Mr. Devil Season 2

Mr. Devil Season 2
Cinta yang membawa derita


__ADS_3

“Mr. Devil – Season II”


Author by Natalie Ernison


Timoty begitu marah saat mengetahui hubungan Jasmeen bersama Cullen. Namun bukan hubungan itu yang menjadi permasalahannya, melainkan karena Jasmeen diam-diam menjalin hubungannya bersama pria keturunan mahkluk kegelapan. Timoty sangat membenci para mahkluk kegelapan, sehingga ia begitu geram saat baru mengetahuinya.


Hahh hh… Jaes terus melenguh dengan segala rasa sakit yang kini ia alami, terlebih lagi pendarahan yang ia alami tak henti-hentinya.


Tok tok tok…


“Nona Jasmeen… makan siang sudah siap..” ujar salah seorang pelayan wanita yang mengurus Jaes.


“Nona.. nona..” sang pelayan terus memanggil Jaes, namun tak ada sedikit pun suara menjawab panggilan sang pelayan. Akhirnya sang pelayan inisiatif untuk mendobrak pintu kamar kediaman Jaes.


“Nona!!” jerit histeris sang pelayan, saat melihat darah sudah bersimbah di area lantai bahkan dress tidur yang sedang Jaes kenakan.


“Ya Tuhan, nona…” rintih sang pelayan. Dengan gemetar sang pelayan meraih tubuh lemah Jaes. Perlahan meraih ganggang telepon, dan mencoba untuk menghubungi Timoty.


“Hallo tuan.. nona muda pendarahan tuan… tolong tuuan…” lirih sang pelayan dengan tubuh gemetar.


>>


Timoty pun segera pulang kembali untuk melihat juga merawat keadaan Jaes. Timoty yang ialah seorang dokter, maka dengan sigap ia segera memberi pertolongan.


Hah.. menghela napas panjang.


“Apa yang terjadi padamu…?” gumam Timoty sambil memandangi tubuh Jaes yang kini dipenuhi peralatan medis.


Tuan! tuan! panggil sang pelayan.


“Hei, tenanglah. Bicaralah perlahan..” jawab Timoty mencoba menenangkan sang pelayan.


Tuan, di depan gerbang ada banyak orang-orang berpakaian rapi serba hitam tuan.. ujar sang pelayan dengan terbata-bata dan gemetar.


“Sialan! pasti mereka..” umpat Timoty, lalu keluar menuju gerbang utama kediamannya.


Setibanya di depan gerbang, sudah terlihat begitu banyak para pria berpakaian rapi serba hitam menghadang di depan gerbang.


“Para mahkluk terkutuk sialan!” umpat Timoty sambil melangkah menuju gerbang kediamannya.


----------


“Hanya ini kemampuanmu! hanya bisa menyembunyikan hahh?” tukas Cullen yang muncul dari balik kerumunan pria-pria berpakaian rapi serba hitam.


Hahaha…


Kau sangat berani datang kemari, apa urusanmu! tukas Timoty dengan nada mengejek.


“Kau sangat sialan! aku tahu wanitaku ada di dalam..”


Kau diam!! bentak Timoty kesal.


Kau tidak berhak menyebut adikku sebagai wanitamu. Kau tidak pantas untuknya! tegas Timoty dengan penuh kemarahan.


“Lalu, jika dia akan mengandung anakku, apakah kau juga akan memusnahkannya?” tukas Cullen dengan sorot mata semerah darah.

__ADS_1


Bajing*n! apa yang telah kau lakukan pada adikku iblis!! umpat Timoty kesal.


Hahha…


“sudah kukatakan bukan, jika Jasmeen sepenuhnya milikku..” tegas Cullen kesal.


Mendengar pernyataan dari Cullen, Timoty semakin geram.


Tutup mulutmu! jangan bicara hal omong kosong lagi! tukas Timoty yang semakin kesal saja.


Hahaha… tertawa lepas.


“Yah, aku sungguh-sungguh. Jasmeen adalah wanitaku, tak ada yang dapat memisahkan kami. Atau siapa pun akan mati!” peringat Cullen dan membuat Timoty semakin terbakar amarah.


Kau iblis terkutuk! menjauh dari keluargaku! peringat Timoty.


Dor dor dor… suara tembakan dari peluru perak milik Timoty. Beberapa pengawalnya terkena tembakan peluru perak, dan terluka cukup parah.


Bughh bugh… pukulan demi pukulan antara Timoty dan Cullen terus berlangsung, dan semakin sengit saja.


Hah hah… deru napas Timoty sudah kian memburu, bahkan darah segara yang keluar dari hidung mau pun mulutnya terus menyucur. Sedangkan Cullen pun sama terkena tembakan pada bagian tubuhnya.


“Aku hanya ingin menikahi adikmu, dan ingin hidup bersamanya! apakah begitu sulit bagimu untuk merelakan hubungan kami!” teriak Cullen membuat kaca-kaca rumah kediaman Timoty pecah.


Arghhkk…. suara teriakan dari dalam rumah kediaman Timoty membuat perkelahian mereka terhenti sejenak.


“Jasmeen…” gumam Cullen, dan…


Hakkhhh… Dorr dorr…. dada Cullen tertembak oleh peluru perak milik Timoty, disaat ia mencoba mendengarkan suara teriakan seorang wanita. Teriakan yang sangat ia kenali hingga kini.


Bhuakkk bhuakkk… tendangan Timoty menghantak dada Cullen yang kini sedang terluka parah.


Tuan!! tuan!! teriak para pengawalnya.


“Kalian ingin sama seperti nasib iblis ini!” peringat Timoty sambil mengacungkan pistol peraknya lagi.


Hahh hhh hhh… susah payah Cullen menarik napasnya, dan akhirnya ia tak sadarkan diri tepat dihadapan Timoty.


Cih… “pria iblis pembunuh!” umpat Timoty lalu meninggalkan Cullen.


>>


Kita akan kemana tuan muda? ujar Austin, sang asistennya.


“kita harus tinggalkan tempat ini, dan menjauhkan adikku dari iblis itu.” Tukas Timoty dan segera berkemas.


***


Mereka pun langsung pergi dari rumah kediamannya, dengan membawa tubuh lemah Jasmeen.


“Sudah cukup penderitaanmu selama aku pergi, sekarang tak akan kubiarkan satu orang pun berani menyakitimu..” lirih Timoty, sambil mendekap tubuh Jaes erat.


Tak butuh waktu lama, mereka pun tiba di kediaman yang baru.


Keadaan Jasmeen semakin hari kian buruk saja, bahkan selera makannya pun kian menurun.

__ADS_1


Tuan, nona Jasmeen tidak menghabiskan makanannya lagi.. ujar sang pelayan wanita.


“Letakkan saja di sana, nanti biar aku yang akan bicara padanya..” Timoty pun masuk ke dalam kamar kediaman Jasmeen.


Di kamar tersebut, Jasmeen hanya duduk termenung, kadang ia pun menangis tanpa sebab yang pasti.


“Apakah kau mencintai pria iblis itu?” tukas Timoty secara tiba-tiba dari arah belakang Jaes.


Mengapa kakak berkata demikian?


“Yah, tentu aku harus tahu..”


Sekali pun aku katakan ia, kakak pun tidak akan berubah pikiran untuk kami.


“Jeje! aku sangat menyayangimu melebihi diriku sendiri. Sudah cukup ibu dan ayah pergi selamanya, sekarang aku tidak ingin satu pun anggota keluarga ini pergi.” Tukas Timoty sambil mendekap erat tubuh lemah Jaes.


Sudahlah kak, aku tidak ingin membicarakan ini lagi. Jaes pun berbaring kembali di tempat tidurnya, dengan penuh pilu.


“Sampai kapan pun pria itu tidak diterima dikeluarga kita. Kau teruslah bertingkah kekanakan begini..” Timoty pun menutup kasar pintu kamar kediaman Jaes.


Menangis dalam keheningan, dan hanya mampu mendekap erat guling yang kini menemaninya. Rasa sakit itu datang kembali lagi, rasa sesak di dada pun datang kembali.


Tak ingin meratapi kesedihannya, Jaes pun duduk kembali lalu mengambil laptop miliknya.  Mulai menulis dengan berlinangan air mata pilu.


“Mengapa dadaku terasa sangat sesak dan sulit untuk menerima kenyataan ini..” lirih batin Jaes. Sembari mengetik naskah novelnya, air mata tak henti-hentinya berlinangan.


Segala kisah pilunya pun ia tuangkan ke dalam semua naskah yang saat itu ia tulis.


Hah hh… rasa sesak di dadanya membuat Jaes terkadang kesulitan bernapas. Bahkan kerap kali ia merasakan sakit perut yang teramat sangat.


Sementara di sisi lain…


“Mansion Kediaman Cullen”


Cullen hanya duduk termenung dengan tubuh yang dibalut perban.


“Inilah yang kau banggakan dari wanita itu. Bahkan dia pun tidak muncul disaat kau terluka begini,” Tukas bunda Sonya.


“anda diamlah dan jangan banyak berbicara. Aku bisa saja langsung membunuh kakaknya, namun aku masih berpikir bagaimana perasaan Jasmeen.” Tukas Cullen tanpa menatap sang bundanya.


Cullen! kau bodoh, bagaimana bisa kau tertarik dengan wanita yang bahkan tidak memiliki harta.


“Cukup! kau terlalu banyak bicara! pergi! kedatanganmu membuatku muak!”


Kau berani pada ibumu, anak terkutuk! bahkan aku pun menyesal telah pernah melahirkanmu!


Bughh… Cullen meninju dinding, tepat di samping sang bunda sedang berdiri.


Kkkaau… ujar bunda Sonya dengan gemetar ketakutan.


“Tak ada satu pun yang kutakuti, termasuk keluarga brings*k ini!” umpat Cullen, dan membanting pintu kamarnya.


Hah.. dasar anak sialan! aku harus lebih bersandiwara pada ayahna Fhilip, demi harta kekayaan Kyleer.. gumam bunda Sonya dengan wajah penuh kebencian dan pikiran liciknya.


****

__ADS_1


__ADS_2