
“Mr. Devil – Season II”
Author by Natalie Ernison
Jasmeen masih berkutat dengan deadine naskahnya…
Ahk… lenguh Jaes saat sepasang tangan mendekap erat dirinya, dan langsung membuat tubuhnya terangkat melayang di udara.
Siapa… lenguh Jaes, ia sangat terkejut juga ketakutan.
“aku sangat merindukanmu…” lirih sosok pria yang sedang mendekapnya dan mengajaknya melayang-layang di udara.
Tuan Cullen… Jaes menatap wajah Cullen dengan tatapan matanya yang penuh dengan kerinduan.
“Aku sangat merindukanmu..” lirih Cullen dan langsung mengecup bibir Jaes dengan penuh kerinduan mendalam.
Hmmm… lenguh Jaes, namun kali ini ia terlihat tak melakukan perlawanan, namun ia justru membalas kecupan Cullen juga pelukan Cullen padanya.
Tuan, jangan.. kau akan segera menikah.. lirih Jaes saat Cullen merebahkan tubuhnya ke atas kasur, di dalam kamar villa tempat Jaes.
“Apakah kau pernah merindukanku..” ujar Cullen sambil berada di atas **** Jaes.
“Cepat sayang…” bisik Cullen, sambil melakukan kegiatan panasnya sedari tadi, dan desahan Jaes benar-benar
semampunya Jaes tahan, hingga ia menggigit bibirnya sendiri. Re**** tangan Cullen lagi-lagi membuatnya terus mendesah tak henti-hentinya.
Jaes terdiam sejenak, dan mulai berpikir keras.
“Jika aku mengatakan, bahwa aku pun merindukannya, apakah pria ini akan semakin memberiku harapan semu..” batin Jaes.
Tidak.. aku justru sangat lega, karena tuan akhirnya tak lagi mengusikku.. tukas Jaes dan langsung mendorong tubuh Cullen dari atas tubuhnya.
“Jujurlah denganku, apakah kau mencintaiku Jasmeen..”
Tidak, aku tidak mencintaimu… tukas Jaes dengan tatapan lekat.
“Apakah itu kejujuranmu…” ujar Cullen sambil melangkah menghampiri Jaes dan mendekap erat tubuh Jaes. Dekapan yang telah lama ia tahan, dan ingin segera dilepaskan.
Yah, aku sangat yakin.. bukankah tuan Cullen tahu, jika aku sangat membencimu tuan.. jadi itulah jawaban terbaikku.. tukas Jaes tanpa ingin menatap wajah Cullen, ia bahkan berdiri membelakangi Cullen.
Hhhmm… “Baiklah… aku akan menunggumu, entah sampai aku benar-benar menghilang dari dunia ini..” tukas Cullen, lalu ia pergi melalui jendela kamar Jaes.
Jaes duduk di tepi kasurnya. Apa yang ia lontarkan, tidaklah sesuai dengan isi hatinya. Iya terpaksa berkata demikian, karena ia sangat menyadari posisinya saat ini. Jaes menangisi apa yang telah ia katakan, ia tak sungguh-sungguh dengan ucapannya, namun ia harus berkata demikian.
Tangisan bahkan terdengar sangat jelas.
Diam-diam Cullen masih berada di luar jendela kamar Jaes. Cullen menempel di tembok seperti yang biasa ia lakukan. Ia mendengar suara tangisan dengan sangat jelas.
Ia mengepalkan kedua tangannya, dan bersandar di tembok dengan penuh pilu. Ia tahu bahwa Jaes tidak jujur atas perkataannya.
>>
Yeah… aku sangat bahagia hari ini.. ujar Khim yang terlihat sangat bahagia, setelah mereka selesai bermain bersama di pantai.
Hei, Jasmeen.. mengapa kau tidak mengenakan pakaian pantai sepertiku.. tukas Khim sambil memperlihatkan lekuk tubuhnya pada Jaes.
Ahh, aku sedang tidak ingin mengenakannya.. jawab Jaes, padahal ia tak ingin bekas tanda-tanda cinta peninggalan / kissmark Cullen terlihat.
__ADS_1
“Mari kita makan malam bersama..” tukas Zeros sambil berjalan di samping Jaes, seakan tak ingin jika Cullen mendekati Jaes.
-----
Besok kita harus kembali, dan kalian berdua jangan lupa datang ke acara pertunanganku bersama tuan Cullen.. ujar Khim yang terlihat begitu bahagia.
“Ohh, selamat nona Khim..” tukas Zeros sambil melirik ke arah Jaes sekilas.
Selamat atas pertunangan kalian nona Khim dna tuan Cullen.. ujar Jaes yang masih bertahan dengan sandiwaranya.
“Wanita ini begitu pandai bersandiwara, tunggu saja saatnya kau akan tidak mampu bertahan..” batin Cullen. Cullen kini tak lagi banyak bicara seperti biasanya. Ia lebih banyak berdiam diri dan memperhatikan Jaes.
Setelah dua hari penuh menikmati liburan, kini mereka harus kembali ke dunia pekerjaan sesungguhnya.
***
“Kediaman Jasmeen”
Mengetik dan lagi-lagi mengejar deadline naskahnya. Duduk manis di depan layar laptop hingga larut malam.
Drrrtttt… satu pesan belum dibaca.
“Hallo, jangan lupa habiskan makanan juga minuman yang telah ku pesan untukmu..” Bos Zeros.
Hmm.. “bos Zeros…” gumam Jaes. Tak lama setelahnya, datang seorang pengantar delivery food, atas nama Zeros.
Jaes: “Thank you so much, bos.. ”
Jaes: “Baik bos..”
Zeros: “Besok sore, sepulang bekerja, segera serahkan naskahmu dan kita berjumpa ditempat biasa.”
Tsk..“Dasar bos, selalu saja mengajakku bertemu hanya untuk naskah..” gumam Jaes, lalu kembali melanjutkan nashkahnya.
>>
Sepulang bekerja, Jaes langsung meluncur menuju café tempat biasanya bertemu bersama di bos cerewetnya.
“Café xxx”
Hmm… memperhatikan dengan seksama, dengan tatapan yang sangat serius.
“Okay.. naskahmu sudah cukup baik, tetapi aku ingin kau lebih menghidupkan suasananya..” tukas Zeros yang kini terlihat tak sepemarah dulu jika membahas perihal naskah Jasmeen.
Oh Lord.. thank you bos.. aku menyempatkan untuk selalu menulis naskah ini..
“Yah, tetap bekerja keras..” tukas Zeros dengan tersenyum tulus pada Jaes.
Bos, bagaimana dengan bonusku..” ujar Jaes dengan tatapan inginnya.
“Jasmeen, kau memang tidak berubah jika berhadapan dengan hal yang berbau uang..” Zeros menyentuh layar ponselnya.
“Periksa m-bakingmu..” perintah Zeros.
__ADS_1
Jaes pun segera memeriksa isi ponselnya.
Ohh thank so much bos… hahah.. Jaes terlihat begitu kegirangan, karena isi saldo rekeningnya kini bertambah dari bonus naskah-naskah novelnya.
Bos…
“Hmm, ada apa Jasmeen?”
Bisakah akhir pekan ini, bos menemaniku ke pemakanan ayah dan ibu.. pinta Jaes.
“Oke baiklah, jika kau ingin aku menemanimu..” ujar Zeros dengan senang hati.
Terimakasih bos…
***
“Pemakaman xxx”
Jaes duduk di depan pemakanan kedua orangtuanya.
Menabur bunga-bunga yang telah ia sediakan, juga air bunga yang ada di dalam botol kaca yang Zeros berikan padanya.
Duduk tersungkur dengan wajah yang sangat pilu, penuh dengan kerinduan yang begitu besar dari lubuk hatinya.
Hahh… lenguh Jaes menahan rasa sesak di dadanya, sambil meremas bunga-bunga yang telah bertaburan di atas design pemakanam.
“Ibuuu… ayah… aku sangat merindukan kalian saat ini…” lirih Jaes dengan air mata yang tak mampu lagi ia bendung.
Zeros hanya berdiri di belakang Jaes, ia tahu Jaes saat ini sangat sedih. Ingin rasanya menyentuh pundak itu dan memberi ketenangan, namun Zeros mengurungkan niatnya Ia sadar akan posisinya, dan tak boleh melakukan hal yang lebih dari sekedar rekan kerja.
Menangis hingga tergugu, bahkan tak mampu lagi untuk bersua, itulah yang saat ini Jaes alami.
“Jasmeen…” ujar Zeros perlahan menepuk bahu Jaes.
Bos.. maaf, aku terlalu merindukan kedua orang tuaku.. lirih Jaes, sambil menyeka air matanya.
“Menangislah, jika itu membuatmu lebih baik…” ujar Zeros dengan wajah sendunya, seakan ia turut merasakan rasa sakit itu.
Jaes pun menangis sejadi-jadinya, kerinduan yang tak mampu ia ungkapkan lagi. Karena kini, ia hanya bisa memandangi nama kedua orang tuanya yang tertulis di atas batu nisan.
>>
“Kau istirahatlah..” ujar Zeros yang baru saja tiba di loby gedung kediaman Jaes.
Baik bos, dan thank you so much for today... Zeros hanya tersenyum, dan langsung bergegas pergi dari hadapan Jaes.
Jaes langsung masuk ke dalam kamar kediamannya.
"Apakah Zeros alasanmu berkata tidak mencintaiku.." tukas seorang pria dari balik pintu, saat Jaes baru saja membuka pintu.
Ahkk... ahkk.. lenguh Jaes, saat tubuhnya terhempas ke atas kasur miliknya.
****
__ADS_1