
Mr. Devil – Season II
Author by Natalie Ernison
Cullen akhirnya berhasil membawa Jaes pergi bersamanya, dan mereka pun benar-benar menikmati masa-masa bersama dengan penuh gairah cinta. Jasmeen pun memberikan dirinya secara penuh pada Cullen, si pria kejam nan penyayangnya.
Namun, pada malam saat Jasmeen menyerahkan kemurniannya (perawan) untuk pertama kalinya pada Cullen, ia harus mengalami hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Mereka bersetubuh dan Cullen benar-benar menggempurnya habis-habisan tanpa ampun lagi. Disaat itu juga, Jasmeen tak lagi memberi respon atas semua tindakan dari Cullen.
“Jasmeen…. Jasmeen…” lirih Cullen, sambil mendekap erat tubuh tak berbusana Jaes.
“Bangunlah sayang… kumohon jangan tinggalkan aku…” suara Cullen semakin lirih dan terdengar sangat pilu.
Jasmeen terlihat begitu pucat pasi, tubuhnya banyak terdapat bercak-bercak biru. Cullen menghentikan kegiatan panas mereka, ia mengistirahatkan tubuh lemah Jaes dengan hati-hati.
Setelah menunggu beberapa jam bahkan saat fajar mulai menyinsing, Jaes tak kunjung sadarkan diri. Bahkan tubuhnya terasa begitu dingin. Lebih parah lagi, Jaes terus-terusan pendarahan hebat. Cullen benar-benar bingung dengan keadaan yang kini menimpa Jaes.
“Apakah yang harus aku lakukan sekarang…” racau Cullen, dengan wajah yang semakin cemas saja. Yah, ia sangat cemas jika wanita kecilnya akan pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
>>
“Bruhk.. kita harus kembali ke mansion..” titah Cullen pada sang pengawalnya.
Baik tuan Cullen, aku akan menyiapkan segala-galanya yang akan kita butuhkan.
“Tidak perlu! Segera bawa kami pergi dari sini!!” bentak Cullen dengan begitu emosi.
Baaaba baik tuan… jawab sang pengawal dengan tubuh gemetar. Ia sangat paham bagaimana temperamen sang tuannya, sehingga segala sesuatu harus ia lakukan dengan segera.
Setelah beberapa saat kemudian, beberapa pengawalnya pun menyelesaikan segala yang telah tuan perintahkan pada mereka. Mereka kembali ke mansion kediaman Cullen. Sepanjang perjalanan, Cullen begitu cemas tak karuan lagi.
***
“Mansion Kediaman Cullen”
“Siapkan segalanya!” titah mutlah Cullen. Para pengawal mau pun pelayan pun segera menuruti apa yang telah Cullen katakan.
Cullen membawa tubuh tak berbusana Jaes menuju ruang bawah tanah miliknya. Segala ritual sudah disiapkan dengan begitu rapi, sesuai dengan permintaan sang tuan mereka.
Tubuh Jaes dibaringkan di atas kasur berwarna serba gelap, juga design kamar yang serba gelap.
Tuan, apa yang akan kita perbuat dengan tubuh nyonya? Ujar salah seorang pengawalnya.
“Kalian silakan pergi dari ruangan ini. Siapa saja yang ingin masuk kemari, jangan biarkan mereka masuk kemari. Tidak seorang pun boleh masuk kemari!” titah Cullen.
Baik tuan. Kami akan melaksanakan sesuai keinginan tuan. Para pekerja mansion pun sesegera mungkin melaksanakan apa yang telah Cullen titahkan pada mereka.
>>
Sruaakkhhh…. Cullen menya*t pergelangan tangannya sendiri, dan meneteskan darahnya pada mulut Jaes yang sedang tak sadarkan diri.
Arghkkk haarrkkk ahhkkk… lenguh Cullen, saat tetesan darah dari pergelangan tangannya mulai menyucur dengan begitu derasnya.
Sakit yang ia rasakan pun tak sebanding dengan rasa sakit saat Jaes tak sadarkan diri, juga tak dapat membuka matanya kembali.
***
Sementara disisi lainnya…
Haakkk argghhkk…
“Mengapa dadaku begitu sesak dan terasa sangat sakit..” ringis Timoty.
Ia kini merasakan sakit yang sangat teramat di dadanya. Hal itu ia rasakan, saat Jaes pun sedang terbaring lemah tak berdaya bahkan tak bergerak sedikit pun.
“Kita akan pergi mengunjungi adikku..” ujar Timoty sambil menahan rasa sesak temat di dadanya.
Baik tuan muda.. apakah malam ini kita akan berburu? Ujar slaah seorang asisten pribadinya.
“Yah. Sepertinya pirasatku tidak pernah salah dalam hal ini..” tukas Timoty sambil mengemasi semua barang-barangnya.
Mereka pun bergegas pergi menuju kediaman Jasmeen, adik semata wayang Timoty.
***
“Kediaman Jasmeen”
Tuan Timoty, mengapa kediaman nona Jasmeen terlihat seperti tak berpenghuni! Ujar sang asistennya, sambil memandangi gedung tua tempat Jaes tinggal.
“Mungkin adikku sudah beristirahat di dalam sana..” tukas Timoty sambil melangkah menuju arah kamar kediaman Jasmeen.
__ADS_1
Namun sesaat sampai di depan pintu kamar kediaman Jaes, sang adik semata wayangnya. Timoty merasa ada aura yang begitu kuat dari dalam kamar Jasmeen.
“Jasmeen!” Timoty mendorong pintu dengan tenaga dalam. Akhirnya pintu pun terbuka dengan cara paksa.
“Jasmeen! Jasmeen!” teriak Timoty terus memanggil nama Jasmeen.
“Kemana kau adikku..” lirih Timoty, dan kembali mere*as bagian dadanya yang terasa begitu menyesakkannya.
Di atas kasur Jaes terdapat sepucuk surat yang bertuliskan…
“Kakak, jika kakak kemari, jangan mencemaskanku. Karena aku sedang pergi berlibur sejenak..” Jasmeen.
Ohh ternyata, nona muda pun sedang pergi berlibur tuan. Tukas sang asistennya.
“Iya benar, aku hampir lupa jika adik kecilkusudah beranjak dewasa dan tak mungkin dapat kukendalikan lagi..” gumam Timoty dengan tersenyum sendu. Dibalik senyumannya, tersirat sebuah pertanyaan mengenai keberasaan Jasmeen.
Ya tuan, mungkin saja nona muda sedang berlibur bersama kekasihnya.
“Kekasih..” sejenak Timoty mulai membuka pikirannya akam apa yang telah sang asistennya katakana padanya.
Benar tuan.. mungkin nona muda sedang menikmati liburannya yang begitu membahagiakan.. tukas sang asisten sambil menepuk pundak Timoty.
“Bahkan aku pun tak menyadari hal sepenting itu..” gumam Timoty dengan wajah yang terlihat sendu.
***
“Mansion Kediaman Cullen”
"Sialan!!!" umpat Cullen sambil meninju tembok area ruangan bawah tanah, tempat Jaes kini terbaring lemah.
"Mengapa aku terlalu gegabah menghajarmu hingga seperti ini.." racau Cullen sambil menjambak-jambak rambutnya.
Cullen benar-benar membuat Jaes kewalahan. Gempurannya begitu kasar dan ia tak mampu menahan hasrat birahinya yang selama ini ia tahan sekian lama.
Jaes menggunakan alat bantu pernapasan/oksigen, bahkan infuse telah sedari beberapa hari yang lalu melekat pada tubuhnya.
Akhirnya Cullen pun mendatangkan seorang dokter, yang merupakan rekannya sendiri untuk membantu menangani Jaes.
Selama proses perawatan dan lainnya, Cullen terus saja mengawasi sang dokter. Ia bahkan tak ingin jika sang dokter dengan sembarangan menyentuh tubuh Jaes.
>>
"Apa yang terjadi padanya?" ujar Cullen sambil menghadang sang dokter.
"Sebenarnya apa hh?" sela Cullen dengan sorot mata yang begitu tajam.
"Sebaiknya nyonya jangan dulu di setubuhi, karena luka pada area ****** membuatnya begitu kesakitan tuan.." tukas sang dokter dengan terbata-bata. Karena hal tersebut cukup canggung untuk diungkapkan.
"Apakah dia terlalu lelah?"
"Yah tuan, sepertinya ini pertama kalinya istri tuan berhubungan intim, dan ia sangat terkejut. Terlebih lagi, sepertinya tenaga tuan luar biasa.. hmm.." tukas sang dokter dengan wajah yang cukup canggung.
"Ohh hanya itu? aku pun seorang dokter, jadi jangan main-main denganku!" peringat Cullen.
Tidak tuan, aku bersungguh-sungguh.
"Pergilah, aku sudah cukup mendengarkannya!"
Sang dokter pun keluar meninggalkan kamar pribadi Cullen. Karena Jasmeen kini berada satu kamar bersama dengan Cullen.
----------
Ahkk... lenguh Jaes sambil susah payah ia bangkit dari pembaringannya.
"Nyonya, kami akan melaporkan pada tuan, jika nyonya sudah sadar kembali" ujar para pelayan dengan penuh antusias mereka.
"Keterlaluan! tubuhnu benar-benar terasa begitu sakit!!" batin Jaes.
Seluruh tubuhnya benar-benar terasa pegal, akibat gempuran Cullen yang sangat brutal.
"Akhh... sakit.. sangat sakit..." keluh Jaes. Ia bahkan kesulitan buang air kecil, akibat rasa sakit yang Cullen perbuat.
"Sayang...." suara Cullen memanggil Jaes, terdengar begitu mesra.
"pria itu lagi" gumam Jaes sambil membenarkan cara jalannya.
Hap...
"Kau sudah sehat sayang.. ayo bermain lagi..." ujar Cullen sambil mendekap Jaes erat, dan mengecup tengkuk leher Jaes.
Kau keterlaluan tuan, aku sangat sakit... keluh Jaes.
__ADS_1
"Kau sangat memuaskanku sayang..." Cullen langsung mencumbu Jaes.
Arghkk... lenguh Jaes, tubuhnya masih sangat lelah dan pegal.
"Masih sakit sayang..." ujar Cullen sambil menyentuh ********* Jaes.
Jangan tuan.. aku masih sakit...
"Baiklah sayang... cepatlah pulih, dan kkta akan bermain..--"
Tuan!! tidakkah tuan lihat bagaimana keadaanku saat ini!! bentak Jaes. Kali ini Jaes benar-benar kesal pada Cullen yang masih saja ingin menjahilinya.
"Sayang..." Cullen langsung mendekap erat tubuh Jaes dan mulai menjelajahi area sensitiv Jaes lagi dan lagi.
"Pria ini benar-benar iblis keji" umpat Jaes kesal.
"Kau harus makan, sehingga tubuhmu sehat.." Cullen sangat lembut pada Jaes, bahkan membantu Jaes menyelesaikan makanannya.
Tuan, aku ingin pulang..
Sehhhtttt....
"ingat! kau milikku... jangan banyak bicara yang lain. Mulai hari ini kau bekerja denganku secara pribadi menjadi pengurus cabang perusahaan.
Aku.. jadi...--
"Iya sayang, kau akan tinggal di mansion sebelah, jika kau tak suka tinggal denganku..."
Mengapa tuan?
"mengapa? karena kau milikku"
Aku bukan milik tuan, aku bukan barang!!
"Jasmeen! aku adalah pria pertama dan satu-satunya yang telah menyentuhmu, tentu saja aku akan bertanggung jawab atas hidupmu" tukas Cullen meyakini Jaes.
Tuan, aku ingin bertemu dengan kakakku... lirih Jaes.
"Baiklah, tapi nanti..."
"Kau akan menjadi ibu, jadi berhentilah bertingkah seperti anak-anak"
Siapa yang akan menjadi ibu siapa??
"Kau sayang... malam itu kau sangat hebat..." seringai senyuman sensual Cullen membuat Jaes bergidik, tiba-tiba saja adegan panas mereka teringat padanya.
Hentikan tuan... keluh Jaes.
"Iya sayang..." Cullen hanya terkekeh melihat ekspresi Jaes.
>>>
Tuan, di depan ada yang mulia tuan Fhilip beserta nyonya Sonya..
"Mereka lagi!!" Cullen terlihat tak senang dengan kedatangan kedua orang tuanya.
Cullen pun datang pada kedua orang tuanya.
"apa yang ayahnda inginkan?"
"Cullen, kau mengapa berkata demikian. Kami hanya ingin menjenguk wanita itu.."
"Tidak! tidak ada yang boleh mengambilnya dariku!!"
Kami tidak berniat mengambilnya Cullen.. kami..--
"Pergi kalian! jangan ganggu kami!!"
Apakah wanita itu masih belum mati? tukas bunda Sonya dengan angkuh seperti biasanya.
"Pergilah nyonya Sonya"
Kau masih keras kepala Cullen!! seperti biasanya bunda Sonya selalu saja membuat Cullen kesal.
"Cullen apakah kau sudah menyetubuhi wanita itu?"
"apa urusannya dengan ayahnda! dia wanitaku, itu hakku!!" peringat Cullen.
Tuan tuan!!! nyonya Jasmeen!! ujar sang pelayannya.
"Bicaralah dasar pelayan bodoh!!" Cullen membanting nampan yang kini dibawa sang pelayan.
__ADS_1
Nyonya Jasmeen.... ujar sang pelayan dengan terbata-bata.