Mr. Devil Season 2

Mr. Devil Season 2
Sesuatu yang misterius


__ADS_3

“Mr. Devil – Season II”


Author by Natalie Ernison


Jasmeen menangis dengan pilu, tepat dihadapan Zeros. Jasmeen sangat terluka dengan berita pernikahan Cullen bersama wanitanya. Sebisa mungkin Jasmeen berupaya menutupi luka hatiny, namun ia tetap tak sanggup.


Sementara Zeros hanya bisa menepuk bahunya pelan, karena Zeros pun menyadari akan posisinya saat ini.


“Jasmeen, ikut aku..” Zeros meraih tangan Jaes, menuntunnya menuju parkiran mobil.


Jaes menyeka air matanya, “kita kemana bos?” ujar Jaes yang terlihat begitu sembab.


“ikut saja..” Zeros enggan untuk menjawab pertanyaan Jaes. Ia membawa Jaes bersamanya ke suatu tempat.


***


Sepanjang perjalanan Jaes hanya bersandar di kursi mobil, dan memejamkan kedua matanya sejenak, hanya untuk mengatur napasnya.


Zeros menghentikan mobil miliknya, tepat di area pantai.


Jaes memandangi sekelilingnya, “pantai..” gumam Jaes sambil memandang area tempat yang sedang mereka kunjungi.


“Teriaklah, jika itu membuatmu lebih baik. Tidak aka nada yang mempedulikannya, karena aku sering kemari..” ujar Zeros menyarankan.


Jaes pun melepaskan alas kakinya, menggulung celana jeans panjang miliknya. Berjalan ke area ombak-ombak kecil.


Arggkkkk….. Jaes berteriak nyaring menghadap arah pantai. Suara teriakannya pun bersamaan dengan ombak yang menyapu bibir pantai.


Argghhkk hh ahkkk… teriakannya kini berubah menjadi tangis lagi.


Jaes melentangkan kedua tangannya, memejamkan kedua matanya, dan mencoba untuk tetap tenang sejanak.


“Tuhan, jika boleh.. hari ini juga ambil saja nyawaku..” lirih batin Jaes.


Byurrhhh… Jaes meringankan tubuhnya, dan menumbangkan diri ke dalam air juga tombak yang sedang menyapu keras.


Seketika itu juga tubuh Jaes sudah menyatu dengan ombak pantai, dan tak terlihat lagi.


“Jasmeen!! Jasmeen!! Jasmeennn!!” jerit histeris Zeros. Ia melihat Jaes terjatuh ke dalam air, dan berpikir hanya ingin mandi. Namun, beberapa menit setelahnya, Jaes tak kunjung muncul.


Zeros berlari, dan berusaha mencari keberadaan Jaes. Namun tak juga ia temui.


“Tolong kembalilah Jasmeen… Jasmeen!! arghkkkkk siall!!” jerit Zeros. Semua bala bantuan, bahkan penjaga pantai pun sudah dikerahkan. Tetap saja tubuh Jaes tak dapat ditemukan.


>>


Setelah beberapa saat kemudian…


Zeros masih saja mencari keberadaan Jaes, ia sangat terpukul dan cemas luar biasa.


“Tuan.. kami tidak menemukan keberadaan nona Jasmeen!” tukas para bala bantuan sambil terengah, setelah menyelam.


“Bagaimana mungkin Jasmeen menghilang begitu saja, apakah kalian sudah mencari dengan benar!!” bentak Zeros. Baru kali ini Zeros terlihat sangat emosi tak tertahankan.


“Tuan! tuan! jangan  tuan!!” cegat para bala bantuan, saat Zeros berupaya untuk menyelam tanpa peralatan pengaman.


“Bodoh.. bodoh.. mengapa bisa aku membiarkan wanita yang sedang patah hati bermain di pantai..” sesal Zeros, ia sungguh tak menyangka jika hal ini akan menimpa Jaes.


***


“Mansion Kediaman Cullen”


“Tuan! aku dan beberapa pengawal lainnya tak sengaja bertemu dengan tuan Zeros saat bersama nyonya Jasmeen, lalu..—“


Belum selesai sang pengawalnya bicara, Cullen langsung meraih krah leher baju si pelayan.


“Cepat bicara secara lengkap, atau aku akan menghantam kepalamu di tembok!” peringat Cullen dengan sorot matanya yang begitu tajam, tatkala mendengar nama Jasmeen bersama seorang pria yang ia kenal.


“Saat itu nyonya dan tuan Zeros pergi ke pantai, kami pun berinisiatif untuk mengikutinya. Hal yang tak terduga pun terjadi tuan. Nyonya menjatuhkan dirinya ke sapuan ombak..”


Cullen melepaskan cengkramanya, “apa!!” bentaknya dengan mata membelalak tak percaya, dan terlihat sedikit kalang kabut.


Tuan! tapi kami diam-diam secara cepat membawa tubuh nyonya ke kediaman yang aman.. sang pengawal menunduk ketakutan, karena Cullen terlihat begitu marah.


“Aku bahkan sudah tak dapat melacak keberadaannya. Sepertinya dia sangat membenciku, sehingga kontak batin kami terputus.”

__ADS_1


Cullen memandang ke  arah para pengawalnya, “bawa aku ke tempat Jasmeen sekarang juga..” titah mutlak Cullen.


Tak butuh waktu lama, mereka pun segera menuju tempat, dimana Jaes kini di rawat.


***


Mereka pun tiba di sebuah penginapan sederhana tak jauh dari pantai tempat Zeros membawa Jaes.


“Siapa yang merawatnya selama ini!” tukas Cullen secara tiba-tiba.


"Seorang perawat, tuan.." jawab sang pengawal dengan gugup. Cullen pun berbalik,d an terlihat sangat tak sabar ingin bertemu dengan Jaes.


Cullen pun tiba di dalam sebuah ruangan, dan di sana sudah ada Jaes yang sedang terbaring lemah.


Ia menatap lekat tubuh Jaes yang sedang terabaring lemah tak berdaya. Melihat sang tuan mereka sedang memandangi nyonya kesayangan mereka, para pengawal tersebut pun undur diri dari hadapan Cullen.


>>


“kucing kecil yang bodoh.. bagaimana bisa kau meragukan cintaku padamu, bahkan kau hanya diam saja melihatku bersama wanita lain..” ujar Cullen sambil mendekati tubuh Jaes.


Membelai wajah Jaes secara perlahan, namun rasanya sangat kurang jika hanya sekedar membelai wajah. Ia pun menyingkapkan selimut yang kini menutupi tubuh Jaes.


Ternyata Cullen tidak pernah berubah, namun selama ini ia hanya… (stay terus, nanti aka nada penjelasan.. J)


Ahkk.. pekik Jaes, saat dirasanya ada sesuatu yang menind**nya.


Ia perlahan membuka matanya yang terlihat sayu, dan suhu tubuhnya pun masih cukup hangat.


“Kau benar-benar membuat kesabaranku habis..” Cullen membangunkan tubuh Jaes san mendekap tubuh Jaes.


Ahkk.. “jangan.. jangan lukai aku..” lirih Jaes, ia bahkan susah payah membuka matanya.


Cullen mulai memandangi Jaes dengan penuh gairah. Ia pun langsung menyambar bibir kering Jaes.


“apakah selama aku tidak bersamamu, kau begitu menderita..” gumam Cullen, seraya mencumbu tubuh lemah Jaes.


“ahkk apakah ini mimpi.. yah sepertinya ini hanya mimpi saja..” lirih batin Jaes. Ia mengira ia sedang di alam mimpi dan bertemu dengan sosok Cullen. Bahkan walau hanya sebatas di alam mimpi saja Jaes sudah sangat senang namun bercampurrasa kesal pula, sehingga ia mencengkram bahu Cullen erat.


Cullen langsung mengoyakkan seluruh pakaian yang Jaes kenakan, hingga tak menyisakan sehelai kain pun.


“Di mana bayi kita? bukankah kau sempat mengandung anak kita..” ujar Cullen sambil terus menggerayangi tubuh Jaes.


“Terjatuh ke bawah tebing..” Cullen menautkan kedua alisnya, dan terlihat begitu marah.


Tangannya gemetar hebat, rahangnya mengeras menahan amarah.


“Ku pastikan akan membunuh siapa saja  telah mengganggumu..” ujar Cullen, lalu melepaskan seluruh pakaiannya.


Ia benar-benar ingin menggempur Jaes, sudah lama rasanya ia tak menggempur wanita kecilnya ini.


Ahhkkk… hhh hh… jerit Jaes, saat Cullen mulai menyatukan kedua tubuh mereka.


“ini untuk keberanianmu menggoda Carl, hanya untuk membalas dendam yang tidak ada artinya..” racau Cullen sambil terus *****.


Ahhkk… jerit Jaes, ia sangat kesakitan dengan segala tindakan Cullen malam  ini. Namun ia masih belum membuka mata sepenuhnya, dan mungkin saja ia beranggapan bahwa semua hanyalah mimpi.


“kau milikku…” racau Cullen lagi, dan lagi-lagi ia membuat Jaes menjerit hebat.


>>


Sudah berjam-jam lamanya Cullen bercinta dengan Jaes. Pagi pun datang, Cullen benar-benar menggempur Jaes hingga pagi. Bahkan dalam keadaan Jaes yang sedang sakit, masih saja Cullen terus menggempurnya.


Akhirnya Cullen menghentikan kegiatannya, ia menyelimuti kembali tubuh Jaes, dan mengenakan piyam tidur, seakan-akan pakaian Jaes diganti oleh para perawat.


Cullen keluar dari dalam kamar tempat Jaes kini terbaring.


“Tuan, bagaimana dengan nyonya…” ujar sang penagwalnya.


“Biarkan seperti ini dulu, jangan katakan padanya perihal kedatanganku dan segalanya..” tegas Cullen.


“Baik tuan, kami akan meminta seseorang untuk menghubungi tuan Zeros, karena tuan Zeros pasti sangat cemas.—“


“Yah, tetap awasi mereka, jangan sampai wanitaku tergoda dengan pria hidung belang..”


Ia pun bergegas pergi meninggalkan Jaes di penginapan tersebut.

__ADS_1


>>


Setelah beberap saat kemudian..


“Apa benar di sini ada wanita yang bernama nona Jasmeen!” tukas Zeros yang tiba-tibad datang dengan tergesa-gesa.


“Ia, benar tuan..—“ sang pelayan penginapan yang memang sudah di settings sejak awal pun menuntun Zeros untuk menemui Jaes.


“Jasmeen!!” Zeros bergegas menemui Jaes.


Bos.. mengapa bos? ujar Jaes santai.


“Mengapa bagaimana? kau tiba-tiba menghilang.. aku sangat cemas..—“ Zeros pun menghentikan kalimatnya, dan bersikap biasa.


“Lain kali jangan bermain air berlebihan..” ujar Zeros.


Baik bos.. terimakasih..


***


“Kediaman Jasmeen”


Ahkk hhh.. Jaes melenguh sambil menyentuh area sensitive miliknya.


“Mengapa rasanya mimpi itu begitu nyata.. dan mengapa di sana sangat sakit sekali..” gumam Jaes. Ia merasa


tubuhnya seperti habis dipukuli, dan juga area selangk**gnya terasa perih dan nyeri.


“apa  yang terjadi padaku..” Jaes heran dengan tubuhnya.


Namun ia tetap yakin bahwa semua itu hanyalah mimpi saja.


***


“Perusahaan Penerbit xx”


Lagi-lagi Jaes harus melewati sekumpulan para pegawai yang suka bergosip di kantor.


“Hei Jasmeen!” tukas salah seorang rekan kerjanya.


"Iya.. ada apa nona?" jawab Jaes sambil menoleh ke  arah para sekumpulan orang-orang tadi.


“Mengapa kau tidak pernah berniat untuk bergaul dengan kami! apakah kau sangat intovet!” tukas seorang rekan wanitanya.


“Ahh, sungguh tidak nona.. aku hanya terlalu fokus dengan pekerjaanku..” kilah Jaes mencari-cari alasan, karena memang ia tidak suka bergaul dengan sekumpulan penggosip perusahaan.


>>


“Permisi nona Jasmeen, ada paket untuk anda..” ujar salah seorang office boy.


Seikat bunga dan juga boneka hiasan meja.


Namun dalam paket tersebut tidak disebutkan pengirimnya.


Setiap harinya Jaes selalu mendapatkan seikat bunga mawar merah.  Ia pun mulai bertanya-tanya, siapa yang telah mengiriminya.


***


"Kediaman Jasmeen"


Jaes sangat kelelahan, ia ingin segera tidur pulas dan tak lagi melanjutkan naskahnya. Ia pun mulai berbaring, menarik selimut, menyalakan kipas angin (Jaes masih belum mampu membeli AC :D ).


Hahh... rasanya sangat nyaman, bisa berbaring lagi.


Baru saja Jaes memejamkan kedua matanya, dan menyatu dengan  dunia tidurnya. Tiba-tiba saja ada sesuatu yang sedang menggerayangi tubuhnya, bahkan area sensitifnya.


Ahkk... pekik Jaes, saat ada sesuatu yang benar-benar bergerak menggerayangi area sensitifnya.


Sial, Jaes mendesah tak karuan, bahkan dalam kantuknya yang luar biasa.


Ah sudahlah... Jaes tak mampu lagi membuka matanya. Namun selimutnya kini sudah tak lagi berada menutupi tubuhnya.


Ahkk.. pekik Jaes lagi. Ada yang menind** tubuhnya. Ini berat, sangat berat.


"Apa ini, mengapa tubuhku terasa kram," gumam Jaes.

__ADS_1


Ahkk... teriak Jaes hingga akhirnya....


****


__ADS_2