Mr. Devil Season 2

Mr. Devil Season 2
Hanya seorang single parent


__ADS_3

“Mr. Devil – Season II”


Author by Natalie Ernison


Jasmeen sangat takut dengan semua kenyataan yang kini ia hadapi. Tentu saja rasa takut akan keamanan baby Arseo kecil. Terlebih lagi saat mengetahui bahwa Cullen lah ayah dari sang baby kecilnya. Rasa tak menentu kini memenuhi pikiran dan perasaan Jasmeen.


-------


“Kantor Mrs. Jasmeen Aime”


Jaes terlihat fokus dengan segala pekerjaannya, seakan tak dapat lagi diganggu oleh siapa pun.


“Permisi, nyonya!” ujar salah seorang editor tempat Jaes bekerja, tepatnya di kantor pribadinya.


Melepaskan sejenak kesibukannya, “ada apa?” jawab Jaes singkat.


“Besok malam akan ada pameran buku-buku karya fiksi, dan dari pihak EO (Event Organizer) meminta kesediaan nyonya untuk dapat bergabung.”


“Baiklah, silakan atur semua dengan baik. Karena aku harus menitipkan anakku pada tangan yang tepat,” tukas Jaes. Jaes memang sosok wanita yang cukup tegas, juga disiplin dalam pekerjaannya.


Sejak kuliah pun Jaes dikenal dengan sosok yang cukup tegas akan prinsipnya, namun itu sebelum Cullen mengusik kehidupannya.


>>


Berpenampilan rapi dan menarik. Tentu saja Jaes masih sangat menarik, juga cantik. Sekali pun sudah memiliki baby Arseo.


“Jasmeen, apakah kau sudah siap?” ujar tuan Austin yang tiba-tiba saja datang ke kediaman Jaes.


Hah.. “tuan Austin, sejak kapan tuan tiba?” Jaes langsung menghampiri Austin.


“Aku hanya rindu pada Arseo, dan kudengar kau akan menghadiri undangan,” Austin tersenyum manis pada Jaes.


Tsk.. “iya tuan, ini hanya sekedar undangan saja.”


“Baiklah, aku akan mengantarmu, setelah itu aku akan mengawasi baby Arseo,” ujar Austin lalu menghantarkan Jaes ke sebuah acara.


***


Mereka pun tiba di area pameran buku.


“Aku akan menjemputmu, hubungi saja aku,” ujar Austin, lalu segera pergi meninggalkan Jaes.


Jaes pun berjalan menuju tempat pameran buku, juga orang yang telah mengundangnya.


>>


“Selamat malam Mrs. Jasmeen, terimakasih telah bersedia datang,” ujar seorang pria sambil memberi salam pada Jaes.


Hah! “tuan!” ujar Jaes sambil membekap mulutnya sendiri.


Tsk… “kenapa nona Mrs. Jasmeen? apakah kedatanganku salah?” ujar si pria yang membuat Jaes terkejut dengan kehadirannya.


Ti-dak tuan.. ucap Jaes dengan tersipu.


“Selamat atas semua karya-karya nona yang telah meramaikan perpustakaanku,” ujar si pria dengan tersenyum menawan.


Terimakasih tuan Ezrai, terimakasih atas udangan tuan.. ujar Jaes pada tuan Ezrai.


“Mari nona,” ujar tuan Ezrai, lalu mengajak Jaes berkeliling di area pameran buku.


Selamat beberapa saat, Jaes begitu asyik dalam perbincangannya bersama tuan Ezrai, pria yang pernah sangat mencintainya beberapa tahun silam.


>>


“Apakah perlu aku mengantarkan nona pulang?” ujar tuan Ezrai penuh harap dan sepertinya masih menaruh harapan pada Jaes.


Tidak perlu tuan, aku akan pulang bersama rekanku. Jaes terlihat tak menyangka akan bertemu kembali dengan tuan Ezrai.


***


“Kantor Mrs. Jasmeen Aimee”


Tok tok tok…


“Permisi nyonya Jasmeen, ada paket untuk anda!” ujar salah seorang editornya.


Jaes memandang ke arah paket yang telah dikirimkan seseorang padanya. “Siapa yang mengirimkanku paket bunga?” gumam Jaes, lalu melihat kertas kecil yang bertuliskan asal di pengirim.


“Kuharap harimu penuh senyuma semangat dan tetaplah menjadi wanita hebat. Si tanpa nama.” Jaes mulai berpikir dan bertanya-tanya, siapa yang telah mengirimkannya paket bunga.


Jaes pun meletakkan paket bunga tadi, di atas meja yang berada di ruang kerjanya.


“Bunga yang indah” gumamnya, kemudian melanjutkan pekerjaannya.


Keesokan harinya…

__ADS_1


“Nyonya, ini ada paket bunga untuk nyonya,” ujar sang editornya.


Jaes mengernyitkan dahinya, “siapa lagi yang melakukan ini?” ujar Jaes heran.


Hari berikutnya dan seterusnya, Jaes terus mendapatkan kiriman bunga dari si “tanpa nama.”


>>


Ahkk… hhh… merenggangkan otot-otot tubuhnya, yang mulai terasa begitu lelah dengan segala pekerjaan yang ia lakukan setiap harinya.


“Arseo, tidakkah kau merindukan ibu..” ujar Jaes sambil bermain bersama baby Arseo.


Ketika rasa lelah mulai datang, tentu saja Jaes terkadang merasa hampir tak mampu menjalani hari-harinya. Namun dengan kehadiran baby Arseo, hari-hari Jaes kini jauh lebih semangat lagi.


Drrrttt… nomor baru memanggil…


“Siapa ini?” gumam Jaes, yang sedang memberikan asi pada baby Arseo.


“Hallo?”


“Hallo nona Jasmeen, apakah aku mengganggumu?’ ujar seseorang dari balik telepon selularnya. Suara yang cukup Jaes kenal.


“Tuan Ezrai!” ujar Jaes sambil tersenyum.


Hahha… suara tawa seseorang tersebut. “Nona Jasmeen benar, aku Ezrai.”


“Yah tuan, ada yang bisa dibantu?”


“Aku ingin mengajakmu bertemu besok malam, apakah nona ada waktu?”


Hmm.. sambil berpikir, “baiklah tuan, tuan datang saja ke rumah..—“ bip.


“Ada apa? tidak seperti biasanya?” gumam Jaes setelah menerima panggilan dari tuan Ezrai.


----------


Tiba saatnya, tuan Ezrai akan berkunjung ke kediaman Jaes.


Tit tit tit… bunyi klakson mobil di depan halaman rumah kediaman Jaes.


Jaes segera keluar, dan terlihat Ezrai sudah tiba dengan senyum merekah di wajahnya.


“Silakan masuk tuan!” ujar Jaes sambil menyuguhkan beberapa camilan.


Hmm… Jaes menggeleng tandanya ia berkata tidak. “Tidak sama sekali tuan, terimakasih telah berkunjung,” tukas Jaes sambil mengisi soft drink ke dalam gelas tuan Ezrai.


Disela perbincangan mereka, tiba-tiba saja baby Arseo menangis, karena terbangun dari tidurnya. Mendengar tangisan baby Arseo, Jaes pun bergegas menuju kamar baby Arseo.


“nona Jasmeen!” ujar Ezrai heran, dan turut mengikuti arah langkah Jaes.


Setibanya di depan pintu kamar yang dihiasi dengan gantungan-gantungan lucu. Ezrai tertegun saat melihat Jaes sedang menenangkan seorang bayi.


Ingin rasanya Ezrai membuka pintu dan ikut bergabung. Namun ia bahkan tak memiliki hal akan hal tersebut. Ia pun kembai duduk di sofa yang berada di ruang tamu. Jaes pun tak lama kemudian datang menghampirinya.


Huh.. “maaf tuan, anakku menangis kehausan,” ujar Jaes dengan wajah tersenyum santai.


Ahkk.. “iya nona Jasmeen, maaf jika kedatanganku mengganggumu..” Ezrai yang terlihat canggung.


“tidak tuan, maaf jika perbincangan kita terganggu.”


Hmm.. Ezrai tersenyum sendu pada Jaes. “Terimakasih atas semua jamuan makan malam ini,” ujar Ezrai, kemudian pergi pamit dari hadapan Jaes.


>>>


Ezrai terlihat masih sangat mengharapkan Jaes, namun setelah mengetahui kenyataan bahwa Jaes telah memiliki seorang putra, hal itu cukup membuatnya sangat terkejut. Wanita yang selalu ia nanti-nantikan kini telah memiliki seorang anak baby laki-laki.


Sejak saat itu, Ezrai tak lagi menemui Jaes. Ia pulang kembali ke kota A, dan bahkan tidak lagi memberi Jaes kabar tentang dirinya.


***


Beberapa tahun kemudian…


“Makanlah yang banyak, sehingga tubuhmu sehat dan cepat besar,” ujar Jaes pada seorang anak laki-laki tampan.


Hmm.. “Iya ibu, aku akan makan lebih banyakhhh lagihh…” ujar si tampan kecil, yang ialah Arseo kecil yang sudah berusia kisaran empat tahun.


Jaes mengusap-usap kepala Arseo kecil, “anak hebat..” puji Jaes pada anak semata wayangnya.


Seperti biasanya, Jaes mengantar Zrseo kecil untuk berangkat ke sekolah. Setelah mengantark ke sekolah, Jaes pun kembali melanjutkan segala tugas tanggung jawabnya sebagai seorang pekerja. Bekerja dan terus berjuang, demi menghidupi anak semata wayangnya.


>>


“Nyonya, ada surat khusus yang ditujukan pada nyonya, “ ujar seorang pekerjanya sambil menyodorkan sepucuk surat resmi.


Jaes pun membuka surat tersebut, dan mulai membacanya.

__ADS_1


“Apa? mengapa sangat mendadak?” gumam Jaes setelah selesai membaca isi surat. Setelahnya, Jaes meraih ganggang telepon kantor dan melakukan panggilan.


“Hallo, segera siapkan penerbangan ke kota B, besok! aku akan menitipkan Arseo di rumah kediaman kerabatku,” tukas Jaes, memberi perintah pada anggotanya untuk segera mengurus kepergian juga kepulangannya.


Isi surat yang Jaes terima, ialah tentang undangan resmi pada perusahaan penerbitnya, agar dapat hadir dalam jumpa pers di kota B.


>>


Segera Jaes mengemasi seluruh pakaiannya, dan juga menitipkan Arseo pada kerabat tuan Austin.


Drrttt… tuan Austin memanggil…


Jaes: “Hallo tuan?”


Austin: “aku akan menemanimu pergi ke kota B!”


Jaes: “Tidak perlu tuan, aku hanya pergi selama beberapa hari saja.”


Austin: “aku cukup cemas membiarkanmu pergi seorang diri, biarkan aku menemanimu.”


Jaes: “tuan! tuan tidak..—“ bip.


>>


“ibu! ibu kapan kembalii?” ujar Arseo sambil menggelayut pada sang ibunya.


“Secepatnya sayang, ibu akan membelikanmu mainan yang banyak. Tapi kau harus menurut pada oma dan juga opa.” Ujar Jaes sambil membelai wajah Arseo.


Yeahhh.. “Baik bu. Ibu harus bekelja dengan baik disana..” ujar Arseo kecil sambil membelai wajah cantik sang ibunya.



Sementara Jaes pergi untuk menghadiri undangan penting dari penerbit di kota B. Arseo kecil pun dititipkan di kediaman kerabat tuan Austin. Keluarga besar tuan Austin sangat menerima kehadiran Jaes, terlebih lagi Jaes adalah adik semata wayang tuan Timoty, tempat tuan Austin bekerja selama sekian tahun lamanya.


***


“Kota B”


Menarik napas perlahan, dan melangkah dengan penuh keyakinan.


Yah, hari ini Jaes kembali ke kota B. Kota tempat ia dibesarkannya, dalam artian kota sejuta kenangan baginya. Sejak masa-masa kuliah hingga bekerja, juga beberapa kenangan yang tidak biasa.


“Perusahaan penerbit xx”


“Bravo bravo…”


Prok prok prok… semua anggota rekan kerja Jaes memberikan apresiasi yang cukup baik atas kerja keras Jaes selama menjalankan kerjasama.


“Mrs. Jasmeen, anda sungguh luar biasa. Begitu banyak pencapaian yang telah anda dapatkan. Pasti tuan besar kami dari perusahaan ternama akan sangat tertarik dengan kerjasama kita.” Ujar salah seorang editor terkenal sambil menepuk bahu Jaes.



“Terimakasih banyak tuan, aku sangat terkesan,” ujar Jaes dengan tersenyum puas tentunya.


>>


“Mr. Sou!” seru Jaes memanggil sang editor terkenal tersebut.


Mr. Sou pun berbalik sambil tersenyum ramah. “Iya Mrs, Jasmeen! ada yang bisa dbantu?” ujar Mr, Sou.


“Maaf tuan, namun sepertinya malam ini aku tidak dapat turut serta dalam jamuan makan malam kita,” sesal Jaes.


“Ohh.. tidak masalah nona. Tentu saja, nona ada urusan mendesak, jika tidak dapat hadir, dan aku akan jelaskan pada tuan pemilik perusahaan yang akan bekerjasama dengan kita.”


“Baik tuan, terimakasih banyak..”


>>


Acara jamuan makan malam bersama…


Semua anggota perusahaan yang bergerak dalam bidang percetakan/ penerbit, terlihat begitu menikmati makan malam mereka. Kecuali bagi salah seorang pria yang sedang duduk di sofa, sisi ruang bersama.


“Maaf tuan, sepertinya Mrs. Jasmeen, sang editor terbaik kota X tidak dapat hadir dalam jamuan makan malam ini,” ujar Mr. Sou.


“Mrs. Jasmeen!” gumam seorang pria yang sedang duduk bersandar di sofa.


“Benar tuan. Mrs. Jasmeen Aimee memang sangat menawan, dan anggun..—“ belum selesai Mr. Sou berbicara, pria tersebut langsung bangkit dari sofa miliknya.


“Apa maksudmu mengucapkan nama itu! apakah kau sedang membual!” tukas si pria dengan tatapan dingin dan terlihat begitu tidak sabaran.


Mr. Sou pun merasa cukup terancam hanya dari tatapan matanya. “Maaf tuan, namun besok kita akan ada agenda pertemuan final, dan tuan akan..—“


“Cepat katakan di mana Mrs. Jasmeen sekarang!” potongnya, dan meraih krah leher baju Mr. Sou.


****

__ADS_1


__ADS_2