ini akan terasa aman dari segala perbuatannya..—“


Yah, benar sekali.. aku pun tidak menyukai nona Khim.. ujar para pekerja, yang biasanya memberi pujian pada nona Khim.


“orang-orang ini sangat mengerikan, bahkan nona Khim yang selalu mereka sanjung, hanya semata-mata karena kedudukannya..” batin Jaes saat mendengar para pekerja yang sedang membicarakan nona Khim.


“Jasmeen, ke ruanganku..” titah bos Zeros yang kebetulan melewai Jaes.


“Ruangan bos Zeros”


“Silakan duduk…” ujar Zeros sambil melangkah menghampiri Jaes yang saat ini sedang duduk di sofa, bertempat di dalam ruangan Zeros.


Ada apa bos? apakah ada yang harus kita kerjakan? tanya Jaes polos.


“Jasmeen, tidakkah kau berpikir bahwa kematian nona Khim itu penuh misteri?”


Aku tidak tahu bos, bukankah itu karena kebakaran besar.. tukas Jaes sambil meraih segelas air untuk membasahi kerongkongannya.


“Apakah kau tidak merasa janggal..” Zeros menatap Jaes dalam.


Maksud bos? Jaes bingung dengan pernyataan Zeros.


“Kau ingat bukan, bagaimana tuan Cullen sangat murka saat nona Khim menindasmu?”


Itu..--- Jaes mulai berpikir keras dan mengingat-ingat kembali.


“Apakah itu perbuatan tuan Cullen..” batin Jaes, ia mulai menerka-nerka dari maksud pernyataan Zeros.


Maaf bos, aku tidak tahu akan hal itu..—Jaes tak ingin Zeros mengetahui segala kekejaman, dan kesadisan yang telah Cullen perbuat.


“Baiklah, terimakasih atas waktumu Jasmeen..”


Jaes pun pergi dari dalam ruangan kerja Zeros, si kelapa editor bagian penerbitan perusahaan tempat Jaes bekerja.


***


“Kediaman Jasmeen”


“Sebenarnya apa yang bos Zeros katakan, ada benarnya juga.. tetapi bos tidak boleh mengetahuinya..—“ batin Jaes.


“heii.. apa yang kupikirkan! mengapa aku menjadi ingin melindungi identitasnya..” gumam Jaes, sambil kembali berkutat dengan layar laptopnya. Seperti biasanya Jaes melanjutkan naskah novel miliknya.


Whusss whussstt… suara hembusan angin menerpa jendela kamarnya, dan terdengar bunyi gemuruh di atas langit.


“Hmm.. sepertinya akan segera turun hujan..” gumam Jaes, lalu menutup jendela kamarnya.


Arghh… teriak Jaes, ia terkejut saat ada yang mencengkram tangannya.


Bhukkk… Jaes terlempar ke atas kasur miliknya.

__ADS_1


“Kau kedinginan sayang..” ujar seorang pria yang telah membuatnya begitu terkejut. Tentu saja, itu Cullen, yang datang secara tiba-tiba.


Mengapa sangat suka mengerjaiku.. keluh Jaes sambil bangkit dari kasur miliknya. Namun, Cullen m***** *******, membuatnya tak dapat bergerak.


“Aku merindukanmu sayang..” Cullen langsung mengecup bibir Jaes, Jaes kali ini membalasnya.


Ahh.. “Sepertinya kecupanmu tidak terlalu buruk..” ujar Cullen tersenyum miring, dan mengecup lembut kening Jaes.


Jaes hanya tersipu, kali ini ia tidak mengumpat lagi seperti biasanya.


>>


“Ada apa di dalam sini?” ujar Cullen sambil membuka isi kulkas Jaes.


Hmm… Jaes melanjutkan naskahnya, dan tak menghiraukan si tuan jahilnya.


“apa yang kau tulis..” Cullen mendekap Jaes dari belakang, dan meletakkan dagunya di atas bahu Jaes.


Aku sedang bekerja, jangan mengganggu.. tukas Jaes, yang masih sibuk mengetik.


Hmm.. “kau bekerja dengan begitu keras, hal ini sangat membosankan.. lebih baik kita bermain dalam selimut saja..” Cullen langsung berbaring dan meletakkan kepalanya di atas ***** **** Jaes.



Tuan! aku tidak dapat mengetik, jika tuan seperti ini.. keluh Jaes, saat Cullen mengendus-endus ***** *****.


Hmm.. “aku sangat nyaman begini, kau lanjutkan saja.. atau aku akan menghajarmu..” gumam Cullen sambil me****** wajahnya pada tubuh Jaes.


Ciihh.. aku tidak bisa berkonsentrasi jika begini… ujar Jaes, lalu melepaskan laptopnya.


Arghkk… jerit Jaes, Cullen me**** pinggulnya dengan begitu gemas.


“cepat jujur, bahwa kau mencintaiku..” Cullen mencengkram kedua tangan Jaes, dan kini Cullen berada di ***** **** Jaes.


“Katakan sejujurnya, atau aku akan merobek pakaianmu seperti biasanya..” ujar Cullen sambil me****** daun telingan Jaes.


Aku tidak tahu… tukas Jaes tanpa ingin menatap wajah Cullen.


Tsk… “kucing kecilku sekarang sudah cukup jinak..” Cullen ********* wajahnya ke area ***** ***** Jaes.


Ahkk… desahan Jaes kini memenuhi telinga Cullen. Diiringi dengan tetasan air hujan, seakan menambah suasana indah malam itu.


“Jasmeen, apakah kau siap untuk..” bisik Cullen sambil me****** area **** ****** kepunyaan Jaes.


Arghhk.. lenguh Jaes, saat tangan nakal Cullen me**** ***** ***** *****kepunyaannya.


Jangan tuan… kita belum menikah.. melakukan hal begini pun sudah sangat salah, apalagi jika kita melakukan sek*… lirih Jaes, karena tangan Cullen masih berada di sana.


“Benarkah, salah.. lalu bukankah kau pun menikmati kesalahan ini…” Cullen menatap wajah Jaes yang tak karuan, akibat perbuatan nakal Cullen.


Ehmm.. ahk.. emm… Jaes menahan segala gejolak dalam dirinya. Ia sungguh sudah tak kuat lagi. Cullen sangat lihai membuatnya horni dengan begitu sempurna.


“Jadi kita harus menikah terlebih dahulu, baru kau mau memberikan ini..” tukas Cullen sambil menatap dalam kedua mata Jaes yang terlihat sayu akibat kegiatan malam mereka.


Aku tidak mengatakan kita harus menikah, bahkan aku tak mungkin menikah denganmu.. lirih Jaes sambil menangis, dan menutup wajahnya.


Kau seenaknya melecehkanku, bahkan selalu memaksaku.. dengan wanita kau semena-mena.. bagaimana mungkin aku menikah dengan pria sepertimu.. lirih Jaes.


Cullen bangkit, dan berbaring di samping Jaes. Jaes membalikkan diri, dan menangis di sana.


Kau pria jahat.. kejam.. hhh hhh… lirih Jaes, sambil mencengkram leher baju miliknya.


“Kita akan menikah…” tukas Cullen sambil meraih tubuh Jaes, dan mendekapnya.

__ADS_1


Aku tidak percaya.. kau menikahiku bahkan hanya untuk menikmati tubuhku.. lirih Jaes.


“Aku mencintaimu, sangat mencintaimu..” tukas Cullen sambil membelai lembut rambut Jaes.


Kau pendusta.. lirih Jaes, sambil memukul-mukul dada kokok milik Cullen.


“Apa kau mencintaiku..” Cullen menatap lekat kedua mata Jaes.


Akuu..--- ahkk..


“Katakan sejujurnya…” Cullen mendekap wajah Jaes dengan kedua telapak tangannya.


Aku tidak tahu tuan.. aku takut rasaku padamu, hanya karena kau terlalu sering menyentuhku dan membuatku memikirkanmu dengan rasa benci. Namun aku terkadang merindukanmu, dan aku tahu kau tak akan peduli dengan hal itu.. lirih Jaes, sambil mencengkram lengan berotot milik Cullen.


“Kita menikah..” tukas Cullen dengan wajah yang sangat serius.


Kau dengan mudahnya menyatakan pernikahan, jika memang benar kau ingin menikahiku, maka kau tidak akan seenaknya menyentuhku sesuka hatimu.. kau membingungkan… lirih Jaes, dengan tangisan yang semakin menjadi-jadi.



“Pernikahan hanya sebatas pengikat. Ayahku menikah dengan bunda, namun jarang berada di rumah, bahkan tidak tahu apa yang anak istrinya lakukan. Apakah itu yang kau maksud pernikahan!” Cullen mengepalkan kedua tangannya.


Sudah kuduga, seorang tuan Cullen tidak akan pernah menikahi seorang wanita, kau hanya…--


“Apakah kau mencoba mengujiku! kau bahkan tak mampu jujur dengan perasaanmu sendiri, namun terlalu banyak bicara!” Cullen terlihat marah dan mencengkram rahang Jaes.


Apa.. apakah kau akan membunuhku? bunuh aku, bunuh saja!! teriak Jaes dengan penuh tangisan pilunya.


“Dasar wanita yang tidak bisa dimengerti!” Cullen melepaskan cengkramannya, dan pergi dari kamar kediaman Jaes.


Hahhkk… lenguh Jaes sambil mencengkram bajunya.


“Sudah kuduga, aku hanya akan menjadi mainan pria itu..” lirih Jaes, dan menelusupkan diri ke dalam selimut.


***


“Mansion Kediaman Cullen”


Arghhkk… prang… prang…. teriak Cullen, dan menghancurkan guci-guci mahal yang terletak di area ruangan mansionnya.


Arhkk..


“Aku tidak mengerti apa yang wanita inginkan.. bahkan ibuku sendiri pun hanya gila dengan harta, bagaimana aku bisa belajar tentang perasaan wanita..” racau Cullen sambil menendangi lemari hias mewah dan membuat barang-barang classic miliknya hancur berantakan.


Tuan… maaf jika lancang, apakah nyonya Jasmeen yang membuat tuan begini… ujar salah seorang pelayannya yang berusia kisaran 40 empat puluhan tahun.


Cullen berbalik dan melanglah menuju pelayannya, sang pelayan hanya menunduk penuh dengan rasa takut.


“Nyonya kalian tidak berkata jujur bahwa dia mencintaiku, dan tidak mau melakukan sek* denganku, hanya karena kami belum menikah."


Tentu saja tuan, karena bagi wanita, pernikahan itu adalah hal yang sangat indah. Setelah menikah, barulah sek* dapat dilakukan dengan tepat..


“apakah nyonya kalian sangat menginginkan pernikahan itu..” Cullen mulai mendengarkan apa yang pelayannya katakan.


Iya tuan. Nyonya Jasmeen, adalah wanita yang baik. Tentu saja, nyonya tak ingin melakukannya tanpa pernikahan, dan juga rasa cinta tulus dan jujur tuanku…


“tetapi dia seakan tak ingin menikah denganku…” Cullen duduk bersandar di anak-anak tangga mansionnya.


Mungkin nyonya masih butuh waktu untuk belajar memahami tuan. Karena pernikahan, tidak semata-mata hanya karena sek*. Pernikahan harus dilaksanakan atas dasar saling cinta, dan keinginan untuk membina rumah tangga dengan tepat.. tukas sang pelayan menjelaskan.


“Apakah aku mampu memberinya kebahagiaan, bahkan dia pun selalu dipenuhi rasa takut setiap bersamaku, itulah yang dia katakan..” Cullen beranjak, dan pergi menuju kamarnya.


Pertengkaran mereka telah membuat Cullen mulai memahami apa yang seorang wanita inginkan...

__ADS_1


***


__ADS_2