Mr. Devil Season 2

Mr. Devil Season 2
Pengorbanan terakhir sang bunda


__ADS_3

“Mr. Devil – Season II”


Author by Natalie Ernison


Pertemuan yang tidak terduga antara Jasmeen dan Cullen. Sungguh waktu yang cukup lama bagi keduanya untuk dapat bertemu kembali. Melalui berbagai lika-liku kehidupan yang tidak mudah untuk dijalani. Tangis, tawa, air mata, bahagia, semua bercampur menjadi satu.


--------


Jasmeen masih tetap mendekap tubuh dingin Cullen. “Tuan… kumohon jangan tinggalkan aku lagi..” kata Jaes dengan lirih dan isak tangis yang tak mampu ia bendung lagi.


Jaes berusaha bangun, dan merogoh isi kantong celana milik Cullen. Mencoba menghubungi tuan Fhilip, sang ayahnda Cullen.


Dengan tangan yang gemetar dan kalimat yang terbata, Jaes mencoba melakukan panggilan pada tuan Fhilip.


“Hallo tuan.. tuan, ini aku Jasmeen..” isaknya dan berusaha untuk tetap tenang, sehingga dapat mengucapkan kalimat dengan baik.


Mr. Fhilip: “Yar Jasmeen. Ada apa? mengapa? bicaralah dengan tenang?”


Jaes: “Tuan.. tuan Cullen…” isak Jaes sungguh tak terbendung lagi, ia bahkan kesulitan mengucapkan setiap kalimat demi kalimat.


Mr. Fhilip: “Yah, bicaralah…”


Jaes: “Tuan Cullen baru bertemu denganku, dan tiba-tiba saja terjatuh. Tubuhnya sangat dingin tuan…” isak Jaes semakin pecah dan akhirnya turut terjatuh lemas dalam tangisan pilunya.


Jaes bersandar di samping Cullen. Ia membelai wajah Cullen yang semakin pucat dan dingin.


Setelah beberapa saat kemudian…


Bhuakk… bunyi bantingan pintu. Beberapa pria tiba bersama tuan Fhilip.


“Jasmeen, apa yang terjadi..” ujar tuan Fhilip sambil membantu Jaes untuk terbangun dari posisinya.


Jaes terus terisak. “Aku tidak tahu tuan, tuan Cullen jatuh secara tiba-tiba..” isaknya sambil menyeka air matanya.


“Baiklah. Kita bawa Cullen ke mansionku!” titah tuan Fhilip pada para pengawalnya. Mereka pun bergegas menuju mansion kediaman Kyleer family.


\*\*\*


“Mansion kediaman Kyleer family”


Tubuh Cullen dibaringkan di dalam sebuah peti mati, yang dikelilingi lilin-lilin merah menyala. Tepatnya di ruang bawah tanah khusus.


Jaes semakin heran dengan semua yang baru saja ia ketahui mengenai keluarga Kyleer. “Tuan. Mengapa tubuh tuan Cullen berada di dalam peti mati ini..” tanyanya bingung.


Tuan Fhilip tersenyum. “Ini adalah tradisi keluarga keturunan kegelapan. Kelak kau akan mengerti, setelah kau hidup bersamanya,” tukas tuan Fhilip sambil menggoreskan pisau pada pergelangan tangannya.


“Tuan! apa yang tuan lakukan?” Jaes sungguh tak mengerti dengan keluarga Kyleer. Mengapa harus melakukan hal yang begitu menyakitkan, ini sudah keterlaluan, pikirnya.


“Jasmeen!” panggil tuan Fhilip, menyadarkan Jaes dari lamunannya.


“Yah tuan!” jawab Jaes terkejut.


“Tinggalah bersama Cullen, hingga ia sadar kembali,” pinta tuan Fhilip dengan wajah sendunya.


“Tapi tuan, aku harus kembali besok siang. Anakku akan mencariku.” Jaes sebenarnya sangat ingin menuggu Cullen kembali sadar, namun ia tidak mungkin membiarkan Arseo kecil terus menantinya.


“Aku akan urus semuanya. Bagaimana pun juga, Arseo adalah cucuku, kau tenang saja.” Tukas tuan Fhilip, dan cukup membuat kelegaan bagi Jaes.


Sepanjang malam, Jaes terus berjaga. Rasa kantuk tentu saja datang menghampirinya, namun ia tetap ingin mendampingi Cullen hingga tersadar kembali. Namun sudah berhari-hari, Cullen masih belum membuka matanya, bahkan bergerak.


>>


Jaes sepanjang hari hingga malam terus bersama Cullen dengan setia.

__ADS_1


“Cullen!! Cullen!!” seru seorang wanita yang datang secara tiba-tiba. Suara teriakan itu cukup Jaes kenali.


“Nyonya Sonya!” ucap Jaes. Ada tatapan kebencian mendalam di sorot mata Jaes. Tentu saja ia sangat membenci bunda Sonya, karena telah membuat calon anak pertamanya mati secara mengenaskan.


“Jasmeen…” ucap bunda Sonya dengan wajah terkejut, juga sedang menangis pilu.


“Apa mau anda, tidakkah anda puas melihat tuan Cullen seperti ini!” tukas Jaes kesal.


“Jasmeen, ak-uu…” lirih nyonya Sonya.


“Diam! kau bahkan telah membuat bayiku mati! sekarang kau pasti senang telah menghancurkan segalanya, bukan! dasar pembunuh!!” jerit Jaes dengan penuh amarah.


“Ampun.. ampuni aku Jasmeen.. aku sangat jahat.. tolong..” isak bunda Sonya sambil tersungkur.


“Simpan kata ampunmu untuk kematian anakku!!” bentak Jaes, dan mendorong tubuh nyonya Sonya hingga terjatuh. Sementara para pelayan hanya tertunduk. Mereka tahu ini adalah permasalahan keluarga Kyleer, dan mereka tidak berhak turut campur.


Bunda Sonya pun berusaha bangkit. Ia kemudian meraih sebuah pisau pemotong buah yang tergeletak di atas meja. Melangkah menuju peti mati, tempat Cullen berbaring kini.


“Apa yang ingin kau lakukan..” Jaes menjerit, ia takut jika bunda Sonya akan bertindak jahat lagi.


Srakhh srakhh… bunda Sonya menyay*t urat nadinya hingga mengeluarkan darah segar.


Ahk… pekik bunda Sonya yang menahan rasa sakit pada pergelangan tangannya. Ia meneteskan darahnya ke dalam mulut Cullen. Menetes dan semakin menetes deras.


“Nyonya..” ucap Jaes terkejut. Ia sungguh tak menyangka bunda Sonya akan berbuat demikian.


Tiba-tiba saja… Arghkk.. ahkk hh hh hhh…. lenguh bunda Sonya sontak membuat semua pelayan, pengawal, juga Jaes membelalak.


Bunda Sonya tertunduk tersungkur di samping peti mati tempat Cullen kini terbaring. Lebih terkejut lagi, bunda Sonya menghujam sebuah belati tepat di area jantungnya.


“Nyonya!!” jerit Jaes. Bagaimana pun juga, Jaes masih punya hati nurani. Dendam, dan rasa bencinya tetap saja ada, namun ia pun bukan manusia yang tega meliaht orang lain menderita.


“Maafkan bunda, anakku… Jasmeen.. jagalah anakku…” lirih bunda Sonya.


Arghhkk ahkkk hhh hh… deru napas bunda Sonya kian tak menentu. Yah, bunda Sonya mengeluarkan secara paksa jantu*gnya sendiri. Lalu memasukkan ke dalam mulut Cullen. Karena cara itulah yang dapat membuat Cullen bangun kembali.


“Bunda!!” jerit tuan Fhilip yang keluar dari balik pintu.


“Bunda… ahkk…” jerit tuan Fhilip. Sementara para pekerja mansion hanya terdiam sendu. Mereka senang jika bunda Sonya yang kejam tiada lagi. Namun bukan berarti mereka senang jika bunda Sonya mati dengan cara tragis seperti ini.


Jaes tersungkur, tubuhnya kian melemah. “Nyonya… mengapa..” lirih Jaes.


“Terimakasih atas pengorbananmu bunda… pengorbananmu tidak akan terlupakan selamanya..” lirih tuan Fhilip sambil mendekap tubuh kaku sang istrinya. Walau bagaimana pun, bunda Sonyalah yang telah mengaruniakannya dua orang putra. Hingga akhirnya menghembuskan napas terakhirnya.


>>


Sementara jasad bunda Sonya segera di makamkan. Cullen pun terbangun kembali, namun Cullen sungguh berbeda dari dirinya yang biasa.


“Bunda.. di mana bunda..” lirihnya sambil mencari seperti orang yang kebingungan.


Cullen berlari menuju ruang utama, tempat jasad sang bunda kini berada di dalam sebuah peti mati.


“Bunda… ahkk…” jerit Cullen. Cullen sangat terpukul atas kepergian sang bunda. Terlebih lagi pengorbanan demi dirinya. Terlepas dari segala kejahatan yang telah sang bunda perbuat.


“Sekarang kutukan keluarga Kyleer telah terlepas. Kepergian Sonya merupakan pengorbanan mulia. Sonya harus menahan dirinya untuk terus membenci Cullen, karena


ia harus menanggung kutukan dari Fhilip, anakku..” ujar kakek Kyleer sambil menepuk bahu Cullen.


“Bunda, kau bahkan belum pernah memelukku..” ucap Cullen dengan lirih. Cullen sangat rindu dengan sosok seorang ibu. Karena sejak kecil ia hanya menerima segala siksaan dan kebencian dari sang bunda.


Semua kebencian itu pun karena kutukan keluarganya. Bagaimana Cullen tidak merasa begitu hancur.


Jasad bunda Sonya pun dihantarkan ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Di makam keluarga kegelapan.

__ADS_1


\*\*\*


Sementara di sisi lain…


“Kediaman Jasmeen”


Di kota A


“Yeahh.. aku suka semua ini bu… aku suka..” ucap Arseo kecil yang begitu kegirangan setelah menerima hadiah dari sang ibunya.


“Iya sayang. Maaf ibu terlambat..” ucap Jaes dengan berlinangan air mata. Karena ia harus meninggalkan Cullen dalam keadaan belum sadarkan diri.


Jaes bergegas pulang kembali ke kota A, karena ia mendengar bahwa Arseo demam tinggi dan terus menyebut namanya. Ia sangat cemas dengan keadaan Arseo, karena belum pernah sebelumnya Arseo seperti itu.


Arseo menyentuh wajah Jaes. “Ibu, mengapa menangis? apakah aku sudah nakal pada ibu?” tanya Arseo kecil.


Hmm… “tidak nak, ibu hanya takut jika terjadi sesuatu padamu. Kau harta satu-satunya yang ibu miliki..” lirih Jaes. Tangisannya kini semakin pecah saja.


Ia teringat akan Cullen, bagaimanakah keadaan Cullen saat ini. Apakah Cullen sudah sadarkan diri? itulah yang terus Jaes pikirkan.


\*\*\*


Seperti biasanya Jaes bekerja, dan waktu sudah menujukkan bahwa ia harus segera pergi menjemput Arseo kecil. Namun karena siang ini ada meeting, Jaes pun meminta bantuan salah seorang pegawainya.


Meraih ponsel miliknya dan melakukan panggilan pada salah seorang pegawainya yang telah ia tugaskan untuk menjemput Arseo.


“Hallo! apakah kau sudah menjemput Arseo?” ujar Jaes sambil menyelesaikan segala laporannya.


“Maaf nyonya, tapi Arseo sudah pulang bersama seorang supir..” jawab sang pegawainya.


Jaes melepaskan pena yang ada di tangannya. “Apa maksudmu! aku tidak meminta seorang supir atau apa pun itu!” tukas Jaes sambil memijat dahinya.


“Tapi nyonya, guru Arseo sudah memberitahuku, jika Arseo sudah pulang.”


“Apa! tidak mungkin!” Jaes pun mematikan ponsel miliknya. Ia bergegas melakukan panggilan pada tuan Austin.


Jaes: “Hallo! hall tuan!” ucap Jaes dengan wajah paniknya.


Austin: “Iya Jasmeen. Ada denganmu?”


Jaes: “apakah Arseo pulang bersama supirmu? karena pegawaiku memberitahuku, jika Arseo sudah pulang bersama seorang supir..” lirih Jaes yang semakin panic saja.


Austin: “Baiklah, tenanglah.. aku akan menjemputmu. Kita akan tanyakan lagi..”


“Arseo.. siapa yang membawamu.. apakah kaku Fhilip? tapi mengapa tidak menghubungiku terlebih dahulu jika ingin datang kemari..” ucap Jaes dengan lirih. Ia sangat cemas, dan begitu takut akan segala kemungkinan terjadi.


Beberapa saat kemudian…


Tuan Austin pun tiba di kediaman Jaes. “Jasmeen! ayo..” ujar tuan Austin lalu melaju menuju sekolah taman kanak-kanak, tempat Arseo bersekolah.


\*\*\*


“Maaf nyonya, tapi Arseo telah pulang bersama seseorang yang mengatakan adalah orang suruhan nyonya.” Ujar salah seorang guru.


“Tidak bu! aku tidak meminta siapa pun untuk menjemput anakku! tidak..” tukas Jaes yang semakin ketakutan.


"Jasmeen tenanglah..” ujar Austin mencoban menenangkan.


“Kau tidak akan tahu rasanya jika kau belum pernah memiliki anak!” bentak Jaes.


“Bu, bagaiaman ciri-ciri yang membawa Arseo?” ujar Austin yang berusaha menenangkan suasana.


“Mereka terlihat seperti orang-orang yang dipekerjakan di tempat yang tidak biasa.”

__ADS_1


“Tempat tidak biasa.. apa maksudmu bu!” sela Jaes. Jaes sangat kacau hari ini, terlalu banyak hal yang telah terjadi, dan sangat menyesakkan. Kini Arseo pun tidak tahu entah siapa yang membawanya.


\*\*\*


__ADS_2